
Pagi hari yang cerah Joni memulai harinya dengan penuh semangat dan tekat, bahwa dia bisa memulai dengan segala keberhasilan.
Saat sampai di kantor, para karyawan sudah berkumpul untuk menyambutnya, papa Aldo yang ikut memperkenalkan putranya untuk mengganti posisi Pino, sementara posisi papa Aldo akan di isi oleh Pino.
Para karyawan bertepuk tangan atas kehadiran atasan baru mereka.
Sebagai karyawan senior pasti sudah sering melihat Joni,dan mereka sangat tahu siapa Joni tersebut.
Hanya bedanya saat ini dia sudah lebih dewasa dan tampan, wanita mana yang tidak akan tertarik padanya.
Sejak putra dari pak Wo ikut bergabung dengan perusahaan milik Bertha, keadaannya semakin maju, apa lagi setelah pak Wo memperingati ketika Bertha dan Edo celaka.
Pria tampan nan genius itu semakin tidak bisa di sentuh oleh musuh.
Sebagai orang tua pak Wo sangat bahagia demikian juga dengan semua karyawan di tempat dia bekerja.
Pendapatan yang bertambah membuat mereka ikut merasakannya, dengan ikut kenaikan gaji dan bonus.
Disiplin dalam bekerja jangan di tanya, jangan ada yang bermain dengan waktu mata elangnya seolah akan menelan hidup.
Saat ini semua karyawan sudah kembali bekerja, tidak ada yang bicara selain tentang pekerjaan.
Wah.... wah... seperti anak sekolah yang lagi upacara bendera iya.
Ha..... ha... kita kembali kepada Joni.
Saat ini papa Aldo sedang mengajari Pino secara resmi, bukan sebagai keponakan melainkan sebagai bos.
Aura kepimpinan dari papa Aldo akhirnya keluar, dan Pino mendengar semua penjelasan omnya.
Untuk beberapa bulan ke depan papa Aldo masih membantu Pino dan juga Joni.
Saat tiba makan siang keempat pria itu berkumpul di salah satu meja makan kantin, tapi khusus petinggi perusahaan dan tamu penting.
Kantin perusahaan tidak kalah mewah dengan restoran mewah, karena ini sudah di rancang sedemikian rupa oleh papa Aldo.
Selain menambah penghasilan, tapi juga menghemat waktu tapi tetap dengan kenyamanan.
Terkadang papa Aldo mengadakan rapat di sana.
Ruangan luas lengkap dengan pemandangan indah, bisa menyaksikan para karyawan yang sedang makan, tapi karyawan tidak dapat melihat dan mendengar mereka.
Walau beda usia tidak terlihat kecanggungan di antara mereka, candaan papa Aldo membuat ketiga pria tampan itu tertawa.
Sepertinya mereka sedang melawak makanya pria yang selalu serius itu bisa tertawa.
Tapi itulah mereka saat bekerja terlihat sebagai orang asing, tapi ketika santai seperti ini layaknya sebagai saudara.
Saat ini mereka sudah kembali ke ruangan mssing-masing.
Kembali bekerja dengan segala keseriusan.
Rapat penting akan mereka adakan beberapa menit lagi.
Keempat pria itu ikut berkumpul, para utusan dari kantor cabang sudah sampai beberapa menit yang lalu.
Rapat segera di mulai, Pino yang akan menangani sedangkan papa Aldo hanya ikut memantau.
Lelah... itu yang saat ini mereka rasakan.
Sore hari mereka sudah kembali ke rumah masing-masing,Joni juga merasa sangat lelah.
Setelah membersihkan diri lalu sejenak membaringkan tubuhnya," sungguh badanku rasanya lelah bangat."
Setelah tubuhnya sudah tetasa sidikit lebih baik dan segar dia turun untuk menjumpai papanya.
Selama beberapa tahun dia sudah tidak pernah menonton televisi saat sore hari seperti yang biasa mereka lakukan sebelum berangkat kuliah untuk mengambil S2.
Papa sapanya ketika melihat papanya sudah berada di depan televisi.
"Ayo sini dekat papa, sudah lama kita nonton televisi bersama."
__ADS_1
"Iya pa, aku turun untuk nonton televisi bersama."
Kebiasaan mereka menonton bukanlah sinetron melainkan berita yang terjadi hari itu.
"Bagaimana pengalaman pertamanya capek?"
"Iya lumayan pa, tapi iya namanya juga kerja ya capek."
"Nanti juga terbiasa jadi tidak terlalu capek."
Sekitar satu jam mereka menghabiskan waktu bersama sekarang mereka sudah berada di kursi meja makan.
Menyantap hidangan dengan nikmat, serta bersyukur atas semua yang telah berlalu hari ini.
Sebagai seorang anak Joni sangat bahagia memiliki papa yang baik dan perhatian.
Papa Aldo yang selalu berusaha memberikan yang terbaik pada anaknya.
"Pa jangan lupa makan obat ya, aku hanya punya papa jadi aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan papa."
"Iya... papa juga tidak mau meninggalkan kamu, sebelum kamu bahagia."
"Pengalaman buruk yang kamu alami jangan jadi penghalang untuk diri kamu."
Kamu harus percaya bahwa wanita itu tidak sama, mungkin hanya mama kamu dan bibi kamu yang seperti itu.
"Papa dan pamanmu tidak bernasib baik dalam memilih pasangan hidup, tapi bukan berarti nasib kalian juga sama, sambil bekerja kamu juga harus cari calon istri yang baik."
"Iya pa."
"Kakak kamu mungkin bisa jadi contoh untuk kamu bisa berkembang."
"Iya... pa tapi papa sabar ya."
"Lihat kak Pino walau pernah di hianati tapi dia tidak jera."
"Iya pa, aku juga salut dengan kakak itu, nanti deh aku cari."
"Iya nak tapi jangan karena cantik iya, yang penting sifat aslinya bukan topeng."
Papa Aldo mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan putranya.
"Iya kenal dong dia itu pilihan pak Wo, emang kenapa?"
"Kalau dia cocok tidak pa?"
"bukannya kamu belum pernah melihat dia?"
"iya jika papa lihat cocok biar kita dekati, apa lagi sudah dekat dengan kakak."
"Kamu itu."
"Aku serius pa, ngapain cari yang papa dan kak Bertha belum kenal, yang mungkin hanya berpura-pura."
"Kamu tanya kakak kamu saja, kalau yang papa lihat dia baik, tapi yang sering jumpa iya kakak kamu sama kak Pino."
"Aku sudah ngobrol sama kakak pa."
"Kakak hanya bilang nanti juga kamu kenal."
"Iya itu betul, kamu tidak perlu buru-buru."
"Ok pa."
Perbincangan mereka akhirnya berakhir dan kembali ke kamar masing-masing.
Sementara itu Edo sedang uring -uringan karena perutnya sakit sejak makan siang tadi.
"Pi... kita panggil dokter iya," ujar Andre yang kasihan melihat papinya bolak balik kamar mandi.
"Kok papi bisa memakan cabe rawit sih?"
__ADS_1
"Iya papi tidak tahu bang jika dalam makanannya pakai cabe rawit."
Edo yang sejak Kecil tidak bisa makan pakai cabe rawit, jika dia makan perutnya akan melilit dan akan berlangganan dengan kamar mandi.
Siang tadi seseorang mengajak makan di restoran yang baru saja di buka, tapi ternyata menu makan mereka dari cabe rawit.
Mau bilang rasanya enggan karena temannya sangat bahagia akhirnya bisa membuka restoran.
Dia adalah Joko teman sekelas Edo sewaktu SD.
Selama SD mereka sering bersama, Joko adalah anak yatim piatu, ketika kakek Edo masih hidup beliau yang membiayai sekolah Joko makanya Edo dan Joko sering bersama apa lagi saat di sekolah.
Saat SMP ada keluarga yang mengadopsi Joko dan membawa pergi Joko ke kota lain.
Enam tahun kemudian orang tua angkatnya meninggal dan semua harta di ambil oleh keluarga.
Hanya rumah dan tabungan yang atas nama Joko yang tersisa.
Bermodal tabungan tersebut Joko kuliah dan itulah sebabnya dia ada di sini.
Setelah beberapa tahun bekerja pada orang akhirnya Joko bisa buka restoran impiannya.
Sebagai koki handal di restoran tempat dia bekerja, tidak butuh waktu lama untuk membuat restorannya berkembang.
Ternyata lama tidak berjumpa dengan Edo membuat dia lupa dengan Edo yang tidak bisa makan cabe rawit, mungkin jika dia tahu jika saat ini Edo sakit perut karena dia pasti akan merasa bersalah.
"Pi... jahat banget orang itu"sungut Andre lagi.
"Bukan jahat sayang tapi dia tidak tahu."
"Sudah kalian dua berdebat terus, memang bisa sembuh?"
"Terus bagaimana mi?"
"iya bertobatlah,tunggu sebentar lagi dokternya akan sampai."
Benar saja dokter yang sudah puluhan tahun bekerja pada keluarga Edo akhirnya datang.
"Wah... jagoan om akhirnya bisa tumbang."
"Yang jagoan itu aku kek bukan papi."
"Ha.... ha.... kakek sangat senang mendengarnya karena demikian juga ucapan papimu jika kakek menggoda kakekmu dulu."
"Benarkah kek?"
"benar dong.
"Jadi kenapa nic mantan jagoan om."
"Aduh om, perut aku sakit banget kemarin itu aku makan pakai cabe rawit."
Ha.... ha.... tawa dokter tersebut pecah.
"Kok kakek tertawa sih?"
"Iya kakek merasa lucu dengan papi kamu boy, masih saja kalah dengan cabe rawit yang kecil itu."
"Iya... ya... kek, papi besar tapi malah kalah sama cabe rawit."
Kali ini bukan hanya dokter yang tertawa tapi Bertha juga tidak bisa menahan tawanya atas ucapan putranya.
Edo jadi jengkel melihat orang yang ada disana semua mengejek dia.
"Jangan marah pi, kami hanya bercanda," ujar Andre polos.
"Iya sudah ini obat kamu makan, terus jangan marah."
Sang dokter masih ingin menggoda Edo.
"Baiklah om."
__ADS_1
Bersambung.
Hai.... ada yang kesal nic, tapi author tidak loh, hanya Edo yang kesal asal jangan lupa like dan komentarnya serta votenya.