
Melihat cucunya sudah bisa tertawa, kedua kakeknya merasa senang, walaupun mereka tidak bisa memastikan bahwa ada masalah besar, tapi mereka tahu bahwa anknya bisa mengatasi.
Mereka makan bersama dengan nikmat tanpa ada kecanggungan apa lagi beban.
Setelah selesai makan, kedua kakeknya menemani cucunya untuk bermain, baru melanjutkan aktivitas Andre yaitu tidur yang di temani oleh neneknya.
Saat ini Edo dan papanya lagi duduk di ruang kerja Edo.
"Nak segera selesaikan masalah kamu, jika tidak mau keluargamu hancur, papa tahu jika kami saat ini tidak ada rasa untuk wanita itu, tapi jika kamu meladeni pertemuan dengannya tidak tertutup kemungkinan besar akan muncul rasa aman."
"Iya aku janji akan segera mengurus semuanya."
"Papa jelas lihat luka di hati Andre tadi, kami saja tidak bisa menenangkannya."
"Iya Pa aku sudah bicara sama Andre tadi."
"Baiklah papa percaya sama kamu nak."
Edo juga meninggalkan kamar kerjanya, dia masuk kamar anaknya, dan ternyata masih cerita sama mamanya.
"Nek... apa benar papi tidak akan meninggalkan mami dan Andre?"
"kok abang bicara seperti sayang?"
"iya nek, aku takut papi pergi dengan perempuan yang meluk papi tadi."
Mama Edo yang tahu ketakutan cucunya langsung memeluk Andre.
"Jika papi sudah janji berarti papi pasti akan menempati sayang."
"Kamu harus percaya sama papi sayang, biar papi bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik."
"Iya nek,"setelah itu baru Andre memejamkan matanya, rasa takutnya sungguh menyita hati dan pikirannya.
Melihat cucunya sudah tidur pulas, mama Edo beranjak dari tempatnya.
Saat keluar ternyata Edo masih berdiri di depan pintu.
"Nak kamu dengar apa yang di ucapkan oleh anakmu, jadi cepat selesaikan masalah mu."
"Iya ma."
"Mama percaya sama kamu nak, mama ke kamar dulu ya."
Setelah mamanya pergi, Edo memilih duduk di teras rumah.
"Apa yang sudah aku lakukan,ternya sungguh melukai hatinya anakku."
"Jika mulai kemarin aku menyelesaikan masalah itu, pasti semua tidak terjadi, aku juga sudah salah dengan menerima ajakan makan siangnya."
Edo kembali ke kamar dia melihat istrinya sudah tidur, segera menyusul istrinya berbaring di samping.
Pagi hari semua keluarga sudah terlihat rapi, mereka segara sarapan.
Pa, ma, aku berangkat kerja dulu ya pamit Edo pada kedua orang tuanya serta mertuanya.
Andre langsung mengekor papinya yang di gandeng oleh sang mami.
"Sayang kami berangkat ya."
"Iya hati -hati, sayangnya mami semangat ya untuk belajarnya."
Gilbert yang sudah siap mulai tadi langsung melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di sekolah Andre.
Edo mengantar Andre sampai di kelasnya.
"Papi kerja dulu ya nak, kamu harus rajin belajarnya, biar ada yang ganti papi."
__ADS_1
"Ok pi, da... "
Edo melanjutkan perjalanan menuju kantornya.
"Bro tadi sudah hubungi saya cewek itu, aku sudah tidak sabar lagi, dia sudah buat anak aku marah sama aku."
"Sudah semua syaratnya juga sudah aku kirim, jika nanti dia tidak kirim balasan jalan terakhir mencabut saham pada mereka."
"Tapi kok bisa anak loe yang marah?"
"Iya sejak kamu pergi kemarin, dia datang, terus papa, papa mertuaku sedang bawa Andre jalan-jalan, saat mereka masuk cafe dia melihat aku di peluk cewek sialan itu."
"Tapi sepertinya tidak ada apa -apa tadi."
"Iya setelah tadi malam aku berjanji tidak pernah lagi jumpa tu cewek."
"Ha.... ha... jadi sekarang saingan loe adalah anak loe."
"Iya, aku stres tahu nggak."
"Loe sih lelet mulai kemarin sudah aku ingatin agar jauhin tu manusia rubah, eh malah santai, sudah begini baru sibuk."
Saat sampai di kantor pak Wo juga sudah menunggu kedatangan Edo.
"Den... sapanya sopan."
"Ayo langsung masuk saja pak, kita bicarakan di dalam."
"Jadi bagaimana pak reaksi mereka."
"Belum ada apa yang jadi keputusan mereka."
"Menurut bapak bagaimana?"
"Menurut saya den, sepertinya kita langsung main saja, tidak ada gunanya kita kompromi pada mereka."
"Apa kak Pino juga sudah ada kabar?"
"Baguslah kalau begitu kita langsung main saja."
Semua berkas sudah pak Wo siapkan, mereka sudah sepakat bahwa semua saham akan mereka tarik secara bersama.
Rina yang tidak percaya akan ancaman dari Edo hanya duduk berdiam tanpa ada kata terucap.
"Jadi dia benaran tidak ada rasa sama aku dan ancamannya ini benar dan apa, perusahaan ini milik istrinya."
Berbagai macam pertanyaan berputar di otaknya tapi satupun tidak bisa dia jawab.
"Aku tidak bisa harus kehilangan ini semua, tapi apa yang harus aku lakukan sekarang."
Rina seperti orang gila menghancurkan semua barang yang ada di ruangannya.
Sekretarisnya tidak berani bicara, hanya menunggu apa yang akan terjadi nantinya.
Aa..... teriak Rina frustrasi.
"Aku sudah menghancurkan usaha papa dalam hitungan detik, mana mungkin ada yang mau investasi lagi jika sudah seperti ini."
"Papa maafkan aku, tapi apa yang harus aku lakukan sekarang."
"Apa aku jual saja sekalian pada mereka, tidak mungkin kantor ini akan bertahan, untuk menutupi kekurangan sebanyak ini."
Belum ada keputusan yang Rina buat tiba -tiba pak Wo sudah menghubungi.
"Bagaimana nona? sudah ada keputusan? sebaiknya sejak semalam anda sudah membuat keputusan."
"Ma... af pak tapi ini terlalu cepat bagaimana mungkin aku bisa punya uang banyak."
"Itu masalah anda nyonya, kami hanya butuh keputusan."
__ADS_1
"Jika saja anda lebih dewasa maka semua ini tidak akan pernah terjadi."
Rina memposting fotonya ketika memeluk Edo di cafe,pak Wo tanpa izin Edo langsung mengurus.
"Satu jam kedepan sudah harus ada keputusanmu dan berkasnya sudah ada."
Mendengar suara pak Wo Rina semakin ketakutan.
Apa yang harus aku lakukan sekarang gumam Rina ketika pak Wo sudah mematikan sambungan teleponnya.
"Bodoh... bodoh.... kamu bodoh Rina ujarnya frustrasi."
"Dalam semalam aku tidak mungkin dapat uang sebanyak itu, dan mana mungkin ada orang yang mau menolong aku, dulu saja jika bukan mereka yang mau investasi, mungkin kantor ini sudah gulung tikar sejak beberapa tahun lalu."
Merasa tidak ada jalan keluarnya, Rina akhirnya memutuskan untuk menjual perusahaan milik papanya.
"Baiklah paling tidak aku masih ada sedikit modal untuk memulai usaha, aku tidak mau membiarkan papa yang sedang sakit."
Rina menelepon pak Wo akan keputusannya untuk menjual perusahaan milik papanya.
"Bagus akhirnya kamu menyerah setelah kebodohanmu, jika saja kemarin kamu pilih menjauh dari den Edo maka hari ini kamu tidak akan kehilangan apa yang menjadi milik mu."
"Aku benci kalian."
"Lima menit lagi transferan terjadi, jadi siapkan berkasnya soalnya pengacara kami akan segera kesana,kami tidak butuh ucapan darimu nona semua sudah terlambat untuk protes, dan ingat jangan pernah berpikir untuk mendekati keluarga Jaya,kamu mengerti?"
"dasar kurang ajar..... "banyak umpatan yang keluar dari mulut Rina, tapi tidak ada satupun yang memberikan jalan keluar.
Belum lagi Rina siapkan semua pengacara sudah ada di depan mata, yang membuat dia tidak bisa menelan air ludahnya sendiri.
Rina akhirnya menandatangani semua berkas, dan sekarang dia berdiri untuk keluar karena dia tidak ada hak miliknya.
Wajah sedih tidak bisa dia sembunyikan, dia mrndekati sekretarisnya.
"Maaf Disa,aku harus pergi dan mulai sekarang aku bukan lagi pemilik perusahaan ini, maafkan aku jika selama ini menyakiti kamu."
"Iya bu, aku juga minta maaf jika ada kesalahan,tapi jika ibu ada usaha baru aku mau bergabung bersama ibu, maka tolong hubungi saya bu."
"Baiklah Disa,saya pergi."
Huf... tarikan nafas kasar keluar dari gadis tersebut," apes dah... cinta tak bersambut dan sekarang aku harus mengikhlaskan apa yang sudah di usahakan oleh papa."
Rina bingung harus jujur atau menutupi semua ini dari papanya, yang saat ini berbaring lemah di rumah sakit.
"Baiklah aku mulai memulai usaha baru, setelah papa lebih baik aku akan jujur."
Percetakan itulah yang akan dia dirikan dengan sisa uang yang dia miliki, kebetulan tahun lalu dia baru membeli dua ruko dua lantai.
Edo pulang ke rumah setelah semua selesai.
"Maaf... "itulah yang dia ucapkan setelah sampai di depan istrinya.
"Tidak apa-apa pi, aku tidak marah, hanya aku kasihan juga sama Rina."
"Itu pilihan dia sayang, tadi malan dia sudah terlebih dahulu diberi pilihan agar tidak pernah mendekati aku,tapi dia malah menantang bahwa dia akan mendapatkan aku dengan cara apa pun."
"Enak ya pi, dicinta wanita yang sampai rela berkorban."
"Kamu ngomong apa sayang... aku suami kamu yang sudah berjuang untuk bisa bersama sampai saat ini, jadi tidak ada alasan aku untuk bahagia karena orang yang gila seperti itu."
"Iya aku percaya sama kamu pi, kamu yang terbaik selama ini."
Edo tidak heran kenapa istrinya tahu tentang semua yang terjadi, karena istrinya sudah memiliki dediktif yang handal.
"Sayang kamu tidak marah sama aku lagi kan?"
"Tidak pi, dari awal aku percaya sama kamu, hanya melihat air mata anakmu hatiku sedikit ragu. "
"Trimakasih sayangku."
__ADS_1
Edo memeluk istrinya, bahagia rasanya jika bisa berdamai seperti ini, tidak pernah terpikir olehnya akan memberi luka dalam seperti ini Edo berjanji hal seperti ini tidak akan pernah terulang kembali.
Bersambung.