
Andre menunggu May sambil membantu ibunya May melayani pembeli yang kebetulan lumayan ramai.
Setengah jam kemudian May akhirnya tiba.
"Sudah lama sampai kak?"
"belum lagi baru setengah jam yang lalu."
"Sudah lama juga bang, maaf aku tadi bocor ban bang."
"Kok nggak telepon abang tadi? abang bisa jemput."
"Kebetulan tadi dekat bengkel bang jadi nggak perlu jauh -jauh-jauh dorong."
"Baguslah kalau begitu, abang pikir kamu mendorong motornya jauh."
"Nggak kok bang, kita berangkat?"
"Nanti dulu kamu istirahat dulu, tidak ada yang mau di kejar juga."
"Aku mandi dulu ya bang."
"Boleh lah.... itu lebih baik biar tambah cantik."
"Abang bisa saja juga."
May langsung menuju kamar untuk membersihkan diri.
Dua puluh ,kemudian May keluar sudah terlihat segar dan cantik.
"Sudah ayo bang."
"Ibu kami berangkat ya," Andre peemisi pada wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.
Setelah permisi Andre dan May segera menuju mobilnya.
Tempat yang dia tuju adalah cafe baru yang baru dia dirikan, selain jalan bersama sang kekasih dia juga mengontrol cafenya.
Sambil bercanda dalam dalam perjalanan, tanpa terasa ternyata mereka sudah sampai di tujuan.
"Ayo kita turun tidak terasa ternyata kita sudah sampai."
"Iya bang, ayo turun, wah ternyata bagus banget ya cafe kamu."
"Ini berkat kamu juga sayang, jika bukan karena ide kamu maka tidak sebagus ini juga sayang."
"Pasti di dalam lebih bagus lagi iyakan?"
"Kita lihat saja sayang, baru nanti bisa komentar."
"Wah... malah jauh lebih bagus di dalam lagi."
"Aku tidak menyangka jika hasilnya sebagus ini loh bang."
"Tidak sia-sia aku minta bantuan kamu sayang."
"Syukurlah jika aku bisa membantu abang."
"Pastinya sayang, makanya aku membawa kamu kesini, biar bisa melihat hasil dari kerja keras kamu."
"Trimakasih sayangku kamu membantu aku untuk mewujudkan mimpiku."
"Sama-sama juga sayangku sudah percaya sama aku untuk membantumu mewujudkan mimpimu."
Andre membawa May kesalah satu ruangan khusus.
"Bagus banget bang."
"Iya dong khusus untuk bidadariku."
May yang merasa bahagia dengan semua yang ada pada ruangan tersebut.
Ruangan yang sudah di hias dengan bunga serta lampu hias dan dua kursi satu meja .
Aliran air pada dinding ruangan menambah romantis pada dua insan yang sudah terbuai tersebut.
Andre menarik kursi kosong lalu membantu May untuk duduk.
Makanan kesukaan May juga sudah tertata dengan rapi.
Andre yang sudah biasa memanjakan adik bungsunya menjadi tidak ada rasa canggung.
Andre menyuapi May hingga makanan yang ada di hadapannya hampir habis.
Gantian May yang menyuapi Andre, dia tidak mau jika hanya dirinya yang kenyang sedang orang yang dia cintai belum makan.
Selesai makan mereka makan Andre mengajak May berdansa,dengan gerakan manis mereka mengungkapkan isi hati mereka.
Lelah dengan berdansa, Andre mengajak May keliling sambil melihat keadaan cafe yang sangat ramai.
__ADS_1
"Syukur ya bang pengunjungnya sangat ramai."
"Iya mudah -mudahan begini terus bukan hanya karena baru buka."
"Iya bang."
"Bantu abang periksa pembukuan boleh?"
"boleh dong."
Dengan di bantu May, Andre lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya.
Sekitar pukul sembilan malam mereka meninggalkan ruangan dan ternyata keadaan cafe masih juga ramai.
"Pak... titib cafe ya kami mau pulang."
Andre permisi pada menejer cafe, agar bisa lebih mengontrol cafenya dengan baik.
Setelahnya mereka segera pulang karena tidak enak jika dia mengantar pulang May terlalu malam.
Dalam perjalanan pulang keadaan jalan masih ramai, banyak kendaraan masih memenuhi jalan sehingga terkadang ada sedikit macet walaupun tidak semacet saat mereka berangkat.
Tapi karena yang melalui orang yang sedang di mabuk cinta maka tidak terasa akhirnya mereka juga sudah sampai.
Setelah May turun dan masuk bersama ibunya Andre langsung pulang, ia tidak singgah lagi.
Sampai di rumah ternyata papinya masih menunggu Andre.
"Selamat malam pi, kok belum tidur?"
"Mana papi bisa tidur jika abang belum pulang sayang."
"Mami juga belum tidur?"
"belum sayang ini masih buatin kopi buat papi kamu."
"Maaf pi, gara -gara abang papi dan mami jadi belum tidur."
"Tidak apa-apa sayang, lancar acaranya?"
"ah... mami acara apa? hanya jalan biasa sekalian melihat keadaan cafe, karena sejak selesai May belum pernah kesana."
"Oh.... begitu, iya sudah abang mau minum kopi biar mami buatin."
"Boleh deh mi."
Bertha segera membuat segelas kopi untuk anak sulungnya sementara kedua anak kembarnya sudah tidur terlebih dahulu.
"Trimakasih banyak mami."
"Sama-sama sayang."
"Bagaimana keadaan cafe kamu sayang?"
"Lancar mi, tadi pengunjungnya ramai."
"Syukurlah sayang, semoga lancar untuk seterusnya."
"Trimakasih mi."
"Akhir pekan ini kita kesana ya?"
"boleh dong pi, kapan saja papi kesana boleh kok."
"Akhir pekan saja biar adik kamu juga ikut."
"Ok pi, siap bos."
"Iya sudah kamu juga sudah capek, kita istirahat yo."
Mereka akhirnya meninggalkan ruang keluarga, menuju kamar masing-masing.
Edo dan Bertha langsung menuju kamar, saat Bertha menuju kamar mandi Edo langsung mencegahnya.
"Kenapa pi?"
"Tidak apa-apa kok sayang papi hanya minta jatah."
"Dasar si papi, tadi katanya mau istirahat, sekarang mau yang lain."
"Nggak mungkin dong sayang bilang mau minta jatah di depan anak kamu."
"Baik bos.'
"Edo memapah Bertha menuju ranjang."
Dengan lembut Edo menuntun Bertha merasakan nikmatnya cinta dalam hubungan suami istri.
Belaian lembut Edo, membuat Bertha merintih menahan nikmat.
__ADS_1
"Sayang.... kamu siap kita langsung ya."
"Terserah papi saja."
Edo sengaja menggoda istrinya, dia ingin masih lebih lama membuat Bertha terbang.
Gunung yang indah itu selalu menjadi favorit bagi Edo, dan yang pasti membawa kenikmatan bagi sang istri.
Sedikit menggoda itulah gaya Edo yang membuat hubungan mereka tetap awet hingga sampai sekarang.
Lelah..... itulah seharusnya yang terjadi, tapi rasa itu hilang karena pertempuran yang memabukkan.
"Trimakasih banyak sayangku,Edo mencium kening istrinya."
"Sama-sama pi."
"Sekarang kamu sudah boleh membersihkan diri sayang, apa mau aku bantu?."
"Iya aku mau."
Edo langsung mengangkat tubuh istrinya dengan menggendong menuju kamar mandi.
Di kamar mandi Edo membantu istrinya untuk membersihkan diri,lalu membawa ke kamar kembali.
Edo mengambil pakaian untuk istrinya, bak seorang ratu Edo membuat istrinya merasa bahagia.
"Trimakasih pi,"ujar Bertha setelah dia berpakaian atas usaha sang suami.
Edo membaringkan tubuhnya di samping istrinya dengan tangan memeluk Bertha.
Malam indah, dengan segala suasana hati yang penuh cinta membuat semua larut dalam mimpi indah.
Pagi hari semua anggota keluarga sudah berkumpul bersama untuk sarapan bersama.
Kakek Aldo tidak ketinggalan,beliau juga ikut sarapan bersama.
"Kek... makan banyak ya, biar sehat soalnya bulan depan Dia ulang tahun, aku mau kakek ikut jalan-jalan."
"Memangnya kapan jadi liburan bersama pi?"
"bulan depan saja bang, sambil ulang tahun adek kamu, soalnya om Pino dan om Joni sulit mengambil waktu, mereka harus menyelesaikan proyek baru."
"Oh... begitu pi, iya deh tidak apa-apa."
"Kakek masih kuat kalau mau liburan."
Hari ini Dia dan Dio tidak sekolah karena kelas tiga mengadakan hari tenang sebelum ujian.
"Kek kita jalan kemana?"
"Kita kerumah kakek ya."
"Boleh kek."
"Dio ikut kek."
"Boleh dong."
Setelah selesai sarapan semua bersiap menuju tujuan masing-masing.
"Papi dan mami berangkat duluan ya, bang."
"Iya deh mi."
"Papa kami duluan ya, soalnya ada rapat penting pagi ini."
"Iya sayang, hati-hati semoga sukses."
Setelah pasangan suami istri itu berangkat, kakek juga bersiap untuk berangkat karena sore harus pulang.
"Bang Dio ayo..
lama banget sih, biasanya yang lama berkemas itu perempuan, aku saja sudah siap kok."
"Sabarlah... Dia sayang, kamu itu seperti pemadam kebakaran tahu."
"Kasihan kakek tahu harus menunggu abang, dasar jelek."
"Biar jelek dari pada cerewet."
"Iya sudah yo kita dulan kek, dia masih mandi."
Eh... eh... siapa bilang, ayo kek aku sudah siap kok.
Hidup ini bukanlah sebuah pelarian tapi hidup yang harus di pertanggungjawabkan.
Bukan orang lain yang membuat hidup kita berarti tapi kita yang membuat hidup kita lebih berguna.
Bersambung.
__ADS_1
like.... like..... dong.