
Katakanlah terkadang hidup ini hanya sebuah permainan bagi orang yang tidak bisa menghargai apa itu hidup.
Tapi beda dengan Pino, hidup harus terus berlanjut, rasa sakit bukan untuk menyerah.
Hari-hari Pino semakin berwarna, semakin dia menyadari bahwa cinta itu tidak harus di miliki.
Beberapa bulan telah berlalu, hati Pino sudah mulai terbuka untuk seorang wanita cantik.
Tia alitha,wanita anggun yang memiliki sebuah usaha butik,mereka bertemu ketika menemani Bertha mencari pakaian untuk Andre.
Sore hari
"Hai kamu Tia pemilik butik Tia AN?" tanya Pino ketika mereka berjumpa di depan pusat perbelanjaan di kota mereka.
"Iya betul mas ini kakaknya Bertha?"
"iya, saya kakaknya Bertha."
"Oya apa kamu sendiri saja?"
"iya mas, tadi ada yang harus saya cari."
O... ucap Pino atas penjelasan Tia.
"Kalau begitu bagaimana jika kita makan, di depan ada restoran yang makanannya enak sangat."
"Boleh mas, tapi apa tidak mengganggu waktu mas?"
"O.. tidak saya sudah selesai, rencana mau makan juga."
Akhirnya mereka menuju restoran mewah untuk mengisi perut yang sudah terasa lapar.
"Apa tidak ada yang marah jika kita makan berdua mas?"
"tidak Tia,saya lagi jomblo."
"Masa sih seganteng mas jomblo."
Pino terkekeh mendengar perkataan Tia.
"Kamu sendiri bagaimana?"
"apa mas?" tanya Tia pura -pura tidak dengar.
"kamu sendiri bagaimana?"tanya Pino untuk mengulang pertanyaannya.
"Sama mas," ucap Tia malu -malu.
Sejak pertemuan itu Pino semakin dekat, Pino kagum dengan Tia yang tidak jauh kisah hidupnya seperti Bertha yang berjuang sendiri.
Bedanya dengan Bertha adalah Tia berjuang sendiri karena kedua orangtuanya yang sudah meninggal, sedang Bertha karena tidak ada pengakuan.
Saat ini status mereka sudah sepasang kekasih, Bertha juga mendukung, beberapa kali mereka bertemu.
Tidak terasa hubungan mereka sudah berjalan enam bulan.
Sementara di kota lain Via sedang berjuang untuk melahirkan anak dari hasil hubungannya dengan Riko.
Seorang bayi mungil sudah Via lahirkan, wajahnya tampan percis mirip ayahnya.
Via mencium pipi putranya, dengan deraian air mata dia berjanji akan merawat anaknya dengan cinta.
Kehidupan yang dia lewati membuat dia sadar akan kesalahannya, hingga membuat tekat untuk berubah lebih baik.
Dendam yang semula ada untuk Pino dan Bertha, perlahan terkikis.
Mama akan membesarkanmu dengan cinta sayang, maka kamu juga harus berjanji akan baik -baik saja hanya berdua dengan mama.
Via sudah membayar seorang wanita paruh baya yang akan membantu dia selama nifas.
Hari ini sudah satu bulan umur putranya, dia berangkat menuju pasar tempat dia mengais rejeki.
Bersama ibu Ratih,dia memulai hidup barunya sebagai ibu yang juga harus bekerja.
Walaupun dia sudah terlebih satu bulan tidak jualan tapi hari ini Tuhan memberikan komentar rejeki yang lumayan banyak, hingga Via,sangat lelah.
Ibu Ratih,seorang ibu yang tidak memiliki siapa -siapa setelah suaminya serta anaknya meninggal akibat kecelakaan.
Maka dia sangat bahagia bisa bersama Via,beserta anaknya.
"Ibu istirahat dulu, biar aku yang membereskan meja makan," seru Via setelah mereka selesai makan malam.
__ADS_1
"Tidak nak, kamu yang harus banyak istirahat, karena nanti masih harus mengurus Dika."
Iya anak Via diberi nama Andika.
Setelah selesai membersihkan bekas makan mereka, Via membawa Dika ke kamar.
"Sayang jika kamu sudah besar, jangan pernah menyakiti orang yang mencintaimu ya, sakit nak jika harus hidup seperti ini."
Lelah dengan pikirannya Via akhirnya memasuki alam mimpi.
Pagi hari Via sudah siap untuk memulai harinya, mereka sarapan dulu baru berangkat ke pasar.
Hari -hari berlalu begitu indah, dia menjalani hidupnya dengan ikhlas.
Saat ini umur Dika sudah empat tahun, Dika sangat aktif dan sangat menyayangi mamanya juga nenek Ratih.
Setiap hari Dika menemani mama dan neneknya berjualan di pasar tradisional.
Walau tidak tergolong mewah, tapi mereka tidak pernah kekurangan makan.
Via sudah bisa membeli rumah yang layak mereka tempati.
"Mama kapan kita bisa jumpa papa?"tanya Dika saat mereka makan malam.
"Mama tidak tahu sayang, karena sejak papa tinggalin mama, papa tidak pernah kasih tau dimana dia berada sayang."
Via jujur dengan keadaan mereka, karena dia merasa tidak ada gunanya terus memberikan harapan palsu, sementara dia juga tidak tahu keberadaan Riko.
"Gitu ya ma, maaf ya sudah membuat mama sedih."
"Tidak apa-apa sayang, mama juga minta maaf karena tidak bisa membawa papamu."
"Jangan sedih ma, aku sudah bahagia bersama mama dan nenek, aku tidak mau bertanya tentang papa lagi."
"Trimakasih sayangku."
Sejak saat itu, Dika tidak pernah bertanya lagi tentang keberadaan papanya.
Via selalu ada yang mengganjal dalam hatinya, dia sangat rindu dengan kedua orang tuanya, tapi dia takut mereka tidak menerima kehadiran anaknya yang tidak punya papa.
Saat ini Dika sudah lebih tenang, tapi berganti dengan mamanya yang selalu teringat kedua orangtuanya.
Rasa penyesalan yang dalam karena telah mengkhianati orang -orang yang sangat menyayanginya.
Mama... sapa Dika yang sedih melihat mamanya menangis.
"Iya sayang ada apa nak?"ucapnya lembut sambil membelai rambut Dika,setelah duduk di sampingnya.
"Ada apa mama menangis? apa aku sudah membuat mama kecewa?"pertanyaan Dika tidak mencerminkan ucapan anak kecil, layaknya suara dan perkataan orang dewasa.
"Tidak nak, mama hanya rindu pada kakek nenek Dika."
"Terus kenapa kita tidak menjumpai mereka ma?"
"mama takut mereka tidak akan menerima kita nak."
"Ma..
tenang aja aku akan temani mama apapun yang akan terjadi, yang penting kita menemui kakek, dan nenek."
Mendengar jawaban anaknya Via kembali menangis, walaupun sedih tapi dia sangat bersyukur memiliki anak sebijak Andika.
"Baiklah sayang, kita akan menemuai mereka."
"Iya ma, tapi kita juga harus membawa nenek, karena dia yang sudah ada untuk kita ma."
"Bu... apa ibu bersedia ikut bersama kami untuk menemui papa dan mama?"tanya Via setelah bu Ratih menghampiri mereka.
"Iya sayang, ibu akan ikut kalian."
Akhirnya mereka berangkat menemui kedua orangtua Via,dan saat ini mereka sudah berada di depan rumah orang tuanya.
"Ayo nak kita ketuk pintunya, apapun yang terjadi kita hadapi bersama."
"Baik bu."
Via berjalan menuju pintu lalu mengetuknya.
Tok.... tok.. tok.. suara pintu ketukan Via,cemas di wajahnya tidak bisa dia sembunyikan.
Perlahan pintu terbuka, lalu keluar wanita yang sudah rapuh dengan wajah yang berseri.
__ADS_1
Via.. ucapnya karena senang dan kaget.
Via langsung berlutut di kaki mamanya.
"Maafkan aku ma, aku mohon maafkan aku."
Wanita itu membantu anaknya untuk berdiri.
"Mama sudah memaafkan kamu nak, ayo masuk bawa cucu mama masuk."
"Ayo duduk kalian pasti sudah sangat lelah, mari bu," ucapnya sambil menyalam bu Ratih.
Kemudian wanita paruh baya itu berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Dika.
"Halo cucu nenek, siapa nama kamu sayang?"
"Andika nek," ucapnya sambil memeluk neneknya.
Setelah mereka duduk untuk melepas lelahnya, Via bertanya pada ibunya.
"Papa sama mama tahu dari mana tentang aku dan Andika?"
hems... ucap papa Via dengan suara gemetar.
"Riko sudah menceritakan kebenarannya nak, dan dia datang beberapa kali kesini untuk mencari kalian.
Beberapa bulan setelah kamu pergi dia langsung mencari kamu untuk bertanggung jawab."
"Apa itu benar kek?" tanya Dika.
"Iya nak dia mau memulai hidup baru bersama kalian, beberapa hari yang lalu dia baru dari sini,"jelas sang nenek.
"Ma..kita kembalilah sama papa, aku mau seperti Irfan dan Sani,punya papa dan mama."
Ucapan Dika membuat Via terdiam, rasa bersalah semakin membekas di ingatannya.
Andika tetap ingin bertemu papanya selama bertahun -tahun sejak Dika berjanji tidak akan bertanya lagi, hanya menutupi perasaannya karena tidak mau melihat mamanya menangis.
Papa dan mama Via mengangguk tanda setuju akan perkataan cucu mereka.
"Baiklah nak jika itu yang membuat kamu bahagia, mama akan melakukanmya."
"Baiklah nanti papa akan hubungi Riko bahwa kalian sudah ada di sini."
Sebaiknya kita istirahat dulu, sudah malam ucap sang papa yang merasa bahagia karena putrinya sudah kembali.
Walaupun pada awalnya kedua orang tuanya Via sangat kecewa, dan malu pada Bertha dan Pino yang masih peduli pada mereka.
Tapi rasa kecewanya kalah dengan rasa cintanya pada sang putri.
Semua sudah berada di alam mimpi hingga pagi hari.
Matahari menyapa bumi dengan begitu hangat,membuat penghuni rumah sederhana itu sudah berjaga.
Saat mereka sedang sarapan, tiba -tiba pintu di ketuk oleh seseorang.
Ketika pintu terbuka tanpa pemiliknya, seseorang masuk dengan wajah lelahnya.
Via...
ucapnya sambil berjalan menuju nama yang dia sebutkan.
"Maafkanlah aku, sudah meninggalkan kamu saat itu."
Via mengangkat kedua bahu Riko supaya berdiri.
Papa... ucap Dika yang sudah berdiri tepat di samping Riko.
Riko memeluk putranya dengan erat, "maafkan papa sayang sudah membuat kalian menderita selama ini tanpa papa."
Andika tidak menjawab ucapan papanya dia hanya menikmati pelukan hangatnya setelah beberapa tahun baru ini bisa dia rasakan.
Rasa haru terasa pada ruangan sederhana itu, ruangan itu pula yang menjadi saksi dari awal kebahagiaan mereka.
Cinta butuh pengorbanan yang tulus, cinta pula menuntut kita untuk selalu bersabar.
Cinta tidak pernah menyesatkan kita, tapi kita yang terkadang lari hingga sampai tersesat.
Bersambung.....
Hai... semuanya..
__ADS_1
episode ini sudah dulu ya, jangan lupa like dan komentarnya serta votenya.
Trimakasih.