
"Makanya jangan suka samain orang dengan.. "belum selesai Bertha melanjutkan ucapnya Edo sudah memotongnya.
Bertha semakin cemberut setelah mendengar perkataan Edo yang mengatakan dirinya seperti ular.
Ha... ha.... tawa Edo semakin pecah mendengar omelan Bertha.
"Puas ha...." ucap Bertha sambil mencubit pinggang Edo.
"Ampun sayang, aku minta maaf ya,aku mohon hentikan,"mohon Edo sambil tertawa.
Bertha menghentikan cubitannya, karena takut Edo, kehilangan fokus untuk menyetir.
"Jangan cemberut terus dong sayang jelek tahu,"ejek Edo yang melihat Bertha masih cemberut.
"Biarin saja jelek, memang kenapa? ada masalah!".
Edo merangkul pundak Bertha dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih terus menyetir.
"Sayang sudah dong, aku minta maaf ya, jangan marah terus."
Melihat Bertha masih diam, Edo menghentikan mobilnya di sebuah kolam pancing.
"Mau Ngapain?"kok berhenti.
"Mau mancing sayang, soalnya aku capek, sudah gitu kamu mayun terus, jadi tambah capek tahu."
Edo menyewa tikar dan pancing untuk mereka pakai.
Sampai di pinggir kolam, Edo segera menjatuhkan mata pancingnya yang sudah di berikan umpan.
Beberapa menit kemudian pancing Edo sudah dapat ikan mas yang sengaja di buat untuk ajang pancingan.
Bertha yang melihat ikan lumayan besar, merasa sangat bahagia.
"Waow besar banget teriak Bertha sambil mendekati Edo."
Melihat Bertha tertawa puas, Edo sangat bahagia.
Edo melepaskan mata pancingnya dari mulut ikan mas tersebut, lalu memberikan kepada Bertha.
Bertha memasukkan ikan kedalam plastik yang sudah di kasih air.
Sambil menunggu pancingnya dapat ikan kembali, Edo berbaring di tikar yang sudah mereka lebarkan.
Setelah meletakkan ikannya,Bertha mengikuti jejak Edo, yang kebetulan tempat itu sepi belum ada pengunjung.
Do.. panggil Bertha yang membuat Edo hanya diam mendengar panggilan dari Bertha.
"Sayang... panggil Bertha,"dengan cepat Edo menjawab.
"Apa sayang,"ucap Edo dengan lembut.
"Hem....kalau saja di panggil sayang cepat jawab."
"Iyalah, masa dipanggil nama ya siapa yang senang."
"Iya sudah aku panggil pasa ya."
"Apa itu? aneh."
"Pacar sayang."
"Habis jika sayang terlalu biasa, mending pasa."
"Terus aku panggil apa dong."
"Paca."
"Paca??? makin aneh deh."
"Pacar cantik... "
"Kalau gitu bukan pasa dong, tapi pagan."
"Ok kalau begitu, mulai sekarang kita panggil sayangnya seperti itu."
"Pacan kita lanjut jalan lagi yo,"nanti kesorean nyampainya.
__ADS_1
"Baik gan," ayo ucap Bertha sambil bangkit dari duduknya.
"Kok jadi gan? itu apa lagi."
"Ganteng.... disingkat gan."
"Berarti kamu dipanggil can."
"Iya deh dengarnya lebih enak."
Mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali, dalam perjalanan mereka masih terus bercerita agar tidak merasa jenuh selama dalam perjalanan.
Satu setengah jam kemudian, akhirnya mereka sampai di depan rumah Bertha.
"Can kok sepi nih," om sama Joni dimana ya?Edo mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaannya om serta Joni.
"Tahu gan," mungkin lagi keluar, Bertha juga merasa sepi, dan akhirnya menemui nenek yang mengasuh Bertha sewaktu kecil.
"Sore nek, papa sama Joni ke mana? ".
"Oh... papa lagi jalan -jalan sama adek nak,soalnya mulai tadi nak Joni rewel terus."
"Iya sudah ya nek,"aku kedepan dulu, Bertha pamit pada wanita yang sudah nampak tua itu.
Edo yang masih duduk, perlahan bangkit menyeret koper dan tas milik Bertha, dan mengikuti Bertha yang hendak naik menuju kamarnya.
"Can aku langsung pulang ya," ucap Edo setelah mereka sampai di kamar Bertha.
"Hati -hati ya,"ujar Bertha sambil menatap Edo.
Edo yang di tatap lekat oleh Bertha begitu,datang menghampiri Bertha lalu memeluknya.
Perlahan Edo melepas pelukannya dan berganti dengan mencium bibir Bertha dengan lembut.
"Aku pergi ya can,"besok aku jemput pagi jam delapan, karena jam sepuluh sudah harus berangkat naik pesawat.
Pagi hari Edo sudah terlihat rapi, ia datang menjemput Bertha.
"Pagi om,"sapa Edo ketika melihat papa Aldo sedang sarapan.
"Eh... nak Edo sini sarapan bersama," ajak papa Aldo sambil tersenyum.
Selesai sarapan, Edo pamit secara langsung kepada papa Aldo.
Mereka segara berangkat menuju bandara, Edo yang selalu menemani Bertha disetiap pergerakan Bertha.
"Gan kok aku kamu buat seperti anak kecil sih," gerutu Bertha yang merasa risih atas sikap Edo.
"Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kamu can, aku tidak rela jika kamu tersakiti lagi."
"Trimakasih ya gan,"kamu selalu menjaga aku dengan baik.
"Pastinya dong sayang,"apa pun akan aku lakukan agar kamu selalu bahagia dan dalam keadaan baik.
Edo kembali menggenggam tangannya Bertha, dan berjalan seiringan menuju ruang tunggu.
Pesawat yang mereka tumpangi perlahan sudah tidak terlihat lagi, selurah penumpang pesawat berharap agar mereka selamat sampai tujuan demikian juga dengan cinta Edo dan Bertha.
Satu jam kemudian pesawat mereka sudah mendarat dengan selamat, sesuai dengan keinginan mereka.
Kedua orang tua Edo sudah menunggu kedatangan anaknya itu.
"Hai sayang apa kabar?" mama senang akhirnya kalian datang kesini.
"Kita pulang langsung ya,"disana kedua adik kamu sudah menunggu kedatangan kalian.
"Baik ma."
"Papa mana ma?" kok tidak ikut jemput kita, gerutu Edo.
"Papa ada rapat penting nak, nanti setelah selesai rapat papa janji langsung pulang."
"Iya sudah, sekarang kita berangkat kasihan Bertha sudah lelah."
Edo mengajak kedua wanita yang sangat dicintainya itu untuk segera pulang.
Dengan segera mereka menaiki mobil yang sudah menunggu mereka sejak tadi.
__ADS_1
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di rumah kedua orang tua Edo.
Rumah yang cukup besar dan mewah walau tidak sebesar rumah Edo pemberian kakeknya Edo.
"Sekarang kalian istirahat saja dulu,nanti kalau papa sudah datang baru kita makan bersama."
"Baik ma,"kami duluan ke kamar ya,ucap Bertha yang kemudian meninggalkan wanita paruh baya itu.
Edo mengantar Bertha ketempat kamarnya agar Bertha dapat beristirahat dengan cepat.
"Can istirahat ya, biar nanti lebih segar,"ujar Edo lembut.
"Trimakasih gan, sana istirahat juga,kalau kamu ada di sini gimana mau istirahat."
"Kamu ngusir aku can, tega ya... "ujar Edo.
"Bukan ngusir gan hanya mengingatkan," jelas Bertha.
"Terserah deh, yang penting sekarang kamu pergi dari sini."
Edo malah mendekati Bertha dan memeluk Bertha dengan erat.
Bertha membuka matanya lebar atas perbuatan Edo yang malah di memeluknya bukannya meninggalkan dia.
"Sekarang kamu masih mau mengusir aku sayang, ujar Edo pada Bertha."
"Nggak ada gan,"mana berani aku ngusir kamu, ini rumah kamu, ucap bertha cengengesan.
Edo mencium pipi Bertha setelah memiliki kesempatan.
"Trimakasih sayang," ucap Edo kemudian melepaskan pelukannya.
Edo beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu.
Dengan membuka dan menutup pintu kembali, Edo meninggalkan kamar gadis yang sangat dicintainya.
Bertha tersenyum bahagia melihat kepergian Edo sambil tersenyum.
Sore hari semua keluarga sudah berkumpul bersama untuk makan malam.
"Hai kak,"perkenalkan namaku Gracia, semoga kakak betah tinggal di sini.
"Iya aku suka tempat ini," Bertha cepat akrab dengan Gracia, banyak hal yang mereka ceritakan hingga tanpa mereka sadar, mulai tadi ada orang yang tidak menyukai keakraban mereka.
"Dek memang kamu tidak punya tugas ya, sudah lebih dua jam kalian cerita setelah selesai makan tadi loh."
"Ih kakak ini pelit banget ya, orang setiap hari kakak sama kak Bertha juga."
Edo dan yang lain tertawa bersama mendengarkan protesan dari adik bungsunya.
"Habis mulai tadi kamu hanya bicara sama dia, sedang kakak kamu cuekin."
Padahal sama juga kita sudah lama tidak berjumpa.
"Ih.. cemburuan iya ejek Gracia."
"Biarin dari pada mati rasa, lebih baik cemburuan,"mbek..
Edo mengulurkan lidahnya untuk mengejek adiknya.
Gracia datang menghampiri kakaknya dan melingkarkan tanganya di leher Edo.
"Kakak tadi ngejek aku ya, sekarang kakak kapok nggak bisa bergerak."
Lama tidak bertemu dengan adiknya tidak membuat jarak diantara mereka.
Evan adik Edo yang sedikit pendiam hanya melihat interaksi antara kakak dan adiknya.
Evan sejak kecil tidak banyak kata, tapi paling peduli jika ada sesuatu pada keluarganya.
"Ampun dek," ujar Edo yang sudah merasa gerah atas ulah adiknya.
"Makanya jangan ngejek ,dihajar baru tau rasa deh."
"Sudah.. sudah jangan ribut terus, sini duduk Gracia," seru papanya.
Aku heran deh lihat kak Evan nic setiap hari diam melulu sih nggak basi apa air liur? aku heran deh.
__ADS_1
Sukamulah dek mau ngomong apa.
Bersambung