
Pagi hari semua anggota keluarga sudah berkumpul bersama di meja makan.
Semua makan seperti biasa, Andre mengambil makanan untuk adiknya baru untuk dirinya.
Dia hanya diam mengambil makanan yang sudah diambil abangnya.
Papi Edo berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu kaku suasana sarapan mereka.
Setelah selesai sarapan papi dan mami berangkat beserta anaknya.
Andre berangkat sendiri, tapi nanti agak siang, soalnya dia hanya satu mata kuliah.
Dia dan Dio turun dari mobil papinya lalu menyelam punggung tangan kedua orang tuanya.
Mereka segera memasuki gerbang sekolah, karena waktu masih ada Dio mengajak adiknya duduk di taman sekolah.
"Dek... kamu masih marah sama abang,jangan lama-lama marahnya kasihan juga bang Andre, tadi malam dia pulang larut malam setelah kamu tidak mau membuka pintu kamarmu."
"Entahlah bang rasanya kesal bangat, masa aku di cuekin terus, siapa yang tidak marah."
"Mulai sekarang kamu itu belajar mandiri supaya jika suatu hari nanti abang punya pacar kamu tidak terlalu kecewa, karena kamu bukan princesnya lagi."
"Memang harus seperti itu ya?"
"Iya... mau bagaimana lagi, itu sudah kodratnya, karena dia pasti menomor satukan kekasihnya, dari pada kita."
"Iya sebel ah."
"Kamu itu, sudah yo masuk."
Mereka segera masuk ke dalam kelas, karena waktu sudah menunjukkan pelajaran akan dimulai.
Istirahat pertama Dia bersama teman menuju kantin, wajahnya sudah kembali ceria seperti biasa, sementara Dio juga berkumpul dengan teman-temannya.
Dino teman Dio mengajak bicara Dio.
"Ada apa tadi dengan adik mu?"
"biasalah cewek ada masalah sedikit langsung mewek."
"Tapi sekarang aku lihat dia sudah kembali ceria,"ujar Dino.
"Iya, Dia itu gadis periang,"jelas Ari.
Sementara itu Dia sudah makan bersama teman-temannya dan hendak meninggalkan kantin.
"Dio boleh dekati adik kamu tidak?"
"dekati untuk apa?"
"jadi temanlah," jelas Ari.
"Kalau kamu sudah siap mati!."
"Mati?"Ari bingung atas ucapan Dio.
"Iya aku nggak mau jika adikku jatuh di tangan orang seperti kamu."
"Memangnya aku kurang apa coba? pintar, ganteng, anak orang tajir lagi,"bangga ari.
"Satu kurangnya kamu itu flaboy cap kapak naga,jadi mana aku rela."
"He... he... itukah?Ari nyengir, iya juga sih, tapi untuk adik kamu aku mau berubah deh."
"Memang aku percaya sama kamu?pintar? pintar nyontek iya kalau kamu mau bangga karena anak orang tajir, emangnya adikku kekurangan materi?"
"Ih... kalian berdua kok malah ribut sih, sedang orangnya nyantai tuh."
Dino kesal melihat kedua sahabatnya, belum apa-apa sudah ribut saja.
Akhirnya mereka melanjutkan makan lalu meninggalkan kantin.
"Hei jangan marah dong, kalau tidak boleh tidak apa-apa juga, biar aku usaha sendiri,"jelas Ari nyengir.
"Dio menonjok bahu Ari sambil terkekeh, lulus dulu baru dekati adik aku, kalau nilai kamu melebihi nilaiku,baru baru aku izin itupun jika Dia mau."
"Benaran nih?"
"Hem.. dan tentunya dengan izin bos besarnya yaitu abang aku."
"Ok deh aku akan berjuang."
Dino dan Ari adalah sahabat Dio sejak SD, yang otomatis sudah mengenal Dia juga.
Ari mulai tertarik dengan Dia sejak kelas dua SMP, tapi Ari takut mengungkapan isi hatinya.
__ADS_1
Sebenarnya Ari bukan flaboy seperti apa kata Dio, mengenal cinta saja baru, itupun masih dalam diam.
Setelah pulang sekolah Dio menunggu adiknya menuju parkiran, dan sampai di sana ternyata sudah ada abangnya menunggu,tapi supir mereka biasa juga sudah ada.
"Dek.. ikut abang iya, biar Dio pulang sama bapak Am."
"Mau kemana bang?"
"Ke cafe ya, abang banyak kerja."
"Kok kerja sih?"
"iya nanti sehabis kerja abang ajak jalan deh."
"Bang Dio aku ikut bos ok."
"Iya sudah aku duluan ya, hati-hati,"ujar Dio.
Andre segera melajukan mobilnya menuju cafe, dia mau menyelesaikan pekerjaannya dulu baru mengurus adik manjanya.
Sampai di cafe Dia mengukuti langkah abangnya menuju ruangan yang dulu biasa di gunakan oleh papinya.
Andre sudah bergulat dengan kertas yang ada di meja, sedangkan Dia karena bosan dia pergi tidur di ranjang kamar khusus papinya.
Dua jam Andre sudah selesai, dia mau membanguni adiknya, tapi belum sempat Andre bangkit Dia sudah duduk di sofa dengan wajah khas bangun tidurnya.
"Ih... kamu gadis jorok banget, pakai ngences lagi, sana cuci muka, malu abang lihatnya."
Dia masuk ke dalam kamar mandi, lalu mencuci muka dan segera keluar.
Setelah melap mukanya dengan handuk kecil kemudian Dia menyisir rambutnya.
"Sudah ayo berangkat,"ajak andre sudah berdiri di depan adiknya.
"Mau belanja atau mau makan?"
"Belanja deh kak ada buku yang mau aku cari," jelas Dia.
Saat ini mereka sudah berada di toko buku terlengkap di kota mereka.
Dia memilih buku yang ingin dibelinya.
Satu jam mereka berputar untuk mencari buku tersebut, dan buku yang di dapat juga sudah banyak, dari buku pelajaran, sampai buku cerita.
Setelah pembayaran di kasir hari sudah beranjak sore, Andre memngajak adiknya makan di warung bakso langganan mereka.
"Kita makan bakso dulu yo dek,"ujar Andre sambil mencari parkiran,sebab banyak pengunjug sehingga tempat parkir hampir penuh.
Andre menuju tempat yang biasa mereka duduki tapi ternyata sudah ada yang duduk di sana, pelayan yang melihat itu langsung mencari tempat untuk Andre.
"Maaf mas tempatnya ada yang pakai."
"Tidak apa-apa mbak, santai saja."
Saat ini mereka duduk di pojok warung yang menghadap sampin warung.
Pelayan mengantar bakso dan minuman yang Andre pesan.
Saat makan seorang wanita datang menghampiri mereka dengan pandangan tajam.
"Ndre kamu menolak aku demi anak ingusan seperti ini?" ujar wanita tersebut dengan suara mengejek.
Andre yang tidak menyukai keributan hanya diam tanpa ada niat menjawab.
Dia juga mengikuti jejak abangnya menganggap tidak ada siapa-siapa di sana.
Karena kesal wanita tersebut akhirnya meninggalkan mereka, Dia tersenyum setelah wanita itu berlalu.
"Ada penggemar abang nic,"
gadanya yang membuat Andre ikut tersenyum.
"Biasalah dek, abang kamu ini sangat ganteng, jadi wajar jika banyak cewek yang ngejar, tapi kamu jangan mau seperti itu ya, tidak punya harga diri."
"Siapa juga yang mau seperti itu,"gerutu Dia.
"Makanya abang ingatkan."
Andre melihat adiknya kesal lalu terkekeh.
"Jelek tahu dek buat seperti itu."
Dia menghabiskan minumannya, lalu mengajak abangnya pulang.
"Tunggu dek," ucap Andre.
__ADS_1
"Ada apa bang?"
"abang mau minta maaf atas sikap abang yang kemarin."
"Sudahlah bang tidak usah di bahas kembali."
"Iya abang tidak sengaja menyakitimu seperti itu,maaf ya."
"Iya bang, tenang saja aku sudah memafkanmu, buktinya aku mau menemani abang."
"Iya, trimakasih princes."
Ada kelegaan di hati Andre setelah minta maaf pada adiknya, baru kali ini Dia kecewa padanya hingga Dia tidak mau bicara bahkan makan saja tidak mau, Dia mengurung diri di kamar.
Mereka akhirnya memilih untuk pulang, sampai di rumah ternyata papinya sudah santai di ruang keluarga.
Sedangkan sang mami asyik melihat berita tentang bencana alam, sehingga tidak menyadari kedatangan anaknya.
"Mami..
serius bangat sih, samapi lupa sama anak gadisnya."
"Maaf sayang, iya nih ada bencana alam, jadi mami fokus untuk menonton."
"Sudah mandi sana, nanti keburu malam, tidak baik anak gadis mandi malam-malam."
"Baik mamiku sayang, aku keatas dulu ya," pamitnya.
Andre juga segera menyusul adiknya menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Setengah jam kemudian mereka sudah turun kembali untuk menemani papi dan maminya makan.
Sudah jadi kebiasaan jika mereka sudah makan tapi tetap turun walau hanya sekedar makan buah.
"Pi, mi aku tidak mau makan lagi ya,sudah makan bakso tadi," jelas Dia sebelum maminya bertanya.
"Iya sudah tidak apa-apa sayang makan buah saja, disana belum ada makan buahkan?"
"iya mami."
Mereka makan sambil obrolan ringan, Edo bahagia melihat anak-anaknya sudah pada akur.
Setelah selesai makan mereka bersantai di ruang keluarga untuk sekedar menikmati kebersamaan mereka.
Saat waktunya mereka kembali ke kamar masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaannya, baik tugas sekolah maupun tugas dari kantor.
Satu jam setelah masuk ke kamar maminya datang untuk memastikan apakah anak-anaknya mengerjakan tugasnya.
Andre kembali memasuki kamar adiknya setelah mengetuk pintu dan sudah ada jawaban dari dalam.
"Dek ini ada sesuatu untuk kamu, sebagai permintaan maaf dari abang."
Dia membuka kotak yang diberikan oleh abangnya.
"Wah... cantik banget bang, aku suka tahu sudah lama aku mengincarnya."
"Baguslah jika kamu suka abang senang dengarnya."
"Trimakasih banyak bang,"
ucapanya sambil menghambur di pekukan abangnya.
"Ternyata kamu adik sogokan juga ya," ujar Dio yang masuk tanpa salam.
"Enak saja kalau ngomong."
"Bilang saja sirik."
"Apa lagi hasil dari merajuk."
"Ih... kamu itu abang yang sangat mengesalkan," ujar Dia sambil memukul Dio.
"Sudah jangan ribut lagi, ini sudah malam, sebaliknya kita tidur."
Andre dan Dio meninggalkan kamar adik perempuan mereka.
"Trimakasih ya Dio sudah membantu abang untuk baikan pada Dia."
"Sama-sama bang, aku juga sangat seneng melihat kita akur."
Andre memeluk adiknya dengan sayang, dia tahu adiknya yang satu ini sangat usil tapi selalu perhatian pada keluarga.
Bersambung.
Like..... like.... dong.
__ADS_1