
"Kamu pergi kerja saja aku sudah tidak apa-apa kok, jika ada sesuatu aku telepon deh."
Bertha merasa tidak enak karena Edo selalu terganggu pekerjaannya hanya karena dia.
Edo yang mendengar perkataan Bertha hanya melirik sekilas lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Sayang...kok diam saja sih, aku ngomong sama kamu loh."
"Hai cantikku mulai tadi kamu ngusir suami kamu loh."
"Bukannya gitu,tapi kasihan kamu mulai kemarin jadi kerja di rumah."
"Tidak apa-apa sayang, aku itu tidak keberatan jika bekerja dari sini, lagian kamu itu istri tersayang aku, jadi tidak masalah sayang."
"Hmmm... ternyata selain bucin kamu narcis juga ya."
"Terserah kamu saja sayang yang penting Kamu adalah milik aku dan tidak boleh di sentuh orang lain."
"Massa sih nanti boong."
"Nggak sayang kamu memang tidak boleh dekat dengan cowok yang lain selain aku, karena hanya aku yang paling ganteng."
"Iyalah... iya... aku ngalah lagi nih sama orang ganteng."
Sepertinya kamu tidak tulus sayang bilang bahwa suamimu ini memang tidak ganteng sejak lahir.
"Dasar.. ai...kamu itu, sombong banget kamu sayang."
Edo terkekeh mendengar perkataan kesal dari istrinya.
"Sayang kapan jadi kita berangkat untuk periksanya kedokter,sudah dua hari loh kamu begini terus."
"Maaf deh," iya sudah sekarang saja aku juga mau demi kebaikan bersama, ujar Bertha tulus.
"Hmmmm..
gitu lebih baik sayang, jadi istri penurut."
"Iya.... ya... ya.... baiklah, suamiku tersayang, jangan marah, entar dimakan nyamuk gantengnya."
Edo terkekeh mendengar perkataan Bertha yang sudah mulai kesal.
"Sayang... jika gantengku hilang, nanti kasihan dong istriku, masa sih saingan dengan nyamuk."
Bertha melotot mendengar perkataan Edo, membuatnya semakin cantik menurut Edo.
Bagi Edo jika istrinya masih membalas semua perkataannya, berarti dia tidak betul marah, tapi jika sudah diam seribu bahasa ha... barulah akan terjadi perang yang sulit di menangkan.
Edo masih tertawa melihat Bertha kesal tapi tetap bersiap untuk pergi.
Saat Bertha sudah selesai, ia hanya berdiri di samping Edo, karena Edo masih sibuk mengerjakan beberapa lembar dokumennya.
Melihat Bertha hanya diam, Edo dengan cepat merapikan kertas -kertasnya.
Edo menggandeng Bertha, sambil berjalan menuju parkiran mobil.
Ayo masuk ucapnya sambil membuka pintu mobilnya.
Setelah Bertha masuk dia berjalan untuk mengambil tempatnya di kursi kemudi.
"Kita kerumah sakit mana?" tanya Bertha setelah Edo melajukan mobilnya.
"Rumah sakit tempat dokter keluarga kita sayang, karena di sana akan ada dokter yang sudah menunggu kedatangan kita."
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di depan rumah sakit, dimana dokter Dian sudah menunggu.
"Hai... ganteng silahkan duduk, ajaklah istri cantikmu duduk cepat, kasihan dia terlihat pucat, apa kamu tidak kasih dia makan?"
"enak aja kalau ngomong,"omel Edo tidak terima.
"Hei.. kamu marah hanya dengan ucapan ku seperti itu, dasar adik durhaka tidak bisa diajak bercanda."
__ADS_1
Edo akhirnya memilih untuk diam karena percuma melawan mulut ember yang ada di depannya itu.
"Cepatlah periksa istriku, mulai tadi ribut melulu."
Dian hanya terkekeh mendengar perkataan saudra sepupunya itu.
"Ayo dek,"silahkan berbaring dari pada singa mu nanti mengamuk, bisa-bisa kakak kena getahnya.
"Cih... bahkan kakak lebih seperti singa di bandingkan aku, tapi sok manis lagi.
"Ha..... ha... kakak semakin gemes tahu."
Sambil terus mengejek dokter Dian melakukan pemeriksaan untuk Bertha.
Mendengar penjelasan Edo saat di telepon tadi, langsung menyuruh agar lansung menemui dia, dan dugaannya memang sangat tepat.
"Selamat adek ku yang ganteng,"karena kamu akan menjadi seorang ayah,adikku yang cantik ini sedang hamil muda dan sudah lima minggu.
"Benarkah?kakak tidak salah ngomongkan?"
"dasar pria nyebalkan,ngapain juga pakai bohong, memang tadi tidak lihat hasil usgnya."
"Trimakasih ya ya Tuhan,"ucap Edo yang kemudian memeluk Bertha erat setelah dia duduk di ranjang pasien.
"Hei... pria nyebalin, lepaskan pelukanmu itu, nanti adikku mati kau cekik."
Edo melihat Bertha, dan benar saja pelukannya membuat Bertha meringis menahan sakit.
"Ma...af,maaf sayang aku terlalu semangat," ucap Edo nyengir.
Bertha tersenyum kemudian dia yang memeluk Edo dengan erat.
"Hai... kalian ini seperti teletabis saja."
Bertha sangat bahagia mendengar kabar bahwa ternyata sedang mengandung, rasa bahagianya mengalahkan rasa penasaran tentang dokter yang ada di hadapannya itu.
"Dek.. kenalin aku dokter Dian kakak sepupu suami kamu, maaf saat pernikahan kalian kakak tidak bisa hadir, karena kakak masih di negeri orang."
"Salam kenal juga kak," ucap Bertha yang merasa bersalah karena sudah memikirkan hal buruk tentang mereka tadi.
"Baik kak,Trimakasih."
"Tunggu sebentar vitaminnya,perawat akan bawakan kesini agar singa muda ini tidak perlu antri."
Dokter Dian memang sangat dekat dengan Edo, karena sebelumnya mereka sama tinggal di rumah kakek, tapi setelah kakek tiada Dian memilih kembali ke rumah orang tuanya.
Dia juga kuliah di luar negeri untuk mengambil dokternya,jadilah mereka jarang jumpa.
Setelah perawat sudah mengantarkan obatnya, Edo segera membawa istrinya pulang.
Senyuman indah masih terus terukir di bibir Edo yang hingga akhirnya mereka sampai di rumah.
"Sayang mau langsung istirahat atau mau disini dulu?"
"istirahat aja deh, aku lelah."
Edo akhirnya mengantar istrinya ke dalam kamar mereka.
Edo membantu Bertha untuk berbaring, sebenarnya dia tidak tega melihat keadaan Bertha yang lemas seperti itu, tapi apa mau di kata, harus seperti itu agar tangisan bayi ada di rumah mereka.
Edo membelai rambut panjang Bertha sambil tersenyum, "Trimakasih ya sayang sudah mau jadi ibu anakku, dan maaf membuat mu sampai seperti ini."
"Iya sama-sama sayang, aku juga sangat bersyukur bisa menjadi ibu dari anakmu."
Mereka mengungkapkan rasa syukur mereka dengan saling memeluk.
Iya mereka benar merasa bahagia, Tuhan mempercai mereka begitu cepat untuk menjadi orang tua.
Edo menemani Bertha hari ini tanpa sibuk dengan pekerjaannya, dia ikut berbaring di samping istrinya.
Saat malam hari Edo turun untuk makan malam bersama istri kesayangannya itu.
__ADS_1
"Sayang aku sudah kasih tahu orang tua kita dengan kabar bahagia ini, mereka sangat senang, dan mereka kirim salam buat kamu."
Iya... ucap Bertha singkat sambil melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan Edo menemani Bertha untuk menonton siaran vaforitnya, bagi Edo itu tidak masalah, apa pun yang dilakukannya asal membuat Bertha bahagia.
"Oya... aku tadi itu sangat penasaran,kak Dian itu siapa ya? nampaknya kalian abrab bangat."
"Bukannya sudah dia jelaskan Bahwa dia kakak sepupu aku sayang."
"Iya tapi anak paman, tante atau siapa kok aku tidak pernah lihat?"
dia itu anak om Dion, yang punya rumah sakit itu, om Dion seorang dokter juga, makanya kakek kasih mereka rumah sakit, hanya om Dion memilih membuka rumah sakit di kota Bandung jadi mereka tinggal di sana.
"Dulu kak Dian tinggal di sini, tapi setelah kakek meninggal dia dibawa sama om, dan sesudah itu dia kuliah di luar negeri cukup lama, mulai dari dokter umum sampai spesialis dan kerja di sana."
"O... gitu ceritanya."
"Kamu cemburu sayang?"
"nggak sih, tapi aku ngrasa bahwa kalian sangat dekat gitu."
"Benaran kamu tidak cemburu?"Edo menatap Bertha dengan dalam.
"Aneh ya, kamu berharap bahwa aku cemburu begitu?untuk apa? aneh tahu nggak?"Bertha memalingkan wajahnya ia berpura-pura melihat televisi.
Sebenarnya Bertha tadi sedikit cemburu tapi dia berusaha untuk menutupi, untung kabar baik yang dia terima kalau tidak pasti sudah ada bobol tanggul.
"Tapi dari yang aku lihat sepertinya kamu cemburu sayang," goda Edo dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Mana ada ya, buat apa aku cemburu, kalau kamu mau selingkuh iya selingkuh sana!"ucap Bertha kemudian bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan Edo.
Edo yang menyadari bahwa hawa panas telah terjadi, apa lagi Bertha sampai beranjak dari duduknya.
Edo segera mengejar Bertha, tapi sayangnya ketika samapi di pintu, tiba -tiba bum.. suara bantingan pintu kamar sangat nyaring di telinga Edo.
Sayang.. panggil Edo setelah kesadarannya kembali.
"Sayang buka dong, kok di kunci sih, jangan marah dong."
Edo memohon agar Bertha membukanya pintu tapi sampai satu jam kemudian, Bertha tidak membuka pintu juga.
Edo turun dengan terburu -buru mengambil kunci cadangannya, membuat para asisten rumah tangga yang sedang menonton di buat heran.
Pak Wo langsung menghampiri Edo.
"Ada apa den? ada masalah?"
"tidak pak, silahkan lanjut nontonnya."
Para pekerja di rumah itu bebas menonton di ruang keluarga, bahkan jika Edo atau keluarganya ada.
Tapi karena kadang mereka segan maka mereka menonton di ruang khusus untuk para karyawan.
Edo bukan orang yang membedakan antara dia dan para karyawan, hal itu dia pelajari dari almarhum kakek dan neneknya.
Menurut mereka bahwa para pekerja sama dengan mereka, malah mereka lebih berharga karena melalui mereka bisa makan dan tidur nyenyak karena rumah dan kamar yang bersih.
Saat ini kita kembali kepada pria yang sibuk mencoba beberapa kunci untuk membuka pintu kamarnya.
Ceklek... tiba -tiba suara kunci berbunyi setelah hampir semua dia coba.
"Sayang... kamu tega banget sih,"ngerjain suami sendiri, protes Edo yang masih ngos -ngosan.
Setelah dekat dengan Bertha, Edo menarik nafas kasar karena ternyata Bertha sudah tidur pulas.
"Sayang maaf... aku nggak berniat buat kamu marah, aku hanya bercanda tadi, eh... kamu malah serius nih."
Edo akhirnya ikut tidur di samping Bertha, hingga larut dalam mimpi indah sampai pagi dengan pelukan hangatnya untuk istri tercintanya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like, komentarnya ya.
Trimakasih