
Hari yang dinantikan oleh Edo dan Bertha sudah selesai, saat ini mereka memanjakan mata dan juga pikiran mereka, sebelum akhirnya bergulat dengan pekerjaan.
Saat ini, mereka menikmati indahnya hidup melalui ciptaan Tuhan.
Pulau kecil yang memiliki keasrian tersendiri adalah tempat yang mereka pilih.
Edo dan Bertha tidak terlalu suka untuk keluar negeri, karena menurut mereka keindahan tanah air, jauh lebih mempesona.
Wah bagus sekali tempatnya, puji Bertha sambil merentangkan kedua tangannya.
Dengan menghirup udara segar, Bertha ingin melupakan segala penat di dalam hatinya.
"Apa kamu suka dengan tempatnya?"tanya Edo sambil memeluk Bertha dari belakang.
"Iya gan," bagus banget seru Bertha, ia sangat takjub atas ciptaan Tuhan, tempat dia berdiri saat ini.
"Aku senang jika kamu menyukai tempat yang aku pilih."
"Trimakasih ya,"kamu selalu memberikan aku yang terbaik.Bertha sangat menyayangi Edo dengan segala usahanya untuk menjadi pelindung buat Bertha.
"Can kita sudah selesai kuliah,"dan butikmu juga sudah sangat berkembang terus Kita kapan nikahnya? aku sudah tidak sabar ingin memiliki kamu seutuhnya.
"Apa kamu sudah benar -benar siap untuk menjadi seorang ayah?"Bertha tidak menjawabnya tetapi malah memberikan pertanyaan.
"Apa kamu meragukan aku?" Edo menyempitkan matanya atas pertanyaan Bertha.
"Tidak,aku hanya bertanya saja,"elak Bertha karena merasa tidak enak atas tatapan dan pertanyaan Edo.
"Aku sudah sangat siap sayang," jika hati ini kamu ngajak aku untuk menikah aku dengan senang hati, goda Edo sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tapi ketiga kakakku belum ada yang sudah menikah, masa aku yang paling bungsu langsung melompat tiga."
"Iya juga ya, terus apa kita harus menunggu mereka? jadi karatan dong."
"Kalau karatan tinggal di lebur lagi gan."
Edo terkekeh mendengar perkataan Bertha, lalu kembali memeluk tubuh Bertha.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap sayang, kamu benar paling tidak kak Rita yang sudah menikah," jelas Edo.
Iya sudah untuk hari ini mari kita nikmati, untuk besok biarlah menjadi urusan untuk besok.
Bertha menatap Edo dalam, hatinya sangat bersyukur memiliki kekasih yang sangat menyayangi dan bijak.
"Kita istirahat yo, aku tidak mau kamu nanti kelelahan dan akhirnya jatuh sakit."
"Boleh."
Akhirnya mereka melanjutkan langkahnya menuju kamar tempat mereka menginap.
Pagi menjelang, setelah mereka masuk kamar tidak ada yang keluar, rasa lelah yang mereka rasakan hingga tidak bisa untuk bergerak.
Pagi hari Edo terbangun ia terkejut karena Edo masih menggunakan baju yang kemarin.
Setelah tersadar Edo cepat -cepat membersihkan diri agar cepat menemui gadis pujaan hatinya.
Selesai berpakaian Edo langsung menuju kamar Bertha. Edo membuka knop pintu ia tersenyum bahagia melihat Bertha masih tidur nyenyak.
Dengan perlahan tapi pasti Edo mendekati Bertha, Edo membanguni gadis pujaan hatinya dengan meniup telinga Bertha.
"Sayang bangun sudah siang nic, katanya mau keliling jadi tidak? aku tinggal ya."
Mendengar perkataan Edo,segera Bertha melompat dari ranjang yang membuat Edo tertawa kuat.
Bertha kesal melihat Edo puas mengerjainya,dengan masih mengerutu,Bertha masuk ke kamar mandi.
Selesai Bertha mandi berganti pakaian, ia lihat Edo sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
Bertha menuju meja makan setelah dia selesai dengan urusan sendiri.
Dari jauh Edo terlihat sedang sibuk memasak, Bertha tersenyum bahagia melihat Edo yang sangat perhatian padanya.
"Hai sayang sudah selesai mandinya?" sini sarapan ajak Edo lembut.
Bertha mengangguk lalu berjalan menuju tempat Edo yang masih terlihat sibuk.
"Udah siap?'tanya Bertha.
"Sudah,kamu duduk sana saja,"biar aku yang menyiapkan makanan untuk kita.
"Biklah tuan yang terhormat,"ujar Bertha sambil berjalan menuju meja makan untuk mendudukan tubuhnya.
Edo menghampiri Bertha dengan senyuman indah dan segelas susu coklat panas.
"Ini minum susu coklat panasnya sayang,"ujar Edo sambil menyodorkan susu coklat panas tersebut.
"Trimakasih ya gantengku,"Bertha menerima gelas susu itu dengan tersenyum.
"Sama-sama sayang,"Edo berucap sambil mengacak rambut panjang Bertha.
Edo melanjutkan acara masaknya hingga beberapa menit kemudian Edo sudah selesai juga.
Edo membawa nasi goreng pada wadah yang telah disediakan oleh Edo.
Segera Edo mengisi satu piring, lalu mengambil sendok dan menghampiri Bertha.
Edo menyodorkan sendok yang sudah berisi nasi.
Dengan telaten Edo menyuapi dirinya dan juga Bertha.
Bertha merasa sudah kenyang, lalu berucap pada Edo.
"Pagan aku sudah kenyang, ucapnya manja."
"Sayang tambah sedikit lagi saja ya, biar sehat ok."
"Boleh kok sayang," yang penting kita tidak kelaparan, jelas Edo sambil mengambil kotak makan lalu memasukkanya kedalam kotak itu sisah nasi gorengnya.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di tepi pulau, air yang jernih sungguh menggugah selera untuk mandi hanya Bertha sedikit takut karena dia tidak terlalu mahir dalam urusan berenang.
Dibawah pihon rindang yang memilik kursi dan meja duduk sambil menikmati udara segar.
Sungguh sangat berbeda dengan udara di kota.
Bertha menyandarkan kepalanya di bahu Edo, sambil menatap keindahannya alam ciptaan Tuhan sang pemberi hidup.
"Pagan mulai minggu depan kita sudah sibuk dengan pekerjaan kita masing -masing, apa kamu masih mau menjagaku sama seperti sebelumnya?"Bertha terlihat sangat kwatir.
"Pastinya dong sayang, aku sangat menyayangi kamu, lagian selama ini juga aku sambil bekerja, tapi aku masih bisa menjaga kamu,dan masih kuliah lagi."
"Aku akan selalu mengunjungimu setiap hari,atau setiap kali kamu butuh aku sayang."
"Benaran?"kamu tidak bohong?aku takut kamu tidak akan melupakan aku.
"Benar sayangku malah aku ngajak kamu menikah agar kita bisa terus bersama."
Edo memeluk erat tubuh tunangannya itu.
"Apa kita kerja di kantorku saja? biarkan kakak yang ngurus perusahaan kamu."
"Iya dari pada aku ikut kamu mending aku ngurus butikku,"ujar Bertha malas.
"Kok gitu can?"memang kamu tidak mau dekat dengan aku ya, ucap Edo berpura -pura loyo.
"Iya yang ada kamu nyosor mulu kayak bebek."
__ADS_1
"Untung sayang kalau tidak sudah kugigit kamu, masa nyamain tunangan ke bebek, berarti kamu tunangan bebek dong."
"Makanya jangan suka main nyosor."
"Tapi kamu sukakan?" Edo semakin menggoda Bertha dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Tau ahk.. malas ngomong sama kamu," gerutu Bertha kesal.
"Kalau malas ngomong ya langsung ciuman saja sayang, aku tidak keberatan kok."
Bertha yang tambah kesal langsung memukul dada bidang Edo berkali-kali hingga Edo menangkapnya dan membawa pada bibirnya.
"Sudah sayang, nanti tangannya kamu yang sakit, bukannya dadaku, soalnya di dadaku sudah ada nama yang terpatri dengan indah, jadi pukulan tidak akan mempan."
Edo kembali memeluk gadis cantik yang sangat dicintainya itu.
"Apa om Aldo akan berhenti bekerja?"tanya Edo setelah mereka terdiam beberapa menit.
"Belum gan,makanya aku masih kerja di butik,tapi mungkin beberapakali dalam seminggu aku kekantor untuk membantu papa."
"Bagus dong berarti kita masih bebas ketemu, jika harus kekantor terus aku degan juga sama om dan kakakmu."
"Bukannya selama ini kamu bebas menjumpaiku, bawaan papa sangat percaya sama kamu, buktinya sampai sejauh ini juga diizinkan kamu bawa, hanya berdua lagi, belum nyadar ya."
Edo terkekeh mendengar perkataan Bertha, ya memang benar apa yang dikatakan oleh Bertha.
Orang tua mereka sangat percaya bahwa Edo akan menjaga Bertha dengan baik.
Itu jugalah yang membuat Edo susah berpaling, apa lagi untuk menyakiti Bertha.
"Kamu benar sayang," aku yang lupa, ucap Edo cengengesan.
Setelah lama mereka bercerita Edo mengambil nasi goreng yang mereka bawa tadi pagi.
Edo yang selalu berinisiatif untuk mengajak Bertha makan, entah kenapa soal makan gadis itu susah untuk diatur.
"Sayang nanti kalau kamu sudah bekerja, tolong jangan lupa untuk mengisi perut terlebih dahulu."
Edo mengingatkan Bertha yang selalu lupa untuk mengisi perutnya.
"Bukannya kamu akan selalu mengunjungiku ya, Bertha mengingatkan Edo kembali."
"Oya sayang bagaimana kabar papa Robertmu? apa rumah makanya lancar?"sebenarnya kasihan sama papa kamu, tapi melihat perlakuan mereka kepada kamu dan om aldo jadi buat aku dongkol.
"Papa baik gan, dan usahanya juga nampaknya semakin hari semakin baik, hanya kak kinan yang masih diam, dan tidak mau membuka diri untuk yang lain."
"Kalau itu biarin saja sayang, sampai dia sadar sendiri."
"Kamu itu dendaman banget,"kasihan tahu dia tidak punya teman tahu dulu hanya mama yang selalu mendukung dia.
"Iyalah sayang sudah terlalu banyak dosa yang dia buat untuk kamu, sampai kamu harus mengalami sakit berkali -kali."
"Aku tahu, tapi aku mau dia memperbaiki sikapnya."
"Iya kita lihat saja apa dia mau berubah jika iya aku yang akan memberikan dia modal, ucap Edo penuh keyakinan."
"Amin sayang."
Iya sudah yo kita jalan capek duduk terus, Edo bangkit sambil mengulurkan tangannya kepada Bertha.
"Panas gan,"keluh Bertha setelah berjalan beberapa meter dari tempatnya tadi.
"Iya sudah kita kearah timur deh, disana ada pondok untuk istirahat, atau kita balik ke rumah."
Kerumah aja deh, pengen tidur.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa vote dan likenya ya.
Trimakasih.