
Bertha terbangun setelah sore, dia perlahan membuka matanya, sambil mencari keberadaannya ia bangkit dari ranjang yang saat ini dia tiduri.
Aku dimana nic?gumamnya masih belum juga sadar bahwa dia masih di kantor Edo.
Edo yang sudah selesai dengan pekerjaannya masuk untuk membangunkan Bertha.
Saat membuka pintu dia melihat Bertha sudah bangun, ia tersenyum bahagia melihat Bertha.
"Sayang kamu sudah bangun?"kupikir kamu belum bangun.
"Iya sudah ini sudah bicara berarti sudah bangun dong jika masih tidur berarti ngigau."
Edo hanya terkekeh mendengar perkataan Bertha ia berjalan untuk menghampiri Bertha.
Edo menarik dagu Bertha lalu mencium bibirnya lembut.
"Kita pulang yo, atau mau bermalam di sini hmm?"
"ogah... ayo ngapain juga tidur di sini sedangkan rumahmu saja kosong tidak ada yang nempati."
"Siapa tahu kamu mau, iya nggak apa-apa sih."
"Sudah ah... malas tahu aku mau berendam soalnya badan aku sudah lengket."
Edo mengangkat tubuh Bertha, tanpa mempedulikan tatapan mata para karyawan.
"Turunkan aku sayang, malu tahu di liatin sama karyawan kamu loh."
"Sayang diamlah jika kamu tidak mau jatuh."
Para karyawan melihat bosnya seperti itu ada yang merasa bahagia ada juga yang merasa iri.
"Enak ya, bu bos dimanjakan oleh bos, dia benar beruntung sudah sampai cantik, kaya dapat yang tampan dan kaya pula."
Resepsionis dengan yang lain memberikan pendapatnya.
"Iya..
aku juga sangat senang melihat pasangan itu apa lagi si bos sepertinya bucin habis."
Percakapan mereka berhenti ketika melihat gerak pak Wo dan Gilbert.
Gilbert dan pak Wo adalah pasangan serasi dalam kerja, pak Wo yang sangat di segani memberikan ilmunya agar Gilbert bisa mengikutinya.
Gilbert dengan cepat bisa belajar dengan baik, walaupun dia berasal dulunya anak orang kaya tapi sekarang dia sangat sadar akan keadaan orang tuanya.
"Apa yang kalian bicarakan? apa kalian sudah tidak mau bekerja di sini?"
Pak Wo memberikan tatapan mautnya.
"Tidak pak, maaf." Wajah para wanita itu nampak pias jika berhadapan dengan pak Wo dan Gilbert.
Hufs.. ucap gadis itu bersamaan setelah kedua pria itu berlalu.
Sementara itu didalan mobil Bertha yang melihat pesan dari Joni langsung kwatir.
"Ada apa sayang? kok wajah kamu kwatir gitu? apa ada masalah?"
"Joni ada di rumah sakit, katanya tadi di serempet mobil pas mau nyebrang."
"Iya sudah kita kesana sekarang ya, kamu tidak usah kwatir dia akan baik-baik saja yang."
Edo putar balik menuju rumah sakit,dia tidak mau membuat Bertha cemas.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit, segera mencari keberadaannya Joni dengan bertanya pada perawat yang berjaga di IGD.
Setelah mereka tahu bahwa Joni sudah di pindah ke ruang rawat, mereka langsung menuju kesana.
"Dek... kamu tidak apa-apa?"aku ucap Bertha setelah memasuki ruangan Joni.
"Kak... kaki aku sakit,"Joni merengek kepada Bertha, dia hanya bisa bermanja kepada Bertha, apalagi dia tidak merasakan kasih sayang seorang ibu.
Bertha memeluk Joni dengan erat.
__ADS_1
"Kok bisa sih kamu seperti ini?"Bertha bergumam tapi masih di dengar oleh Joni.
"Tadi ada seorang nenek yang mau nyebrang kak,jadi karena tiba -tiba ada mobil melaju kencang jadi menarik beliau kepinggir jadi seperti ini deh jelas Joni nyengir."
"Ih... kamu tuh ya, buat kakak jantungan tahu, malah nyengir lagi."
"Maaf kak, tapi aku sudah tidak apa-apa kok."
"Tidak apa-apa tapi kenapa masih di sini."Cibir Bertha.
"Sudah sayang, jangan di ledekin terus, biar dia istirahat."
"Iya.. papa mana dek?"
"Pulang kak," kata papa mau ambil pakain ganti.
"O... iya sudah kakak tunggu ya sampai papa datang,tidak apa kan sayang?"tanyanya kepada Edo suaminya.
"Tidak apa-apa sayang, kasihan juga dia sendiri."
"Iya sayang Trimakasih."
"Kok Trimakasih sih, dia juga adik akukan jadi ngapain kamu bilang Trimakasih."
"Trimakasih kak sudah baik sama aku dan sama kakak."
"Kamu lagi entah ngomong apa."
"Iya kak, aku sangat senang bahwa kakak sangat peduli sama kami."
Edo terkekeh melihat mepolosan Joni, sebenarnya dia kasihan juga dengan Joni hanya tinggal sendiri setelah mereka menikah, apa lagi Papa Aldo selalu sibuk.
Jika dulu Edo tinggal sendiri tapi selalu di hubungi oleh kedua orang tuanya walaupun hanya melalui teleponnya.
Melihat Joni berusaha untuk duduk, Edo langsung menghampiri dan membantu untuk duduk.
"Kamu lapar biar kakak pesan makanan."
"Boleh kak,aku malas makan makanan rumah sakit, lagian kakak juga pasti belum makankan?"ucap Joni sambil melihat Bertha yang lagi baring di sofa.
Edo mendekiti Bertha, ia tersenyum sambil mengelus rambut panjang Bertha.
"Ada apa ya sayang? kok kamu seperti aneh gitu ya,tadi di kantor Edo juga hanya malasan."
"Entahlah sayang kok bawaannya aku malas gerak gitu."
"Apa kamu sekalian berobat saja ya,kebetulan juga kita lagi di sini."
"Nggak ah... "malas berhadapan bahkan dengan obat lagi, lagian aku tidak apa-apa kok, mungkin karena tadi kelamaan tidur saja.
"Tapi sayang, lebih baik kita tahu keadaannya kamu sekarang dari pada kita tahu nanti sesudah parah."
"Ih.. kamu mendoakan aku gitu?"Bertha mengerucutkan bibirnya kerena kesal dengan perkataan Edo.
"Iya tidak sayang, mana mungkin aku seperti itu, aku saja cemas lihat kamu seperti ini."
"Iya kak, lebih baik kakak periksa aku juga heran lihat kakak mulai dari tadi lusuh banget."
Saat mereka masih saling diam dengan pikiran masing -masing papa Aldo datang dengan berbagai macam makanan.
"Sayang kamu kenapa? kok lemas?"
"tidak apa-apa pa, cuma lemas saja."
"Iya sudah kita makan dulu biar kalian pulang."
Mereka akhirnya makan, dan setelahnya Edo dan Bertha pulang.
"Pa,dek, kami pulang dulu ya,cepat sembuh ya."
"Sayang... kamu benar tidak mau periksa dulu, aku cemas dengan keadaan kamu sayang."
"Tidak usah deh, besok jika masih seperti ini aku janji deh akan periksa."
__ADS_1
"Janji sayang, aku senang deh."
"Iya..
aku janji."
Edo segera melajukan mobilnya menuju rumah mereka, sehingga dalam beberapa menit kemudian mereka sudah sampai dengan selamat.
"Sayang langsung mandi ya, biar jangan tambah malam, nanti masuk angin lagi."
Edo langsung membuka pakaiannya setelah melihat Bertha masuk kamar mandi.
Edo nyengir ketika sudah berada di dalam kamar mandi dengan tanpa busana.
"Mau ngapain sih?" protes Bertha karena Edo sudah memeluknya dari belakang.
"Mau peluk istri aku dan mandi sama."Jawab Edo tanpa merasa bersalah.
"Kamu ya, selalu cari kesempatan di dalam kesempitan."
"Ngapain cari kesempitan jika ada peluang besar sayang."
Edo melepaskan pelukannya lalu membantu Bertha untuk membersihkan badannya.
Hanya sekitar dua puluh menit, mereka sudah lengkap dengan pakain tidurnya.
"Ayo sini yang,"ucap Edo sambil memukul-mukul kecil pahanya sebagai kode agar Bertha berbaring dan berbantalkan pahanya.
Bertha mengikuti kemauan Edo, dia berbaring berbantalkan pahanya Edo.
Merasa nyaman dalam pangkuan Edo, Bertha dengan cepat bisa memejamkan matanya.
Edo hanya terkekeh mendengar dengkuran halus dari Bertha.
"Kamu sebenarnya ada apa sayang? apa ada lagi penyakit yang masih tinggal di dalam diri kamu sayang."
Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu lagi dengan kamu, cukuplah derita yang lalu menguras hati dan pikiran kita.
Semoga karena kelelahan saja kamu seperti ini sayang.
Akhirnya Edo membenarkan tidur Bertha, lalu ikut baring di sampingnya.
Pagi hari Bertha terbangun dengan perasaan yang semakin kacau.
Badan lemas, perut serasa di aduk, hoek...hoek... .hoek semuanya terkuras habis isi dari perutnya.
Edo yang mendengar suara Bertha muntah hingga semua isi perutnya keluar dia langsung bangun dan turun untuk mengambil air hangat.
"Sayang kamu minum dulu ya, biar lebih enakkan."
Bertha mengambil air yang di berikan oleh Edo, dan kumur-kumur lalu meminumnya.
"Sayang kita ke dokter ya,kamu sudah janji semalam."
"Iya deh aku ngalah,"ucap Bertha pasrah.
"Jangan seperti itu sayang,"demi kebaikan kamu kok, lihat ni badan kamu aja lemas dan pucat.
Berha akhirnya rebahan kembali, dia memejamkan matanya dan karena lelah,diapun tidur kembali.
Edo yang baru keluar dari kamar mandi, tersnyum melihat mulut Bertha yang terbuka,rasa cemasnya tadi perlahan hilang,setelah melihat gaya istrinya saat tidur.
Edo menelepon pak Wo, Edo menyuruh agar semua urusan pekerjaan mereka yang nangani.
"Aku tidak mau meninggalkan kamu sendiri dalam keadaan seperti ini sayang."
Edo membelai rambut istrinya dengan penuh perasaan.
Edo turun untuk sarapan sendiri, lalu menyuruh bibi untuk membuat bubur untuk istrinya.
Setelah selesai sarapan Edo kembali ke kamar untuk menemani istrinya sambil mengerjakan berkas yang harus segera selesai.
Bersambung
__ADS_1
Trimakasih kepada semua yang masih setia mengikuti karyaku ini.