APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 39.Maafkan


__ADS_3

Bertha pulang bersama Aldo,sepanjang perjalanan mereka hanya diam tanpa ada kata terucap.


"Sayang kamu baik -baik saja?"tanya papa Aldo yang melihat Bertha hanya diam.


"Iya pa, aku baik -baik saja, papa tidak perlu kwatir, aku hanya tidak menyangka akan menjadi seperti ini," keluh Bertha lirih.


"Iya sayang, tapi kamu jangan menyalahkan diri sendiri, karena


ini semua kehendak mereka, kita hanya bisa memberi maaf untuk kesalahan mereka."


"Iya aku tahu pa, tapi rasanya tidak tega juga melihat keadaan mereka."


"Sayang sudah papa tidak mau jika kamu terbebani dengan keadaan mereka, apa yang terjadi dengan mereka tidak sebanding dengan apa yang kamu alami sayang."


"Papa maafkan aku," lirih Bertha yang merasa bersalah karena sudah membuat orang yang selalu ada untuknya kwatir.


"Bukannya papa ingin menjadikan kamu kurang ajar, tapi luka yang sudah kamu alami selama ini sudah cukup sayang."


Bertha menarik nafas kasar, papanya benar jika luka yang mereka torehkan selama ini sudah sampai ketulang sum-sum Bertha.


"Iya pa aku tahu, maaf karena membuat papa kwatir."


"Tidak apa-apa sayang yang penting Kamu harus selalu bahagia, papa tidak bisa melihatmu harus menderita."


Aldo memang sangat menyayangi Bertha dengan tulus.


Setiap kali Bertha terluka karena ulah mereka, setiap kali itu pula emosinya naik.


Saat mereka sampai di rumah, ternyata Joni sudah tidur, Bertha yang merasa lelah jiwa dan raganya langsung menuju kamarnya.


"Aku langsung ke kamar ya pa,"ujar Bertha pada papanya.


"Iya sayang, selamat tidur ya,"ucap papa Aldo sambil mengacak rambut panjang Bertha.


"Selamat tidur juga pa, semoga mimpi indah."


Bertha segera beranjak meninggalkan papanya.


Dua hari kemudian, keadaan papa kandung Bertha semakin kritis, entah apa yang membuat dia semakin lemah.


Pino yang sedang menjaga papanya juga merasa sedih melihat keadaan kedua orang tuanya.


Bukan seperti ini yang aku harapkan pa, tangisnya pecah sungguh saat ini Pino bukan lagi pria yang kuat, melainkan hanya seorang pria rapuh.


"Bangun pa, jangan tinggalkan kami, papa harus menyelesaikan masalah papa dan mama serta Bertha."


Aldo datang dan melihat Pino terpuruk melihat itu papa Aldo merasa tidak tega.


Papa Aldo mendekati Pino dan memberi Pino kekuatan.


"Bangun nak, kamu harus kuat tidak boleh lemah seperti ini, jika kamu lemah bagaimana dengan adik -adikmu? kamu yang harus menguatkan mereka."


Perlahan matanya papanya mulai terbuka,Pino segera mendekati papanya.


Aldo segera memanggil dokter, tanpa menunggu lama dokter dan perawat segera masuk dan memeriksa kondisi papanya Pino.

__ADS_1


"Bagaimana dokter keadaan papaku?"tanya Pino tidak sabar.


"Tidak ada yang perlu di kwatirkan, papamu sudah sadar dan keadaannya sudah normal."


"Trimakasih dokter," ucap Pino.


Pino bersyukur karena papanya sudah sadar, dan kondisinya sudah mulai membaik.


Dalam perasaan bahagia yang dialami oleh Pino tidak bertahan lama, karena mamanya saat ini semakin memburuk.


Perhatian mereka teralih saat mendengar nama yang selalu diucapkan oleh mamanya.


"Bertha maafkan mama,"ucapnya sambil terbata -bata.


Aldo mendekati kakak iparnya itu dengan tatapan sendu.


"'Maafkan aku Aldo, aku sudah merebut apa yang menjadi milik mu, dan Trimakasih sudah menyanyangi dengan Bertha dengan tulus, sampaikan permintaan maaf dari ku."


Aku titip anak-anakku padamu, tolong jaga mereka.


Selesai mengucapkan kata terakhirnya, mamanya Pino menghembuskan napas terakhirnya.


Pino dan Rita menangis pilu atas kepergian mamanya, Kinan yang tidak menyangka mamanya akan pergi, ikut histeris sampai dia tidak sadarkan diri.


Semua urusan rumah sakit sudah diurus oleh Aldo,semua sudah sampai di rumah, Bertha dan Edo juga sudah sampai.


Bertha saat di kampus bersama Edo dapat telepon dari papanya yang mengabarkan keadaan mamanya.


"Mama... tangis pilu terdengar dari Bertha, kenapa mama pergi sebelum masalah hati kita selesai."


Ikhlaskan dia,beri dia maaf agar bisa tenang di sana.


Aldo memeluk Bertha dengan erat,papa Aldo tahu Bertha sangat rapuh, makanya ia selalu berada dekat putrinya.


Setelah tiga hari setelah meninggalnya mamanya, Bertha sudah mulai ceria, berkat bantuan papa dan Edo.


"Pa kita kerumah papa yo, aku kangen sama papa."


"Baiklah nak, tunggu ya papa ganti baju dulu."


Sampai di rumah itu, Pino yang sudah mulai pergi bekerja, sampai di rumah papanya saat Bertha dan papanya tiba.


"Om sapa Pino sopan."


"Apa kakak sudah mulai bekerja?" Bertha yang tidak tahu jika kakaknya sudah mulai kerja,merasa heran dengan penampilan kakaknya yang seperti baru pulang kerja.


"Iya dek banyak pekerjaan kakak yang sudah tertunda mulai minggu lalu,"jelas Pino.


"Ayo masuk, kita disini sampai besok jika kita terus bercerita."


Didalam rumah nampak begitu sepi entah kemana semua penghuninya sehingga tidak terlihat satu pun.


"Papa ada di kamar om," sejak kemarin hanya berdiam di sana, bahkan makanpun tidak mau, jelas Pino panjang lebar tentang keadaan papanya.


Papa Aldo dan Bertha masuk kamar kakaknya dengan berbagai rasa dihatinya.

__ADS_1


Kak, ucap papa Aldo sambil duduk di tepi ranjang kakaknya yang kemudian di susul oleh Bertha.


"Apa kabar pa?" tanya Bertha lembut.


"Seperti yang kamu lihat nak,"ucapnya tanpa ekspresi.


"Apa kakak sudah makan?"jangan siksa diri dan anak -anak kak, bangkitlah demi anak -anak.


Pria paruh baya itu hanya diam membisu, seolah semangat hidupnya sudah lenyap di telan bumi .


"Pa jangan seperti ini," papa makan ya biar aku suapin bujuk Bertha dengan senyuman tulus.


Perlahan kepala pria itu mengangguk,papa Robert menatap anak bungsunya dengan penuh penyesalan.


Andaikan aku bisa lebih adil padamu, semua ini tidak terjadi nak, papa sangat menyesal mengikuti kemauan mamamu untuk tidak menerimamu,dan tidak meletakkan beban di pundakmu yang tidak seharusnya kamu pikul.


Bertha sudah mengambil piring yang berisi makanan, lalu duduk di samping papa Robert.


Bertha yang melihat tatapan papanya sangat sedih, membuat Bertha langsung memeluknya.


"Papa.. panggil Bertha lirih," ia tidak tahu harus bilang apa, jika mengatakan sudah memaafkan, sedikit rasa itu ada, tapi Bertha tidal bisa menerima semua perlakuan mereka dengan cepat.


"Maafkan papa nak," tangis papa Robert pilu, rasanya sudah tidak kuat untuk menerima ini semua, tapi jika harus menyalahkan siapakah yang harus disalahkan,


apa hanya almarhum istrinya? rasanya tidak adil, bukankah dirinya yang kepala keluarga? pergulatan batin papa Robert yang membuatnya sangat terpuruk.


Bertha juga tambah pilu, saat mendengar tangis pilu dari papanya.


Papa kandung yang tidak pernah mengangggapnya ada, semua nasib buruk yang mereka alami semua dilimpahkan kepada Bertha.


Aldo yang tidak pernah tega melihat gadis malang yang sangat dicintainya itu, menarik Bertha dari pelukan kakaknya.


"Sudahlah kak," jangan buat Bertha bertambah terluka, cukuplah luka yang selama ini terukir dihatinya.


"Mulai sekarang belajarlah untuk mengerti orang yang ada disekitar kakak,bukan harta yang jadi patokan hidup, melainkan kasih sayang yang tulus."


"Iya aku akan berusaha untuk mempersatukan keluarga ini kembali janji papa Robert."


Sekarang kakak harus makan biar cepat sembuh.


Papa Robert akhirnya pasrah dan menerima suapan dari Bertha hingga tanpa mereka sadari nasi dalam piring sudah habis.


Minum obatnya ya pa, ujar Bertha sambil menyodorkan obat dan air putih.


Selesai makan obat Aldo membantu kakaknya untuk berbaring diranjang.


Bertha dengan cepat menarik selimut untuk papa Robert.


"Istirahat ya pa," biar cepat sembuh, Bertha sayang sama papa ucapnya yang kemudian mengikuti langkah papa Aldo.


"Trimakasih nak."


Bersambung


Jangan lupa ya like dan komentarnya.

__ADS_1


__ADS_2