
Setelah semua masalah Edo selesai, saat ini dia menikmati indahnya kebersamaan dengan istri dan anaknya.
Sengaja hari ini dia tidak kerja hanya demi mengambil hati anaknya.
"Sayang temani kita jalan ya," ajak Edo saat sore sesudah pulang kerja.
"Jalan kemana?"
"Kemana saja sayang yang penting Kamu ikut, aku tahu Andre belum sepenuhnya menerima aku."
"Kalau gitu bagaimana kalau kita libur bersama keluarga, papa dan juga mama?"
"Bagus banget sayang soalnya mungkin lusa paap dan mama akan pulang."
Saat makan malam Edo menyampaikan niatnya untuk liburan.
"Pa, ma bagaimana jika besok kita liburan, lagian papa dan mama juga sudah mau pulang."
"Boleh sayang mama senang dengarnya, nanti mama akan bilang sama kedua adikmu agar mereka juga datang."
Akhirnya mereka sepakat untuk libur dadakan walaupun hanya dua hari.
"Pi, benaran kita liburan?"
"Benaran dong, abang mau liburan kemana?"
"Kepantai pi, nanti aku mau kejaran sama bibi Cia, pasti bang Andre yang menang."
"Ok, nanti biar papi yang jadi jurinya."
Andre tersenyum lebar membayangkan indahnya bermain di pasiran.
"Pi aku mau tidur cepat ya, biar besok bisa main puas."
"Boleh dong sayang, apapun untuk abang, karena abang sudah mau memaafkan papi."
"Ok pi, aku ke kamar dulu."
Edo tersenyum bahagia melihat putranya sudah tidak marah lagi.
"Sayang... "sapa Edo saat sampai di kamar mereka, disana Bertha sedang mempersiapkan keperluan si kembar dan keperluan dia dan suaminya selama dua hari.
"Hai.. "sapa Bertha dengan senyuman indahnya.
"Misay kamu tiduran deh biar aku yang beresin semuanya, kamu tinggal bilang apa saja yang harus aku bereskan."
"Benaran pisay?"
"Benaran dong, apa yang tidak untuk istriku ini," goda Edo sambil menarik hidung Bertha.
"Baiklah ini tinggal masukin dalam koper saja, dan keperluan si Kembar masukin je koper biru ya pi."
"Siap bos."
Selagi Edo membereskan perlengkapan mereka, Bertha berbaring sambil menyusui si kembar.
Dio yang sangat pulas membuat Bertha tidak tega untuk membangunkannya, jadi hanya Dia yang men***u hingga kembali terlelap.
Bertha sudah tertidur pulas saat Edo telah selesai mempersiapkan semuanya.
"Sayang kamu pasti sangat lelah mengurus si kembar, maaf ya aku sudah tidak mempunyai banyak waktu untuk membantumu mengurus anak kita."
Edo mencium Bertha, kemudian dia menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan urusan pribadinya, Edo merebahkan tubuhnya diranjang, tepat di samping istrinya.
Dengan sangat lembut Edo meletakkan tangannya di atas pinggang istrinya lalu menyusul ke alam mimpi indah.
Pagi hari tanpa harus di bangunkan Andre sudah siap mandi, bahkan sudah sangat rapi, maminya terkejut melihat putranya sudah rapi sementara dia saja baru bangun.
"Sayang, siapa yang membangunkanmu?"
"Tidak ada mi, aku bangun sendiri lalu mandi deh, mami sih lama."
"Iya ampun semangat banget anak mami."
"Iya dong mi, abang sudah besar jadi sudah bisa urus diri sendiri, mamikan urus dedek Kembar, aku tidak mau mami sampai sakit karena harus ngurus abang."
"Siapa bilang mami lelah hingga sakit ngurus abang dan dedek kembar?"
__ADS_1
"nggak ada mi, hanya abang takut saja."
"Trimakasih ya sayang sudah sangat sayang pada mami, tapi abang tidak perlu terlalu kwatir pada mami, mami tidak akan kelelahan ok."
"Ok mi."
"Iya sudah mami mandi sana, biar harum dan cantik."
"Jadi sekarang mami bau dan jelek ni?"
"he... he... bukan begitu mi,siapa yang bilang mami jelek, dalam keadaan apapun mami tetap yang tercantik."
"Iya sudah mami mandi deh, supaya harum sama seperti putra mami yang paling ganteng ini."
Setelah maminya pergi Andre bergumam dalam hati.
"Mi aku tidak akan mengecewakan mami, dan aku janji akan bisa mandiri tanpa harus membuat mami lelah."
Sejak Andre tahu perjuangan maminya saat melahirkannya, dia terlihat lebih dewasa.
Itu juga sebabnya dia kecewa pada papinya yang tega bersama perempuan lain.
Tepat pukul delapan pagi semua sudah terlihat rapi bahkan barang yang akan mereka bawa sudah masuk ke dalam bagasi.
"Sayang sini kita sarapan dulu ah,"ajak Cia yang sudah duduk manis entah kapan sampainya, Andre tidak tahu pasti, karena dia sibuk mempersiapkan beberapa mainannya.
"Bibi kapan sampai?"
Andre berlari menuju bibi yang sudah dia rindukan.
Andre langsung memeluk Cia.
"Jadi om tidak di rindukan nic?"
"Pastinya dong om, mana mungkin abang tidak rindu pada om yang kalah ganteng dengan abang."
Mendengar perkataan Andre semua tertawa bahagia.
"Jadi om ganteng no dua, berarti papi kamu no lima dong,soalnua ketiga dan keempat itu kakeknya Andre."
"Ha.... ha...
"Pastinya bro papi kamu itu terjelek makanya dia tidak berani saingan sama kita."
"Iya papi jelek Andre tidak suka, karena papi buat Andre kecewa."
Edo yang mendengar curhatan putranya membulatkan bola matanya, dia tidak menyangka jika putranya masih membahasnya.
Kedua adiknya menatap orang dewasa yang ada di sana secara bergantian, soalnya mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi pada keluarga kakaknya itu.
Walaupun di tatap begitu tidak ada suara yang akan memberikan penjelasan, semua diam membisu.
Membuat suasana menjadi diam, Cia mengalaihkan pembicaraan agar keponakannya tidak terlihat emosi.
"Iya abang Andre mau main apa sama bibi di pantai?"
"banyak deh bi, lomba lari, lamba main bola, lomba main pasir, banyak lagi deh, tapi om ikut ya."
"Siapa takut pangeran Kecil."
"Ok om."
Setelah selesai sarapan mereka langsung berangkat, mereka memakai dua mobil menuju pantai.
Kedua mobil tersebut memakai jasa supir, maka semua keluarga aman di dalam mobil.
Pengawal juga ikut serta dengan mereka, satu mobil di depan satu mobil di belakang, Edo tidak mau mengambil resiko tentang keselamatan seluruh keluarganya.
Dua setengah jam barulah mereka sampai dengan selamat.
Andre langsung berlari menghampiri hamparan pasir yang sangat indah menurutnya.
"Wah indah banget pi," teriaknya sambil berlari meninggalkan papinya yang berjalan di belakangnya.
Semua keluarga masih berada di vila untuk istirahat hanya saja Andre sudah tidak sabar maka papinya membawa dia duluan.
Cia menghampiri bundanya yang lagi duduk santai di balkon kamarnya.
"Ma apa ya maksud Andre tadi pagi?"
__ADS_1
Ups.. tarikan nafas mama Edo sangat panjang membuat Cia semakin bingung.
"Ada wanita yang menggoda kakak kamu, dan gilanya dia meladeni wanita itu, mereka sempat makan bersama,maka saat itu Andre dan papa kamu serta papa Aldo hendak makan siang, tanpa sengaja melihat kakak kamu yang sedang di peluk wanita itu."
"Apa ma?" tanya Cia kaget, dia tidak menyangka jika kakaknya akan melakukan hal itu, karena dia tahu kakaknya sangat mencintai kakak iparnya.
"Iya Cia, dan Andre yang melihat itu sangat kecewa pada papinya."
"Iya...
kok bisa ya ma, padahal kakak sangat menyayangi kak Bertha, kok kakak bisa terbuai dengan ular."
Cia yang mendengarnya sangat kecewa pada kakaknya.
"Tapi sudah semua selesai kok, wanita itu sudah mendapat pembalasan yang setimpal atas kekecewaan Andre."
Mama Edo menceritakan semua pada putrinya.
"Iya kasihan juga ya ma, tapi kok wanita itu tidak berpikir secara jernih ketika pak Wo menawarkan untuk menjauhi kakak."
"Mungkin dia berharap bahwa kakakmu tidak mau melakukan itu, sementara perusahaan kakak ipar kamu dia tidak tahu, yang pada saat itu pemegang saham terbanyak, bahkan dari saham mereka sendiri."
"Memang kak Bertha boleh ma?"
"awalnya tidak,tapi setelah melihat Andre yang sangat kecewa bahkan menangis terus membuat dia memberi keputusan pada kakak kamu."
"Terus bukannya yang ngurus kantor kak Pino?"
"kak Pino tidak mau membuat kakak kamu terluka lebih dalam akhirnya setuju apa pun keputusan kakak kamu."
"Oh... gitu ya ma, tapi kenapa Andre sepertinya belum bisa memaafkan kak Edo ya."
"Itulah sebabnya kakak kamu mengajak liburan ini, agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak sama Andre."
"Oh.... kalau begitu aku punya ide bagaimana membuat mereka semakin dekat."
"Aku akan pura -pura sakit biar mereka bisa bermain-main berdua."
"Kamu temani mama ke villa yang ada di ujung sana ajak kakak kamu, ada yang mau mama tunjukkan."
Sesuai permintaan mama Edo, saat ini mereka sudah berada di villa ujung, bersama satu mobil pengawal.
"Ada apa ma, kok ngajak kita kesini?"
"Iya mau liburan dong masa mau kerja."
"Ah... mama selalu membuat sensasi deh."
"Pa ceritain deh."
"Baik istriku sayang."
"Is... lebay banget sudah tua juga."
"Begini, villa ini sudah mama beli untuk kita sejak enam bulan yang lalu,jadi sebenarnya ini kado untuk kakak kamu atas kelahiran si kembar, tapi belum ada kesempatan, jadi mama mau ruangan ini kita siapkan untuk penyambutan mereka."
"Ok bos."
Hari ini begitu indah, dengan segala aktivitas yang mereka buat, dengan senyuman.
Semua terlihat sibuk dan ruangan sudah terlihat sangat cantik.
Setelah semuanya telah beres,mereka juga bersiap karena menyambut sikembar.
Sore hari, mama Edo menelepon putranya agar datang ke villa ujung, karena alasan mama pusing.
"Sayang kita sudahan dulu ya mainnya soalnya nenek dan bibi lagi tidak enak badan, jadi kita harus menjemput ke villa ujung sana."
"Iya pi, abang juga sudah lelah."
Hari ini keluarga kecil Edo yang menikmati liburan, semua kegiatan yang diinginkan oleh Andre sudah terlaksana dengan papinya, sementara sang mami hanya sebagai penonton.
Si kembar di villa di jaga oleh suster yang ditugaskan menjaga.
Saat ini mereka sudah berada di depan villa yang di katakan oleh mama Edo.
Bersambung.
Jangan lupa like dan komentarnya serta votenya iya dong.
__ADS_1