APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 78.Rencana


__ADS_3

Pertemuan antara Kinan dan mamanya Yanto yang baik membuat Yanto lebih bahagia.


Mamanya juga nampak menerima Kinan, dan ternyata gadis itu juga cepat akrab.


Tidak ada pembicaraan yang berat hanya sekitar pekerjaannya dan juga Bertha yang bermurah hati menerima dia bahkan mau memberikan kepercayaan padanya untuk mengolah butik yang merupakan cita-cita Bertha sejak dulu.


"Kamu jangan menyia-nyiakan kepercayaan mereka nak, sulit untuk mendapatkan kepercayaan untuk ketiga kalinya."


Pesan mama Yanto pada Kinan.


"Iya tante, aku juga tahu walaupun dia afik aku tapi aku tahu sudah banyak salah sama dia."


Saat ini Yanto sedang mengantar Kinan pulang, papanya yang tidak pernah melihat putrinya di antar seorang pria, merasa bahagia.


"Somoga ini awal kebahagiaan mu nak," gumamnya dalam hati.


Sebagai ayah ada rasa bersalah atas kehidupan putrinya selama ini.


Mungkin jika dia tidak menyerahkan semua urusan anak hanya kepada istrinya, masalahnya tidak seperti ini.


Mengejar uang setiap hari demi perkembangan bisnisnya, tapi semua hancur juga tidak bersisah.


Saat dia jaya bahkan perasaan adik yang dulu sangat dia sayangi juga harus di rebut, dan rela menukar dengan kebahagian putrinya.


Dosa yang dia rasa selama ini perlahan berkurang satu persatu karena melihat semua anaknya sudah berdamai.


"Malam pa," sapa Kinan saat mereka sudah sampai di rumah.


"Malam nak, ayo silahkan duduk,"ucap papanya ramah.


"Malam om,"sapa Yanto sambil mencium punggung tangan pria yang sudah renta itu.


"Malam juga nak."


Setelah bercerita beberapa menit akhirnya Yanto pamit pulang karena tidak enak harus lama di sana.


Sementara itu pasangan yang sedang berbahagia atas kehadiran sikembar sidikit heboh.


Oek.... oek... oek.. tangis bayi kembar bersama.


Edo yang merasa bingung dan pusing mendengar keduanya menangis malah berlari untuk memanggil sang mama.


"Mama... cepatan kesini," panggil Edo sidikit berteriak.


"Kenapa sih kamu seperti tarjan teriak-teriak."


"Sikembar menangis terus mulai dari tadi, aku bingung,"jelas Edo yang merasa kwatir.


"Kamu sudah kasih susu?, atau popoknya ada masalah nggak?"


"Sudah ma, makanya aku bibgung."


"Iya ampun nak, kamu tidak pegang badan mereka sedikit hangat? tanya mamanya heran.


"Iya sih ma tapi aku tidak kepikiran kesana," jelas Edo.


Mama Edo mengompres cucunya baru setelah tenang barulah Edo bernafas lega.


"Kamu sudah telepon dokter?"

__ADS_1


"Belum ma."


"Terus mulai tadi kamu itu ngapain?bisnis saja yang pandai anak sakit hanya bingung."


Mama Edo ngomel dia sangat heran sama anaknya kok hanya bisa bingung tanpa harus berusaha.


"Pusing mama sama kamu, ayo cepat hubungi dokter! perintah sang mama tegas."


"Baiklah ma, jangan marah ma, aku benar -benar bingung nih."


"Iya... iya sudah sudah sana hubungi dokternya tidak usah melas gitu malas mama dengarnya."


Edo segera menghubungi dokter yang menjadi langganan keluarga mereka bahkan masih kakeknya hidup.


"Mama tinggal bentar kamu lihat mereka dulu, lihat istrimu sepertinya dia juga ikut demam."


Edo mendekiti istrinya dan ternyata benar bahwa istrinya juga demam.


"Sayang kamu kenapa malah ikut demam sih, aduh kamu panas banget lagi."


Beberapa menit kemudian dokter datang, "siapa yang sakit nak?"tanyanya pa dokter pada Edo.


Mereka semua dokter, jawab Edo dengan lemas.


"Jangan patah semangat dulu, kamu harus semangat supaya mereka semangat untuk sembuh."


"Baiklah dokter, aku akan semangat demi mereka," jelas Edo berusaha untuk tersenyum.


"Ha... itu baru anak yang pintar, jangan langsung menyerah sebelum berjuang."


Setelah itu dokter langsung memeriksa ketiganya, "tidak ada sakit yang berbahaya hanya sebatas demam, nanti sesudah makan obat juga akan baikan."


"Baiklah ini tolong tebus obat keapotik biar mereka segara sembuh."


Semua berjalan lancar obat segera di belikan oleh pak Wo.


Menjelang sore keadaan Bertha sudah membaik demikian juga si kembar.


Sore ini mereka sudah sangat tenang, tidak lagi seperti tadi pagi.


"Wah..


cucu nenek sudah segar nic," ujar mama Edo yang sungguh merasa bahagia.


Edo sedang mengerjakan tugasnya dari kantor, melihat mama dan anaknya sudah enteng tersenyum bahagia.


"Trimakasih ya Tuhan,atas semua anugerah yang selalu Engkau berikan pada kami."


Pagi hari semua benar sudah dalam keadaan baik -baik saja.


Semua berkumpul di meja makan, Bertha juga ikut berkumpul bersama mereka.


Sarapan yang sangat hangat tidak ada emosi hanya canda dan tawa yang terdengar.


Setelah selesai sarapan Edo berangkat ke kantor karena ada pertemuan yang tidak bisa di wakilkan.


"Baiklak papi pergi dulu ya, baik -baik di rumah ya sayang, Edo pamit kepada istrinya serta anaknya."


"Baiklah papi bekerja yang rajin biar dapat uang banyak, da... papi."

__ADS_1


Setelah Edo berangkat kerja, Bertha menjaga anaknya dengan baik, luka bekas operasi sudah mulai kering, jadi berjalan juga sudah lebih enakan.


Bertha membawa kedua babynya menjemur di taman belakang rumahnya.


"Nak biar mama yang bawa satu cucu mama," ujar mertuanya lembut.


Sebagai menantu Bertha sangat bahagia memiliki mertua yang baik dan perhatian.


Serasa seluruh waktu yang terbuang selama ini kembali menyatu dengan dirinya yang penuh kebahagiaan.


Saat ini mereka sudah berada di taman belakang, cerita masalah kecil membuat mereka terkadang tertawa bersama.


Bertha melihat papa Aldo dan papa mertuanya sedang asyik mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan yang jelas sangat terlihat bahagia.


Ada rasa bahagia dalam hati Bertha melihat kedua pria itu nampak bahagia.


Iya kali ini mereka akan tinggal lebih lama, karena pekerjaannya sudah ada yang urus yaitu kedua adik Edo.


Menghabiskan waktu seperti ini adalah harapan mereka sejak dulu, menemani cucu mereka sambil tertawa, walaupun sekali -kali harus mengontrol kondisi perusahaan.


"Bagaimana perasaan kamu sekarang, apa masih terasa sesak?" tanya papa Edo saat mereka duduk bersantai.


"Sudah tidak lagi, sekarang sudah lebih baik, karena adik yang sangat peduli padaku,"jelasnya membuat papa Edo terkekeh.


Jelaslah papa Edo tahu siapa yang dimaksud oleh papa Aldo, siapa lagi jika bukan istrinya.


"Syukurlah kalau begitu, jadi jika besok kami kembali, dia tidak akan merengek akan kesini dengan alasan kakaknya yang lebay."


"Siapa yang lebay? aku memang lagi sakit bukan? lagian aku juga tidak minta istrimu datang."


"Iya aku aku walaupun kami sudah bersama sekian lama, tapi pesonamu masih lebih kuat dari pada aku."


"Apa kamu sekarang mengaku kalah bro?"


"Jika masalah itu, aku selalu sadar, karena bagaimana juga itulah kenyataannya dan aku sudah ikhlas sejak dulu, tapi yang jelas cintanya tidak berubah untuk aku," ucap papa Edo bangga.


"Iya itu harus, apa lagi kamu jika cintamu berkurang bahkan melenceng maka urusannya akan panjang."


"Oya kapan Joni pulang?"


"Mungkin bulan depan."


"Baguslah sekarang kamu sudah tidak mempunyai tanggungan lagi, tinggal nunggu dia menikah."


"Iya aku juga lebih tenang sekarang," jelas papa Aldo.


"Sudah yo kita masuk nanti kita lanjut lagi, biar istirahat dulu."


Sementara itu Bertha sejak tadi bersama mama mertuanya sudah kembali ke kamar.


Saat ini Bertha sudah tidur, walaupun dia sudah lebih baik tapi masih terasa sakit sekali -kali bagian perutnya.


Mama Edo mengurus keperluan cucunya sedangkan kedua kakek sudah hendak berangkat untuk menjemput Andre dari sekolah.


Di sekolah Andre sudah menunggu kedatangan kedua kakeknya, yang sejak beberapa minggu ini datang menjemput.


"Kok lama kek?"tanya Andre tidak sabar ketika sudah melihat kedua kakeknya berjalan menghampirinya.


"Iya maafkan kakekmu yang sudah tua ini."

__ADS_1


Iya sudah deh abang maafkan, tapi kita jalan -jalan dulu ya kek, ajak Andre dengan memelas.


Bersambung.


__ADS_2