
Andai saja hidup itu sesuai apa yang kita inginkan, mungkin kita sudah melompat kesana kemari karena bahagia.
Tapi karena apa yang kita alami jauh dari apa yang kita bayangkan maka sengsara selalu menghantui hidup kita, bahkan kita tidak mampu bersyukur atas apa yang terjadi.
Anugerah yang Tahan berikan terkadang suatu kutukan.
May saat ini sangat bersyukur bisa berjumpa dengan Andre dan seluruh keluarga besarnya, yang bisa menerima segala kekurangannya apa lagi soal materi.
Dalam liburan ini dia sangat bahagia karena baru kali ini dia berlibur.
Selama ini dia hanya untuk makan saja sudah susah apa lagi berlibur, maka untuk hari yang dia lalui bersama keluarga Andre adalah suatu kesempatan yang harus di syukuri.
"Kak.... ayo kita jalan ke depan, bosan duduk melulu," ujar Dia setelah mereka selesai makan.
May yang merasa bahagia bisa lebih dekat dengan calon adik iparnya, langsung menyetujui permintaan Dia.
Saat ini mereka sudah berada di taman depan, banyak macam tanaman dan bunga yang segar dapat di nikmati mas mata.
"Kamu suka bunga apa dek?"
"yang paling aku suka sih bunga mawar putih kak."
Oh.... gitu ya,yang merah nggak?
"Suka, tapi yang paling suka ia yang putih."
"Sama dong dengan kakak."
"Benar kak?"
"Kalau kakak suka mawar putih karena dulu setiap kakak ulang tahun pasti ayah kakak beli tanaman itu, jadi semakin lama akhirnya kakak benaran suka."
"Kenapa ayah kakak suka mawar putih?"
"ayah bilang jika kita genggam akan melukai tangan kita tapi jika kita pandang akan membawa keindahan, dan warna putih sebuah ketulusan."
"Dalam banget artinya ya kak."
"Iya dek jadi ayah bilang kita harus bisa sekaligus seperti bunga mawar, tidak satu-satu."
"Aku setuju dengan itu kak."
Saat mereka masih asyik ngobrol tiba-tiba Andre datang mengajak May jalan.
"Dek pinjam kakaknya boleh?"
"kok abang yang pinjam yang ada aku yang sudah paksa kak May."
"Kok paksa kan kakak yang mau."
"He.... he.... iya deh, silahkan."
Dia akhirnya memilih untuk masuk ke dalam, ia menuju kamar.
Sampai di kamar Dia memilih untuk tidur, soalnya semua sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Para orang tua mereka sedang pergi mancing dan yang lain juga pada ikut bagi yang gemar memancing.
Bergulung dengan selimut membuat Dia,terbang bersama mimpi, apa lagi tadi pagi ia sudah capek berjalan kaki.
Saat sore hari semua keluarga sudah berkumpul, ada yang sudah rapi, ada pula yang masih setia dengan pakaian yang bau amis.
Dan yang paling busuk di antara anak gadis itu adalah Dia yang masih tidur pulas.
Mami Bertha sudah rapi,karena sejak tadi belum melihat anak gadisnya maka ia mencari keberadaannya Dia.
"Abang adek di mana?"
Andre dan May yang baru tiba, bingung mau jawab apa, soalnya saat mereka pergi adiknya masih ada.
"Tadi abang tinggal mi, masih ada di sini."
"Jangan -jangan Dia tidur mi, soalnya tadi pagi kan sudah capek tuh, dan saat mami ajak Dia tidak mau."
__ADS_1
"O....iya... ya coba mami lihat."
Mami Bertha masuk ke kamar Dia dan benar saja putrinya masih bergulung di bawah selimut.
"Anak gadis kok sampai jam segini masih tidur."
"Bangun dek... hei bangun."
"Hem.. apa sih mi, masih mengantuk."
"Sudah jam enam dek, nggak baik tidur samapiai sore, sana mandi."
"Iya mi sebentar lagi saja."
"Nggak dek, bangun cepat."
"Iya deh mi, aku mandi."
Mami Bertha tidak beranjak dari kamar putrinya, karena sudah kebiasaan Dia jika kelamaan tidur maka malas untuk bangkit.
"Mami... tunggu cepat mandi."
"Baik bos."
Lima belas menit Dia sudah selesai mandi, setelah bersiap ia bersama sang mami turun untuk bersama yang lain.
"Sayang... kamu mulai tadi tidur?"
"he... he iya pi."
"Sini duduk dekat papi."
Gilbert meledek Dia yang membuat semua tertawa.
"Ih... om,malah ikut ngejek aku."
"Habis princes om semakin lama semakin tidak asyik."
"Bukan Dia om, tapi mata Dia yang mengantuk terus sulit sekali untuk membuka mata."
"Iya beda dong om, mata, hidung dan kaki."
"Makin lama kamu makin ngawur deh."
"Om dari pada kita dengar ngoceh itu anak mending kita main catur deh."
"Bilang saja kamu tidak punya lawan, jadi ngajak om."
"Terserah bawel."
Akhirnya Dio dan om Gilbert main catur membuat Dia bermanja-manja pada sang mami.
"Pi... tadi dapat ikan nggak?"
"Dapat dong sayang,besar lagi itu lagi di panggang sama bapak Ali."
"Ih... enak dong kita nanti makan ikan segar."
Andre dan May ikut bergabung dengan mereka setelah selesai membersihkan diri.
"Ih... anak gasis masih minta di kelon sama mami."
"Biarin abang, emang kenapa?"
"Malu dong."
"Bukan aku yang malu abang jika masih seperti aku baru namanya malu karena sudah punya pacar."
"Iya... iya abang nyerah, kamu menang."
"Harus dong ngalah sama adek."
Semua sudah berkumpul dan bagian dapur juga sudah siap, mereka segera makan malam bersama.
__ADS_1
"Ih.. enaknya ikan segar... "Andra sengaja memjahili Dia,entah kenapa mereka lebih senang memjahili Dia dari pada yang lain.
"Bang Andra bagi.. "Dia datang menghampiri Andra.
"Ada syaratnya, mau?"
"ih.... pelit banget ya sudah kalau tidak mau aku minta sama tante saja."
"Silahkan, tapi yang besar seperti ini hanya milik abang seorang."
Saat Dia hendak bangkit Andra menyuapkan ikan ke dalam mulut Dia.
"Ih..abang jahil, tadi di minta nggak mau."
"Biarin suka abanglah."
"Masih mau nggak?"
"masih enak."
Ikan yang di depan om Joni juga sama besar dengan milik Andra,maka melihat itu Dia mendekati omnya.
"Om.. bagi bang Andra pelit."
Joni memberikan ikan yang ada di hadapannya.
"Ini kamu bawa saja, om makan ini saja."
"Serius om?hore...hayo... abang pelit aku dapat lebih banyak."
Dia benaran hanya makan ikan tanpa nasih, semua menikmati makanannya.
Setelah selesai makan mereka bercerita bersama karena esok hari mereka sudah harus pulang.
"Kek, masih belum ngantuk?"
Dia mendekiti kakek Aldo yang masih asyik ngobrol dengan para cucu-cucunya.
"Belum sayang, nanti masih ingin ngobrol bersama cucu-cucu kakek."
"Ok kakek, tidak apa-apa."
Mereka melanjutkan obrolan, kakek banyak bercerita yang lucu bahkan pengalaman kakek Aldo.
Jam sebelas malam akhirnya mereka menyudahi pertemuan mereka dan segera istirahat.
Pagi hari semua keluarga sudah berkumpul bersama untuk sarapan.
Rencananya mereka pulang siang hari setelah makan siang, pagi i ini mereka akan mengunjungi perkebunan sayur yang baru di kelolah oleh keluarga Edo.
Di sana banyak juga macam buah-buahan segar.
Banyak warga yang tertolong akibat perkebunan Edo, warga yang tidak memiliki pekerjaan akhirnya jadi punya walaupun hanya sebagai petani tetapi bagi mereka itu sudah sangat bersyukur.
Saat sudah selesai sarapan semua bersiap menuju kebun.
Para anak-anak yang tidak biasa melihat perkebunan merasa senang.
Apa lagi mereka bisa memetik buah segar sesuka hati.
"Kak...aku mau buah itu dong."
"Aduh mana bisa kakak ambil dek, bilang sama abang saja, ayo ajak mereka."
"Boleh deh, ayo kak."
Saat mereka sampai di dekat Andre ternyata mereka lagi bertemu dengan menejer perkebunan.
"Wah... lagi sibuk tuh dek."
"Cari abang Dio saja yo kak, atau abang Andra."
Dio dan Andra lagi sibuk panen buah rambutan yang di ujung, melihat itu Dia begitu gembira karena pada kenyataannya buah itu yang ia mau.
__ADS_1
Bersambung.
Like dong....