
"Iya itu kalau kamu mau sayang, jika kamu tidak mau juga tidak apa sayang."
Bertha menghidupkan televisi setelah mereka duduk di ruang keluarga.
"Sayang kamu nonton kartun terus, kapan dewasanya?heran deh."
"Enak nonton kartun tidak ada beban pikiran, aku bisa tertawa dengan bebas."
"Yah... maaf sayang aku tidak bermaksud membuat kamu sedih, iya deh terserah mau nonton kartun, aku akan temani kamu."
Melihat wajah Bertha yang berubah menjadi murung, membuat Edo merasa bersalah.
"Jangan sedih lagi dong sayang, aku jadi ikut sedih nic."
Bertha yang melihat Edo merasa bersalah, memberikan senyumnya.
"Kamu lelahkan?kita tidur yo."
"Aku masih kangen kamu sayang, beberapa hari tidak jumpa, aku tidak bisa tidur, makanya setelah selesai rapat aku langsung kesini,eh malah langsung diajak tidur."
"Bukannya sudah mulai tadi kita ketemu? aku ngantuk nih."
"Iya sudah ayo, biar aku temani kamu tidur."
Bertha tidak banyak komentar, karena Edo sudah sering melakukan hal itu jika Bertha tidak bisa tidur.
Edo memang seringkali berbicara mesum, tapi tidak pernah sekalipun melakukan sesuatu apa lagi saat Bertha tidur.
Edo bukan tipe cowok yang suka mengambil kesempatan.
Edo yang sangat menyayangi Bertha tidak ingin membuat gadisnya lebih terluka.
Sampai di kamar Bertha langsung membersihkan diri, sementara Edo hanya duduk di sofa sambil menunggu Bertha.
Bertha yang sudah selesai dengan urusan membersihkan diri lalu membaringkan tubuhnya disofa berbantalkan pahanya Edo.
"Yang aku terlalu kejam tidak? jika membiarkan kinan dan mama masih dalam tahanan?".
"Iya kalau aku yang kamu tanya, pasti jawabannya tidak."Tapi coba tanya hati dan kejadian yang kamu alami, maka kamu akan tahu jawabnya.
"Aku tahu yang, darah yang mengalir di tubuh mamamu sama juga mengalir dalam tubuhmu, bagaimanapun kita menolak itu tidak akan bisa.
Hanya sebagai orang tua, apa lagi kamu anak yang dia kandung tidak layak memperlakukan kamu seperti itu.
Tapi coba tanya om deh, apa yang harus kamu lakukan."
"Aku tidak tega juga jika membiarkan mereka disana terus."
"Aku tidak tahu harus bilang apa yang, hanya aku merasa takut saja, jika mereka bebas kamu akan terluka lagi, aku tidak bisa melihatmu terluka terus Tha."
Setelah pembicaraan itu mereka tidak ada lagi pembicaraan hanya diam dengan pikiranya masing -masing
Edo yang sulit mengerti dengan pikiran Bertha memilih untuk diam aja dari pada akhirnya membuat dia emosi.
"Kamu marah? tanya Bertha setelah mereka diam cukup lama."
"Nggaklah, apa aku punya hak untuk marah? hubungan kita hanya sebatas pacaran Tha, sementara mereka ibu dan kakak kandung kamu."
Bertha yang mendengar jawaban Edo seketika terdiam, ia merasa ada sesuatu yang telah salah hingga Edo berkata seperti itu.
"Kita tidur ya,"aku sudah ngantuk ucap Edo sambil bangkit dari duduknya.
Bertha ikut bangkit juga, tanpa protes.
Jujur aja Edo sangat bingung dengan sikap Bertha,dan ada sedikit rasa kecewa.
Edo langsung menuju kamarnya sendiri, tidak seperti biasa dia akan menemani Bertha sampai tidur.
Bertha yang melihat Edo langsung masuk ke kamarnya, hanya diam menatap punggung pria yang selalu setia menemaninya.
Bertha masuk kamarnya sendiri, dengan perasaan tidak enak hati, dia menutup pintu kamarnya.
Tidak pernah melihat sikap dingin Edo, membuat Bertha tidak bisa memejamkan matanya.
__ADS_1
Sampai menjelang pagi, Bertha tetap tidak bisa tidur nyenyak, hinga jam empat baru Bertha bisa tidur.
Pagi hari Edo bangun,ia membuka matanya perlahan, mengingat semalam telah mengabaikan Bertha, dia segera bangun dan menuju kamar Bertha.
Setelah sampai di depan pintu kamar Bertha, Edo mengetuk pintu kamar Bertha.
Tiga kali ketukan, belum ada jawaban akhirnya Edo membuka pintu kamarnya Bertha.
Edo melihat Bertha masih tidur nyenyak, dia kemudian membaringkan tubuhnya di samping Bertha,perlahan tangan kokohnya memeluk pinggang Bertha.
"Aku minta maaf ya sudah mengabaikanmu semalam."
Edo yang sudah menyadari kesalahannya dengan mengabaikan wanita yang sangat dicintainya,ingin segera mengakhirinya karena dia tidak mau membuat Bertha menjadi sedih.
"Sayang ucapnya setelah berbaring memeluk Bertha,"Edo tahu bahwa gadis itu sengaja tidak mengunci pintu kamar, karena berharap akan datang ke kamarnya Bertha.
Bertha yang juga merasa jengkel tetap pura -pura tidur.
"Aku tahu bahwa kamu sudah bangun, tapi kalau memang kamu tidak mau melihatku, ya sudah aku pulang."
Bertha yang menyadari ucapan Edo segera membalikkan tubuhnya, dan menatap manik mata Edo dalam.
Edo yang merasa bahagia karena gadis yang sangat dicintainya itu sudah memaafkannya, segera mencium bibir Bertha lembut.
"Sayang bangun yo," kita jalan -jalan kesekitar pembuktian, tempatnya bagus, jamin deh walau lelah tapi tempatnya asyik.
Bertha tersenyum bahagia dan mengangguk, Edo langsung menggendong tubuh mungil Bertha nenuju kamar mandi.
"Aku tunggu setengsh jam dimulai dari sekarang," ucap Edo sambil meninggalkan Bertha di kamar mandi.
Sesuai perkataan Edo, Bertha sudah selesai sebelum setengah jam dengan pakaian santai.
Edo masih sibuk mempersiapkan bekal yang akan mereka bawa, hanya tersenyum, lalu melanjutkan aktivitasnya.
"Nak ini tidak dibawa?" aku tanya ibu pengurus rumah singgah itu.
O ya bu aku lupa, ucap Edo yang kemudian mengambil kotak makan dan menyatukan semua kedalam tas.
Edo menyuapi Bertha dengan roti bakar yang sudah disiapkannya.
Segelas susu coklat juga sudah ludes, membuat Edo tersenyum karena Bertha menghabiskan semua sarapannya.
"Kamu nggak sarapan juga?"nanti dilokasih yang, aku hanya minum susu coklat tadi, ya sudah yo, nanti keburu panas.
"Baiklah aku sudah siap mulai tadi bukan? ".
Edo terkekeh mendengar perkataan Bertha, ia berjalan untuk mengembalikan piring bekas sarapan gadis malang yang sangat dia cintai.
Segera mereka meninggalkan rumah untuk mulai menyelusuri pebukitan.
Nafas Bertha terengah-engah saat mereka sampai diatas bukit.
"Capek sayang?"Edo melap keringat Bertha yang bercucuran.
Iya nih tempatnya tinggi banget, tapi benaran seru,bisa melihat pemandangan yang indah ini,Bertha merebahkan tubuhnya di pondok kecil di atas bukit.
Edo mengambil air mineral dari tas yang dia bawa lalu memberikan kepada Bertha setelah membantunya untuk duduk.
Bertha segera meneguk air mineral yang diberikan oleh Edo, yang kemudian berbaring kembali.
Edo mengikuti Bertha dengan berbaring di samping gadis cantik disampingnya.
"Sayang besok kita ke tempat papa ya, baru kita libur."
"Bukannya kita sudah berlibur mulai kemarin? aneh kamu."
Kekehan kecil Edo,membuat Bertha menggembungkan pipinya.
"Iya sayang nggak usah marah,maksudku menambahkan waktu berlibur."
"Memang ada apa di tempat papa?mereka tidak apa-apa kan? tumben."
Iya sayang, mereka tidak apa-apa, hanya rindu sama calon menantunya.
__ADS_1
"Oh... gitu ya, balas Bertha lalu duduk untuk menatap pemandangan indah disekitar bukit."
Edo yang melihat Bertha duduk, dengan sigap ikut duduk sambil merangkul pundak Bertha.
Edo tiba -tiba mengalihkan wajah Bertha dan langsung mencium b*b*r kenyal Bertha.
Mendapatkan serangan tiba -tiba Bertha terkejut, dia hanya diam tanpa membalas ciuman Edo.
Karena tidak mendapatkan reaksi atas ciumannya Edo menggigit b*b*r Bertha.
Bertha yang melihat Edo sudah terhanyut dalam permainannya menggigit balik b*b*r Edo.
Perlahan Edo melepaskan pangutannya, lalu terkekeh geli mendapat balasan dari perbuatannya.
"Kamu pelit banget sih sayang, masa malah balas dendam, padahal maksudku biar kamu buka mulut tahu."
"Makanya jangan main nyosor aja,tahu rasa."
"Tapi lebih seru yang mencuri sayang, ucap Edo sambil terkekeh."
"Dasar pencuri gerutu Bertha."
"Sayang hmm gimana ya dulu perasaannya om, sewaktu mama nikah, secara yang paling dekat dengan omkan mama, kok papa bisa nggak cemburu ya."
Edo meletakkan kepalanya di paha Bertha sambil menunggu jawabannya Bertha.
"Kok tanya aku ya, yang mengalami bukan aku, ya kenapa tidak tanya papa dan mama saja? jadi bisa tahu jawabnya apa."
"Iya secara ya,aku saja sangat cemburu bila ada yang usilin kamu."
"Iya beda dong, soalnya papa anggap mama kamu adiknya kan?jadi mana mungkin cemburu."
"Tapi aku iri sama mereka,"bersahabat awet sampai sekarang, walaupun ada jarak beberapa tahun yang lalu.
"Iya sih,padahal kita tidak punya teman yang sedekat itu ya."
"Kita berdua saja sayang, dulu kita juga hanya sebagai sahabat, berarti sama seperti mereka dong."
Kedua anak muda itu tertawa bersama, seolah mereka mwnertawakan diri mereka.
"Aku sangat bahagia memiliki kamu sayang, seru Edo yang kemudian memeluk tubuh mungil Bertha."
"Aku lebih bahagia memiliki kamu, karena selalu ada untuk aku,sekalipun kamu harus mengorbankan hati dan perasaan kamu."
"Kita bersyukur atas semua yang kita rasakan sayang, dari semua pengalaman kita yang pahit,semoga membuat kita semakin dewasa."
Edo dan Bertha menghabiskan waktu seharian hanya duduk di pondok di bukit.
"Aku lapar rengek Bertha,"setelah beberapa lama duduk bersama menikmati keindahan alam semesta yang membawa kehangatan bagi kedua hati yang dilanda cinta itu.
Melihat gadis manja di depannya, Edo segera membuka bekal yang sudah disiapkannya tadi ketika hendak berangkat.
Edo tidak pernah merasa direndahkan sekalipun dia yang lebih memanjakan gadisnya.
Dengan semangat Edo mendekati Bertha, lalu duduk di samping Bertha.
Edo menyuapi Bertha dan dirinya, hingga makanam yang ada dalam piring habis tidak tersisah.
"Wah kenyang banget, ucap Bertha sambil mengelus perutnya."
Edo menyodorkan air mineral untuk bertha, karena mereka belum minum sesudah makan.
Berapa banyak harta yang kita miliki, tidak akan membawa kebahagiaan sejati jika kita tidak memulai dari diri kita sendiri.
Orang lain bukan patokan bagi kebahagiaan kita.
Menikmati hidup serta menerima dengan ikhlas,dengan apa yang terjadi dalam hidup kita.
Berbahagialah selalu, dengan apa yang ada pada kita, jangan merusak kebahagiaan orang lain.
Bertha menulis beberapa kalimat diatas, lalu menempelkan di dinding pondok tersebut.
Bersambung.
__ADS_1