APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 79.Bermain


__ADS_3

Baiklah cucu kakek yang ganteng,sekarang mari kita main bertiga.


Saat ini mereka sudah berada di taman bermain, kedua kakeknya mengawasi cucunya yang asyik bermain.


"Kakek sini deh, asyik..... "


Iya saat ini Andre sedang main mandi bola.


"Ayo kek kita main sama -sama," teriak Andre agar kakeknya datang mendekati.


Akhirnya kedua kakek Andrae datang mendekati dan saat ini mereka sedang asyik saling meleparkan bola secara bergantian.


Setelah puas mandi bola,Andre mengajak kedua kakeknya makan siang karena perutnya sudah lapar.


Pada saat memasuki cafe di sana tidak sengaja Andre melihat papinya sedang duduk dekat seorang wanita cantik.


Andre berhenti membuat kedua kakeknya ikut berhenti, pandangan Andre lurus kedepan membuat kedua kakeknya ikut melihat arah pandang cucunya.


"Nak mungkin papi kamu lagi sedang makan siang bersama teman kerjanya," jelas papa Aldo.


"Kita pulang saja kek, lain kali baru kita makan di sini, aku sudah tidak mau bermain lagi."


Andre langsung merasa sedih, melihat papinya makan bersama dengan orang lain.


Papi jarang makan siang dengan kami tapi dengan orang lain papi senang makan siang, gumam Andre dalam hati.


"Nak kamu jangan sedih dong, papi itu kerja sayang."


"Iya kek."


Sampai di rumah Andre langsung mencari keberadaannya Bertha sang mami.


Mi... panggil Andre langsung memeluk maminya.


"Ada apa sayang kok nangis."


"Papi mi, dia makan sama perempuan."


"Mungkin teman kerja papi sayang."


"Tidak mi, dia peluk papi tadi,"jelas Andre menggebu.


Bertha yang tidak tahu situasinya hanya berusaha memenangkan putranya.


"Sayang sudah dong jangan nangis lagi ya."


"Mi aku tidak mau sampai seperti Jihan mama dan papanya cerai karena papanya ada perempuan lain."


"Sayang jangan gitu ya, papinya Andre itu setia, tidak seperti papa Jihan."


"Aku takut mi, aku tidak mau nangis terus seperti Jihan."


Bertha memeluk putranya, sedikit ada rasa cemas dalam hatinya, kenapa anaknya sampai seperti ini.


"Sudah makan belum?"


"belum mi, tadi mau makan malah ada papi jadi gagal deh makan di luar sama kakek."


"Iya sudah ayo kita makan, barang kali kakek masih ada."


Di meja makan ketiga orang dewasa masih makan, melihat cucunya datang mendekati membuat mereka langsung tersenyum.


"Sayang sini makan dekat nenek, biar nanti nenek suapin agar mamimu bisa makan juga."


Mereka menikmati makanan masing-masing,setelah selesai makan Bertha mengajak Andre duduk di taman sebentar kemudian mengajaknya untuk tidur siang.


Setelah Andre tidur, Bertha turun untuk bicara langsung dengan papanya.


"Ada apa sih pa? kok Andre sampai nangis gitu."


"Siapa yang makan dengan papinya Andre?"

__ADS_1


"Kami tidak kenal nak, sebaiknya kamu tanya langsung."


Karena tidak mendapat jawaban yang diinginkan akhirnya Bertha kembali ke kamar mereka.


"Semoga hanya karena pengalaman teman mu nak kamu berpikir seperti itu, entah kenapa hati mami jadi ikut cemas."


Bertha akhirnya memikirkan tentang ucapan Andre, apa lagi papa Aldo dan papa mertuanya tidak mau memberikan komentar.


Sore hari, Bertha seperti biasa, merawat baby kembar, dari mandi sampai menemani jika mereka tidak mau tidur, saat Bertha membersihkan diri lalu mama mertuanya yang gantian jaga si kembar.


Saat Bertha dan Andre bermain sama si kembar Edo datang dari kantor.


"Sore kesayangan papi," sapa Edo seperti biasanya dengan senyum merekah.


Andre tidak ada menjawab, dia tetap asyik bermain bersama adiknya.


Bertha yang tidak mau langsung menunjukkan perasaannya, tersenyum pada suaminya.


"Mi, abang kebawah ya," pamit Andre ketika papinya duduk di sampingnya.


Setelah Andre pergi, Edo tidak dapat menahan sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Sayang ada apa dengan si abang kok aneh."


"Sebaiknya papi mandi dulu ya baru, nanti kita bicarakan."


Walau masih bingung tapi Edo tetap menuruti ucapan istrinya.


Sepuluh menit kemudian Edo sudah selesai juga dia yang penasaran tidak mau lama -lama menahan perasaannya.


"Sayang sebenarnya ada apa dengan si abang."


Dia marah pi, bahkan mulai dari cafe dari tempatnya bermain-main dia menangis.


"Maksudnya?"


"Papa membawa dia bermain tadi mandi bola, saat mereka mau makan katanya dia melihat papinya di cium perempuan lalu makan."


Edo diam tidak bisa menjawab perkataan Bertha, tapi dia tidak menyangka akan seperti ini.


"Kamu tidak perlu menjelaskan sama aku pi, jelaskan saja pada anakmu," perkataan Edo di potong oleh Bertha dengan cepat.


Edo melihat istrinya hendak bangkit dari duduknya langsung ikut bangkit dari duduknya.


"Sayang... jangan marah sama aku.. tadi itu aku makan siang sama Gilbert,dia tadi di telepon mamanya untuk diantar ke rumah sakit, saat dia pergi Rina datang jadi tidak ada unsur kesengajaan."


Edo memeluk Bertha dengan erat, dia tidak mau sampai istrinya salah faham.


Rina adalah cewek yang tergila -gila dengan Edo, biasanya dia datang tapi ada Bertha.


Maka selama ini dia menjadi tambah gila saat Bertha tidak ikut ke kantor lagi.


"Aku janji ini tidak akan pernah terulang lagi," janji Edo sambil berbisik di telinga Bertha.


Bertha hanya mengangguk pasrah, tapi tidak bisa di pungkiri jika hatinya kecewa pada suaminya.


Selama ini dia tahu jika suaminya berusaha menghindari, tapi sudah beberapa kali juga Edo dan Rina makan bersama.


"Aku tidak mencintai dia sayang, dia yang selalu mengejar aku kemana pun, tapi kalau memang kamu terganggu baiklah aku akan mengurusnya walaupun kamu melarang."


Sejak awal Edo memang sudah akan menghancurkan perusahaan Rina, tapi Bertha melarangnya.


"Aku tidak mau sampai keutuhan keluarga kita hancur karena sampah seperti dia."


Bertha yang merasa bahwa suaminya sudah tahap emosi akhirnya berbalik hingga mereka berhadapan.


"Baiklah aku serahkan semua urusan Rina sama kamu, aku tidak mau melihat putraku seperti tadi lagi."


Iya.... untuk kali ini Bertha memang harus egois,mungkin kebaikan yang dia berikan selama ini malah membuat keluarganya berantakan.


Perusahaan milik Bertha dan Edo adalah pemegang saham di perusahaan Rina, mungkin dia tidak tahu karena Bertha tidak pernah terjun langsung untuk mengurus semua.

__ADS_1


"Trimakasih sayangku, aku minta maaf karena sudah membuat kalian kecewa."


Akhirnya Bertha membalas pelukan dari suaminya.


Sayang bantu aku bicara pada anakku, mohon Edo karena dia tahu Andre adalah pribadi yang keras.


Sifat Andre turun dari dia yang berpegang pada perasaannya dan apa yang di lihatnya.


"Baiklah.. tapi ada syaratnya."


Hem... Edo heran karena tidak pernah Bertha begitu sebelumnya.


"Iya.... mau nggak?"


"Syarat apa hem....?"


"Gendong."


Tanpa pikir panjan Edo menggendong Bertha sampai di kamar putranya.


"Turunin...." ujar Bertha tepat di depan pintu kamar Andre.


"Sayang.... ini mami buka dong pintunya."


Walau Andre marah tapi jika pada maminya Andre tidak mau marah, sejak kecil dia selalu menuruti ucapan maminya, di tambah lagi setelah tanpa sengaja dia mendengar perkataan papa Aldo yang cemas ketika akan melahirkan si kembar.


Saat itu Andre mendengar kakeknya bicara sambil menangis pada om Pino.


"Om jangan seperti ini, Bertha orang kuat, lagian dia sudah mulai sadar tidak akan terjadi sesuatu seperti saat melahirkan Andre om."


"Om sangat kwatir No."


"Tapi om harus tenang, dokter bilang tidak ada yang perlu di kwatirkan, kondisinya sudah baik tinggal nunggu sadar."


"Dia tidak akan ninggalin kitakan sama waktu itu dia hampir meninggal."


"Tidak om, aku tahu om sangat menyayangi Bertha jadi dia akan selalu baik."


"Om ikut aku ke rumah sakit, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu dengan om, bagaimana nanti dengan Bertha saat dia bangun, pasti dia langsung bertanya tentang om."


"Baiklah nak, om akan ikut."


Perkataan Bertha membuyarkan lamunan Andre akan ucapan kakeknya, dengan cepat dia berlari untuk membuka pintu kamarnya.


"Apa mi, ucap Andre sendu."


"Sayang jangan marah dong, papi sama mami tidak akan pernah berpisah, perempuan tadi itu ada gangguan jiwanya, makanya dia peluk papi."


"Apa benar itu pi?" tanya Andre dengan tatapan tajam pada papinya.


"Iya sayang, papi tidak ada perempuan lain selain maminya Andre."


"Awas kalau papi bohong aku tidak mau memafkanmu iya pi."


Kluk...Edo menelan ludahnya kasar, putranya masih Kecil tapi sudah mengancamnya, apa lagi jika dia sudah besar ya.


"Iya sayang, papi janji."


"Aku tidak mau melihat perempuan yang lain nempel sama papi, cukup hanya mami."


Bertha tersenyum bahagia melihat putranya yang sangat peduli sama dia.


"Iya sudah sekarang kita turun untuk makan malam bersama kakek sama nenek Andre."


"Iya mi, abang Andre juga sudah lapar gara-gara papi,papi nyebelin."


"Iya sayang papi minta maaf sekali lagi ya."


"Gendong.... pi."


"Hem... nggak maminya anaknya sama saja, tapi tidak apa-apa deh yang penting dimaafkan iya."

__ADS_1


Hai.... semua maaf keterlambatan upnya ya.


Trimakasih ya atas dukungannya.


__ADS_2