APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 57.Demi baby


__ADS_3

Hari ini Bertha dan Edo sudah kembali ke rumah mereka, saat bangun Bertha merasa mual,sehingga dia berlari menuju toilet untuk segera mengeluarkan isi perutnya.


Hoek... hoek.. hoek suara itu terus berlangsung hingga membuat pria tampan yang masih betah di dalam selimutnya itu harus bangun.


"Sayang kamu muntah lagi?"tanyanya kwatir, sebenarnya dia tidak tega melihat keadaan Bertha yang sudah sangat lemas.


Setelah membantu istrinya bangkit dan meninggalkan toilet, dia membaringkan tubuhnya Bertha di ranjang.


Sayang aku ambilkan teh hangat ya, edo langsung meninggalkan Bertha dan menuju dapur.


Sebagai suami siaga Edo tidak mau mengandalkan asisten rumah tangga mereka.


Di tambah lagi Bertha yang tidak mau jika bukan dia yang membantunya.


"Sayang minum dulu tehnya,biar enakan ya."


Setelah meneguk teh yang Edo berikan, Bertha kembali merebahkan tubuhnya diranjang empuknya.


"Sayang kamu lelah ya? terus muntah, aku tidak tega melihat mu begini terus."


"Tidak apa-apa sayang, memang harus seperti agar kita bisa melihatnya."


Tapi... ucapan Edo terhenti karena Bertha tiba-tiba menyambar bibir Edo.


Eh... kamu semakin nakal ya, Edo langsung mengambil alih dengan menindih tubuh Bertha.


Dengan lembut Edo membimbing Bertha sehingga, yang tadinya tidak tega, sekarang malah mandi peluh.


Pagi hari mereka gunakan untuk menghangatkan tubuh dengan seluruh kelembutan dan kenikmatan.


"Maaf... "ucap Edo sambil menatap gadisnya, eh istrinya deng bukan gadis lagi he..he.


"Untuk apa?"


"Untuk semua sayang,kamu masih lemas eh malah ku terkam."


"Tidak apa-apa, aku suka kok, dedek babynya juga ingin di kunjungi oleh papanya."


"Babynya atau mamanya?"


"Dua-duanya,"ucap Bertha malu.


"Aku suka banget dengan kamu jujur sayang," Edo mencium kening Bertha lembut.


"Memang selama ini aku suka bohong?"


"nggak sayang aku malah suka dengan kamu yang jujur dan tidak neko-neko."


"Kita mandi yo,"sudah siang kita harus sarapan sayang agar memiliki tenaga untuk menjenguk adiknya.


Gendong... rengek Bertha sambil mengulurkan tangannya.


Edo menggendong Bertha menuju kamar mandi, karena keadaan mereka yang masih polos sehingga tidak perlu lagi untuk membuka pakaian.


Mereka benar hanya untuk mandi sehingga dalam sepuluh menit mereka sudah di kamar untuk segera berpakaian.


Bak raja dan pangeran pasangan muda itu berjalan menuju meja makan.


Pak Wo yang sedari tadi menunggu majikannya tersenyum bahagia.


Pak Wo memang sudah menganggap Edo itu sebagai anaknya, bukan hanya sebagai majikan tapi sebagai ayah yang siap untuk menjaga putranya.


"Selamat pagi den, nak Bertha,"sapa pak Wo ramah.


"Selamat pagi juga pak, kita sarapan bersama pak," ajak Bertha tulus.


"Silahkan nak," bapak sudah sarapan tadi jawabnya singkat.


"Pak.. duluan saja berangkat nanti aku menyusul saat menjelang rapat tiba."


"Baik den, bapak duluan."


Setelah pak Wo pergi mereka melanjutkan sarapan.


"Sayang tidak apa-apa jika nanti aku berangkat ke kantor, hanya beberapa jam, aku janji."


"Tidak apa sayang aku disini baik -baik lagian ada ibu dan bibi yang lain."

__ADS_1


"Iya yang apa-apa,aku sangat kwatir jika jauh darimu sayang."


"Kamu harus bekerja sayang agar anak dan istri kamu baik -baik tahu."


"Lagian para penjaga rahasia kalian bukannya masih berkeliaran di sana-sini."


"Itu demi kebaikanmu sayang makanya papa masih mempekerjakan mereka."


Papa Aldo dengan yang lain sepakat untuk tetap mempekerjakan penjaga untuk Bertha.


Setelah pulang dari bulan madu berapa bulan lalu, Bertha hampir ditabrak mobil ketika dia mau mencari makanan di dekat kantornya.


Setelah mengadakan rapat penting Bertha tiba-tiba pengen makan cemilan yang ada disebrang kantor.


Untung saja pak Wo yang kebetulan melewati kantor Bertha sedang lewat.


Merasa tidak asing dengan wanita yang sedang berjalan kaki di depannya segera menghentikan mobilnya apa lagi sebuah mobil sedang melaju dengan kecepatan tinggi.


Melihat itu pak Wo menghentikan mobilnya tepat menghadang mobil yang melaju tinggi, ia langsung turun dan menyeret Bertha menjauh dari tempat itu.


Bunyi benturan terdengar kuat sehingga banyak orang yang menyaksikan kejadian itu.


Pak Wo segera membawa Bertha kembali memasuki lobi kantor.


Kecelakan...kecelakaan..


tetiak orang yang berlalu lalang di jalan.


"Nak.. kamu tidak apa-apa?"ucapnya cemas, tanpa pikir panjang pak Wo membelai rambut panjang Bertha.


"Tidak apa-apa pak, tapi kok bapak ada di sini?"


"tadi bapak kebetulan lewat karena bapak harus mengurus sesuatu yang penting, tapi bapak lihat kamu ya bapak berhenti."


"Trimakasih pak, bapak memilih menyelamatkan aku dari pada nyawa bapak sendiri."


"Sudah tidak usah di pikirkan, itu sudah tanggung jawab bapak, bukannya kamu bilang jika bapak ini bapak kamu? jadi sudah layak seorang bapak menyelamatkan anaknya bukan?"


"terus bagaimana dengan mobilnya pak?"


"Jangan kwatir, den Edo tidak akan marah, bapak yang akan tanggung jawab."


Entah kapan pak Wo menghubungi anggotanya tiba -tiba sudah nongol.


"Mau pulang sama bapak atau masih disini?"tanya pak Wo setelah melihat Bertha sudah tenang.


"Bapak pulang naik apa bukannya mobilnya rusak?"


"iya tapi anggota bapak sudah mengantar mobil yang lain dan saat ini sudah ada di depan."


Karena masih syok,Bertha menolak secara halus.


"Nanti sore saja ya pak aku pulang, kepalaku pusing aku istirahat di ruanganku dulu."


"Iya sudah kamu hati -hati ya nak."


Para karyawan yang melihatnya sedikit tercengang sebab mereka tahu siapa itu pak Wo, tapi melihat keakraban diantara mereka tadi membuat para karyawan sangat kagum dengan sosok Bertha.


"Mbak tolong antar nak Bertha kembali keruangannya,"ucap pak Wo pada salah satu resepsionis.


"Baik pak, mari bu."Ucap wanita itu dengan sopan.


Saat keluar dari lif papa Aldo yang sedang mencari keberadaannya Bertha terkejut melihat Bertha yang di papah oleh wanita yang tidak asing, dialah resepsionis di lobi.


"Nak Bertha ada apa?"


papa Aldo mengambil alih untuk memapah Bertha masuk kedalam ruangannya.


Papa Aldo memberikan air mineral yang selalu tersedia di ruangannya.


"Ada apa nak?" tanyanya setelah Bertha meneguk habis air mineralnya.


Pa... ucap Bertha dengan tangis yang sudah pecah, iya sejak tadi beesama pak Wo berusaha menahan tangisnya.


Papa Aldo membawa Bertha dalam pelukannya.


"Tadi ada yang mau menabrak Bertha pa... "ucapnya dengan suara gemetar.

__ADS_1


"Apa maksudmu nak?"


iya pak, tadi setelah dari ruang rapat aku pengen cari cemilan yang ada di sebrang jalan, tapi tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang,untung pak Wo lewat.


"Pak Wo mengorbankan mobilnya agar Bertha tidak kena tabrak pa."


"Apa? jadi pak Wo tidak apa-apa sayang?"


"Pak Wo tidak apa-apa pa, hanya suara mobilnya mungkin rusak parah, soalnya pak Wo menghadang mobil itu lalu langsung keluar dan melarikan Bertha."


"Syukurlah sayang, kenapa kamu turun sendiri nak? sekali lagi suruh karyawan."


Ketika mereka sedang bicara Edo sampai dengan wajah panik, dia langsung melajukan mobilnya ketika pak Wo memberitahukan keadaan Bertha.


Tanpa bertanya lebih lengkap dia langsung melaju.


"Sayang kamu tidak apa-apa?"Edo yang masih trauma atas jejadian Bertha yang tertipa kayu eh malah kabar mau di tabrak.


Edo langsung memeluk istrinya tanpa sadar masih ada papa mertuanya.


"Sudah sebaiknya kalian pulang untuk istirahat, biar papa yang akan mengurusnya."


Iya sudah kami pamit dulu pa ujar Edo yang kemudian meninggalkan ruangannya papa Aldo.


Papa Aldo menghubungi pak Wo karena papa yakin sudah di urus oleh pak Wo.


Setelah tahu jika orang tersebut sudah di kantor polisi papa Aldo mengajak Pino untuk menuju kantor polisi.


Karena papa Aldo belum cerita,Pino akhirnya bertanya akan tujuan mereka.


Sebelum sampai di kantor polisi papa Aldo minta agar mereka makan siang dulu.


Setelah selesai makan papa Aldo menceritakan kebenaran tentang kecelakaan Bertha.


Pino sangat terkejut mendengar penjelasan dari omnya itu, hatinya sangat sedih, mengingat bahwa adiknya itu selalu mendapatkan kemalangan.


"Tapi dia tidak apa-apa om?"


tidak nak, karena pak Wo langsung turun dari mobil dan menyeret Bertha menuju lobi kantor.


"Syukurlah om."


Sampai di kantor polisi betapa terkejutnya papa Aldo dan Pino setelah tahu siapa yang akan melenyapkan Bertha.


"Jadi anda yang akan mencelakai anak saya?"ucap papa Aldo dingin tanpa ekspresi.


"Seharusnya kegagalan anda menjadi pengalaman berharga, bukan malah berbuat seperti ini, tapi baiklah karena anda sudah memulai jadi mari kita lanjutkan."


Anda menjual saya yang beli, ucapnya lagi.


"Arif... kamu akan hancur berani bermain bersama saya."


Papa Aldo sangat geram dengan orang yang berada di depannya.


Dulu Arif adalah seorang karyawan di kantor Bertha saat papa Aldo yang pegang, dia di pecat karena ketahuan korupsi.


Saat ini Arif bekerja di perusahaan asing sebagai wakilnya direktur.


Beberapa minggu lalu dia kalah sama Pino dan papa Aldo, sehingga dendamnya semakin tinggi.


Dia sangat yakin bisa menghancurkan Bertha dengan mudah.


Tapi apa yang terjadi dia malah yang hancur.


Arif terkena pidana perencanaan pembunuhan, jeruji besi adalah tempat dia bersemayam, sepuluh tahun penjara, karena papa Aldo menyerahkan beberapa bukti kejahatan Arif beberapa tahun lalu.


Lengkap sudah penderitaannya,dia terbebas dari hukuman, karena papa Aldo kasihan, lalu hanya memecatnya.


Tapi saat ini papa Aldo sudah tidak kasihan lagi, karena menyangkut nyawa anaknya.


Sejak itulah kembali papa Aldo mengunakan kaki lebih banyak untuk Bertha.


Walaupun Edo menolak agar dia yang akan menyediakan untuk Bertha, tapi keputusan papa Aldo tidak dapat diganggu gugat.


Bersambung


Trimakasih kepada semua yang masih setia mengikuti karyaku ini.

__ADS_1


Salam kenal.


__ADS_2