
Pagi hari Bertha bangun dan mengucapkan Trimakasih kepada sang pemberi hidup, karena pagi ini dia masih dapat menghirup udara segar.
Setelah selesai dengan urusan sang pencipta dia segera bangkit dari duduknya lalu menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri melalui sejuknya air.
lima belas menit kemudian Bertha sudah selesai dengan mandinya, ia langsung membangunkan suaminya yang masih aman di bawah selimut tebalnya.
"Sayang bangun, sudah siang nic katanya ada rapat penting."
Edo perlahan membuka matanya dan mencium kening Bertha lalu berjalan menuju kamar mandi.
Selesai bersiap mereka segara turun untuk sarapan, di meja makan telah tersedia nasi goreng pesanan Bertha.
"Sayang mau nasi goreng atau nasi putih?"tanya Bertha yang sudah mengambil piring untuk suaminya.
"Nasi goreng saja."
"Iya sudah aku ambilkan."
Setelah mengisi nasi goreng dengan telur ceploknya Bertha memberikan piring kepada Edo.
Mereka mengucap syukur lalu menyantap makanan mereka.
Setelan sarapan Edo mengantar Bertha ke kantor papa Aldo karena hari ini mereka ada acara yang harus di hadiri oleh Bertha.
"Sayang hati-hati ya, nanti aku datang sebelum acaranya mulai,"ucap Edo sambil mengantar istrinya ke dalam ruangannya.
Edo langsung meninggalkan ruangannya Bertha dan menuju tempat dia berjanji dengan pemilik Reynan group.
Saat Edo sampai bersama pak Wo,ternyata Gilbert sudah ada di sana menemani Reynan dan sekretarisnya.
"Maaf terlambat,"ucap Edo sambil menarik kursi untuk tempat dia duduk.
Mereka segera memulai rapat, dalam satu jam mereka sudah memutuskan apa yang harus mereka lakukan untuk perkembangan proyek baru mereka.
Setelah selesai Edo dan pak Wo langsung meninggalkan tempat tersebut.
Setengah jam kemudian mereka sudah sampai di kantor Bertha.
Saat mereka masuk ternyata acara belum dimulai, Edo segera mencari keberadaan istrinya.
Sayang ucap Edo ketika sudah memasuki ruangan Bertha.
"Sudah selesai rapatnya? kupikir akan terlambat tadi."
"Mana mungkin aku akan terlambat di acara orang yang paling spesial dalam hidup aku."
"Trimakasih ya sayangku,"ucap Bertha sambil mencium bibir suaminya sekilas.
Saat Bertha hendak menarik wajahnya Edo malah menahan tengkuk Bertha dan langsung ******* bibir mungil Bertha.
Bertha mendorong tubuh Edo ketika Bertha sudah kehabisan nafas.
"Makanya jangan coba pancing -pancing sayang."
Hemm jawab Bertha malas.
Tok... tok... tok suara pintu terdengar di ketuk dari luar dan ternyata Joni yang datang untuk memanggil kakaknya.
Kak di panggil sama papa dan kak Pino, ucap Edo kemudian meninggalkan ruangannya Bertha.
"Ayo sayang kasihan papa lama menunggu,"ajak Bertha karena memang tadi sudah di tunda karena Edo belum samapi.
Akhirnya mereka menuju ruangan besar yang sudah di sulap begitu indah.
Hari ini mereka memperingati hari meninggalnya kakek Bertha selaku pendiri dan pemilik perusahaan.
Para karyawan diliburkan untuk bekerja, mereka mengadakan doa demi ketenangan kakek, nenek dan mama Bertha.
Setelah itu acara doa mereka makan bersama sebagai sesama bukan sebagai pemilik perusahaan dan juga karyawan kantor.
Acara doa dan makan berlancar dengan baik,hingga sore barulah mereka pulang.
Saat ini mereka sudah berada di dalam mobil yang di supiri oleh pak Wo.
Sampai di rumah Edo langsung mengangkat tubuh Bertha yang sedang tidur pulas.
Edo meletakkan istrinya dengan hati -hati dia tidak mau sampai istrinya terganggu.
Edo menuju ruang kerjanya untuk mengambil beberapa berkas yang akan dia kerjakan di kamar, supaya saat istrinya bangun dia bisa langsung melihatnya.
Jam setengah enam barulah Bertha terbangun, mendengar ada gerakan Edo langsung menghampiri istrinya.
__ADS_1
"Sudah bangun?"ucapnya sambil duduk di samping istrinya.
Tatapan lembut Edo membuat Bertha selalu merasa bahagia.
"Kok aku bisa tidur di sini?"tanya Bertha polos.
"Bisalah soalnya kamu bisa jalan sambil tidur sayang,"goda Edo.
Ha? ucap Bertha spontan.
Melihat wajah kaget Bertha Edo langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kamu lucu tahu nggak yang,"ucapnya sambil melap air matanya.
Bertha yang merasa di kerjain langsung memukul lengan Edo.
"Ih.. kamu ngerjain aku ya?"Bertha memukul dada Edo berkali-kali.
Edo langsung memeluk erat tubuh Bertha agar berhenti memukulinya.
"Sayang maaf aku hanya bercanda tadi, mana mungkin istriku seperti itu,tadi aku gendong kamu yang."
Setelah Bertha tenang Edo mengajaknya untuk mandi.
"Mandi yo, sudah sore entar masuk angin lagi, aku yang mandiin ya."
Karena Bertha hanya diam maka Edo langsung mengangkat tubuh Bertha menuju kamar mandi.
Dengan cepat Edo membantu istrinya untuk membuka pakainya.
Di bawah guyuran sower mereka saling membersihkan diri, setelah mereka merasa cukup Edo kembali membawa istrinya kekamar dan meletakkannya di ranjang hanya beralaskan handuk yang melilit di tubuh Bertha.
Edo mengambil pakaian dalam dan baju untuk Bertha,serta memakaikannya.
Sesudah selesai barulah Edo mengambil pakaian untuk dirinya sendiri.
Sejenak mereka menikmati acara televisi sebelum turun untuk makan malam.
"Makan yo aku sudah lapar,"ucap Bertha manja.
Tidak banyak komentar Edo langsung mengangguk lalu mematikan televisi.
Ayo, ajaknya sambil menggandeng tangan istrinya sambil berjalan menuju meja makan.
Edo mengisi piring Bertha, dengan berbagai macam lauk.
"Habiskan ya, supaya anak kita sehat di sini," ucapnya sambil meraba perut Bertha.
"Ok bos, perintah segera dilaksanaka.Tapi yang aku mau jengkol."
Edo terkekeh mendengar jawaban istrinya itu ada perasan bahagia yang tidak dapat dia ungkapkan.
Detik berikutnya Edo baru tersadar apa yang di minta oleh Bertha.
"Ha.??jengkol, Kamu serius sayang?"
"iya, serius."
"Baiklah sayang nanti kita cari ya, sekarang makan ini dulu, ok."
"Tapi janji ya, nanti kita cari jengkol."
Memilik seorang istri yang baik dan perhatian membuat Edo semakin semangat untuk menjalankan hari -harinya.
Itu pula yang membuat dia tidak tega menolak permintaan istri tersayangnya.
Sesuai janjinya Edo mencari jengkol agar istrinya tidak kecewa, apa lagi jenis makanan itu bukanlah sulit di temukan, hanya kepasar tradisional saja sudah mendapatkannya.
Tidak ada lagi kegelisahan takut akan di tinggalkan oleh Bertha.
Edo percaya kepada kekuatan cinta mereka hingga dia tidak mempedulikan masa lalu Bertha.
Saat ini yang harus dia lakukan yaitu menjaga agar cinta mereka abadi sampai ajal yang memisahkan mereka.
Kehadiran buah cinta mereka menambah semangat, dan sebisa mungkin akan menjaga dan mencintai anak mereka dengan sepenuh hati, agar pengalaman Bertha tidak terulang kembali.
Edo akhirnya mengambi makanan untuk dia sendiri lalu menyantapnya.
Selesai makan mereka berpindah tempat menuju ruang keluarga di sana ada pak Wo yang asyik menonton bola.
"Pertandingan antar mana pak?" tanya Edo yang sudah mengambil tempat duduk di samping pak Wo.
__ADS_1
"Antar Italia dan jerman den,"jawabnya sambil melihat kearah Edo.
Bertha yang melihat siaran televisi langsung izin masuk ke kamar.
"Sayang maaf ya, aku tidak bisa temani kami nonton ini dulu,"ucap Edo sedikit keras karena Bertha sudah sampai di tangga.
Bertha masuk ke dalam kamar lalu merebahkan tubuhnya diranjang empuknya sambil bermain Poncel.
Satu bulan setelah acara di kantor hari ini Bertha baru datang kembali,papa dan kak Pino sedang di luar kota untuk meresmikan cabang perusahaan.
Mereka sengaja tidak mengajak Bertha karena sedang mengandung, mereka tidak mau mengambi resiko atas kandungan orang yang sangat mereka cintai.
Bertha menghandel semua urusan kantor, jika urusan di luar Edo yang akan mewakili serta asisten Bertha yaitu anaknya pak Wo.
Hari ini Edo datang lebih cepat karena mau melihat Bertha dan membantunya.
"Sayang masih banyak?"tanya Edo sambil mengambi berkas yang Bertha pegang.
"Kamu istirahat sana biar aku yang memnyelesaikan ok."
Bertha berjalan menuju sofa dan berbaring di sana.
"Sayang kamu istirahat di kamar ya,"biar lebih bebas ucap Edo yang sudah berdiri di samping Bertha.
Bertha bangun lalu berjalan menuju kamar tempat dia untuk beristirahat.
Setelah Bertha memejamkan matanya Edo baru keluar dan melanjutkan pekerjaannya.
Jam lima mereka meninggalkan ruangan kantor dan pulang ke rumah papa Aldo untuk menjemput Joni.
Di rumah papa Aldo Joni sudah di teras menunggu kedatangan kakaknya.
"Kita langsung berangkat saja kak biar kakak bisa istirahat."
Mereka berdua mengangguk dan langsung masuk ke dalam mobil.
Sebenarnya Joni bisa di antar supir tapi Edo tidak mengizinkan.
Mereka berhenti di cafe milik Edo, sementara Edo memeriksa kondisi cafe Bertha dan Joni menyantap hidangan yang sudah di sediakan khusus untuk mereka.
Setelah selesai urusan Edo dia menghampiri istri dan adiknya dan ikut makan.
Perut sudah terisi, urusan telah selesai mereka akhirnya pulang agar segera membersihkan diri.
"Sayang mandilah dulu, aku keruang kerjaku ada yang mau aku bahas dengan pak Wo."
"Bagaimana dengan PT. Angkasa tadi pak?apa mereka mempersulit kontrak itu?"
"tidak den tapi sepertinya mereka lagi bermasalah,banyak investor yang menarik saham mereka."
"Apa kendalanya? sehingga mereka mencabut saham mereka?"
"Sepertinya ada yang mau menghancurkan mereka den."
"Jika banyak yang menarik saham berarti mereka butuh banyak dana, amati lagi pak jika perlu kita berikan dana untuk mencapai target, tapi kita harus tahu siapa yang mau menghancurkan mereka dan apa motif dan tujuan mereka."
"Baik den."
Setelah selesai urusan dengan pak Wo Edo langsung menuju kamar mereka.
Sampai di kamar Edo melihat Bertha sudah selesai mandi.
Edo memeluk Bertha dari belakang.
"Sayang mandilah dulu bau tahu."
"Ok deh tapi nanti kita olah raga bersama baby kita ya,"goda Edo sambil menatap dalam manik istrinya.
"Ia tapi mandi sana, biar nggak bau jigong."
Beres tuan putri ku, ucap Edo sambil berjalan menuju kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Edo sudah selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang meilit di pinggangnya.
Sayang..
panggilnya tapi tidak mendapatkan jawaban.
Bersambung
Trimakasih kepada semua yang masih setia mengikuti karyaku ini.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ya.
Trimakasih.