
Edo segera mengetuk pintu, dan tanpa menunggu lama pintu segera di buka,dan tampak semuanya dengan senyuman manis pada setiap anggota keluarga.
Cia dengan centilnya bergerak dan berucap tara....... selamat datang,"ayo masuk dan ini semua untuk keluarga kecil kakak gantengku."
"Hai ganteng, cantik, villa ini khusus untuk kalian."
"Maksudnya apa dek?" Edo yang bingung bertanya pada adeknya.
"Iya sayang villa ini mama beli khusus untuk para cucu-cucuku ini."
"Benaran nek? waow bagus banget."
"Benaran dong ganteng, mana berani nenek untuk bohong."
Andre sangat terlihat sangat bahagia melihat pemandangan yang ada di depan matanya.
Mama Edo sampai menangis melihat kebahagiaan cucunya, jujur saja beberapa hari cucunya sedih membuat hatinya juga ikut sedih.
"Sayang ini hadiah untuk kalian yang sudah siap melewati masalah yang sudah selesai."
"Trimakasih ma," Edo memeluk mamanya,sebagai anak dia juga butuh dukungan, pelukan hangatnya seorang ibu, dan saat ini dia menikmati dari ibu yang melahirkannya.
"Mama percaya sama kamu sayang, perjuangkan apa yang sudah menjadi milik mu, jangan pernah lepas, dan apa yang sudah lewat jadikan pelajaran untuk kamu semakin bijak."
Edo tidak bisa menutupi perasaannya hingga dia menangis.
"Papi cemen, masa nangis di pelukan nenek."
"Iya sayang, papi cemen maafkan papi sekali lagi, maafkan papi yang bodoh membuat hati kalian menjadi terluka."
"Iya pi, aku sudah memaafkan papi, tapi jangan pernah mengulangi dan menyakiti hati mami."
"Trimakasih boy,papi janji tidak akan pernah mengulangi kesalahan yang sama."
"Ok... ok sekarang kita makan kue khusus penyambutan kalian."
"Ok nenek."
Cia segera membawa kue yang sudah di sediakan khusus, yang bertuliskan nama ketiga keponakannya.
Saat ini mereka sedang menikmati kuenya, tidak terkecuali para pengawal, mereka juga kebagian secara bergiliran.
Setelah selesai acara makan kue,mereka berdoa bersama,lalu masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat, ataupun membersihkan diri.
Malam hari mereka berkumpul bersama kembali, duduk mengelilingi meja makan.
Selesai makan malam, mereka berbincang di ruangan besar yang tersedia televisi berukuran besar.
Andre begitu bahagia bermain dengan om, dan beberapa kali dia menang.
Para kakek sedang bernostalgia, mereka bernyanyi riang ria bersama.
Keempat anaknya hanya ikut merasa bagahia atas kebahagiaan orang tua mereka.
Bertha baru tahu jika papanya ternyata sangat pandai bernyanyi sambil bermain gitar.
Ketiga orang tua tersebut bernyanyi trio.
"Wah... kakek nenek ternyata artis terhebat," puji Andre bangga karena suara kakek neneknya memang sangat merdu.
"Iya dong nenek dan kakek siapa dulu."
"Kakek dan neneknya Andre sama dedek kembar dong."
Lelah bernyanyi, mereka memutuskan untuk istirahat, karena hari ini cukup melelahkan.
Selain perjalanan cukup jauh, juga kegiatan untuk mempersiapkan semuanya dalam penyambutan keluarga kecil Edo.
__ADS_1
"Sayang selamat tidur ya, mimpi indah,"ucap Edo sambil memeluk putranya.
"Sama pi, mimpi indah juga, aku sayang papi."
Mereka tidur untuk menemuai indahnya sinar mentari di pagi hari.
Sinar matahari yang mulia memancarkan sinar dan kehangatannya, membangunkan penghuni yang sedang terlelap tersebut.
"Pi, bangun sudah pagi, ayo kita harus bermain kembali sebelum kita pulang."
"Iya... ya... papi bangun, tapi tunggu dulu papi berdoa, apa kamu sudah berdoa?"
"sudah dong pi, tadi setelah bangun abang langsung berdoa lalu mandi."
"Good boy, kita tidak boleh lupa akan kemurahan Tuhan."
"Iya pi, guru di sekolah juga sudah ajarin abang untuk berdoa sesudah kita bangun, atau semua kegiatan kita."
"Baiklah boy, papi percaya pada kamu, dan sekarang papi akan segera membersihkan diri lalu kita jalan ok boy."
'ok pi."
Edo langsung membersihkan diri lalu menyusul putranya yang sudah di teras villa bersama kedua orang tuanya serta mertuanya.
"Hai boy, apa masih sempat jika papi minum kopi?"
"bisa dong pi, kita harus sarapan dulu baru berangkat, aku tidak mau kalau papi jadi sakit."
"Trimakasih ya sayang, papi sangat senang dengarnya."
Edo mengambil sarapan lalu menyusul orang tuanya dan anaknya yang lagi sarapan di teras.
Setelah selesai sarapan Edo membawa Andre keliling di sekitar pantai dan villa mereka.
"Pi, bagus banget ya, aku senang di sini sangat bagus pemandangannya tidak seperti di rumah kita."
"Iya dong disini tidak ada banyak kendaraan yang lalu lalang dan udara segar tidak kita dapat di kota karena itu, juga pohon sudah sangat jarang, sedangkan di sini lihatlah, masih banyak pohon."
"Iya pi."
"Iya pi, aku akan belajar dengan baik, biar saat libur kita bisa datang kesini."
"Iya dong karena kamu yang akan ganti papi dan mami untuk mengurus perusahaan."
"Iya pi baru abang janji tidak akan pernah mengecewakan papi dan mami."
"Iya sayang, papi akan selalu menunggu dan berdoa agar semua itu terlaksana."
"Sekarang kita ke villa yo, kita harus siap -siap untuk pulang, soalnya kakek, nenek, om, dan bibi akan pulang besok pagi, jadi mereka harus istirahat dulu."
"Ayo pi,biar kita ada waktu untuk bersama bibi."
Sampai di villa ternyata semua masih asyik di depan sambil menikmati bakso bakar yang sengaja dibakar sang nenek.
"Wah... ternyata nenek buat makanan enak ya, untung kami langsung pulang, kalau tidak pasti di habiskan sama om deh."
"Nggak dong, om itu sayang sama keponakan om."
"Trimaksih om, aku senang deh."
"Jadi bibi tidak nic? padahal bibi itu sudah buat khusus kamu loh, sedangkan om kamu itu tinggal makan saja bisanya."
"Iya pastinya bibi dong yang paling abang sayang, sudah cantik baik lagi."
"Cie... sudah pandai gombal saja nic."
"Orang ganteng gitu loh bi."
__ADS_1
"Iya... bibi terima deh gombalannya asal cium dulu."
Andre mendekati bibinya lalu "Trimakasih bibiku sayang."
"Sama -sama sayangku."
Setelah selesai semua acara itu, mereka bersiap untuk segera pulang.
Saat ini mereka sudah berada di jalan,banyak hal yang mereka ceritakan hingga Andre kelelahan lalu tidur.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di rumah dengan selamat, sementara Andre masih terlelap.
Edo menggendong putranya menuju kamar, lalu membaringkan tubuhnya dengan perlahan.
Edo turun kembali untuk mengambil koper mereka, lalu membawanya menuju kamar.
Sampai di kamar Edo melihat istrinya sudah baring, dia tahu istrinya sangat kelelahan, apa lagi masih satu bulan setelah operasi.
"Sayang kamu pasti lelah kan? maafkan aku ya, karena aku kamu harus mengalami semua ini."
"Iya pi, aku sangat lelah, tapi tenang saja selesai istirahat pasti semua akan baik -baik saja."
"Iya sudah kamu istirahat ya, biar aku yang urus si kembar."
"Iya pi."
Bertha memejamkan matanya, karena sejujurnya dia sangat lelah, bahkan bagian perutnya terasa sakit, mungkin karena perjalanan yang lumayan jauh, dan jalan yang banyak lobang membuat perut sakit.
Demi kebahagian bersama, rasa sakit ini pasti kalah, aku sangat bersyukur ternyata anak dan keluargaku sangat bahagia.
Akhirnya Bertha benar -benar sudah terlelap.
Bertha terbangun ternyata sudah malam, perutnya terasa lapar, dia bangkit dari ranjang.
Edo yang melihat Bertha bangun lalu datang menghampiri Bertha.
"Kamu mau apa sayang?"
"aku lapar."
"Kamu tunggu di sini aku akan ambil ok."
Beberapa menit kemudian Edo sudah kembali membawa makanan untuk istrinya.
"Aku suapin iya."
"Iya, Bertha pasrah karena dia memang sangat lapar dan juga lemas."
Setelah selesai makan Edo memberi obat yang sudah di bawakan oleh dokter tadi ketika Bertha tidur.
"Ini kamu makan obatnya, tadi di antar sama dokter, perut kamu sakitkan?"
"Kok tahu?"
pertanyaan Edo di jawab pertanyaan oleh Bertha.
"Tahulah kamu baru sebulan lebih sesudah operasi,jadi dengan perjalanan jauh pasti akan terasa sakit, maaf ya."
"Sudah tidak perlu minta maaf terus, aku sudah tidak apa-apa."
"Iya... aku tahu kamu akan menutupi semua luka di hati kamu, bahkan rasa sakit di bagian perut kamu saja tahan sendiri, aku sudah mengenal kamu cukup lama sayang."
"Maaf pisay."
Bersambung.
Hai..
__ADS_1
.hai janjiku sudah terpenuhi untuk tambah episode, jadi bantu author dong dengan like dan komentarnya serta votenya.
Biar lebih semangat gitu.