
"Ayo kita masuk pa, sudah selesai nyiramnya,ucap Bertha pada sang papa yang masih setia mengikutinya."
Disinilah saat ini mereka berada, duduk di ruang keluarga sambil menikmati secangkir kopi.
"Ada apa pa? tumben pagi sudah nyampai?"
"Tidak ada apa-apa sayang hanya mau lihat cucu papa saja."
"Sebentar aku lihat ya pa, siapa tahu mereka sudah bangun."
"Iya sayang."
Akhirnya Bertha membawa si kembar bersama pengasuhnya ke pada sang papa.
"Halo... kakek selamat pagi."
"Hai juga cucu kakek yang cantik."
Dia saat ini berada di gendongannya Bertha dengan sangat bahagia Dia memberikan tangannya kepada kakek agar segera di gendong.
Papa Aldo segera merentangkan kedua tangannya untuk menyambut Dia.
Bahagianya Dia saat berada di gendongan kakeknya.
Dio yang melihat kakeknya akhirnya ikut memberikan kedua tangannya kepada kakek agar ikut bermain.
Tiada yang bisa di katakan saat kita mengalami bahagia.
Seolah dunia ini hanya kita yang punya.
Hal itu juga pada anak kecil, seperti Dio dan Dia.
Lelah bermain bersama cucunya, papa Aldo akhirnya istirahat sebelum Andre pulang.
Saat Andre pulang, ternyata kakek dan maminya sudah berada di sekeliling meja makan.
"Abang ayo makan kakek sudah lapar."
"He... he... maaf kek, abang terlambat pulang."
Andre langsung cuci tangan kemudian mendekati kakek dan maminya.
Karena Andre juga sudah sangat lapar dia makan begitu lahap tanpa suara.
Bertha yang melihat putranya hanya tersenyum bahagia, baginya sangat lucu ekspresi Andre saat makan seperti ini.
Selepas makan Andre langsung membersihkan dirinya lalu menghampiri kakeknya.
Kebiasaan Andre ketika pulang latihan selalu membersihkan diri dulu, karena dia sangat risih dengan keringat menempel di kulitnya.
"Sini main sama kakek,"ujar kakek ketika sudah melihat Andre menuruni anak tangga.
"Pasti dong kek."
Kakek menemani Andre bermain sepeda di sekitar rumah mereka.
Hanya sekitar satu jam Andre sudah diajak masuk kembali, karena harus tidur siang.
"Ganti baju lagi sayang," tegur Bertha yang melihat anaknya langsung menaiki ranjang.
"Maaf mi lupa,"jawab Andre cengengesan.
"Iya sudah tidak apa-apa tapi cepat bergerak."
"Ok mamiku sayang."
Andre segera menuju kamarnya untuk berganti baju dulu lalu kembali ke kamar maminya.
Mereka tidur siang bersama, sementara papa Aldo sudah kembali setelah selesai menemani Andre.
Di kantor
Angel masuk ke dalam ruangan Joni untuk mengambil berkas, melihat wanita yang sudah menarik perhatiannya,iapun seketika berbunga-bunga.
Angel juga mengalami hal yang sama, tapi dia malah terlihat canggung.
Angel yang tahu status Joni berusaha menutupi perasaannya, pada hal setelah beberapa kali mereka bertemu membuat di antara mereka sudah ada kecocokan.
"Kamu silahkan tunggu sebentar ya,"lalu Joni mengambil berkas yang sudah di berikan Angel.
Tidak menunggu waktu lama Joni sudah selesai menanda tangani, lalu mengembalikan pada Angel.
"Saya permisi pak," pamit Angels dengan cepat.
__ADS_1
"Iya hati-hati iya."
Setelah Angel pergi malah Joni yang senyum sendiri, sampai dia tidak menyadari jika papanya sudah berada sejak tadi.
Kakek Andre setelah meninggalkan rumah Edo tidak langsung pulang melainkan ke kantor, ada beberapa hal yang harus di kerjakan.
"Wah.... wah... ternyata putra papa sudah mulai di mabuk cinta ya."
Mendengar suara papanya, Joni sangat terkejut.
"Pa... papa kapan nyampai?"
"Dari tadi."
"Apa?"
"iya sejak kamu senyum-senyum sendiri."
Papa Aldo yang melihat ada raut malu pada wajah putranya semakin menggodanya.
"Papa semakin tidak sabar mempunyai menantu lagi."
"Papa apaan sih,"seru Joni dengan wajah yang semakin merona.
"Ha... ha...kamu itu sudah seperti anak perawan saja dengan wajah merona seperti itu."
"Ih... papa."
"Sudahlah papa keruangan kakak Pino dulu, sana lanjut kerja jangan hanya senyum-senyum sendiri."
"Siap pa."
Saat keluar dari ruangan Joni sekarang gantian yang senyum, papa Aldo yang merasa bahagia melihat anaknya tidak dapat menyembunyikan perasaannya.
Pino yang baru keluar dari ruangannya gantian heran melihat omnya senyum sendiri.
"Om sudah sampai? ayo om kita langsung saja, tadinya aku mau menemui Joni,"terang Pino sambil menuju ruangannya kembali.
Setelah mereka sudah duduk Pino menceritakan yang menjadi kegelisahannya.
"Kamu jangan terlalu cemas nak, biarkan dulu diteliti dengan baik oleh Andre."
"Tapi om sepertinya mereka terlalu memaksa makanya aku semakin cemas."
"sudah om, ini lagi di kerjakan sama dia."
"Kalau begitu tidak usah terlalu cemas, papa percaya dia mampu bisa mengatasinya."
"Apa kamu kenal dengan dia sebelumnya?"
"Waktu aku kuliah om, dia mengejar aku tapi aku sungguh tidak bisa menerima dia tidak ada cinta untuk dia."
"Kalau begitu ceritanya om jadi takut keluarga kecil mu yang akan di pertaruhkan nak."
"Itulah om, makanya aku bingung om."
"Ngapain kamu bingung nak, tanpa perusahaan mereka kita masih bertahan, menurut om apa pun hasilnya nanti batalkan saja, om tidak mau terulang apa yang terjadi pada adik kamu beberapa bulan lalu."
"Iya aku tadinya berfikir kesitu om, tapi aku takut salah ambil keputusan, dan malah mempertaruhkan perusahaan."
"Nak kita hidup bukan hanya karena harta, kita perlu melihat terutama ke bahagian kita serta keutuhan keluarga kita."
"Aku yakin adikmu juga tidak setuju menerima suatu kerja sama yang sudah jelas membahayakan kita."
"Iya juga sih om."
"Jadi resmi batal om?"
"Teruskan!" ucap papa Aldo sedikit meninggi, dia heran kenapa keponakannya ini terlihat bodoh.
Pino yang melihat wajah omnya serius menjadi bingung apa lagi dengan suara tegas papa Aldo.
"Ha... ha.... kamu bingung? mulai tadi om bicara kamu tidak dengar?"
"Dengar om."
"Batalkan!."
"Baik om."
"Kita tidak perlu kerja sama dengan orang yang memiliki masalah dengan dirinya sendiri yang akan membuat kita ikut terkena imbasnya."
"Aku ngerti om."
__ADS_1
Pino yang sejak awal dekat dengan omnya tidak merasa sakit hati sedikitpun atas segala ucapan omnya baik sebelumnya maupun saat ini.
Pino selalu merasa nyaman bersama omnya kasih sayang sangat dia rasakan dari pada dengan papa kandungnya.
Mungkin karena sejak kecil mereka tidak terlalu dekat, papa yang selalu sibuk dengan pekerjaannya dan mama yang tidak pernah adil.
"Oya... om pulang dulu, om mau belanja sebentar."
"Mau di antar om?"
"nggak usah, om sama supir kok."
"Baiklah om, hati-hati."
Setelah omnya pergi Pino menarik nafas lega, semua beban pikirannya sudah berkurang.
Saat ini Pino sudah kembali fokus dengan pekerjaannya.
Pintu di ketuk seseorang.
Tok... tok... tok... pak, ucap Andre sambil menundukkan kepalanya.
"Iya bagaimana Andre?"
"Sebaiknya kita batalkan kerja sama dengan mereka pak, niat mereka hanya untuk balas dendam dengan bapak."
Andre meletakkan penyelidikannya tentang perusahaan Anita.
"Baiklah om Aldo juga menyarankan agar kira memutuskan kerja sama."
Satu minggu kemudian semua nampak cantik, baju yang di rancang Bertha sungguh sangat cocok untuk anggota keluarga.
Semua sudah siap begitu juga dengan Kinan dia terlihat cantik dengan balutan gaun pengantin yang khusus di buat oleh Bertha.
Mereka segera berangkat menuju tempat pemberkatan perkawinan mereka.
Disinilah saat ini mereka mengucapkan janji setia sehidup semati.
Acara pemberkatan telah selesai Yanto menyematkan cincin pada jari manis Kinan,begitupun sebaliknya.
Acara resepsi di adakan di hotel berbintang, walaupun bukan pengusaha sukses tapi Yanto sudah menabung sejak beberapa tahun lalu.
Niatnya tidak akan mengecewakan atau membuat malu keluarga istrinya kelak.
Itulah cita-cita Yanto sejak dulu, dan saat ini tercapai semua impiannya.
Ucapan selamat mengalir begitu cepat hingga kini tinggal mereka yang ada di sana.
Bertha memeluk erat kakaknya.
"Trimakasih dek kamu sudah mau memaafkan aku, dan memberikan kesempatan."
Sudah tidak usah diingat kembali lagi kak, yang penting kakak berusaha untuk lebih baik lagi.
Bertha memberikan sebuah kado, kotak berisi kertas.
Sertifikat rumah atas nama Kinan.
Mata Kinan terbelalak, ia tidak menyangka jika kado istimewa dia dapat dari adik yang selalu dia sakiti.
"Trimakasih ya," ucapnya sekali lagi.
Edo juga melakukan hal yang sama.
"Trimakasih dek," atas semuanya ucap Kinan dengan penuh penyesalan.
"Sudah....yang penting kak Kinan bisa lebih baik lagi itu yang terpenting."
Papa Aldo juga memberikan hadiah yaitu sebuah mobil sedan untuk Kinan.
"Ini hadiah untuk keponakan om yang sudah berjuang untuk lebih baik."
Kinan menumpahkan seluruh tangisannya di pelukan omnya.
Pino mendekati adiknya lalu memeluknya, selama ini Pino masih belum bisa seikhlas Bertha untuk menerimanya.
Tiket pesawat dan tempat berlibur, itulah hadiah untuk adiknya karena Pino tahu setelah sekian lama Kinan tidak pernah berlibur.
Papa Pino menangis menyaksikan itu semua.
Sebagai ayah dia hanya bisa memberi kado berupa perhiasan Kecil, jika di banding dari hadiah yang lain pasti tidak ada apa-apanya.
Bersambung.
__ADS_1
Hai semua author sangat berterimakasih atas dukungannya semuanya.