APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 61.Jujur


__ADS_3

Pagi hari nampaknya Edo dan Bertha sudah siap untuk berangkat ke kantor bersama.


Luka Bertha sudah mulai kering, papa Aldo juga sudah sembuh dan mulai bekerja.


Hari ini Bertha mau ikut ke kantor Edo sebelum mereka menemui papa Aldo.


"Sayang ayo kita sarapan dulu,"ajak Edo sambil menggandeng tangan istrinya itu.


Saat sarapan mereka bercerita ringan agar suasana sedikit hidup, Edo orang yang sedikit hidup ini dia tidak suka berdiam diri jika bersama orang yang dia sayang.


Berbeda jika saat bersama para karyawan atau hanya sekedar kenal begitu saja.


"Sayang kamu yakin mau ikut aku ke kekantor?ntar bosan seperti kemarin."


"Iya jika bosan bisa tidur, disini aku lebih bosan tidak ada yang mau di ajak bicara."


Baiklah bagi aku tidak masalah yang paling penting kalian berdua bahagia.


"Semua sudah berkumpul?" tanya pak Wo pada Gilbert.


"Sudah pak."


Pak Wo meninggalkan Gilbert lalu menuju ruangan Edo.


Tok.... tok... tok pak Wo mengetuk pintu ruangan Edo.


Mendengar pintu di ketuk untuk Edo menyudahi kegiatan mereka di pagi itu.


"Sayang ada yang mengetuk pintu, mungkin pak Wo karena sebenar lagi ada rapat dengan divisi keuangan."


Setelah Bertha melepaskan pelukannya Edo membuka pintu.


"Den semua sudah siap."


"Baik pak tunggu lima menit lagi."


Pak Wo iya pergi meninggalkan majikannnya dengan senyum merekah.


Ia tahu apa yang baru di lakukan oleh majikannnya.


Setelah pak Wo pergi Edo menghampiri istrinya.


"Sayang aku harus rapat dulu, nanti kita lanjut ya, aku sayang kamu."


Bertha mengangguk pasrah dia tahu bahwa suaminya harus bekerja dia saja yang terlalu manja sejak mereka sampai di kantor Bertha malah cengengesan sehingga Edo tidak konsentrasi.


Edo tahu apa yang di inginkan oleh istrinya, langsung menghampiri dan membopong menuju kamar pribadinya.


Jadilah setelah sampai kantor hanya melakukan yang seharusnya mereka lakukan di rumah.


Edo melayani apa yang diinginkan istrinya, dengan memulai dari ciuman b***r, lalu dua buah bukit pavoritnya.


Desahan panjang mengakhiri pergulatan mereka di ruangan yang menjadi saksi cinta mereka.


Edo membersihkan diri lalu membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Kok tiduran lagi sudah mandi? tanya Bertha yang bingung melihat tingkah suaminya."


"Aku masih pengen di peluk aku mandi biar nanti tinggal pakai baju."


Akhirnya mereka saling memberikan kehangatan dengan saling memeluk.


Pelukan itu selesai setelah mendengar pintu di ketuk, Edo langsung memakai kemejanya lalu membuka pintu.


Edo segera memakai jasnya yang sudah dia buka sejak tadi.


Setelah rapi dia mencium kening istrinya lalu meninggalkan Bertha yang msih berbaring di ranjang.


Bertha memejamkan matanya karena dia merasa lelah atas apa yang barusan mereka lakukan.


Dua jam akhirnya Edo kembali keruang kerjanya, dia melihat bahwa istrinya masih tidur nyenyak.


Edo menghampirinya untuk segera membangunkannya.


"Sayang bangun sudah siang, nanti papa lama menunggu, bukannya sudah berjanji mau ketemu."


Mendengar Edo menyebut nama papanya Bertha langsung bangkit untuk segera membersihkan diri.


"Pelan -pelan sayang, kasihan dedeknya loh."

__ADS_1


Setengah jam kemudian Bertha sudah terlihat cantik.


Ahk... ucap Edo sambil mengusap wajahnya kasar.


"Ada apa sih?"tanya Bertha bingung.


"Hmm.. sayang kamu cantik banget tahu, sampai si etong bangun lagi nic."


"Nanti malam lagi ya, nanti papa lama menunggu begitu kan?"


Bertha mengulangi perkataan Edo tadi.


"Kamu benar sayang, sumpah jika ingat papa aku mau makan kamu lagi."


"Dasar mesum, lihat yang cantik langsung bangkit saja."


"Iya karena kamu sudah milik aku seutuhnya sayang, dulu nggak gitu juga."


Edo memang setelah menikah dengan Bertha, dia menjadi mesum, pesona istrinya di ranjang mebuat dia mabuk kepayang.


Tubuh Bertha merupakan candu yang sulit dia lupakan.


Ayo... ucap Bertha sambil menarik tangan Edo.


Akhirnya Edo harus meninggalkan keinginannya untuk melahap istrinya.


Saat ini mereka sudah di dalam mobil, Edo sendiri yang nyetir, karena pak Wo harus mengurus kantor bersama Gilbert.


Sampai di depan cafe yang di pilih papa Aldo, yang ternyata milik Edo,mereka langsung masuk, dan di sana papa Aldo dan kak Pino sudah menunggu.


Papa ujar Bertha sambil memeluk papanya, sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.


Kenapa kalian tidak jujur sama papa? tanya papa Aldo ketika mereka sudah duduk.


"Maaf pa hanya kami tidak ingin papa kepikiran sementara papa belum sehat."


"Tapi bagaimana keadaan kamu sekarang sayang, papa hampir pingsan waktu dokter cerita bahwa kamu terluka."


"Ini sudah sehat lukanya juga sudah sembuh."


"Syukurlah nak, maaf gara -gara papa kalian yang jadi sasaran Irfan."


"Aku pikir kakak yang kasih tahu."


"Kalian semua sama pintarnya untuk bohong sama papa, dia datang setelah dari luar kota tapi dia tidak ada cerita kalau tidak papa tanya setelah mendengar penjelasan dokter Andu."


"Papa jumpa dokter Andu dimana?"


"dia itu teman papa, kemarin dia datang ke rumah untuk jenguk papa, makanya papa tahu. "


"Maaf ya pa bukan karena kami tidak jujur tapi karena kesehatan papa jauh lebih penting."


"Iya sudah sekarang papa sudah lega, sebaiknya kita makan."


Akhirnya setelah memesan makanan dan minuman mereka menyantap hidangan itu dengan berjalankaki nikmat, Edo meyuruh karyawan untuk menyediakan makanan penutup.


Satu jam kemudian mereka akhirnya berpisah papa Aldo dan kak Pino kembali ke kantor sedangkan Edo dan Bertha menuju rumah sakit untuk periksa kandungan.


Sampai di rumah sakit mereka langsung menuju ruangan dokter yang sudah jadi langganan mereka sejak Bertha mengandung.


Setelah dokter mengoleskan iya sesuatu yang dingin di perut Bertha betapa senangnya hati Edo melihat buah hati mereka di layar monitor.


Anaknya sehat ya, tapi tetap jaga kesehatan dan bayinya.dr Ananda menjelaskan perkembangan bayi mereka.


Senyuman indah masih terukir di bibir Edo hingga saat mereka sudah berada di mobil.


"Sayang aku senang banget deh jadi tidak sabar ingin melihat anak kita."


"Sama yang, aku juga."


"Mau langsung pulang atau mau beli sesuatu?"


"pulang saja deh, capek."


"Baiklah sayangku,"


pangeran akan turuti apapun permintaan tuan putri.


Akhirnya mereka kembali kerumah setelah beberapa menit dalam perjalanan.

__ADS_1


Bertha langsung membersihkan diri lalu membaringkan tubuhnya di ranjang, dia memang sudah sangat lelah.


Edo yang sudah selesai mandi hanya terkekeh ketika melihat Bertha sudah meringkuk dalam selimutnya.


Edo menyusul Bertha untuk membaringkan tubuhnya di samping istri manjanya itu.


Entah karena hormon hamil atau karena Edo baik sehingga Bertha sangat manja kepada Edo.


Dengan memeluk istrinya Edo dengan cepat sudah memasuki alam mimpi indah.


Saat sore mereka bangun, dan berjalan di sekitar taman rumah mereka.


Duduk di depan kolam sambil melihat ikan yang menari kesana kemari tanpa ada yang mengganggu.


Pelayan mengantar muniman dan cemilan untuk menemani santai mereka.


Hingga hampir gelap barulah mereka masuk, karena tidak baik untuk wanita hamil berada di luar rumah saat sore hari.


Duduk di depan televisi itulah yang mereka lakukan saat ini tapi bukan menonton melainkan karaokean.


Banyak lagu yang sudah mereka senandungkan hingga tanpa terasa sudah setengah delapan malam.


"Sayang sudah dulu yo, kita harus makan malam, kasihan dedeknya sampai kelaparan."


Baiklah papi sayang, ucap Bertha dengan senyum merekah, ia betapa bahagia memiliki suami yang begitu perhatian.


Makan malam pun berakhir setelah Edo menyuapi Bertha.


Pak Wo masuk mengantarkan beberapa berkas yang harus Edo tanda tangani.


"Trimakasih pak,"ucap Edo ketika sudah menerima berkas tersebut.


"Oya den bapak izin menjemput Andre."


"Apakah dia besok akan pulang?"


"iya den dia sudah selesai kuliahnya."


"Iya tidak apa-apa pak."


"Setelah dia sampai aku mau bicara dengan dia pak."


Andre adalah anak pertama pak Wo, dia kuliah di inggris dengan bea siswa yang dia dapat.


Pak Wo hanya memberikan biaya hidup dan kebutuhan Andre.


Andre memilik adik yang bernama Andra,dia di kiliahkan oleh Edo.


Edo berencana mengajak Andre bekerja di perusahaan Bertha, karena harus ada yang bisa di andalkan seperti pak Wo.


Pak Wo sebenarnya tidak memiliki sekolah yang tinggi hanya karena kerja kerasnya dia di percaya kakeknya Edo.


Pak Wo dari anak yatim piatu, mereka bertemu dengan kakek Edo, saat dia berusia delapan belas tahun, dia hanya tamat SD,lalu kakeknya Edo mengambil jalut paket c,agar Wo memilik izasa smp dan sma.


Setelah Pak Wo pergi Edo dan Bertha kembali ke kamar karena Edo harus memeriksa berkas yang di antar oleh pak Wo.


Edo sengaja bekerja di kamar agar bisa sambil menemani istrinya.


Dua jam akhirnya Edo sudah selesai, dia melihat Bertha masih sibuk mengerjakan laporan dari butik.


"Sayang tidur yo, besok lagi."


"Iya aku juga sudah capek, tapi tanggung."


"Iya sudah sini aku yang teruskan."


Akhirnya Edo yang menyelesaikan pekerjaannya Bertha.


Setengah jam kemudian Edo sudah menyusul istrinya di ranjang empuknya.


"Sudah siap ya?"tanya Bertha ketika merasa ada benda di atas perutnya.


"Sudah sayang, tadikan tinggal dikit."


Hap... Edo langsung membungkam mulut Bertha dengan bibirnya.


"Kamu nyosor saja tahu."


Tapi sukakan?

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2