APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 66.Sadar Sayang


__ADS_3

Setelah pak Wo sampai di rumah dia melihat Andre sedang duduk di teras rumah mereka yang di buat khusus oleh kakeknya Edo.


Rumah itu sangat megah walaupun tidak sebesar rumah Edo.


"Nak mulai sekarang kamu harus lebih jeli melihat saingan atau teman kalian kerja sama, jangan sampai hal seperti ini terulang kembali."


"Baik yah maaf Andre belum bisa melakukan sesuatu seperti papa."


"Tidak apa-apa nak, yang penting Kamu harus selalu belajar, lihat akibatnya nak Bertha hampir kehilangan nyawanya, bahkan sampai sekarang belum sadar."


"Iya sudah ayah bersih -bersih dulu."


Hari ini Bertha sudah tiga hari belum juga sadar, Edo sudah semakin baik, tinggal tangan bekas operasi yang masih terasa sakit, tapi bagi Edo itu tidak sebanding dengan perasaan Edo yang sakit melihat istrinya tidak sadar.


Bayi Edo sudah boleh pulang, dia di rawat oleh mamanya Edo, mereka terpaksa tinggal di rumah mereka untuk merawat cucunya.


Pekerjaan yang banyak akhirnya mereka tinggal demi cucu malang yang sampai saat ini belum juga sadar.


Sayang bangun, memangnya kamu tidak mau melihat putra kita, dia sehat dan sudah boleh pulang sayang, kasihan dia makanya cepat sembuh.


Edo selalu mengajak Bertha bicara walaupun Bertha tidak memberikan respon.


Hari ini hari keempat Bertha tidur nyenyak, Edo yang masih setia menemani Bertha, sedikit lemas mungkin karena kurang tidur dan stres.


Papa Aldo yang kebetulan datang sangat kasihan melihat kondisi anak menantunya itu.


"Nak sebaiknya kamu pulang istirahat, biar papa yang ganti jaga Bertha."


"Tidak usah pa,"ucapnya menolak karena tidak mau meninggalkan kita istrinya, dia mau ketika Bertha bangun dia yang pertama di lihatnya.


"Nak jangan seperti ini, kamu tidak kasihan pada putra kalian, jika kamu ikut sakit jadi siapa yang merawat dia,"bujuk papa Aldo lembut.


Akhirnya Edo mengalah lalu ia pulang ke rumahnya.


Saat sampai di rumah Edo masuk ke kamar putranya, ia melihat mamanya sibuk mengganti popok putranya.


"Apa dia rewel ma?"tanya Edo sambil berjongkok untuk melihat secara dekat wajah putranya itu.


"Tidak sayang, dia anak yang baik, kamu mandi dulu sana siap itu baru bisa gendong anak kamu."


Baik ma, Edo langsung keluar dari kamar putranya menuju kamar mereka.


Seperempat jam kemudian Edo sudah masuk kembali ke kamar anaknya tapi ternyata bayi mungil itu sudah tidur dalam dekapan iya mamanya.


"Sayang kamu harus kuat agar mamimu cepat sembuh,dan bisa bersama kita, ujar Edo dengan deraian air mata."


Berat rasanya melihat yang kita sayangi berjuang untuk hidupnya, rasanya hati terasa tersayat.


Itulah yang dialami oleh Edo dan papa Aldo serta semua keluarga mereka.


Saat ini Pino dan papanya duduk di teras rumah mereka.


Pria yang sudah berumur itu menangis ketika mereka membahas tentang kondisi Bertha.


"Kenapa ya adik Kamu itu, selalu dapat masalah tidak dari keluarga juga dari orang lain, papa sangat menyesal mengikuti kemauan mamamu dulu hingga adikmu tidak merasakan kehangatan bahkan cinta dari papa."


"Sudahlah pa, kita berdoa terus supaya Bertha cepat sembuh, tidak ada gunanya menyesali yang lalu, kita melihat kedepan saja pa."


Pino tidak mau membuat papanya terus merasa bersalah, mereka tinggal memiliki papa dan om Aldo saja.


"Sebaiknya kita istirahat pa,"besok kita harus bekerja lagi.


Pino memapah papanya yang sedikit oleng.


Tiada yang bisa memastikan bahwa kita akan selalu baik -baik saja.

__ADS_1


Tetapi kita tidak bisa juga menyalahkan Tuhan tetapi kita harus selalu tawakal.


Pada saat pagi hari Edo sudah datang untuk gantian dengan papa Aldo.


Pa, sapa Edo lembut agar tidak membuat mertuanya terkejut, sebab papa Aldo masih tidur nyenyak di samping Bertha.


Papa Aldo yang merasa ada yang mengusik tidurnya akhirnya membuka matanya perlahan.


Iya... tadi malan papa Aldo tertidur di samping Bertha setelah lelah menangis.


"Kamu sudah datang nak," ucapnya sambil berusaha untuk duduk.


Sebenarnya Edo sedikit bingung bahwa papa mertuanya tidur di samping istrinya.


Tetapi setelah melihat wajah papa Aldo yang lembab dia menjadi merasa sedih.


Wajah sedih itu membuat Edo merasa bersedih juga.


Saat papa Aldo hendak berjalan, tiba-tiba Bertha memanggilnya.


"Pa... pa..." ucapnya terbata -bata.


Merasa ada yang memanggil, papa Aldo berbalik kembali.


"Sa... yang... aku haus."


"Sayang kamu sudah bangun?"sebentar ya kita panggil dokter biar kita tanya apa kamu bisa minum apa tidak.


Edo berteriak memanggil dokter agar segera memeriksa Bertha.


"Syukurlah nak Bertha sudah membaik, silahkan di kasih minum."


Setelah dokter keluar papa Aldo langsung memeluk Bertha dengan erat.


"Trimakasih ya sayang kamu kembali bersama kami, papa hampir gila."


Edo begitu bahagia dengan sadarnya Bertha.


"Pa pulanglah istirahat aku tidak mau papa sampai sakit."


"Iya nak, papa pulang ya."


Setelah papa Aldo pergi,Edo memeluknya dengan erat, "sayang aku senang melihat Kamu kembali aku sangat takut ketika dokter bilang kamu sudah tidak ada."


"Maafkan aku membuat kamu cemas sayang."


"Tidak ada yang perlu di maafkan, itu bukan salah kamu sayang."


"Tangan kamu kenapa sayang?"tanya Bertha cemas.


"Patah yang, tapi sudah baikan kok, tinggal nunggu sembuh saja."


"Benaran?" tanya Bertha masih tidak percaya.


"Benar dong, walaupun aku sempat stres dengan semua keadaan kita."


"Bagaimana dengan anak kita?"


"Dia baik, sehat dan ganteng seperti papinya."


"Jadi maminya jelek gitu?"


"nggak yang, aku tidak ada ngomong ya,"goda Edo yang membuat Bertha langsung mencubit pinggang Edo.


"Kamu cantik yang, tapi anak kita laki -laki jadi ganteng dong masa cantik."

__ADS_1


''Aku mau lihat anak kita pi."


"Nanti ya kita bilang sama mama biar dedek di bawa ke sini."


"Sekarang kamu tidur lagi ya,biar cepat sembuh,"Edo mencium bibir Bertha lembut.


Rasa bagahia Edo sungguh tidak dapat di lukiskan saat ini.


Bertha akhirnya terpejam kembali, sementara Edo langsung menghubungi mamanya untuk memberitahukan tentang kabar gembiranya.


Tidak lupa juga Edo pesan agar membawa anaknya, karena Bertha ingin jumpa.


Mamanya yang mendengar itu juga langsung berteriak memanggil suaminya yang sedang mengerjakan pekerjaan dari kantor.


Papa Edo memang tidak pulang bekerja kekantor ,tetapi pekerjaannya tetap dia bawa.


"Ada apa sih ma?"tanyanya datang tergopo-gopo, dia takut sesuatu pada menantunya sejak Bertha belum sadar diri.


"Bertha sadar pa," ucapnya dengan senyum merekah,tapi air mata dipipinya,rasa bahagianya tidak bisa dia lukiskan.


"Ma ayo kita berangkat ke rumah sakit, papa sudah tidak sabar sayang."


"Iya pa, kita juga harus bawa anak mereka, menantu kita mau lihat anaknya."


"Baik ma, ayo kita besiap supaya cepat berangkat."


Mama dan papa Edo segera berangkat ke rumah sakit hanya dalam setengah jam mereka sudah sampai.


"Sayang... "sapa mama mertuanya membuat Bertha segera menoleh.


"Mama aku kangen."


"Iya sayang mama juga kangen kamu, mama sangat bersyukur kamu berjuang untuk kembali bersama kami."


"Aku juga sangat bersyukur ma, bisa ada bersama orang baik."


Edo membantu istrinya untuk duduk agar bisa memangku putranya.


"Anak mami, maaf beberapa hari kita terpisah mama kangen sayang."


Selesai bercerita banyak akhirnya putra mereka di bawa pulang oleh papa dan mama Edo.


Siang hari semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk melihat keadaan Bertha.


Bahagia... iya itulah yang mereka rasakan saat ini.


Pelukan hangat Bertha trima dari semua anggota keluarganya.


Saat semua sudah pulang Bertha kembali beristirahat, karena dia merasa lelah.


Tiga hari kemudian Bertha sudah boleh pulang, dia sudah di sambut oleh anggota keluarga di rumah.


"Selamat datang dan selamat atas anggota baru yaitu bayi mungil yang telah hadir bersama kita."


Papa Aldo dan papa Edo menyambut menantunya penuh dengan cinta.


"Selamat sayang," papa Aldo kembali memeluk putrinya.


Kakak Pino menuntun papanya untuk mendekati Bertha.


"Sayang salamat ya," maaf papa selama ini tidak bisa membahagiakan kamu.


"Selamat adekku sayang,"Pino memeluk Bertha dengan erat, senyum manis itu.


Semua akhirnya sudah memberikan kata selamat dan kado, hingga pada akhirnya Bertha di bawa beristirahat.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote dan komentarnya.


__ADS_2