APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 71.Kehancuran Via


__ADS_3

"Kak kita pulang ya, ajak Bertha yang melihat kakaknya sudah semakin membaik."


"Dek kakak mau lari dari sini sampai ke batu sana, coba kamu liat apa bisa hanya lima menit."


"Boleh ayo cepat mulai, satu... dua... tiga...." setelah mengucapkan itu Bertha tersenyum bahagia melihat kakaknya yang sudah mulai tenang.


Dalam hitungan empat menit rupanya Pino sudah sampai.


"Wah kakak hebat,aku bangga pada kakak."


"Kakak lebih bangga padamu dek, kakak hanya dilukai sama wanita sudah manja seperti ini, pada hal kamu lebih parah tidak membuat kamu sampai di titik terendah."


"Aku kuat juga karena selalu ada orang kuat di belakangku kak."


"Iya tapi dasarnya karena kamu kuat dek, jika tidak pasti kamu tidak bisa bertahan sekalipun ada orang yang selalu setia menemanimu."


"Kakak dan Edo selalu ada untuk Bertha makanya, aku kuat."


"Maaf ya dek jika aku tidak selalu ada di setiap luka yang kamu alami."


"Sudahlah kak tidak perlu di ingat terus karena sudah berlalu, aku hanya berharap kedepannya tidak pernah mengalami itu lagi."


"Iya sudah ayo kita segera pulang kasihan Andre di tinggal demi kakak yang lemah ini."


Akhirnya mereka pulang dan dalam perjalanan Bertha nampak menikmati perjalanan, mereka terlihat lebih santai.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah dan saat mereka masuk ternyata Edo sedang menggendong Andre.


"Hai jagoan om, maaf ya sudah merampas mamimu."


"Nggak apa-apa om, mami juga butuh hiburan iya kan dek," jawab Edo lembut, agar Pino tidak merasa bersalah.


Setelah kak Pino pulang sekarang tinggal pasangan suami istri itu yang masih menemani sang buah hati bermain.


"Kamu bersihkan diri dulu mi, biar kita gantian jaga dedek Andre."


"Ok pi," Bertha segera melangkah menuju kamar mandi dan berendam agar segala luka yang dia dengar dan sampai menguras keringat hilang di ambil air.


Setengah jam Bertha keluar dari kamar mandi, dia sudah terlihat segar.


"Mami harum banget ya dek, adu Edo pada putranya."


"Iya sudah papi juga mandi sana biar wangi juga."


Edo akhirnya membersihkan diri lalu keluar untuk makan malam karena dia sudah sangat lapar.


Seorang penghianat tidak pernah akan merasa apa itu artinya bahagia, karena dia sendiri tidak tahu apa itu bahagia.


Penghiant penyesalanlah yang akan dia tuai demikian juga dengan Via,dia lupa siapa dia sebenarnya.


Via lupa siapa Bertha dan Edo, hingga sekarang barulah dia sadar bahwa dia sudah membangunkan singa yang lagi lapar.


Hari ini sebelum masuk kerja Via di antar oleh Riko,tapi belum memasuki ruangan dia sudah tidak boleh masuk, sebab dia sudah di pecat.


Berbagi cara dia lakukan agar bisa masuk tapi semua gagal.


Bertha yang kebetulan hendak masuk, datang menghampiri Via.


"Itulah balasan bagi orang yang tidak tahu diri," ucap Bertha sambil menatap wajah Via.


"Maksuk kamu apa saya tidak mengerti ucap Via pura -pura tidak tahu apa-apa."


"Oya kamu tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakang kak Pino?"


Wajah Via berubah seketika, dia terlihat sangat pucat.

__ADS_1


"Kenapa? apa kamu sudah ingat?"


"Maaf saya tidak bermaksud seperti itu."


"Oya? terus maksudnya blong kamu apa dengan melakukan itu semua? bisa kamu jelaskan dengan jujur kepada saya?"


Via hanya diam ia tidak bisa menjelaskan semua.


"Kamu pasti sudah tahu dong saya siapa kak Pino siapa? jadi apapun yang menjadi alasan kamu saya tidak terima untuk menyakiti hati kakak aku."


"Maafkan saya bu jangan pecat saya, kasihan kedua orang tua dan adik saya."


"Seharusnya bukan sekarang kamu ingat mereka, kamu memang manusia tidak tahu di untung."


"Maafkan saya bu, aku mohon."


Via bersujud di kaki Bertha tapi hati Bertha sudah terlanjur sakit, dia tidak mau memberikan kesempatan kepada penghianat.


"Kurang baik apa saya pada keluarga kamu Via? rumah saya berikan, kamu kuliah dan mendapat pekerjaan di sini dengan mudah."


"Iya maaf saya bu, tolong berikan kesempatan kedua bagi saya."


"Maaf Via saya tidak bisa, kamu saya pecat dan untuk rumah dan usaha keluarga kamu masih saya berikan untuk mereka karena saya tahu mereka tidak salah, tapi untuk kamu,saya tidak bisa percaya kepada penghianat."


Via berjalan tanpa semangat, dia tahu bahwa dia tidak memiliki kesempatan kedua.


"Hu.... hu.... maafkan aku ayah ibu, aku memang tidak berguna, aku sudah membuat kalian malu dengan memberikan apa yang seharusnya aku berikan pada suamiku kelak hanya untuk Riko,hu...


hu...... "


Via duduk di depan kursi kemudi mobilnya, dia tahu Riko pasti mengalami seperti dia saat ini.


"Aku harus kemana dan apa yang harus aku katakan pada ayah dan ibuku."


Via membanting tangannya berkali -kali pada setir mobilnya.


Saat Pino hendak masuk dia melihat mobil Via dia turun dari mobilnya untuk menyelesaikan masalah mereka.


Saat sudah berada di samping pintu mobilnya Via dia mengetuk pintu mobilnya Via.


Melihat Pino berdiri di samping mobilnya, Via membuka pintu dan turun.


Melihat Via turun, Pino mundur beberapa langkah.


"Maafkanlah aku mas," ucap Via dengan wajah memelas.


"Saya sudah memaafkan kamu, tapi aku juga mau sekarang kita putus."


Sesudah Pino mengatakan itu diapun,meninggalkan Via dengan segala rasa dan pikirannya.


Via yang merasa tidak ada gunanya lebih lama berada di sana segera melajukan mobilnya tanpa tujuan.


Dia membawa mobilnya menuju suatu tempat yaitu apartemen Riko.


Karena sudah biasa masuk keluar dari sana, ia tidak perlu menunggu yang punya.


Saat dia sudah duduk di sofa, Riko datang sama kacaunya.


Riko duduk di sampingnya Via tanpa bicara, hanya duduk meratapi kebodohannya.


"Apa yang kita harus lakukan sekarang?" tanya Via,setelah lama mereka hanya diam.


"Aku tidak tahu Via!" bentak Riko.


"Kenapa kamu marah sama a. aku Ko? aku juga sudah kehilangan semuanya harga diriku pekerjaanku, tidak ada yang tersisah, kenapa kamu marah?"

__ADS_1


"aku bingung Via,maafkan aku, tapi aku rasa untuk saat ini kita harus jaga jarak,"jelas Riko tanpa beban.


"Maksudnya apa?"


"aku tidak punya pekerjaan lagi Via,bagaimana dengan kuliah adik aku."


"Adik kamu? terus dengan aku bagaimana? kamu mau meninggalkan aku setelah kamu mengambil keperawanan ku?"


"maaf terus apa yang harus kita lakukan?"


"kamu harus menikahi aku Ko."


"Terus kita pakai uang apa untuk pesta?"


"kita hanya menikah tanpa pesta, dan untuk berikutnya kita jual mobil aku untuk modal usaha kita, karena kita tidak akan bisa bekerja dimanapun lagi."


"Aku akan pikirkan dulu Via."


"Ingat Ko,kamu punya adik perempuan, apa kamu tidak takut jika adik kamu mengalami yang sama dengan aku."


Via yang melihat gelagat Riko,sepertinya mau melarikan diri dari tanggung jawabnya,maka menggertak Riko terlebih dahulu.


Riko menjadi tambah pusing, dia yang tidak mencintai Via menjadi bingung, niat hanya untuk bermain-main malah mendapat serangan balik.


Sebagai kakak mana mungkin dia rela adiknya di buat laki -laki seperti itu.


"Ah... entahlah, sekarang kamu pulang sana aku pusing."


Riko masuk kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya.


"Aku tidak terima kamu buat aku seperti ini Ko,teriaknya sebelum dia meninggalkan apartemen Riko."


Sedangkan Riko sudah menyusun rencana untuk menjual apartemennya lalu meninggalkan kota tersebut.


Untuk segera mendapatkan uang Riko menggadaikan apartemennya, lalu pergi.


Saat ini Riko sudah berada di kota yang cukup jauh dari Via, dia juga membawa adiknya pergi.


Via yang sudah dua hari tidak mendapatkan kabar dari Riko,pergi ke apartemen Riko,tapi dia hanya mendapatkan ruangan kosong.


"Kurang ajar kamu Ko,kamu tidak bertanggung jawab, ingat aku akan membalas semua ini."


Via akhirnya pulang ke rumah orang tuanya, dengan segala beban pikirannya masuk ke dalam kamarnya.


"Aku bodoh.. aku bodoh... "


ucapnya dengan penuh emosi.


"Baiklah jika kamu bisa berbuat seperti ini, aku akan mengejar kamu."


Via yang sudah telanjur hancur tidak menyadarinya bahwa segala rencananya membuat dia semakin terpuruk.


Via bangkit dari duduknya dan berjalan mengambil tas dan kunci mobilnya, dia akan menjual mobilnya dan pergi ke kota lain, karena dia tidak mau membuat orang tuanya akan kecewa padanya.


Setelah semuanya sudah beres, Via menetapkan tujuannya, lalu mencari tempat untuk dia tinggal dari internet.


Merasa mendapat tujuannya, dia pamit kepada kedua orangtuanya serta adiknya lalu berangkat.


Saat ini Via sudah sampai di tujuan dengan rumah sederhana, dia akan mencoba berusaha dengan sisa uang yang dia punya.


Mencari lapak kosong dia mendapat di lokasi pasar tradisional yang buka setiap hari, dia akan menjual pakaian demi hidupnya.


Aku akan berusaha bangkit dan ingat Ko aku akan membalasmu.


Hai... semuanya Trimakasih ya atas dukungannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2