APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 29.Kemarahan


__ADS_3

Aldo sudah sampai di rumah sakit, papa Aldo menjumpai Edo agar segera pulang.


Edo yang sudah setuju bahwa mereka akan bergantian untuk menjaga Bertha, atau paling tepatnya menunggu diruang tunggu.


Setelah Edo pergi, Aldo mengambil duduk dikursi yang telah disediakan oleh pihak rumah sakit.


Saat Aldo sedang duduk, dokter memanggil agar masuk ke ruangan dokter.


Diruangan, dokter menjelaskan perkembangan kesehatan Bertha yang sampai saat ini belum ada perkembangan.


Aldo duduk dengan wajah yang sudah tidak dapat diartikan lagi.


"Terus apa yang harus kita lakukan lagi dokter? tanya papa Aldo dengan sendu."


Kita harus tunggu sampai dia sadar, terang dokter juga dengan perasaan sedih.


Hanya karena sudah kewajiban sebagai dokter, maka dokter tersebut berusaha tegar.


Sebagai seorang teman dia tidak tega melihat keadaan Aldo yang selalu dilanda masalah.


"Sabar bro dan terus berdoa demi kebaikan Bertha."


"Aku tidak tahu apa aku harus menangis atau tertawa atas kejadian dalam hidupku, keluh Aldo."


"Aku tahu apa yang kamu rasakan bro, tapi apa lagi yang harus kita lakukan selain, berdoa."


Aldo memilih untuk diam aja karena sesungguhnya dia tidak tahu lagi harus bilang apa.


Sesudah bicara sama dokter, papa Aldo memilih untuk pulang,karena sudah keputusan mereka jika malam tidak perlu dijaga selama Bertha belum sadar.


Sementara itu sesudah dari rumah sakit, Pino dan Rita memutuskan untuk pulang, untuk menjumpai ibu dan adiknya.


$Ma... panggil Pino dengan penuh emosi."


"Ho... akhirnya kalian pulang juga, apa ommu itu sudah mencampakkan kalian?"


"Sayangnya kami malah mendapatkan kasih sayang dari om Aldo dari pada kita disini."


"Tapi bukan itu tujuannya kami datang kesini. Kami kesini karena kami tidak setuju dengan apa yang mama lakukan dan Kinan."


Apa yang ada dalam pikiran mama sehingga tidak punya hati? bentak Pino penuh amarah.


"Berdoa saja ma, semoga Bertha dapat bertahan dan sembuh jika tidak mama siap -siap mendekam di penjara."


"Mama tahu kalau Bertha harus operasi dan sampai saat ini, Bertha belum sadar."


"Apa?"suara seorang pria menggema dalam ruangan itu.


Iya papanya Pino datang dan mendengar semua ucapan mereka,dengan kesabaran yang sudah diujung kuku, pria itu menampar pipi mulus istrinya.


"Apa -apaan si pa? apa kok mama ditampar?"


"Itu belum seberapa dengan apa yang kamu lakukan kepada Bertha."


Dan dengan cepat pria itu menghubungi pihak kepolisian untuk melaporkan istri dan anaknya.


Selang beberapa menit, benar saja dua polisi datang.


Setelah dibuka pintu dua orang itu segera masuk,semua terkejut melihat siapa yang datang.


"Silahkan pak, bawa kedua orang ini, ujarnya penuh penyesalan."


Pria paruh baya itu menyesal sudah salah mendidik istri dan anaknya.


Akibatnya mereka menjadi orang yang tidak punya hati, apa lagi kepada anak sendiri, yang tidak punya kesalahan.


Bertha hanya dipersalahkan atas apa yang tidak pernah dilakukan.


"Apa ini pa? kenapa papa suruh kami dibawa sama mereka?"


"Iya sekarang papa yang akan melaporkan kalian atas apa yang terjadi kepada Bertha.


Kita lihat perkembangan kesehatan Bertha,semua keputusan ada pada Bertha."


Jadi silahkan bawa mereka pak, ujarnya penuh luka baik hati dan juga pikirannya.

__ADS_1


Akhirnya kedua wanita itu,dibawa pergi oleh kedua polisi,pria paruh baya itu,merosot dilantai karena sekujur tubuhnya lemas.


Pino dan Rita akhirnya mendekati papanya yang sudah tidak sadarkan diri.


Segera mereka membawa papanya kerumah sakit,dengan terburu -buru Pino mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Pino sangat terpuruk tapi harus bagaimana lagi, harta itulah yang selama ini dikejar oleh kedua orang tuanya.


Mungkin benar kata orang bahwa karma itu ada, jika mereka tega membuang anak sendiri dan menukar dengan harta.


Bertha ditukar dengan sebuah materi yang seharusnya milik Aldo, tapi pasangan suami istri yang terlanjur membenci Bertha memberikan Bertha asal Aldo tidak akan pernah menuntut warisan dari orang tuanya.


Aldo yang tidak punya anak, menerima Bertha dengan senyuman indah dan menyanyangi dengan tulus.


Hingga satu ketika Aldo harus merelakan putri yang sangat disayangi kembali ke abangnya, yaitu papa kandung Bertha, yang awalnya dikira lebih baik dari pada disiksa oleh istrinya.


Tapi kenyataannya bukan kebaikan yang ada, malah penderitaan panjang bagi Bertha.


Aldo bingung apa sebenarnya yang terjadi dalam hati dan pikiran suami istri itu.


Hari ini seakan mimpi dengan segala yang terjadi, abangnya masuk rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Dengan tatapan pilu Aldo menatap abangnya didorong oleh petugas kesehatan.


Sejak dua puluh tahun yang lalu mereka sudah tidak memiliki hubungan yang baik lagi, seolah mereka tidak saling mengenal satu sama lain.


Perlakuan mereka pada Bertha menambah sakit hati dan luka bagi Aldo.


Bagi Aldo Bertha adalah yang terpenting dari segala harta.


Dan selama itu pula Aldo tidak pernah memintanya, karena dia telah mengiklaskan, tapi paling tidak Bertha hidup layak, tetapi kenyataan semua terbalik.


Harta tidak dapat, Bertha terabaikan, sungguh sangat melukai hatinya.


Tapi sebagai saudara, sesakit apapun yang dia rasakan, dia tidak tega melihat keadaan abangnya,perlahan Aldo mendekati Pino dan Rita.


"Apa yang terjadi nak? tanyanya sambil memeluk Pino."


"Kami mendatangi mama om,"dan aku sangat emosi,melihat mama yang tidak merasa bersalah.


"Papa sangat marah om, sampai papa memanggil pihak kepolisian, dan membawa mama dan kinan."


Emosi papa akhirnya meledak om dan sampai tidak sadarkan diri, jelas Pino."


Aldo sangat prustasi mendengarkan semua hancur.... itulah yang ada dalam pikirannya.


Cinta tulus kedua orang tuanya hancur tidak tersisa dan itu semua karena seorang wanita.


Aldo kembali pada kenangan ketika mereka bersama keluarga.


Sangat kompak, dan saling melindungi, sungguh terbalik dengan sekarang.


Air mata Aldo kembali menetes membasahi pipinya.


Dengan menarik rambutnya dengan kasar, dan menjerit, Aldo sudah tidak sadar dia sedang berada di mana.


Spontan mata yang ada di lorong rumah sakit melihat kearahnya.


Rita yang tahu bahwa omnya tidak dalam keadaan baik dengan cepat memeluknya dan memberikan ketenangan.


"Tenanglah om,"jangan seperti ini, semua itu adalah balasan dari perbuatan Mama dan papa.


"Bukan salah om, mereka telah tidak adil selama ini, bahkan mereka telah mengajarkan, hal yang tidak baik pada kami."


Sebagai orang tua mereka tidak bisa, memberikan cinta seperti yang om berikan pada kami, hanya materi yang bisa mereka berikan untuk kami.


Aldo yang tahu bahwa keponakannya itu yang lebih hancur, menegakkan pandangannya lalu, memeluk erat untuk memberikan kekuatan.


Sejak Rita melihat semua ketidak adilan pada Bertha, memilih untuk melanjut SMA di kota lain, dan sesudah itu kuliah di luar negeri.


Rita juga tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya, hanya uang yang mengalir setiap bulan.


Aldo sangat kasihan pada semua keponakannya yang tumbuh tanpa cinta dan pendidikan yang baik dari kakak, dan kakak iparnya.


"Iya sudah kita berdoa semoga papa dan adikmu cepat sembuh, dan membawa berkah bagi kita semua."

__ADS_1


Setelah diperiksa oleh dokter,kemudian dokter bicara pada mereka, jika papanya harus dirawat.


"Sebenarnya keadaan pasien sudah lebih baik, beliau sudah sadar, tapi harus tetap dibantu dengan pernapasan."


Dokter menjelaskan semua tentang kesehatan papanya Pino.


Pino menyetujui apa yang dikatakan oleh dokter.


Setengah jam kemudian perawat mengantar papanya Pino keruangan rawat yang dengan fasilitasnya yang mewah.


Menjelang malam Aldo dan Pino keluar dari kamar rawat papanya Pino.


Mereka menjumpai dokter yang menangani Bertha.


"Bagaimana keadaan Bertha?apa tidak ada kemajuan sedikit pun?"


"Maafkan aku Di,"sampai saat ini belum ada perkembangan dari Bertha, ucap dokter itu dengan penuh penyesalan.


Sementara itu kedua orang tua Edo sudah sampai di rumah mereka, setelah tahu keadaan Bertha, segera mengurus semua pekerjaan mereka.


Edo tampak terpuruk, ia menangis dipelukan mamanya.


"Ma bagiamana jika Bertha tidak ingin bangun lagi ma? ujar Edo yang sudah putus asa karena tidak ada perkembangan dari Bertha."


"Hus... kamu itu ngomong apa sih nak? Bertha itu orang yang kuat, sekarang dia lagi mengumpulkan tenaganya agar bisa bangun lagi."


Panjang lebar wanita itu memberikan hiburan agar putranya tidak terus sedih.


Edo merasa hilang separuh hidupnya dengan keadaan Bertha.


Jika biasanya mereka selalu bersama, sekarang jangankan berjalan bersama, tersenyumpun Bertha sudah tidak mampu.


Edo tidak ingin melakukan apa pun, kekampuspun dia tidak pergi, semua urusan pekerjaan juga diserahkan pada asisten dan sekretarisnya.


"Sayang sebaiknya kamu istirahat, agar kamu tidak ikut sakit, coba bayangkan jika kamu ikut sakit, pastinya Bertha akan merasa sedih."


"Lihat badanmu sudah jelek," kurus, rambut acak- acakan sungguh membuat mata sakit, ujar mamanya dengan lembut.


"kamu mandi dulu ya baru tidur nanti sore kita kerumah sakit, seru mamanya lagi."


"Baiklah ma, ujar Edo mengalah,"


Edo memang tampak tidak terurus,kurus,dan acak -acakan.


Seteh mandi Edo merebahkan tubuhnya diranjang empuknya, mencoba untuk memejamkan mata dengan berbagai cara.


Karena merasa lelah akhirnya Edo memejamkan matanya dan ikut terbuai dengan mimpi indahnya.


Saat jam tiga mamanya membangunkan Edo, agar segera bersiap untuk pulang.


Membayangkan senyuman indah dari bibir Bertha ,membuat Edo lebih semangat.


Segera Edo menganti pakaiannya, setelah mencuci muka.


Sepuluh menit kemudian Edo turun dan sudah berpakaian rapi.


Ketika Edo sampai di bawah ternyata papa, dan mamanya sudah siap menunggu.


"Sudah siap sayang sapa mamanya ketika melihat anaknya lebih cerah."


"Sudah ma,"ayo kita berangkat ajak Edo.


Mereka segera meluncur menuju ke rumah sakit.


Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit.


Tampak papa Aldo dan Pino keluar dari ruangan ICU tapi sudah dengan wajah berseri.


"Aldo sapa mama Edo terlebih dahulu."


"Kalian datang? paslah Bertha sudah sadar, tapi mereka lagi bersiap untuk memindahkan keruangan rawat, jelasnya dengan wajah berseri."


Trimakasih ya Tuhan,ucap mereka serempak.


Bersambung

__ADS_1


jangan lupa untuk tinggalkan vote dan like ya, Trimakasih.


__ADS_2