APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 117.Mengertilah


__ADS_3

"Dengan Dio juga?"


"Iya mi, mereka menyebalkan, masa ninggalin aku demi cewek."


"Sayang jadi kamu marah karena cemburu sama kedua abang kamu?"


"Aku bukan cemburu mi!."


"Terus?"


"Marah mi, aku mau mulai besok naik mobil sendiri pi, aku tidak mau sampai terulang seperti kemarin itu, naik taxi."


"Apa?" kaget sang papi, dia tidak terima jika gadisnya harus terabaikan seperti itu.


"Ih... papi ngapain kaget gitu?"


"Kamu naik taksi sayang?" ulang papi Edo tidak terima.


"Iya pi."


"Memang pak Amin kemana?"


"membawa Dio ngantar ceweknya."


"Terus abang Andre?"


"katanya sibuk eh malah jalan di taman."


"Iya sudah nanti papi yang bilangin kedua abang kamu."


"Tidak mau pi, aku mau mobil sendiri, kalau tidak aku mau sekolah di Inggris."


"Sayang jangan karena emosi kamu ngambil keputusan, Inggris itu jauh dan kamu masih kecil."


"Iya sudah papi kabulkan kamu di jemput mobil sendiri, tapi tetap dengan supir."


"Tidak apa-apa pi."


"Iya sudah jangan marah lagi, papi sudah kenyang melihat wajah jelek gadis papi satu hari satu malam."


"Habis pada ngeselen,"gerutu Dia.


"Iya sudah cepat makan papi masih ada kerjaan, kita ke kantor papi dulu."


"Ok pi."


Setelah selesai makan akhirnya mereka kembali ke kantor karena memang pekerjaan papi Edo masih ada yang penting.


Sampai di kantor papi dan maminya masuk ke ruang meeting,Dia duduk manis di sofa sambil bermain ponselnya.


Lelah bermain-main poncelnya akhirnya Dia tertidur.


Edo dan Bertha kembali ke dalam ruangan setelah selesai meeting.


"Tertidur dianya," lirih Bertha.


"Biarkan saja sayang, lagian kita belum mau pulang kok."


"Iya sih pi."


"Kasihan putri mu pi, pasti ia merasa kecewa karena merasa tidak di sayangi, lagian Dio tega banget ninggalin adiknya."


"Namanya jatuh cinta mi, iya pasti cinta itu yang lebih penting."


"Ih... papi malah belain anaknya yang jelas salah lagi."


"Bukan belain sayang tapi papi juga sudah merasakan perasaan itu,ketika papi mulai jatuh cinta pada mami dan papa dan mama mau pindahkan aku."


"Itu papi yang bandal."


"Bukan sayang karena papi tidak mau berpisah dengan mami."


"Masa sih?"


"Iya sayang tatapan sendumu itu ga bisa aku lupakan, makanya aku menolak ajakan papa."


"Trimakasih banyak ya pi."


"Buat apa sayang?"


"karena papi terima aku apa adanya."


"Jelas aku terima sayang, karena hanya ada di hati papi."


"Sudah ayo kita mulai kerja biar cepat selesai, dan langsung pulang buat dedek untuk Dia."


"Apa sih pi."


"Memang salah sayang?"

__ADS_1


"Nggak sih, tapi masa Dia mau di kasih adik malu sudah tua."


"Iya tidak apa-apa sayang."


"Papi serius?"


"Nggaklah sayang, masih muda saja papi sudah tidak tega masa sekarang malah tega."


"Aku kirain papi serius."


"Buat adik terus sayang, hanya karena sudah di sumbat jadi mampet deh."


Edo memeluk istrinya dengan erat, mereka tidak sadar jika Dia sudah bangun.


"Ih.... papi sama mami ngapain sih? merusak pemandangan saja."


"Eh sayang kamu sudah bangun?"


"sudah mulai tadi pi."


"Sayang kamu tunggu ya di sini, papi masih ada kerjaan."


"Iya pi, boleh nggak aku jalan-jalan di sekitar kantor ini?"


"boleh sayang, tapi jangan sampai ke luar kantor ya."


"Ok pi."


Dia keluar dari ruangan papinya, lalu mulai melihat keadaan kantor papinya, semua karyawan lama tunduk hormat beda dengan beberapa karyawan baru merasa risih ada anak SMA berkeliaran di dalam kantor seperti saat ini.


Saat Dia melewati lorong kantor,seorang karyawan menegurnya.


"Eh kamu, ngapain berkeliaran di sini?"


"Jalan mau lihat-lihat."


"Eh kalau mau jalan itu bukan di sini ke taman, ke pasar, ke pantai terserah mau kemana asal jangan di sini."


"Memang kalau di sini kenapa?"


"iya nggak boleh, inikan kantor."


"Oya?"


"ih... kamu itu reseh banget ya, di bilangin jawab mulu."


Dia tidak jawab hanya mengangkat bahunya.


Hampir saja dia menjambak Dia jika seorang pegawai pria melerainya.


"Kamu cari mati?"


"maksud kamu?"


"Dia itu anak pak Edo tahu."


"Apa? kamu serius?"


Saat mereka berdebat Gilbert datang menghampiri mereka.


"Ada apa?Dia ngapain disini?"


"lihat-lihat om, bosan di ruangan papi terus."


"Terus ini ada apa?"


"maaf pak saya tidak tahu jika dia anaknya pak bos, soalnya masih pakai seragam jadi saya tegur."


"Kamu bukan menegur saya tapi membentak bahkan hampir mbak jambak."


"Apa? jika dia bukan anak pak Edo apa pantas kamu melakukan hal itu?"


"sekali lagi maafkan saya pak."


"Saya tidak mau punya karyawan kasar seperti kamu kasarnya."


"Sudahlah om, kasihan dia sampai gemetaran gitu, nggak usah di pecat kasih peringatan saja dan tidak usah papi dan mami tahu."


"Kamu serius sayang?"


"iya om."


"Baiklah kamu masuk ke ruangan kamu, tapi jangan kamu ulangi lagi."


"Trimakasih banyak pak."


"Om habis dari mana?"


"dari pertemuan di luar, oya mau ke kantin ayo om temani."

__ADS_1


"Benaran dong, gadis om yang paling cantik sejagat tidak boleh di kasari lagi."


"Ah.. om ada saja, aku itu jelek om."


"Siapa bilang malah om mau jika kamu jadi menantu om."


"Buktinya kedua abang Dia meninggalkan aku demi cewek mereka."


"Itu beda sayang."


"Apa bedanya om, aturannya aku tidak di tinggal sama mereka, ini mereka malah tega berbuat biarin aku naik taksi."


"Aduh kasihan sekali anak gadis om, iya sudah besok jika mereka buat seperti itu telepon om."


"Telat om."


"Kok telat?"


"papi mau beli aku mobil walaupun harus di setirin tapi aku suka om."


"Mau om yang setir?"


"mana boleh sama papi om, soalnya om punya tugas sendiri."


"Itu gampang sayang, tidak ada yang lebih penting dari pada keselamatan gadis om ini."


Dia memang sangat dekat dengan Gilbert sejak kecil, sama halnya dengan Andre.


Setelah selesai makan dari kantin Gilbett mengantar Dia ke ruangannya Edo.


Setelah mengetuk pintu terdengar suara mempersilahkan masuk.


Gilbert segera masuk di susul ov leh Dia.


"Bagaimana sih kok princesnya aku di biarin sendiri?"


"iya katanya mau jalan-jalan sementara kita masih ada kerjaan yang harus selesai sore ini."


Edo membela diri walau sebenarnya dia juga tidak tenang, tapi mengingat Gilbert akan selalu menang jika menyangkut Dia maka terpaksa beralasan seperti itu.


"Kebiasaan deh, untung aku datang kalau tidak hampir di jambak dia."


Gilbert langsung mengutarakan apa yang dia lihat, karena dia tidak mau terulang seperti tadi.


"Ih... om nggak seru ah, tadi aku sudah bilang jangan kasih tau papi om."


"Sayang kamu tidak bisa menutupi hal itu karena itu menyangkut keselamatan kamu."


"Maksudnya apa papi tidak mengerti?"


"tanya om saja pi."


"Itu ada karyawan kamu tuh yang marah sama putrimu malah hampir menjambak lagi."


"Sudah pi, tadi om sudah marah juga, kasihan dianya."


"Tapi jika hanya karena kamu jalan-jalan pakai seragam masah di bentak gitu papi jelas tidak terima sayang."


"Terus papi mau pecat?"


"nggak sayang tapi perlu di ajari tata krama yang baik."


"Oya tadi princes bilang mau cari supir untuknya apa sudah dapat?"


"Belum lagi,susah cari yang bisa di percaya apa lagi untuk anak gadis."


"Kalau begitu untuk kalian saja dulu yang di cari biar princes aku yang urus."


"Tapi bagaimana jika ada meeting saat dia pulang sekolah?"


"gampanglah bisa di urus apa gunanya ada sekretaris."


"Iya sudah aku setuju,mamibagaiman?"


"mana yang baik saja pi, aku tidak mau sampai terjadi sesuatu pada putri kita."


"Jadi yang jemput aku om? hore..... aku senang banget."


"Ok princes apapun on lakukan untuk kamu."


"Iya sudah sekarang kita pulang, biar om yang urus kamu mau mobil merek apa sayang."


"Terserah papi deh aku nurut saja, tidak pilih-pilih pi."


"Baiklah kalau begitu sayang, ayo kita pulang."


Mereka segera pulang, Gilbert mengantar mereka hingga sampai di depan rumahnya, dia tidak singgah karena harus mengurus pembelian mobil.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like dong.


__ADS_2