
Setengah jam menunggu akhirnya keluarga Edo sampai di rumah papa Aldo.
Dengan hangat mereka menyambut kedatangan tamu mereka.
"Ayo masuk," ucap papa Aldo tersenyum bahagia.
"Trimakasih," ucap mama Edo tersenyum.
"Kalian kapan sampai?" tanya papa Aldo untuk memulai pembicaraan mereka.
"Tadi pagi, bagaimana kabarnya kamu, sepertinya kamu tambah gemuk ya."
"Iyalah memang seperti kamu,"krempeng terus.
"Kalian sudahpun mau punya cucu tetap seperti anak kecil."
"Maaf bang,oya bagaimana kabar abang? karena dia aku sampai lupa tanya kabar abang."
"Kabar baik, soal itu tidak usah merasa tidak enak, bukannya mulai dulu kalian selalu tidak anggap abang ada jika kalian sudah kumpul."
"Ah... abang masih ingat saja, jadi malu aku."
Akhirnya mereka tertawa bersama, merasa lucu dengan sikap orang tua mereka.
Pino sangat bahagia dengan suasana seperti ini, sejak dulu mereka tidak pernah sebahagia ini.
Jika dulu masih ada mama mereka, setelah makan malam pasti pada kabur menuju kamar masing -masing.
Tidak ada pembicaraan hangat seperti ini.
Setelah berbincang akhirnya mereka memutuskan untuk makan malam bersama.
Masih suasana hangat mereka menikmati hidangan yang telah disediakan.
Saat ini mereka sudah duduk diruang keluarga, mereka mulai bicara serius tentang hari perenikahan.
Hari pernikahan sudah mereka putuskan satu bulan kedepan, dan acaranya mereka membagi tugas.
Segala persiapan mereka membagi tugas, ini dilakukan agar semua ikut ambil bagian.
Acara pernikahan akan diadakan langsung di tempat resepsi.
Di tempat Edo memberikan kebahagian kepada Bertha, itulah yang menjadi tempat mereka untuk mengucapkan janji pernikahan mereka.
Di danau tempat Joni mengadakan hari ulang tahunnya Bertha.
Kali ini mereka tidak ada memakai gedung, alam semesta yang akan saksi pernikahan mereka.
Di alam itu juga akan di buat altar tempat mereka mengikrarkan janji setianya.
Setelah semua selesai di bahas, dan siapa yang akan melaksanakannya, mereka akhirnya pamit untuk pulang.
Tanpa menunggu lama lagi, mereka segara mendatangi butik Bertha untuk membuat baju pengantin dan seragam seluruh keluarga.
Bukannya mereka tidak bisa pesan dari perancang internasional, tapi ada satu hal yang mau mereka tunjukkan, yaitu mutu dari butik yang di kelolah oleh Bertha.
Kinan juga akhirnya ikut bekerja di sana atas permintaan Bertha, mungkin sudah saatnya menerima kakaknya kembali.
Joni yang pertamanya tidak setuju akhirnya mengijinkannya, bahkan saat ini mereka terlihat lebih dekat.
Setiap hari Joni datang ke sana dia akan membantu Kinan.
"Trimakasih ya dek," kamu selalu membantu kakak, padahal kamu harus mengerjakan tugas kamu.
Sama -sama kak, aku juga senang bisa membantu kakak, jika dulu datang kesini hanya diam, karena aku tidak bisa menggambar seperti kakak Bertha, tapi untuk kasir aku masih bisa bantu.
__ADS_1
Saat sore hari mereka istirahat dimana para pengunjung terlihat sepi.
"Ini makan kak,"ujar Joni sambil menyodorkan cemilan yang baru saja dia pesan.
"Trimaksih ganteng."
Bertha keluar dari ruangannya untuk melihat kondisi para desainer yang bertugas untuk membantunya.
Bertha memiliki delapan desainer.
Sedangkan para penjahit juga ada puluhan orang.
Tidak heran Bertha dengan cepat bisa seperti sekarang ini,bakat yang dia miliki sangat membantunya belum lagi modal yang luar biasa bisa dia gunakan.
Jika pada awalnya Edo yang akan membangun baru kemudian dia akan menyusul, tapi tidak dengan sesudah dia mendapat warisan, semua biaya du tanggung oleh perusahaan.
Setelah selesai melihat para karyawan, Bertha menemui adiknya.
Untuk para karyawan Bertha tidak terlalu kejam, dia begitu baik menurut mereka.
Tunjangan lengkap belum lagi lewat jam kerja sudah termasuk lembur.
Makan siang ditanggung, kesehatan juga di tanggung.
Bertha tidak merasa dirugikan dengan segala yang dia berikan pada karyawannya, karena dengan itu rezekinya bertambah terus.
"Enak nic ucapnya sambil mengambil sepotong kue yang di pesan oleh Joni."
"Iya kak, tadi aku mau ngajak kakak, eh ruangannya kosong jadi aku kesini langsung ngajak kak."
"Iya dek tadi habis lihat yang kerja,makanya kakak tidak ada di ruangan kakak."
Saat ada seseorang yang mau bayar,Kinan segera menghampirinya.
"Selamat sore bu,ada yang bisa kami bantu."
"oh.. gitu, sebentar ya aku panggil mbaknya."
Dengan cepat Kinan panggil salah satu desainer yang ngurus pesanan pelanggan.
Ketika Evi datang ia tersenyum bahagia menyambut kastamernya.
"Apa yang bisa kami bantu bu?"
"iya mbak saya mau pesan baju seragam keluarga ,tapi untuk dua minggu."
"Berapa jumlah keluarganya bu?"
"lima belas orang mbak."
"Terus kita ngukur semua keluarga di mana bu?"
"kami besok yang akan kesini, untuk wanita ada sepuluh sisanya pria."
"Tidak masalah bu, yang penting waktunya jangan terlalu lama, soalnya waktunya sangat singkat."
"Baiklah untuk tahap pertama kami kesini besok jam sepuluh pagi ya mbak, sekaligus untuk bahan dan bentuknya."
"Ok bu,kami akan menunggu dengan senang hati."
"Baiklah mbak, saya permisi dulu."
Joni ikut kembali keruangan kakaknya, karena sejak tadi dia bersama Kinan.
Saat waktunya pulang kerja Edo datang menjemput Bertha, ia langsung masuk ke ruangan Bertha, dia sedikit terkejut melihat Joni tidur beebantalkan pahanya Bertha.
__ADS_1
Iya Joni menhungkapkan isi hatinya bahwa dia merasa sedih karena kakaknya akan menikah.
"Kak aku sedih tahu, kakak akan menikah."
"Kok gitu sayang, kakak tidak pergi jauh loh, kakak juga nanti akan sering ngunjungi kamu dan papa."
"Aku hanya punya kakak dan papa, jadi jika kakak pergi maka aku tidak ada teman."
"Sayang jangan gitu dong kakak ikut sedih nic."
"Kakak harus janji jika kakak sudah menikah tidak akan lupa sama aku ya kak."
Semua tidak akan mudah untuk mengiklaskan seseorang pergi dari kita.
Sekalipun itu hanya karena yang dekat kita menikah.
"Kamu mau kakak janji bagaimana ganteng, apa kakak harus bersumpah? atau bagaimana caranya."
"Bahwa kakak tidak akan lupa sama aku.''
"Itu tidak akan mungkin adekku yang paling ganteng,kak Edo janji bahwa setelah menikah nanti kakak akan sering nginap di rumah papa Aldo ok."
"Benarkah itu kak."
"Benarlah, apa pernah kakak bohong.''
"Iya aku percaya kak."
"Makanya tidak usah pakai sedih apa lagi sampai menangis."
"Iya kak, aku janji."
"Kamu harus belajar dengan giat supaya jago dan bisa di bangggakan."
"Ok bos.''
"Iya sudah kita pulang yo,kasihan papa sendiri."Bertha mengajak adiknya pulang agar sedikit mengalihkan perhatiannya.
Akhirnya mereka pulang naik mobil Edo yang diantar oleh supir pak Wo.
Mereka langsung membersihkan diri, lalu kembali ke meja makan.
Edo yang sedang berbincang papa Aldo, segera menyusul Bertha dan Joni yang sudah duduk manis di kursi meja makan.
"Ayo kita makan, ujar papa Aldo setelah mereka selesai berdoa."
Makan malam mereka telah usai sekarang mereka berbincang sejenak hal -hal ringan.
Edo akhirnya pamit undur diri karena sudah malam.
"Om aku pulang dulu ya."
"Iya nak hati -hati ya jangan ngebut."
"Trimakasih ya om."
Setelah Edo pulang,mereka kembali ke kamar masing -masing untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.
Pagi hari seperti biasa suasana di rumah papa Aldo sedikit heboh bagaimana tidak, Joni yang kehilangan kaus kakinya.
"Kamu taruh di mana dek?"tanya Bertha mulai kwatir tentang nasib Edo.
Bertha mencari di laci milik Joni, dia tersenyum bahagia melihat Foto dirinya, papa Aldo dan juga Joni.
"Ini dia teriak Bertha."
__ADS_1
Bersambung