
"Ha... ha... papi lucu deh, iya deh aku dukung papi, tapi jika bilangin mami kepiting, jelas tidak dong."
"Terus mau dukung papi tentang apa?"
"tentang cinta papi sama mami."
"Ais.... kamu masih kecil sudah tahu tentang cinta," cibir Edo yang membuat Bertha ikut tertawa.
"Iya... abang senang saja pi melihat mami bahagia, dan itu karena cinta papi bukan?"
"sudahlah papi takut pacaran sebelum waktunya."
"Tenang saja pi, abang itu bukan seperti papi yang ngekor mami terus."
"Waow semakin pandai abang."
"Wah... ini pasti ulah mami nic, cari pembelaan."
"Maaf pi."
Ucapan singkat Bertha membuat Edo tertawa.
"Ih.... papi kenapa ngetawain mamiku sih?"
"karena sukalah boy."
"Ih... papi," ucap Andre merajuk.
"Sudah ayo kita pulang, kasihan dedek kembar, hanya sama bibi."
"Baik ratu."
Edo langsung mengiyakan ajakan istrinya, dengan mengendong tubuh putra sulungnya.
"Papi abang bisa jalan sendiri."
"Tenanglah boy, biar papi yang gendong besok jika dedek kembar sudah bisa ikutan maka papi akan gendong mereka, dan abang jalan sendiri."
"Ok pi, abang akan menikmatinya jadi pangeran papi dan mami."
"Kau akan terus jadi pangeran papi dan mami sayang," ujar Bertha untuk menenangkan hati putranya, agar tidak merasa bahwa posisinya akan terganti oleh si kembar.
"Iya pasti dong mi, abangkan yang terganteng."
"Kamu itu iya tidak jauh beda dari papimu."
"Namanya juga anak papi mi, pastinya tidak akan jauh beda dong."
Sampai di parkiran Edo langsung mendudukkan Andre,dikursi belakang, dan juga ikut duduk di samping anaknya.
Bertha duduk di samping kiri Andre, mereka tampak menikmati perjalanan menuju rumah.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di rumah Edo, Andre masih asyik ngobrol, sedikitpun belum merasa mengantuk.
Edo mengantar Andre langsung ke kamar untuk membersihkan diri, ganti pakaian lalu langsung tidur.
Melihat putranya sudah terlelap, Edo langsung kembali ke kamar mereka .
Sampai di kamar Edo terpana dengan pemandangan yang ada di depannya.
Sebagai pria yang sudah menikmati nikmatnya surga dunia, hasratnya langsung bangkit.
"Sayang apa kamu mau menyiksa suamimu ini dengan pakaianmu seperti ini?"
"eh.... eh... enak saja nuduh aku,tapi apa kamu merasa tergoda sayang?"
"menurutmu aku tidak normal gitu?makanya tidak tergoda melihat istriku seperti ini."
"Hemmm.....bagaimana ya, aku sih tidak niat menggoda, hanya memperlihatkan kemolekan tubuh ini kepada suamiku tercinta, siapa tahu hampir lupa."
"Benarkah? tapi jangan salahkan aku jika besok kita tidak bisa keluar kamar, karena kelelahan."
"Apa kamu sedang mengancam aku sayang? tapi aku sepertinya tidak takut tuh."
Edo merengkuh tubuh istrinya yang sudah membuatnya panas dingin sejak tadi.
Melihat Bertha memakai pakiannya yang super seksi dan transparan membuat jiwanya bangkit seketika, apa lagi sudah lama puasa sejak kelahiran si kembar.
"Hemmm.... sayang..." ucap Bertha di sela ciuman panas mereka.
Edo yang sudah terbakar gairah tidak memberikan ruang untuk istrinya bercerita.
"Sayang apa ini sudah aman di ajak berkelana?"tanya Edo sambil mengelus lembut bagian inti hasratnya.
"Saya rasa sudah sayang, dan malam ini khusus untuk kamu sayang."
"Apa aku harus tembak dalam atau masih harus tembak luar sayang?"
"Ku serahkan padamu sayang, mana yang aman menurutmu karena aku sudah antisipasi sejak pagi, makanya malam ini khusus untuk kamu sebagai hadiah."
__ADS_1
"Hadiah?hadiah apa sayang,?apa aku ada melupakan sesuatu?"
"Iya... karena percis tanggal hari ini kamu meminta aku jadi pacarmu, dan bukan sebagai sahabat."
"Maafkan aku ya sayang, aku lupa."
"Tidak apa-apa sayang, aku maklum aku saja hampir lupa jika tidak melihat kado untuk aku sebagai hadiah dari pacarku ini."
Edo yang sudah mendapatkan lampu hijau lansung memulai aksinya dengan lum*tan pada bi**r seksi istrinya.
Leher jenjang Bertha merupakan suatu mainan bagi Edo sejak mereka menikah.
Gunung kembar yang lebih besar dari yang biasanya sangat menantang baginya untuk segera berkelana di sana.
Tangan yang sudah tidak dapat dikondisikan membawa hasrat keduanya semakin ingin memiliki satu sama lain.
Lelah hanya berkelana hanya sampai di bagian luar, Edo mulai memasuki area prubadi itu.
Jarinya yang sudah menari di dalam sana membuat istrinya terbang melayang diatas primadani cinta suci yang sudah mereka pupuk.
Disaat penyatuanpun terjadi,hanya ada senyum tulus yang terukir di sana, tidak ada beban atau masalah.
Pelepasan yang membuat mereka tertawa bahagia adalah lambang cinta yang mereka punya tulus.
"Trimakasih sayangku kamu sudah memberikan kado terindah di dalam pernikahan kita tiga malaikat kecil."
"Sama-sama sayang, mari kita besarkan mereka dengan cinta dan kasih sayang."
Edo menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang masih polos.
Edo membantu istrinya berpakaian, bagaimanapun juga kesehatan istrinya yang lebih utama untuk saat ini.
Edo mengambil air hangat serta lap, dia membersihkan bagian favoritnya yang sudah penuh lahar panas yang dia keluarkan tadi.
Dia tidak akan membiarkan istrinya mandi kembali,jadi untuk lebih baik membersihkannya di kamar saja.
"Aku bisa sendiri pi."
"Sudah aku saja, kamu tidak usah gerak!"
"ok baiklah, saat ini aku jadi tuan putri."
Selesai melap bgian tubuh istrinya, Edo baru memakaikan pakain.
Saat ini mereka sudah berbaring di ranjang, sambil berpelukan seolah mereka sudah lama tidak berjumpa.
Dalam dekapan cinta mereka bersatu di dalam mimpi indah.
"Papa nanti pulang ke rumah papa ya, sekalian biar ada teman Joni, kasihan dia sendiri, Trimaksih papa ucapkan karena kalian sudah merawat papa."
"Ih... papa seperti sama siapa saja pakai Trimaksih."
Papa Aldo terkekeh melihat tingkah putrinya yang sedikit merajuk karena ucapannya.
"Nanti kami nyusul setelah si abang pulang sekolah ya pa, ucap Edo dengan sopan."
"Iya sudah papa siap -siap dulu."
"Ayo boy kita juga harus segera berangkat, entar terlambat lagi."
Setelah semua pergi Bertha masuk ke kamar untuk melihat kedua anaknya.
Sampai di kamar Bertha bingung harus bagaimana kedua putranya masih bobok manis.
Saat dia hendak duduk, poncelnya berdering, melihat nama Kinan dia segera menggeser tombol hijau.
"Halo.. kak,"sapa Bertha lembut.
"Kamu sibuk nggak?"
"nggak kak ada apa?"
"gimana iya ngomongnya,"ujar Kinan sedikit bingung membuat Bertha juga ikut bingung.
"Iya kakak tinggal ngomong kok bingung? ada masalah apa?"
"nggak masalah sih."
"Terus?"
"kakak mau di lamar tapi bingung ngomong sama papa, aku takut papa marah."
"Kok marah sih seharusnya senang dong, anaknya di lamar orang."
"Apa iya?"
"Iya... iyalah kak."
"Aku takut papa marah karena selama ini aku hanya bisa buat papa marah."
__ADS_1
"Aku yakin papa tidak akan marah, oya nanti saat jumpa biar aku bilangin papa iya, kakak nanti datangkan untuk menyambut Joni?"
"dia nanti pulang?"
"iya kak dan nanti malam papa Aldo undang untuk makan malam, kakak datanglah, kami sangat bahagia jika kakak mau datang jangan jaga jarak terus, belajar lebih baik, dan itu dengan mendekati keluarga kita."
"Iya aku akan datang."
"Ha... gitu dong baru namanya punyah semangat hidup."
"Oya... apa cowok yang jemput kakak beberapa hari yang lalu yang melamar kakak."
"Iya."
"Semangat ya kak, berjuanglah untuk hal yang lebih baik lagi."
"Oya... bagaimana kabarnya butik?"
"lancar kok, rancanganmu terakhi sudah habis loh."
"Benarkah?"
"Iya benarlah terakhir hari ini akan mereka ambil."
"Iya sudah nanti aku akan kirim lagi ada beberapa lagi nic."
"Aku tunggu ya, sudah dulu ya yang mau ambil bajunya sudah sampai."
"Ok, selamat bekerja kak."
Rasa bahagia Bertha terlihat jelas di senyumannya saat ini.
Beberapa rancangannya selalu laris dan di sukai orang, walaupun tidak sampai internasional tapi itu sudah lebih dari cukup.
Sejak awal dia tidak begitu ambisi harus mencapai internasional, di terima masyarakat luas saja sudah sangat bahagia.
Rancangan Bertha memang tidak selalu untuk kalangan atas, dan terbukti bahwa membuat untuk kalangan menengah kebawah juga sangat membuat dia bahagia.
Cita -cita yang ingin membantu banyak orang sudah mulai terwujud, walaupun tidak dapat meraih untung besar tapi sangat menyenangkan.
Bertha mengambil alat tulisnya, dia mau membuat gaun pengantin khusus untuk kak Kinannya kakak yang membuat dia hilang kebahagiaan, selalu di persalahkan dan di hukum.
"Kado ini aku persembahkan untuk mu kak, karena aku sungguh sudah memaafkan mu."
Niat baik memang selalu membawa berkat itu yang di alami Bertha saat ini.
Tanpa harus berpikir keras rancangannya sudah jadi dan terlihat sangat cantik dan elegan.
Wah... pasti jika sudah jadi lebih menarik lagi gumamnya dengan senyuman.
Edo yang sudah pulang menyaksikan semua tingkah istrinya.
"Sayang... apa kamu masih memikirkan yang semalan?"tanyanya dengan sedikit berbisik di telinga Bertha.
Bertha yang tidak menyadari kehadiran suaminya terkejut dan memukul wajah Edo.
"Sayang... kok di tabok sih?"Edo mengusap wajahnya karena terasa sakit.
"Maaf pi, aku pikir siapa? habis papi ngangetin sih."
"Habis istriku ini mulai dari tadi senyum sendiri ada apa?"
"Ini bagus tidak pi?"
"bagus banget sayang, tapi kenapa kok sampai senyum sendiri."
"Ini untuk kak Kinan."
"Memangnya dia mau nikah?"
"iya tadi dia bilang sama aku."
"Baguslah kasihan juga dia jadi perawan tua, padahal cantik."
"Apa? "
"cantik sayang."
Bertha melotot mendengar perkataan Edo yang tidak menyadari ucapannya.
"Kok marah sih sayang?"
pikir aja sendiri,Bertha berlalu meninggalkan Edo.
"Sayang... maaf tapi kamu lebih cantik kok baik perhatian dan pemaaf lagi."
Edo yang sudah menyadari bahwa istrinya marah, dengan cepat mengambil jurus andalannya.
Bersambung
__ADS_1
Wah... ada yang cemburu nic...
author juga lagi cemburu ni, sama para pembaca yang tidak mau tingalin jejak.