
Pagi hari yang cerah setelah beberapa tahun berlalu, Andre sudah memasuki Pendidikan yang lebih tinggi, yaitu sebuah universitas dikota tempat tinggal mereka.
Setelah beberapa tahun mengikuti perkuliahan,Andre bertemu dengan seorang wanita cantik di suatu taman.
Selama ini Andre kuliah dia tidak pernah serius dengan seorang wanita, yang paling kencang paling hanya teman.
Sore itu, setelah habis kuliah dia sengaja tidak pergi ke kantor untuk menemani papinya.
Dia menuju sebuah taman dikota tempat tinggal mereka, dia merasa jenuh dengan tugas kuliah hari ini, dia sudah semester lima.
Jika biasanya waktunya habis bersama papi dan maminya di kantor, tapi tidak untuk hari ini.
Setelah menepikan mobilnya, dia berjalan menuju bangku kosong di bawah pohon.
Andre duduk sambil menikmati air serta ikan yang ada di kolam.
Tanpa sengaja Andre melihat seorang gadis cantik yang menangis tersedu-sedu.
Dan beberapa menit kemudian dua orang bertubuh tegap datang menghampiri gadis tersebut.
Melihat seorang gadis di perlakukan kasar membuat jiwa Andre langsung bangkit.
Andre mendekati orang tersebut.
"Hei jika kalian memang laki-laki hadapi saya jangan dia."
"Oh... mau jadi pahlawan kamu?"ucap pria bertubuh kekar dan kulit hitam.
"Sini jika kamu berani," ucap pria satu lagi.
Mereka menganggap remeh pada Andre yang tidak seperti mereka bertubuh besar.
Andre maju dan langsung menghajar kedua pria tersebut.
Dalam lima menit kedua pria itu sudah kepar.
"Badan saja yang besar, tapi kekuatan nol, kalian masih mau?"
"ti...tidak... maas, maaf kami hanya jalankan tugas."
Kedua pria itu langsung bergegas pergi, mereka memang suruhan rentenir tempat gadia tadi kerja.
Andre mendekati wanita yang masih gemetaran tersebut.
"Kamu tidak apa-apa?" sapa Andre sambil berdiri di depan gadis tersebut.
"Iya tidak apa-apa, trimakasih sudah menolong saya."
Sama-sama, jawab singkat Andre.
"Kenapa kamu bisa berurusan dengan preman?"
"mereka anak buah rentenir tempat saya bekerja mas."
"Kamu bekerja pada rentenir?"
"sebenarnya saya hanya membayar bunga uang pinjaman ibu saya."
"Maksudnya apa ya, boleh kamu jelaskan, saya tidak mengerti, barangkali saya bisa menolong kamu."
"Ibu saya pinjam uang pada bos mereka, tapi ibu tidak bisa membayar utang tersebut, maka saya harus bekerja sama mereka, sedangkan pangkalnya harus saya bayar ,dan hari ini sudah jaruh temponya,"lirih gadis tersebut.
"Maaf jika boleh tahu ibu kamu ada di mana saat ini?"
"Ada di rumah sakit mas."
"Apa uang itu untuk berobat ibu kamu?"
"bukan mas, tapi untuk berobat ayah satu tahun lalu, dan ayah saya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu mas."
"Maaf jadi membuat kamu sedih, jika kamu mau,saya bisa membantu kamu."
"Tapi... mas... ki.. ta. be..lum kenal," lirig gadis tersebut terbata-bata.
"Jika kamu percaya sama saya,maka saya akan membantu kamu."
"Berapa utang ibumu pada mereka?"
"lima belas juta mas."
__ADS_1
"Apa?"ucap Andre kaget, dia tidak menyangka jika utang sebanyak itu sudah berbuat kasar pada seorang wanita.
"Maaf mas," ucap wanita itu hendak pergi, dia tahu tidak mungkin ada orang yang mau menolong dia, dengan uang sebanyak itu.
"Eh.. tunggu kamu mau kemana? maksud saya tidak seperti itu saya hanya kaget dengan uang sebesar itu mereka sudah keterlaluan pada kamu."
Gadis itu akhirnya berhenti, dia berbalik menatap Andre, ada rasa tidak percaya tapi melihat tatapan mata pria yang ada di depan matanya sepertinya orang jujur.
Hal itu terbukti mengapa gadis tersebut bersedia jujur padanya, pada hal sudah ada pria yang menawarkan bantuan, tapi entah kenapa gadis itu hanya percaya pada pria yang ada di depan matanya.
Berani jujur dengan masalahnya pada orang lain bukanlah kebiasaan gadis itu.
"Oya... nama kamu siapa?" tanya Andre lembut.
"Nama saya Mayanti mas," jujur gadis tersebut.
"Nama saya Andre," jawab Andre untuk meperkenalkan namanya.
"Ayo kita berangkat ketempat rentenir itu," ajak Andre.
"Tapi bagaimana cara saya membayar uang mas?"
"kamu tenang saja, aku bukan rentenir seperti mereka, jika kamu mau, kamu bisa bekerja dengan mami saya dibutiknya,jadi tidak perlu takut."
Antara percaya dan tidak percaya Mayanti akhirnya mengikuti apa kata Andre.
Baginya semua terasa gelap, tapi dari pada menjadi istri ke empat mending jadi pelayan butik masih lebih baik.
Saat ini mereka sudah berada di rumah rentenir itu.
"Ha.... ha... ternyata kamu sendiri yang cantik," ujar Sabonlo dengan tawa renyah.
Dia tidak tahu jika May,hendak melunasi utangnya.
Andre sengaja tidak ikut masuk agar dia memantau dari luar.
"Saya mau melunasi semua utang ibu serta bunganya," jelas May sambil meletakkan uangnya di atas meja.
Rentenir berkepala botak itu terkejut, dia tidak menyangka jika gadis itu akan melunasi seluruh utangnya.
"Jadi kamu sudah menjual tubuh molekmu ini?"
"Jadi kamu yang membeli wanita ini?"
"sekali lagi saya katakan itu bukan urusan anda," tegas Andre lagi.
Akhirnya pria tersebut membuat kwitansi tanda lunas.
"Kita tidak punya keperluan lagi tuan, dan saya tidak mau jadi istri anda."
Andre heran dengan ucapan May,tapi untuk saat ini tidak mungkin bertanya.
Saat ini mereka sudah berada di mobil.
"Kita ke rumah sakit tempat ibu kamu ya."
"Apa tidak merepotkan mas?"
"tidak apa-apa, aku sudah tidak ada pekerjaan kok."
"Rumah sakit umum mas."
Saat ini mereka sudah berada di rumah sakit umum di mana ibunya May di rawat.
May membawa ibunya bertobat di rumah sakit ini karena dia tidak punya uang.
Mereka memakai BPJS pemerintah.
Keadaan ibunya begitu lemah, Andre sangat kasihan melihatnya.
May... panggil Andre.
"Iya mas."
"Kita pindahkan ibu kamu kerumah sakit yang lebih baik ya."
"Tapi aku tidak punya uang mas, yang tadi saja entah kapan bisa saya bayar."
"Sudah tidak usah di pikirkan,nanti kita pikirkan bagaimana caranya untuk membayar agar kamu terasa aman."
__ADS_1
Andre segera mengurus semua, dan satu jam kemudian akhirnya mereka sudah berada di rumah sakit swasta yang terkenal di kota itu.
Saat ini ibu sudah ditangani oleh dokter, sementara itu Andre permisi pulang karena sudah malam.
Andre sampai rumah semuanya sudah selesai makan.
"Sayang sudah selesai urusannya?" tanya maminya sambil mendekati putranya.
"Sudah mi,tapi...ucapnya ."
"Tapi...apa sayang?"
"Aku kasihan pada May mi."
"Siapa itu May?"
"gadis yang aku tolong mi, dia tadi di kasari oleh preman bawahan rentenir."
"Terus bagaimana keadaan dia saat ini nak?"
"aku sudah urus semua mi, dan ibunya sudah aku pindahkan ke rumah sakit yang terbaik."
"Ibunya sakit?"
"Iya mi, mereka punya utang saat ayahnya sakit mi."
"Mami dukung kamu sayang, mami akan bicara sama papi,biar biayanya papi yang urus."
"Trimakasih banyak mi, aku sangat menyayangi mami."
"Mami juga sayang sama kamu."
"Iya sudah kamu sana membersihkan diri, nanti mami temani makan."
"Baiklah mi."
Andre langsung masuk ke kamar untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian dia sudah selesai mandi dan rapi, dia turun untuk segera makan karena maminya masih menunggu di ruang keluarga.
Mi.. sapanya saat sudah berada di bawah.
"Ayo mami temani makan, soal tadi mami sudah bicara pada papi, dan papi setuju dengan apa yang kamu lakukan sayang."
"Trimaksih mamiku sayang."
Setelah selesai makan akhirnya mereka segera kekamar masing-masing untuk beristirahat.
Pagi hari mereka segera menuju rumah sakit setelah mengantar si kembar ke sekolah.
Andre hari ini lagi tidak ada jam kuliah maka dia bisa berangkat bersama kedua orang tuanya.
Ketika mereka sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruangan ibunya May.
May yang lagi menyuapi ibunya terkejut dengan kehadiran Andre dan dua lainnya yaitu mami dan papinya.
"Pagi... ibu," sapa Andre setelah sudah berada di sisi ranjang pasien.
"Pagi nak Andre."
"Oya.. bu.. perkenalkan papi dan mami Andre ucap Andre pada ibu dan May."
Mereka berbincang banyak hal tentang kesehatan ibunya May.
Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan ruangannya ibu May,karena mereka akan berangkat ke kantor.
Dalam hati Edo sangat bahagia melihat putra sulungnya, yang baik hati seperti dirinya.
Di kantor Edo dan Bertha serta Andre sudah serius dengan pekerjaan masing-masing.
Edo sangat bahagia melihat putranya peduli dengan bisnis keluarga, jadi dia tidak perlu kwatir akan perusahaan kedepan.
Terkadang mereka ke kantor milik maminya, banyak hal yang Andre pelajari dari kedua perusahaan tersebut.
Pino mengajari Andre dengan baik, karena dia tahu bahwa Andre yang akan melanjutkan pekerjaannya.
Keuntungan yang sangat besar yang dia dapatkan karena di percaya oleh adiknya untuk mengurus semuanya.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukung author dong, sedih ni.