APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episide 21.Berlibur


__ADS_3

Sesuai perkataan dokter akhirnya Bertha sudah boleh pulang.


Kedua orangtua Edo juga sudah datang sejak sejam lalu mereka sudah menunggu anak gadis sahabatnya yang akan menjadi menantunya itu.


Mereka terlihat sangat akrab sama Bertha,membuat gadis itu sangat senang.


Dengan segala kelembutan dan perhatian yang diberikan oleh mamanya Edo membuat Bertha merasakan kasih sayang seorang ibu.


Aldo yang melihat perubahan wajah putrinya saat bersama sahabatnya itu ikut merasakan kebahagiaan.


Setelah semua urusan rumah sakit telah selesai mereka meninggalkan ruangan Bertha.


Kedua orangtua Edo ikut mengantarkan Bertha sampai di rumah mereka.


Setelah beberapa jam mereka bersama, Edo dan kedua orangtuanya permisih pulang tapi sebelumnya


Saat Bertha sudah istirahat di kamar.


Edo menyampaikan pesan dokter serta menyampaikan usulannya.


Mereka setuju atas usul Edo, dan kedua orangtua Edo tidak keberatan jika Edo harus cuti kuliah.


Bila memang demi kebaikan Bertha apapun pasti akan dilakukan oleh Edo.


Jadi orang tuanya yang sudah paham tidak lagi mempermasalahkan.


Hanya jika masih bisa biarkah sambil tetap mengikuti kuliah hanya itu saran orang tuanya.


Sekalipun Aldo tidak bisa terus menemani Bertha selama liburan, mereka percaya dengan Edo tidak akan menyakiti Bertha walaupun hanya berdua.


Setelah mempersiapkan semua, pagi ini mereka akan mengantarkan Bertha dan Edo ketempat mereka akan berlibur.


Dengan menggunakan dua mobil mereka berangkat bersama.


Tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah singgah keluarga Edo.


Semua masuk kedalam kamar masing -masing untuk beristirahat.


Saat sore hari mereka berkumpul untuk menikmati pemandangan sore yang di temani secangkir kopi.


Pino duduk di disamping Bertha mereka terlihat sedang cerita dan bercanda bersama.


Sementara Rita berjalan melihat keindahan pegunungan yang sangat sejuk.


"Apa kamu suka dengan tempat ini dek?"tanya Pino.


"Iya kak suasananya menyenangkan,cuacanya sejuk bangat kak."


"Semoga kamu betah dek,dan cepat sembuh."


"Kami tidak bisa menemani kalian di sini lama karena kami sudah harus ikut bekerja membantu om diperusahaan."


"Kakak serius?"


"Iya dek,"ucap Pino jujur.


"Kak Rita juga?"


"Iya om minta kita berdua,"supaya kita bisa dekat dan sering ketemu.


"Kalau begitu kenapa tidak tinggal di rumah sama papa dan Bertha kak?"


"Tidak apa -apa dek kakak sudah beli rumah kecil hasil gaji kakak kemarin."


"Kenapa emang kakak tidak pulang kerumah papa sama mama?"


malas dek ucap Pino cuek.


"Sudah dek,"sebaiknya ayo kakak temani kamu kedekat kolam depan ,sepertinya sejuk disana.


"Ayo ajak Bertha sambil berjalan menuju kolam yang dikatakan oleh kakaknya."


Mereka duduk di kursi samping kolam sambil melihat ikan yang menari kesana kemari di dalam air.


Edo sengaja memberikan waktu kepada mereka dia menemani kedua orangtuanya dan om Aldo.


Saat melihat Rita sendirian, ia permisi kepada orang tua mereka dan menghampiri Rita.


"Kok sendirian kak?"tanya edo.


Menikmati hidup Edo ucap Rita tersenyum.


"Hidup kami itu rumit Edo,"aku sendiri bingung kenapa harus seperti ini, semua hancur dan menyedihkannya akibat orang yang seharusnya melindungi kami.


Edo hanya diam mendengar ucapan Rita.


"Aku kadang cemburu melihat keluarga seperti kamu Edo,"mereka perhatian bahkan mereka sangat menyayangi Bertha dengan tulus.


"Itulah hidup kak,"semua kejadian membuat kita semakin dewasa.


kita belajar dari pengalaman kita.

__ADS_1


"Aku tahu kakak tidak akan menyakiti Bertha."


"Sejak dulu aku tidak pernah menyakiti dia Edo,"aku juga tidak tega melihat dia menderita makanya sejak dia kembali kerumah dan perhatian papa dan mama berbeda aku memilih sekolah jauh agar tidak bisa melihat itu semua.


"Hanya saja aku terlalu takut kehilangan kemewahan sehingga tidak berani menentang mama."


"Aku senang dengan cara keputusan yang kakak buat paling tidak kakak tidak menyakiti Bertha."


"Iya kamu benar Edo, mungkin jika aku tidak keluar dari rumah aku akan ikut seperti mama dan kinan."


"Apa kakak sudah mengunjungi kinan?"


"Belum Do,"mungkin aku tidak akan pernah mengunjungi dia, biar dia sadar akan kesalahannya.


"Aku sudah memperingati dia berulang kali, supaya tidak menyakiti Bertha, tapi dia tidak pernah dengar."


"O iya apa kakak juga ikut kerja sama Bertha?"


"Iya do,"kami sudah janji sama om Aldo.


$Baik kak,"ayo kita masuk sudah mau gelap ajak Edo.


Akhirnya mereka masuk dan ternyata semua sudah masuk terlebih dahulu, karena cuaca sudah semakin dingin.


Setelah membersihkan diri mereka kembali berkumpul di meja makan.


Pegawai rumah itu telah memasak makanan yang sangat menggiurkan.


Dengan lahap mereka menyantap makanan yang telah tersedia apa lagi cuaca dingin menambah nafsu makan bertambah.


Selesai makan Aldo memulai percakapan karena mereka besok pagi -pagi akan pulang.


"Sayang besok pagi kami pulang ya, semoga kamu cepat sembuh sayang."


"Edo tolong jaga Bertha untuk om ya,"ucap Aldo iya memohon.


"Tenang om Edo akan menjaga Bertha dengan baik, lagian tanpa om bilangpun aku akan selalu menjaganya."


"Om percaya sama kamu nak," ucapnya.


"Ingat Edo jangan sampai kamu menyakitinya,"ucap papanya.


"Wah sepertinya aku seorang penjahat saja diancam melulu ucap Edo pura -pura sedih."


Semua tertawa mendengar perkataan Edo.


"Kamu itu ya ucap mamanya sambil tersenyum."


"Jam berapa besok berangkat pa?"tanya Bertha.


"Jam lima sayang soalnya kedua orang yang disamping papa ini jam sepuluh sudah harus berangkat kebandara."


Kasihan mereka tidak sempat istirahat.


"Dua orang?


"Sadis kamu Do,"ucap mamanya Edo sambil memukul bahu Aldo.


"loh memang kalian orang kan?"ucap Aldo terkekeh.


"Terserah kamu saja lah,"yang penting kamu puas ucapnya.


Pino dan Rita yang tidak tahu tentang persahabatan mereka hanya menatap heran.


"Kenapa nak kalian heran dengan mereka ini?"tanya papa Edo yang melihat keheranan mereka.


"Tidak usah merasa heran kami itu sudah saling kenal bahkan sahabat mulai kecil apalagi dengan istri om ini sudah seperti Upin dan Ipin."


"Jadi sudah biasa mereka ini seperti kucing dan tikus."


Bahkan terkadang sudah seperti anak bayi.


"Wah papa parah habis kasih julukan untuk om dan mama,"ucap Edo.


semua tertawa terbahak -bahak.


Tapi Edo heran kok bisa papa dan mama yang jadi pada hal yang lebih dekat om sama mama .


"Apa kamu meragukan papa Do?"


Ha..... tawa Aldo pecah mendengar ucapan Edo.


"Sebenarnya dulu om berat melepaskan princesnya om untuk papamu.


Tapi papamu merengek terus sehingga om tidak tega."


"Ah kamu mah buka kartu ku saja,"ucapnya sambil melempar Aldo dengan biji jeruk yang dia pegang .


Ha.... kembali mereka tertawa bersama.


"Kamu tahu Do,"papamu melamar mamamu sama om dulu baru sama kakekmu."

__ADS_1


"Wah berarti mama itu parah juga masak nenek an kakek dilangkahi."


"Bukan dilangkahi sayang tapi om mu ini yang sering jaga mama, kakak dan nenekmu sibuk kerja, lalu mama dititip di rumah om Aldo."


"Iya jadi begitu deh."


Mereka yang mendengarkan perkataan mama Edo hanya diam mendengar saja.


Mereka tidak tahu harus bilang apa.


Edo kembali bersuara untuk mencairkan suasana.


"Berarti besok papa membawa mobil semua?"


"Tidak nak, satu tinggal untuk kalian."


"Kami bawa satu saja,"ucap Aldo.


"Ya sudah,"kita istirahat biarlah supaya besok bisa bangun pagi.


Mereka akhirnya turun masuk kamar masing -masing.


Bertha diantar oleh papanya, ia ingin memastikan keadaan putrinya.


"Selamat tidur sayang,"kamu tidak boleh memikirkan tentang yang berat ya biar cepat sembuh.


"Minggu depan dokter Hans yang akan kesini untuk memeriksa keadaanmu."


"Apa papa juga akan ikut?"


"Iya sayang,"papa datang sekalian dengan dokter Hans.


"Hati -hati besok ya pa,"ucap Bertha sambil memeluk papanya.


"Iya sayang kamu juga disini harus jaga kesehatan dan jangan lupa banyak makan."


Setelah Bertha sudah tidur, Aldo menyelimuti tubuh putrinya kemudian meninggalkan kamar Bertha.


Ia pun membaringkan tubuhnya agar terlelap untuk mendapatkan tenaga baru.


Keesokan harinya mereka sudah bersiap untuk segera pulang, tapi melihat Bertha masih tidur pulas akhirnya tidak membangunkan.


Mereka hanya pamitan kepada Edo yang mengantarkan mereka sampai gerbang.


Setelah keluarga mereka pergi Edo kembali kekamar Bertha, tapi ternyata dia masih tidur.


Edo masuk ke kamarnya ia mengerjakan beberapa jerjaan yang sudah menumpuk.


Sejak Bertha sakit dia tidak pernah masuk kantor.


Semua di urus Gilbert dan asistennya.


Bergulat dua jam dengan leptopnya akhirnya memilih menyudahi dan melihat Bertha kembali.


Bertha sudah rapi dan duduk di sofa ruang keluarga sambil minum teh hangat.


"Kamu sudah bangun sayang?"ucap Edo sambil duduk di samping Bertha.


"Tadi aku liat kamu masih sibuk makanya aku tidak ganggu."


"Kita sarapan ya biar kamu makan obat ajak Edo lembut."


Bertha hanya mengangguk dan bangkit berdiri mengikuti langkah Edo.


Edo mengambil nasi dan lauk di dalam piring lalu memberikan kepada gadisnya.


"Banyak makan ya sayang biar cepat sembuh atau mau aku suapin?"


"Tidak usah,"aku sudah bisa makan sendiri,tolak Bertha halus.


Setelah berdoa segera menyantap hidangan itu.


Melihat Bertha sudah siap makan Edo mengambil obat dan memberikannya kepada Bertha.


Kamu mau langsung istirahat di kamar atau masih di sini?


"Kita ketaman sebentar ya,,"ajak Bertha.


"Boleh yo,"lagian masih udara segar masih baik untuk kesehatan.


Mereka keluar dan duduk di kursi sambil menikmati udara segar.


"Setelah kakek meninggal kamu tidak pernah kesini iya?"


"Pernah sih tapi hanya sebentar saja."


"Aku pernah mau mengajak kamu kesini tapi kamunya sibuk terus."


"O... ya?"ya sudah sekarang aja gantinya.


Edo terkekeh sambil memeluk Bertha.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2