
Mendengar penjelasan Bertha membuat Aldo semakin bersemangat untuk melanjutkan terapinya.
Hari ini mereka sudah bersiap untuk pindah, barang -barang Bertha sudah masuk ke dalam mobil.
Pak Wo sangat telaten untuk mengurus semua keperluan majikannya.
Walaupun Edo jauh di bawah umurnya namun tidak pernah dia berkata kasar, dia selalu sopan dan menghargai majikannya itu.
Edo segera membantu Aldo masuk ke dalam mobil.
Sementara Bertha sudah siap menunggu di dalam mobil.
"Sudah siap semua pak?"tanya Edo pada pak Wo.
"Sudah den sekarang kita tinggal berangkat saja."
Mereka segara meluncur dengan kecepatan sedang, diperjalanan mereka bercanda bersama, sehingga tanpa terasa sudah berada di depan rumah Bertha.
Rumah itu tidak terlalu besar tetapi tampak sangat asri, dari segi desain dan warna sangat menyejukkan mata.
Mereka pun segera turun dan mengetuk pintu, tanpa menunggu lama pintu segera terbuka, tampak seorang wanita yang sudah berumur dan seorang anak kecil tersenyum menyambut siapa yang datang.
"Papa sapa bocah itu penuh semangat, dan berlari untuk memeluk papanya, ia sudah sangat rindu karena sudah beberapa hari tidak jumpa."
"Hai ganteng,kakak juga ada disini tahu,masak papa doang yang dikangeni,"ucap Bertha sedikit merajuk pada adikny a itu.
"Ia...kakak bawel,"kata Joni sambil mendekati kakaknya, Kini memeluk kedua kakaknya itu.
Mereka masuk rumah yang sungguh luar biasa mengagetkan, barang didalam semuanya bermerek, dan bampak sangat terawat.
Siapa ya pa yang selalu merawat rumah ini tanya Bertha penasaran.
Sewaktu Kecil mereka sering kerumah ini, dan keadaannya masih tetap sama. Makanya Bertha heran karena dia memang tidak tahu menahu masalah itu.
"Kamu masih ingat dengan Pak tugu sayang?"tanya Aldo pada putrinya.
"Mereka yang merawat rumah ini, papa sengaja tetap menyuruh mereka tinggal disini."
"Papa ingin rumah ini tetap terawat,ini juga termasuk kenangan kita bersama mamamu."
Dan satu hal yang kamu tahu usaha kakek nenekmu semua sudah dibuat atas namamu semuanya sayang dan papa baru tau ketika satu bulan yang lalu.
"Saat itu pengacara keluarga kakek datang,"karena sesuai wasiat kakekmu baru diserahkan ketika kamu sudah berumur Delapan belas tahun.
"Papa sengaja tidak memberitahukan ketika kita berjumpa sayang, papa tidak mau membebani pikiranmu dengan masalah pekerjaan."
"Sekarang papa harus cerita karena tadi pagi beliau telepon papa, mereka ingin berjumpa secara langsung denganmu nak."
"Besok mereka datang kemari, jadi tolong persiapkan dirimu,papa akan tetap membantu kamu."
"Terus jika selama ini usaha kakek masih ada, siapa yang mengolah pa?"
Sebenarnya panjang ceritanya "nak,"hanya sebelum semua terjadi ternyata kakek telah mempersiapkannya.
"Maksud papa bagaimana?"
"Duduklah dengan tenang papa akan ceritakan semua apa yang dikatakan oleh pengacara kakek kemarin."
"Begini nak,"mama kamu itu mempunyai paman yaitu adik dari kakek.
"Karena mama seorang wanita sementara sekeluarga besar kakek harus laki-laki yang boleh mendapatkan penuh atas harta warisan."
"Jadi mereka tidak setuju ditambah kamu itu hanya seorang putri dan juga bukan anak kandung kami."
Sejak kakek masih hidup sudah mempermasalahkan ini, hanya kakek sangat menyayangi kamu, jadi memberikan sedikit kelonggaran atas permintaan paman mamamu.
Kebetulan ini usaha kakek yang dimulai dar nol jadi kakek yang berhak atas keputusan.
Keputusan kakekmu selama adik kakek itu hidup ,dan kamu belum berumur delapan belas tahun biar mereka yang pegang.
Dan kakek itu sudah meninggal satu tahun yang lalu, tapi karena kamu belum genap delapan belas jadi masih tetap mereka yang pegang.
"Terus selama satu tahun ini siapa yang pegang Pa?"
"Anak dari kakek itu sayang namanya om Beni."
__ADS_1
"Pa kalau memang mereka tidak mau melepaskan biarkan saja terus untuk mereka,dari pada ribut aku tidak mau kita jadi punya musuh."
"Tidak sayang om Beni itu tidak seperti kakek yang haus akan harta, dia juga sadar bukan haknya."
"Dia sudah menjumpai papa dan sudah ikhlas," mengembalikan sesuai wasiat kakekmu nak.
Besok juga dia akan ikut kasini untuk berjumpa kamu.
"Baiklah kalau itu memang kenyataannya,"Bertha akan berusaha untuk belajar.
"Tapi sekarang lebih baik papa istirahat dikamar biar bisa baring,"nanti pinggang papa encok lagi ucapnya sambil tertawa.
Aldo yang mendengar itu ikut terkekeh, Aldopun menyanggupi usulan putrinya untuk segera istirahat.
"Biar aku antar om,"ucap Edo yang mulia tadi hanya pendengar.
"Baik nak ayo,"kekeh Aldo.
Setelah mengantarkan Aldo calon mertuanya itu, Edo langsung keluar dari kamar itu dan menemui Bertha.
"Ikut kerja tidak yang?"tanya Edo.
"Ikut deh, tapi tunggu bentar ya aku siap dulu,"ujar Bertha lalu menuju kamarnya untuk bersiap.
Sepuluh menit kemudian Bertha sudah rapi dan kini sudah duduk disambung Edo yang lagi melamun.
"Hei kesambet lo ucap Bertha mengejutkan Edo."
"Sudah siap,"ucap Edo terbata -bata karena terkejut atas kehadirannya Bertha.
"Iya nih sudah rapi tahu, tadi mikirin apa sih, asyik banget melamunnya,"tanya Bertha penasaran.
"Nggak apa -apa,"sudah yo ujar Edo sambik menarik tangan Bertha lembut.
Sampai di mobil Bertha yang masih penasaran bertanya kembali tentang lamunan Edo.
"Kamu ya kalau sudah penasaran maka tidak mau diam."
"Eh... iya tapi sudah tahu gitu masih mau buat orang mati penasaran,kata Bertha sambil nyengir.
"kamu kenapa sih selalu mikirin yang belum tentu terjadi, jangan negatif terus nanti benaran tahu."
"Sekali -kali berpikirlah dengan positif,aku sedih tahu dengar kamu bicara begitu."
"Maaf Tha,"tapi benaran aku makin sulit memahami perasaanku.
"Aku sangat takut kehilangan kamu,"hanya kamu penyemangat hudup aku Tha.
Makanya itu kamu jangan berpikir yang tidak -tidak terus,kita sama -sama mempertahankan hubungan kita dan mari kita saling menjaga hati kita, kata Bertha pada akhirnya, karena dia sudah merasa jenuh atas perkataan Edo.
Edo hanya mengangguk pasrah, dia tahu saat ini Bertha mulai kesal atas perkataannya itu.
Selesai itu mereka tidak terlibat perkataan, mereka hanya diam. Pak Wo yang tahu situasi anak muda yang dihadapannya itu sedang tidak baik.
Pak Wo memulai percakapan tentang pekerjaan yang akan dia kerjakan .
Den apa nanti tidak ikut kepabrik Kepal?
Edo yang mengerti maksudnya Pak Wo langsung menjawab semangat.
Ikut pak hanya kita ke kantor dulu untuk mengambil berkas.
Baiklah den biar aku persiapkan apa saja yang perlu, ucapnya dengan senyum.
Edo akhirnya bersemangat kembali atas perkataannya pak Wo.
Tadinya dia hampir mode diam karena pikiranya sendiri.
Bertha yang menyadari perubahan Edo menjadi heran. Ini orang kenapa ya tadi saja murung terus hanya ditanya ikut atau tidak jadi senyum sendiri.
Spontan Bertha membuat punggung tangannya di kening Edo.
"Tidak panas juga, kamu kenapa sih? aneh banget deh,"kata Bertha penuh tanya.
Melihat tingkah Bertha membuat Edo tertawa lepas.
__ADS_1
"Malah tertawa lagi, benaran aneh deh,"guru Bertha.
Akhirnya Edo menyudahi tawanya sebelum gadisnya itu mengamuk, bisa repot urusannya, batin Edo.
"Bisa diam juga sindir Bertha karena melihat Edo sudah diam."
"Bisalah orang nangis saja bisa,"namanya orang tampan semua pasti bisa, kalau tidak bukan tampan namanya.
"Puji diri itu namanya,"tapi kalau orang lain yang menilai baru benar ujar Bertha mengejek atas perkataannya Edo.
"Jadi kamu mau bilang kalau aku tidak tampan gitu? kamu jahat banget sayang."
"Banyakloh yang bilang aku tampan dan banyak yang naksir lagi,"godanya yang juga mau tahu reaksi Bertha.
"Terus kalau banyak yang naksir kamu, kenapa tidak pilih mereka saja."ucap Bertha malas.
"Ya karena aku lebih mencintai seorang gadis yang cukup unik, bahkan sudah mengikat seluruh jiwa dan ragaku,"kata Edo sambil menatap gadisnya itu.
"Masak sih nanti blong,"ujar Bertha.
"Apanya yang blong?"memang rem bisa blong.Tanya Edo karena dia tidak terlalu tahu maksud Bertha.
"Lebih dari rem mobil ya rumitnya cinta itu, belum nyadar?"ucap gadis itu polos.
"Terus maksudnya blong?"
"Tanya lagi,"ya bayangkan saja rem yang blong apa yang kamu lakukan demikian juga dengan cinta.
"Cinta bisa bermakna, membahagiakan, bahkan menyengsarakan orang."
"Jadi biar cinta dapat bermakna kita harus bagaimana? dan kalau sudah menyengsarakan orang berarti cinta itu berarti sudah blong."
"Kamu itu dapat dari mana pemahaman seperti itu?"ucap Edo terkekeh.
"Dari pengalaman akulah, emang cinta hanya milik pasangan kekasih, kan tidak."
"Lihat saja hubungan aku pada kedua orang tuaku,cinta mereka itu sudah blong jadi ya masuk jurang jujur Bertha."
"Sudah ah kamu akhirnya bahas kesana."
Sadar mobil sudah berhenti mulai tadi Edo bertanya pada supirnya .
"Kok berhenti pak?"
"Kita itu sudah sampai mulai tadi den, tapi karena den dan nak Bertha serius, bapak segan bilangnya."
Bertha yang mendengarkan pak Wo ikut tertawa, karena merasa bodoh sudah tidak tahu tempat, membahas masalah pribadi.
"Ayo turun atau mau di dalam mobil saja?"goda Edo.
Bertha langsung bergegas turun sebelum panjang ceritanya.
Mereka segara memasuki ruangan Edo, disana asistennya sudah menunggu dengan berbagai berkas dimeja.
"Apa semuanya sudah siap? "tanya Edo pada asistennya.
"Sudah bos,"jawab asisten itu singkat.
Bertha yang melihat aura dari kedua lelaki dihadapanya merasa ngeri.
Bagaimana tidak takut raut wajah yang tampak datar dan menyeramkan, sangat berbeda ketika mereka bicara biasa.
Sesudah memberikan semua berkas asisten itupun meninggalkan ruangan Edo.
Edo yang tahu reaksi Bertha tadi segera mendekatinya.
"Kamu kenapa yang,reaksimu tadi, kok seperti ketakutan."
"Habis kalian berdua tadi menyeramkan tahu."
"Semua ada tempatnya yang,"jika dikantor tidak mungkin bersikap sama ke kamu, yang ada mereka semena -mena pada kita.
Walaupun masih muda harus tetap jadi bos yang disegani sayang, ucapnya dengan tenang, tanpa ada gaya sombong seperti biasa ,dia menerangkan sikap seorang pemimpin pada gadisnya apa lagi dia tahu bahwa Bertha akan memegang sebuah perusahaan besar.
Bersambung
__ADS_1
Mohon bantuannya untuk mendukung dengan vote dan like.