APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 129.Berlalu


__ADS_3

Hidup itu adalah anugerah yang harus kita terima, baik buruknya hidup kita.


Sejauh bisa kita harus membuat hidup kita lebih baik dan berguna, kalau tidak bisa berguna bagi orang lain paling tidak kita tidak menyusahkan orang lain.


Bahagia itulah impian setiap orang, hanya saja tidak semua orang bisa merasakan apa itu bahagia, karena iri, cemburu, dan selalu tidak puas dengan apa yang kita miliki.


Pagi ini Bertha duduk sebdiri di teras rumahnya sekedar menikmati indahnya udara pagi.


Sengaja ia tidak masuk kerja, masih meniknati liburannya walaupun sudah kembali kerumah.


Andre yang sudah mulai ikut ke perusahaan membuat pekerjaan mereka berkurang.


Pagi sebelum berangkat kerja selesai sarapan, Andre melarang maminya ikut kerja.


"Mi... istirahat saja dulu jika masih capek."


"Tapi masih banyak pekerjaan sayang."


"Biar abang yang bantu papi mi."


"Tapi mami masih kuat kok, kalau harus kerja."


"Jangan memaksakan diri mi, percuma mami punya anak jika tidak bisa di andalakan, percaya sama aku mi."


"Baik sayangku mami percaya pada anak mami."


"Trimaksih mi, mami bisa menemani kakek di rumah."


"Ok sayang, baiklah sekarang kalian berangkat sana."


Andre segera menyalami mami dan kakeknya, lalu menuju mobilnya.


Edo yang masih duduk manis merasa tidak bersemangat karena belahan jiwanya tidak ikut bersamanya.


"Papi belum berangkat?" Dia yang merasa heran melihat papinya masih saja duduk manis.


"Iya ayo kita berangkat, mi, papi berangkat ya."


"Iya hati-hati ya."


Semua sudah berangkat tinggal kakek dan Bertha.


Sementara itu setelah mengantar anak-anak Edo langsung menuju kantor.


Di kantor Edo terlihat tidak bersemangat, Andre yang baru saja memasuki ruangan papinya heran melihat papinya.


"Papi kenapa?"


"Tidak kenapa bang, hanya badan papi terasa lemas."


"Apa karena mami tidak ikut pi."


"Papi yang sudah terbiasa bekerja dengan mami serasa ada yang kurang."


"Ah.... papi masa sampai begitu."


"Kamu sih Ndre pakai acara suruh mamimu nggak kerja lagi, mulai tadi papi kamu melanun terus, kalau begini terus yang ada pekerjaan kita nggak beres nih."


"Tapi om kasihan maminya capek."


"Tapi om capek juga melihat papi kamu loyo seperti ini."


"Iya juga sih om."


"Ah... kalian hanya bisa ngejek, iya sudah kalian selesaikan pekerjaan ini, papi pulang duluan."


"Iya.... si papi, malah langsung pulang lagi."


Gilbert malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Andre.


"Ayo Ndre kita lanjut kerja, begitu jika bucin parah."


"Ok deh om."


Sampai di rumah Edo langsung mencari keberadaan istrinya, dan ternyata Bertha sedang berada di dalam kamarnya.


"Loh... papi kok sudah pulang?"


"Sepi mi."


"Ada si abang juga yang lain pi, kok sepi?"


"Iya beda mi, rasanya ada yang hilang gitu."


"Terserah papi deh, nggak malu sama anak?"


"ngapain malu mi, itu tandanya papi sayang sama mami, sebaiknya dia malu jika papi sudah tidak perhatian pada mami."

__ADS_1


"Terus sekarang mami harus ikut ke kantor?"


"nggak usah mi, papi mau mami temani tidur saja."


Sesuai permintaan Edo, Bertha menemani suaminya tidur, dan di siang hari saat orang berjuang mencari nafkah, Edo malah berjuang menyenangkan istrinya di bawah selimut.


Pergulatan panaspun akhirinya terjadi.


Pasangan suami istri itu akhirnya tertidur pulas setelah pergulatan panas mereka hingga sampai anak-anak sudah pada pulang dari sekolah.


Saat sudah puas tidur, Edo keluar dari kamar karena sudah merasa lapar.


Sedang duduk manis di kursi ruang makan, Dia terkejut melihat papinya berada di rumah apa lagi terlihat baru bangun.


"Papi sudah pulang kerja?"


"Sudah sayang tadi itu papi pulang siang, badan papi terasa lemas."


"Oh.... terus mami di mana pi?"


"Masih mandi, papi merasa lapar."


Dia duduk di depan papinya, melihat papinya makan dengan nikmat membuat Dia ikut lapar.


"Melihat papi makan aku jadi ikutan lapar deh."


"Ayo ikut makan bersama papi, kita lomba."


"Beres pi."


Dia mengambil makanan dalam piring lalu memakannya dengan lahap.


Saat keduanya sedang makan mami Bertha, melihat keduanya sangat lahap ia merasa bahagia.


"Aduh makannya lahap bangat sampai mami di sini tidak ada yang tahu."


"Eh... mami maaf soalnya kami sedang lomba makan mi."


Edo memberikan piring yang sudah berisi pada wanita yang sangat dicintainya.


"Ayo kita makan sama mi."


"Iya nih mami juga sudah lapar."


Mereka bertiga akhirnya makan bersama dengan nikmat.


"Bagaimana sekolah kamu sayang, lancar?"


"Lancar kok pi."


"Baguslah sayang papi bangga dengarnya."


"Oya pi Dia ingin ikut ke panjat tebing nggak? "


puh....Edo yang sedang minum sangat terkejut mendengar perkataan putrinya sampai ia menyemburkan air yang sudah ia minum.


"Ih.... papi jorok tahu."


"Itu gara-gara kamu sayang, ngomong begitu buat papi terkejut."


"Maaf pi."


"Iya sayang tapi papi tidak mengijinkan kamu mengikuti kegiatan itu."


"Kenapa pi, banyak cewek yang ikut kok bukan hanya aku."


"Tidak sayang untuk kali ini maafkan papi tidak akan mengijinkannya."


"Tapi kenapa pi?"


"karena kamu terlalu berharga sama papi jadi tidak mungkin papi membiarkan putri papi mengikuti kegiatan yang berbahaya seperti itu."


"Iya sayang mami juga tidak setuju kalau kamu mengikuti kegiatan itu."


Dia yang sudah sangat berharap bisa ikut sedikit kecewa tapi ia juga tidak mau membuat kedua orang tuanya kecewa hanya karena keinginan dia.


"Baik pa, mi aku tidak akan mengikuti kegiatan itu jika papi dan mami tidak mengizinkan."


Walaupun Dia sudah berkata seperti itu tetapi mami Bertha tahu jika putrinya kecewa atas keputusan mereka jika


Melihat Dia akhirnya hanya diam, Bertha berinisiataif mengajak Dia berbelanja.


"Pi... temani kami belanja mau?"


"mami mau belanja?"


"iya pi, mami lupa jika belanja bulanan kita sudah pada banyak yang habis."

__ADS_1


"Sayang ikut mami belanja yo."


"Nggak ah.. mi aku di rumah saja."


"Ayolah sayang."


"Iya sudah deh mi, tapi bang Dio juga ikut ya."


"Boleh, ayo kita siap-siap dulu."


Dia menuju kamar Dio untuk mengajaknya, karena ia tahu jika menemani maminya belanja harus membutuhkan kesabaran.


"Tok.... tok.... tok... bang buka dong, lagi ngapain sih lama banget."


Krek.... suara pintu terdengar, nampak Dio yang sudah segar sehabis mandi.


"Ada apa sih? brisik tahu."


"Temanin mami belanja yo, aku nggak ada teman nanti pasti papi dan mami akan lama."


"Memang papi sudah pulang?"


"sudah sejak siang katanya badannya lemas, makanya cepat pulang."


"Kalau papi kurang sehat kenapa malah mau pergi belanja?"


"Mana aku tahu, tanya papi saja langsung."


"Kamu kenapa kok jawab abang judes bangat."


"Iya sudah aku siapan dulu."


"Iya bawel."


Dua puluh menit kemudian Dio sudah melihat adiknya turun, hanya saja wajahnya masih terlihat jutek.


"Hei.... kamu kenapa? cantik tapi wajah di tekuk."


"Dia masih marah sama mami dan papi?"


Bertha yang baru saja turun akhirnya mendekati anak gadisnya karena melihat anaknya masih kecewa dengan keputusan mereka.


"Tidak kok mi."


"Iya sudah kalau tidak marah lagi sebaiknya kita berangkat."


Dio yang masih bingung hanya mengikuti kedua orang tuanya saja.


Sampai di tempat berbelanja Dio setia mengikuti maminya.


Sedangkan Dia sudah duduk manis di sebuah restoran bersama papinya.


Satu jam menunggu akhirnya mami dan Edo selesai belanja.


"Bengong saja, ayo temanin abang main biar papi dan mami yang nunggu."


"Malas ah... kita pulang saja."


"Kamu kenapa sih, judes banget mulai tadi, memang abang salah apa?"


"nggak ada hanya pengen pulang."


"Iya deh, yang waras ngalah."


"Ye... memang aku gila."


"Siapa yang bilang kamu sendiri."


"Mi, pi, pulang yo malas aku sama anak papi yang satu ini."


"Kok pulang kita sekalian tunggu bang Andre sayang soalnya kita mau makan ke kafe barunya abang."


"Benaran pi?"


"Iya dong, kita belum pernah kesana secara bersama."


"Tunggu deh pi, kalau tidak salah tadi Dia bilang kalau papi kurang enak badan tapi kenapa justru mau kesana?"


"Itu tadi abang.. sekarang papi sudah sehat."


"Kok gitu?"


Dio semakin bingung atas ucapan Dia.


Edo hanya terkekeh mendengar perdebatan kedua anaknya.


"Sudah-sudah tidak usah ribut papi sudah tidak apa-apa."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2