APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 83.Ingat


__ADS_3

Edo menatap dalam mata istrinya, wanita yang sangat dicintainya sejak pandangan pertama.


Sebagai gadis cantik, malang dan menyedihkan, tapi entah kenapa Edo sangat menyayangi melebihi dirinya sendiri.


Tidak pernah ada kesengajaan untuk menyakitinya, tapi semua terjadi juga.


Mata yang tidak pernah ingin dia lihat mengeluarkan air mata, tapi kini dia yang akan menjadi a al alasan air mata itu membasahi pipinya.


Rasa menyesal dan sakit yang dalam memenuhi relung hati Edo, tapi kini hanya sebuah tekat dan janji dalam hati yang bisa dia lakukan serta minta maaf.


Tidak ada cinta untuk wanita itu, hanya sebagai rasa kemanusiaan, tapi ternyata malah membuat orang yang kita cintai akan terluka.


Jangan pernah bermain dengan diri kita sendiri, karena permainan itu sendiri yang akan menjerat kita.


Benar kata orang bijak, bijaklah dalam menjalani hidup serta memilih siapa yang akan menjadi teman kamu, karena apa yang kamu lihat, dan pikirkan baik belum tentu baik untuk hidup kamu.


"Kamu rebahan lagi ya, aku mau ngantar piring bekas makan kamu."


"Trimakasih pi, aku sangat mencintai mu."


"Aku juga sangat mencintai kamu sayang, jujur aku tidak pernah berniat untuk menyakiti hati kamu."


"Iya aku tahu."


Setelah menyelesaikan perkataan Bertha, Edo akhirnya keluar menuju dapur untuk mengantarkan piring bekas istrinya.


Tidak perlu menunggu waktu lama,Edo sudah masuk kembali dan duduk di samping istrinya.


Edo membawa Bertha berbaring lalu meletakkan kepalanya pada paha Edo.


Hal yang selalu membuat Bertha merasa damai ketika ada masalah dan juga menghilangkan rasa sakit.


Tangan kekar Edo mengusap rambut istrinya dengan lembut hingga tertidur pulas.


"Mimpi indah sayang, maafkan suami bodoh kamu ini."


Setelah Edo mengecup kening istrinya, dia membetulkan letak tidur Bertha lalu menyusul untuk berbaring.


Pagi hari semua keluarga Edo sudah rapi, hari ini mereka akan pulang,Andre juga sudah siap untuk berangkat ke sekolah.


"Cucu nenek baik ya belajar, lain kali nenek dan kakek akan datang kesini lagi."


"Pasti nek, tenang saja disini ada papi dan mami juga kakek yang selalu menjaga abang."


Semua sudah berkumpul di teras rumah, mereka saling berpelukan, karena mungkin waktu yang cukup lama untuk bertemu secara langsung.


Saat Edo memeluk papanya, bisikan lembut dia dengar, tapi jelas suatu peringatan.


"Ingat jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama, karena kamu akan sulit untuk mendapatkan kepercayaan kembali."


"Pasti pa, jangan kwatir aku sangat mencintai mereka."


Papa Edo menepuk -nepuk bahu putra sulungnya.


Papa Edo sangat percaya pada putranya, karena terbukti walaupun dia terpisah dengan anaknya dalam usia cukup muda,tapi tidak pernah sekalipun ada masalah yang membuat mereka malu.


Edo orang yang bertanggung jawab,tapi sebagai orang tua dia kwatir karena sejak remaja dia hanya mengenal Bertha menantunya, maka ketika mendapatkan prilaku wanita yang berbeda membuat anaknya merasa aman.


"Iya sudah mami berangkat, kalian baiklah di sini."


,Kamu jaga kesehatan sayang," ucap mama Edo pada menantunya.


"Iya ma, hati -hati di jalan."


Setelah kakek dan neneknya berangkat Andre mengajak papinya juga segera berangkat.

__ADS_1


"Ayo pi kita berangkat, nanti abang terlambat loh, abang nggak mau, malu tahu."


"Sayang kami berangkat ya, kamu ada apa-apa segera hubungi aku."


"Pa, kami berangkat," ucap Edo sambil menyalam papa mertuanya.


"Ayo masuk sayang, biar kamu istirahat, ingat jangan banyak pikiran, lihat ketiga anak kamu, lagian bukannya semua sudah berakhir?papa yakin dengan adanya masalah itu akan mendewasakan kalian."


Papa Aldo sebenarnya mau ke kantor untuk menemui Pino untuk membicarakan tentang masalah yang sudah lewat dan apa yang akan di lakukan untuk berikutnya.


Edo juga belum ada berbicara apa-apa tentang hal itu, tapi sebagai papa yang juga masih mengambil alih di perusahaan harus bisa bersikap tenang dan bijak.


Papa Aldo menunggu waktu yang tepat untuk bicara pada putrinya.


Apa yang akan jadi keputusan Bertha itulah yang terbaik.


Papa Aldo cukup mendengar, dia tidak mau melihat anaknya terluka kembali sudah cukup banyak air mata yang dia rasa selama ini.


Saat ini Bertha ingin bermanja pada papa Aldo, di ruang keluarga dia berbaring sambil kepalanya di pangkuan sang papa.


Sementara si kembar berada di dekatnya tapi tetap dalam box.


"Ada apa nak?"


"Tidak apa-apa pa, aku kangen sama mama."


"Besok jika keadaan kamu sudah lebih baik kita kesana ya, tapi untuk hari ini tidak bisa sayang, papa tidak mau terjadi sesuatu sama kamu."


"Iya pa,oya pa, adek kapan pulang?"


"dua minggu lagi sayang."


"Aku sudah sangat rindu sama dia, lagian dia betah banget lama tinggal di sana."


Dengan semangat Bertha menganggkat panggilan tersebut.


"Hai anak nakal betah bangat kamu di sana?"


"pasti kakak sudah rindu berat kan?"


"Pasti dong, kakak hanya punya adik satu, tapi betah bangat di negeri orang."


"Harus gitu kak jika mau sukses, aku iti mau sukses tahu nggak? masa hanya kakak yang bisa sukses."


"Iya nggaklah, tapi kamu itu harus ganti papa untuk ngurus perusahaan."


"Tenang bos, adikmu ini adalah anak dan juga adik yang berbakti."


"Kak Pino ada yang bisa di andalkan, jadi aku tidak takut."


"Tugas kamu sama kak Pino beda tahu."


"Iya elah kak, sama adek sendiri seperti itu,ok deh aku akan berjuang, tapi papa tidak boleh lepas tanggung jawab sampai aku bisa."


"Pasti boy."


"Pa... aku sudah tua bukan lagi boy papa yang manja, jadi jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi pa."


"Iya.... pa putra papa yang satu ini sudah tua, siap -siap deh papa akan segera punya menantu."


"Oh... kalau untuk itu, belum lagi kak tenang masih banyak waktu untuk kakak yang manja, sudah punya tiga anak tapi masih manja."


"Siapa yang manja?"


"iya kakak lah, lihat itu masih tiduran di pangkuan papa."

__ADS_1


"Cemburu bilang boss."


"Siapa yang cemburu."


"Sudah ah, aku mau cari hadiah untuk para keponakanku saja."


"Oya kak apa ukuran baju si kembar?"


"M dek, yang banyak ya belinya,jangan lupa untuk kakak."


"Untuk kakak minta sama suaminya kakak dong."


"Itu pasti dek, tapi hadiah dari kamu beda tahu, jangan hanya untuk cewekmu saja yang kamu beli pelit amat."


"Iya... ya.. jangan nangis sudah tua juga."


Akhirnya obrolan mereka selesai, suster yang duduk di samping mereka untuk mengawasi si kembar yang asyik main sendiri di dalam box, ikut senyum mendengar pembicaraan majikannya itu.


"Pa, aku ke kamar dulu ya."


"Iya nak, istirahatlah."


"Mbak tolong jagain si kembar ya, aku mau tidur dulu."


"Baik bu."


Bertha masuk kamarnya lalu segera tidur, satu jam ngobrol bersama adiknya membuat dia merasa mengantuk.


Sampai menjelang siang barulah Bertha terbangun, Andre yang baru saja pulang langsung mencari keberadaan maminya.


"Mami... abang sudah pulang."


"Eh.... sayang,maaf ya mami ketiduran."


"Tidak apa mi, kakak senang kok jika mami sehat."


"Aku ganti baju dulu ya mi, lagian mau mandi dulu, badan abang terasa lengket."


"Perlu mami temanin nggak?"


"nggak usah mi, tunggu di sini saja, nanti abang kesini."


"Ok sayangku."


Andre berlari menuju kamarnya dan segera membersihkan dirinya.


"Mi abang sudah selesai, tadi latihannya seru mi, abang bertanding dan abang yang menang."


"Iya sayang tapi kamu jangan sombong ya, pakailah ilmu bela diri kamu dengan baik."


"Pasti mi, jangan kwatir sama abang."


Andre ikut berbaring di samping maminya lalu memeluk maminya dengan erat.


Andre perlahan menutup mata, dia berdoa semoga maminya selalu di beri kesehatan.


"Mi sakit ya disini?"tanyanya sambil memegang perut maminya.


Bertha tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


"Sudah tidak apa-apa sayang, kemarin iya, mungkin karena kita naik mobil jauh, tapi kamu tenang saja mami sudah baikan, papi kemarin sudah panggil dokter."


"Iya mi, aku sudah berdoa agar mami sehat terus, tadi kata bu guru,doa anak kecil di dengar oleh Tuhan."


"Pasti dong sayang, yang jelas setiap orang yang berdoa dengan tulus pasti akan di dengar oleh Tuhan."

__ADS_1


__ADS_2