APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 42.Hari-hariku


__ADS_3

Akhirnya mereka kembali ke tempat penginapan sesuai keinginan Bertha.


"Aku sangat senang dengan tempat ini, suasananya sangat sejuk."Ujar Bertha yang memang sangat suka tempat mereka sekarang.


"Aku senang jika kamu menyukai tempat ini,kamu bahagia aku lebih bahagia, jika kamu terluka aku lebih terluka sayang,"jelas Edo.


"Trimakasih gan atas cinta dan perhatianmu selama ini, aku tidak tahu jika tidak ada kamu,hidupku pasti sudah lebih hancur dari sekarang."


"Sayang kamu adalah bagian dari hidupku, kamu adalah segalanya bagiku, jadi sudah sepantasnya aku selalu menjagamu."


"Makanya itu aku berterimakasih, karena sudah begitu baik dan perhatian padaku."


"Iya sudah sayang, aku terima ucapan terimakasihmu, jadi sebagi gantinya,kamu harus selalu bahagia, jangan pernah menampakkan wajah sedih di depanku."


"Iya aku janji asal kamu akan selalu ada untuk aku, aku akan selalu bahagia," janji Bertha pada Edo.


Edo membawa Bertha dalam pelukan hangatnya.


"Sayang jika kita nanti sudah jadi orang tua, pengalaman pahit yang aku alami ini akan jadi pelajaran buat anak kita untuk menyayangi mereka dengan tulus tanpa ada perbedaan."


"Iya can, aku tahu."


"Kita istirahat yo, tadikan bilang mau istirahat."Edo menatap gadisnya dengan penuh cinta.


Bertha bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


"Sayang kamu mau ditemani tidak?" tanya Edo, ia tahu jika gadisnya itu ada pikiran pasti sulit untuk tidur.


"Boleh,"jawab Bertha lembut.


Edo ikut masuk ke kamar Bertha,seperti biasanya Bertha akan tidur berbantalkan pahanya Edo.


Setelah Bertha berbaring, Edo mengelus rambut panjang Bertha hingga membuat Bertha mudah untuk memejamkan matanya.


Dan benar saja Bertha dengan mudah langsung memejamkan matanya hingga terdengar suara nafas Bertha yang sudah teratur.


Edo segera meluruskan tubuh Bertha dan beralaskan bantal.


Edo menarik selimut untuk menutupi tubuh Bertha hingga ke lehernya.


"Selamat tidur sayang, semoga kamu selalu bahagia."


Perlahan kedua kakinya Edo berjalan menuju pintu, sekilas Edo mengedarkan pandanganya bahwa gadisnya itu benar-benar aman.


Edo kembali menutup pintu kamarnya Bertha, lalu menuju kamarnya.


Saat berada di dalam kamarnya Edo segera memejamkan matanya, untuk ikut beristirahat.


Saat sore hari Edo sudah terbangun, setelah mencuci muka dia turun untuk minum teh, sambil menunggu Bertha bangun.


Betha terbangun dia melirik jam pada pergelangan tangannya sudah jam empat.


Dia masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan wajahnya, setelah keluar dari kamar mandi ia turun karena dia yakin Edo sudah bangun dan menunggu dia di bawah.


Sampai diujung tangga terlihat Edo sedang menikmati tehnya sambil tersenyum kearah Bertha.


"Sudah bangun?" tanya Edo yang kemudian berjalan untuk membuat teh yang akan diberikan kepada gadis pujaan hatinya.


Bertha mendekati Edo yang sedang membuat teh bagi gadisnya.


"Ini minum dulu baru kita jalan,"ucap Edo sambil memberikan teh yang baru saja dia buat, yang kemudian berjalan menuju ruang makan untuk menghabiskan tehnya.

__ADS_1


"Trimakasih gan," ujar Bertha sambil mendudukkan tubuhnya di samping Edo.


Selesai mereka menghabiskan teh mereka segera meninggalkan ruang keluarga lalu menuju pantai.


Jalan kaki menyusuri area pulau sangatlah menyenangkan apa lagi saat sore hari.


Sampai menjelang malam barulah Edo dan Bertha pulang ke tempat mereka menginap.


"Sayang kita langsung membersihkan diri lalu kita makan malam,"jelas Edo ketika mereka masuk rumah.


"Baiklah gan,aku langsung masuk ya."


Edo menggaguk,dan diapun langsung masuk kamarnya sendiri.


Setengah jam kemudian, akhirnya mereka sudah duduk di kursi meja makan.


Di meja makan mereka menyantap hidangan yang sudah disediakan oleh petugas di rumah itu.


Setelah selesai makan mereka duduk di depan televisi untuk menikmati siaran yang menjadi favorit Bertha.


Sampai siaran itu selesai Edo masih menemani Bertha, tapi setengah jam kemudian,


Edo yang sudah mulai bosan melihat Bertha yang tidak bergerak, iapun memalingkan wajahnya dan ternyata Bertha sudah mengorok.


"Eh... ditunggu malah molor,kamu lelah ya, maaf sayang aku tidak peka mulai tadi," ucap Edo menyesal.


Edo mengangkat tubuh Bertha menuju kamar Bertha, sampai di sana Edo meletakkan Bertha dengan hati-hati.


"Selamat tidur sayang semoga mimpi indah," ujar Edo lalu mencium keningnya Bertha.


Setelah hari libur mereka selesai hari ini Edo dan Bertha sudah bersiap untuk pulang.


Sore hari mereka sudah tiba di rumah Bertha, Edo tidak langsung pulang melainkan bermain dulu dengan Joni.


Ketika hari makin gelap barulah Edo pamit untuk segara pulang.


Dirumah Edo seperti biasa langsung membersihkan diri,lalu masuk kedalam meja kerjanya.


Pekerjaannya sangat menumpuk karena sudah satu minggu dia tinggalkan.


Ketika perut Edo mulai bernyanyi baru dia teringat bahwa dia ternyata belum makan malam.


"Ah... akhirnya selesai juga, tapi perutku sungguh sangat terasa lapar,"seru Edo pada diri sendiri.


Edo turun untuk mengisi perutnya yang sudah memberontak mulai tadi ada


Edo yang tidak terlalu susah terutama bagi pelayan yang ada dirumahnya langsung menyantap makanan yang sudah dingin.


Edo yang sudah selesai mengisi perut,lalu menuju balkon kamarnya untuk menikmati pemandangan kota saat malam hari.


Tuhan terimakasih atas orang tua yang Engkau berikan padaku dan juga kedua adekku, sekalipun mereka sibuk tapi masih memberikan kami kasih sayang.


Edo masih sangat bersyukur atas orang tuanya yang masih tetap menyanyangi mereka diantara kesibukan mereka, terkadang dia habis pikir dengan apa yang dialami oleh Bertha sang kekasih hatinya.


Pagi ini berkunjung ke pabrik yang lumayan jauh dari ketempat mereka, sebenarnya ai ingin mengajak Bertha, tapi dia takut nantinya Bertha kelelahan.


Setelah bersiap Edo langsung berangkat bersama pak Wo dan Edo sahabatnya yang sudah jadi asistennya.


Dalam perjalanan mereka membahas berbagai masalah yang harus mereka selesaikan dengan segera.


Edo sangat puas dengan pekerjaan dari pak Wo,dan sahabatnya yang dulunya hanya sebagai anak manja dan sekarang sudah terlihat lebih dewasa dan bertanggungjawab.

__ADS_1


Sampailah mereka di pabrik terlihat sudah banyak karyawan yang sedang sibuk, sedangkan durektur dari perusahaan ini, sudah terlihat senyum untuk menybut bos besar mereka.


Wajah pak Wo yang bukan tergolong ramah membuat orang yang melihatnya ketakutan.


Sapaan para karyawan, hanya dijawab dengan anggukan,lelaki yang sedang berjalan bertiga itu tidak jauh beda.


Masuk dalam ruang rapat, membuat aura orang yang berada di sana sangat canggung.


Itulah sebabnya para karyawan berpikir seratus kali lipat jika memiliki pemikiran untuk bermain-main.


Laporan pertanggungjawaban sudah selesai tingal hasil dari pencapaian selama setahun ini.


Dari laporan keuangan hasil tahun ini cukup memuaskan, dan untuk tahun depan semoga lebih dari yang sekarang.


Setelah rapat Edo dan yang lainnya menuju tempat yang disediakan untuk makan siang.


Selesai makan mereka beristirahat sejenak lalu berjalan menyusuri setiap sudut pabrik hal apa yang perlu diperbaiki.


Satu jam menyusuri pabrik,akhirnya mereka memutuskan untuk pulang.


Sementara itu Bertha juga sangat sibuk di butik miliknya, lelah yang menghampirinya membuat dia tertidur di sofa yang ada di ruangannya.


Drt... drt... drt.. sudah berapa kali Poncel miliknya berbunyi tapi sepertinya si empunya enggan untuk membuka matanya untuk sekedar menjawab panggilan tersebut.


Papa Aldo terlihat cemas, setelah berusaha menghunungi Bertha tetapi tidak ada jawaban.


Kamu di mana nak,kok nggak jawab panggilan papa, jika kamu bersama Edo papa tidak sekwatir ini, lirihnya.


Rita yang hendak masuk merasa heran dengan sikap omnya itu.


"Ada apa om?" tanyanya sambil berjalan menghadap omnya.


"Itu nak, Bertha sudah beberapa kali om hubungi tapi tidak diangkat."


"Om sangat kwatir dengan dia,"papa Aldo berjalan menuju sofa.


Rita merogoh poncelnya, dan segara menghubungi Bertha, Rita menjadi ikutan gelisah.


Rita menghubungi kakaknya agar datang ke ruangan omnya.


"Ada apa?"tanyanya semakin bingung dengan melihat wajah keduanya.


"Bertha tidak mengangkat telepon kita, jelas Rita sedikit takut."


"Mungkin dia sibuk om,"jawabnya.


"Kita lihat kesana saja ya kak?"ucap Rita agar resah mereka segera terjawab.


Setelah bicara demikian pula mereka segara berangkat menuju butiknya Bertha.


Sampailah mereka di butik, tanpa bertanya mereka langsung menuju ruangan Bertha.


Betapa mereka tercengang melihat orang yang mereka kwatirkan sedang tidur pulas.


"Hei dek bangun, pagi ini sudah sore, ayo kita pulang, papamu sudah mau pinsang karena kwatir eh malah asyik tidur lagi."


"Maaf, ketiduran."


Bertha hanya nyengir melihat kedua kakaknya, ia merasa bersalah membuat orang tuaku mengkwatirkannya.


Akhirnya Bertha mengikuti langkah kedua kakaknya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2