APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 51.Indahnya


__ADS_3

Sesuai janjinya Edo, dia membawa istrinya berkeliling kampung untuk melihat kegiatan masyarakatnya yang ada disana.


Pagi hari mereka sudah Mekakukan perjalanan, sengaja mereka berjalan kaki untuk menyusuri perkampungan.


Suasana yang masih asri jauh dari yang namanya polusi udara, atau bau sampah yang menyengat.


Area pegunungan yang ada diatas sana menambah indahnya alam tempat mereka saat ini.


Saat pagi masyarakat berjalan setapak kaki untuk menuju sawah mereka.


Terlihat pula beberapa orang berjalan dengan menggendong keranjang, mereka adalah pekerja kebun teh.


Anak sekolah berjalan ada yang berdua ada pula yang segerombolan iya


"Enak ya seperti mereka, sepertinya tidak ada beban hidup."


"Iya itu pemandangan Kita sayang, mungkin juga menganggap kita juga seperti itu."


"Iya juga sih."


Mata hari sudah mulai terik Edo mengajak Bertha untuk segera pulang.


"Sayang jalan -jalannya kita lanjut besok ya,mulai panas nic."


"Iya, ayo kita kembali, tapi nanti sore kita menyusuri sekitar danau, yang berhubungan langsung dengan pulau ini."


"Iya."


Edo memang sudah menyediakan kapal khusus untuk mereka di pulau kecil itu, dia sudah tahu jika mengenai alam Bertha pasti tidak mau tinggal diam.


Akhirnya mereka saat ini sudah berada di villa untuk beristirahat.


Walaupun sering berolah raga tapi menyusuri perkampungan juga memakan tenaga.


Asisten yang bertugas di villa itu segera menyediakan makanan dan minuman,dan langsung menghampiri mereka.


"Silahkan den, non minum dulu, pasti sudah capek habis keliling tadi."


"Trimakasih bu," Bertha tersenyum ramah kepada wanita paruh baya itu.


Semua terasa indah jika hidup di barengi oleh cinta, itulah yang dialami oleh Bertha dan Edo saat ini.


Cinta membuat mereka melayang -layang bersama kebahagian.


Setelah selesai minum mereka segera naik ke lantai atas untuk melihat kegiatan masyarakat dari jarak jauh.


"Hidup ini seperti mimpi ya," ucap Bertha setelah beberapa saat mereka berada di ketinggian villa iya itu.


Edo memang merancang bentuk bangunan yang memeilik tempat tersendiri untuk melihat sekeliling dengan membuat menara tinggi.


Menara itu hanya berukuran enam kali enam tapi tinggi lima belas meter keatas.


Semua pemandangan langsung terlihat dari sana.


"Kok seperti mimpi sayang?"tanya Edo.


"Iya aku tidak nyangka akan ada di sini bersama orang yang sangat mencinta dan juga aku cintai."


"Aku tidak mau melihat kamu mengenang luka lamamu, aku buat ini semua untuk membuat kita bahagia."


"Trimakasih sekali lagi."


"Sudah ah... sekarang sebaiknya kita nikmati saja, agar hidup kita lebih berbunga."


"Memangnya mawar?"


"lebih dari mawar sayang."


Karena terlena dengan keindahan alam sekitar sehingga pasangan itu lupa jika sudah saatnya makan siang.


"Sayang ini sudah jam dua loh, kamu tidak lapar? aku suruh bawa sini saja ya."


"Boleh aku masih ingin menikmati semuanya ini."


Edo hanya terkekeh mendengar perkataan Bertha lalu ia mengambil poncelnya untuk menghubungi asistennya.


Sepuluh menit kemudian makanan sudah di antar dengan berbagai macam lauk pauk.


"Selamat makan... "ucap Bertha setelah mengisi makanan pada piring mereka.


Karena memang mereka sudah sangat lapar, maka tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan yang ada di piring mereka.


Setelah selesai makan, dan bekas makanan mereka sudah di bersihkan, Edo menghampiri Bertha lalu membawanya kedalam pelukannya.


Bertha menyandarkan kepalanya kebahu Edo yang bidang.


"Apa kamu sangat menyukai tempat ini dari pada suamimu ini sayang?"


Bertha menganggkat kepalanya dan menatap mata Edo.


"Maksudnya apa ya?"

__ADS_1


"habis sejak kita kesini hanya tempat ini yang kamu kagumi sedangkan suamimu sejak tadi hanya di biarin."


Edo yang berpura -pura merujuk membuat Bertha merasa tidak enak hati.


Bertha sedih melihat wajah Edo yang kecewa.


"Bukannya begitu," ucap Bertha sambil mencium pipi Edo.


"Terus seperti apa sayang?"mulai tadi kamu hanya sibuk dengan hati dan kamera kamu saja.


Edo masih terus mempertahankan mimik wajahnya yang mengecewakanmu.


"Iya deh, sekarang kita lebih baik berfoto bersama, aku mau tempat ini jadi kenangan manis untuk kita."


Baiklah besok akan ada yang akan melakukan itu semuanya.


"Benarkah?"


"benarlah tapi itu semua tidak gratis!"


"maksudnya apa?"


"aku mau imbalan."


"sejak kapan kamu jadi perhitungan seperti ini?"


sejak aku menikmati surga dunia sayang, aku mau nanti kamu berikan servis terindah kamu.


"Is... kamu semakin mesum saja ya."


"Nggak ada larangan sayang mesum sama istri sendiri, tapi jika aku mesum sama yang lain baru ada larangan."


"Iya... ya... sekarang semua terserah kamu saja, aku mah... apa atu..." Bertha bergaya penyanyi terkenal.


Edo mengukung tubuh Bertha kedalam pekujannya semakin kuat.


"Apa kamu mau duda muda?"


"nggaklah."


"Tapi aku tidak bisa bernafas nic, yang ada aku bisa mati tahu."


"Maaf.... maaf sayang aku tidak bermaksud membuat kamu terluka, apalagi mati, mana aku sanggup tanpa kamu."


"Yang benar nggak sanggup? nanti boong."


"Aku jujur sayang."


"Ampun..... ampun deh sayang."


"Hmmmm...


sudah aku juga sudah capek."


Edo menarik nafas panjang lalu menatap Bertha.


"Capek?"tanya Bertha.


"Iya... kita istirahat yo,"Bertha langsung di gendong oleh Edo menuju kamar yang ada di sana yang belum Bertha tahu.


Edo membukakan pintu pakai tangan kirinya,lalu membuka pintu dengan dorongan kaki Edo.


Edo langsung meletakkan Bertha dengan pelan diatas ranjang.


"Waow... ternyata di sini juga ada kamar."


"Apa pun untuk mu sayang."


Edo menatap dalam Bertha hingga tanpa mereka sadar ternyata b***r mereka sudah menyatu.


Tidak puas dengan bibir Edo semakin liar sehingga memberikan sensasi indah bagi Bertha.


Perjuangan mereka tidak sampai di situ saja, penyatuanpun telah terjadi yang membuat nafas mereka terengah-engah.


Saat keduanya sudah mencapai puncak kenikmatan mereka tumbang dengan bulir keringat.


Karena kelelahan, mereka akhirnya terlelap dengan saling memeluk.


"Sayang bangun, mandi yo, sudah malam nic,"ucap Edo lembut.


Bertha membuka matanya perlahan, hingga mata mereka bertemu cukup lama.


Ayo.. ucap Bertha sambil tersenyum dan berusaha untuk bangkit dari tidurnya.


Mereka turun kekamar utama,untuk segera mandi lalu makan.


Pagi hari kedua insan itu sudah siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menyusuri perkampungan.


Niat kemarin pada sore hari akan mengelilingi danau tapi ternyata batal.


Mereka malah menghabiskan waktu hanya di kamar saja.

__ADS_1


"Ayo kita berangkat nanti keburu panas lagi,"ucap Bertha sambil menarik tangan Edo.


Akhirnya Edo mengalah demi menyenangkan istrinya.


Sebenarnya Edo masih mau menikmati secangkir kopi untuk menemani hari barunya.


Saat ini mereka berada di dekat pesawahan, padi yang mulai menguning sangat indah untuk di pandang mata.


"Wah... bagus sekali padinya celoteh Bertha tanpa mau diam, "entah apa saja yang dia ucapkan.


Edo memperhatikan tingkah laku istrinya, terkadang dia tersenyum, terkadang terkekeh kadang tertawa terbahak-bahak jika Bertha terjatuh.


Edo mengambil setiap momen itu pada kamera yang sudah dia siapkan.


Tawa riang nampak mempercantik wajah Bertha hingga setiap orang yang melihatnya tidak ingin melepaskan pandangannya.


"Ayo kita pulang, sudah siang, lagian aku sudah lapar, tadi aku minum saja tidak sempat jelas Edo,"sambil merangkul pundak Bertha.


"He.... he.. maaf sayang, aku sampai lupa jika kita belum sarapan."


Begitulah kisah cinta yang sedang memulai hidup baru itu, di mulai dengan kebaikan dan semoga berakhir dengan kebahagian pula.


Hari ini mereka akhiri liburan di pulau kecil hadiah pernikahan mereka yang di buat khusus oleh Edo.


"Sayang kamu habiskan waktumu ya soalnya besok pagi kita harus kembali, dan masih banyak waktu untuk datang kesini kembali."


"Aku mau memetik buah segar yang ada di sini."


"Boleh sayang semua ini milikmu."


"Temani tapi."


"Siap bos, perintah akan segera di laksanakan."


Mereka tertawa bersama karena tingkah Edo seperti anak Sd yang sedang di hukum menghormati bendera.


"Kamu tahu nggak seperti siapa?"


"siapa?"


"Anak Sd yang sedang dapat hukuman tahu."


"Tidak apa-apa, mau jadi apapun aku terima asal selalu bersama kamu."


Edo mencium kening Bertha lembut.


"Ayo kita ke kebun, disana sudah ada yang mau membawa hasil panen buahnya."


"O.... ya.... ayo buat aku tidak sabar saja."


Edo menggendong Bertha menuju kebun belakang, setelah mendekati orang yang sedang bekerja barulah di mendirikan Bertha.


"Aku bisa jalan sendiri tahu, jangan terlalu memanjakan aku, nanti kamu sakit sendiri jika aku sudah tidak ada."


"Hei kamu bicara apa sayang, aku nggak suka tahu kamu bicara seperti itu."


"Maaf,tapi hidup bukan kita yang pegang."


"Sudah ayo itu mereka," ucap Edo agar terlepas dari pembicaraan mereka yang menurut dia tidak masuk akal.


Bertha dengan semangat memetik buah sejauh bisa dia raih.


Saat siang hari tiba dia sudah merasa letih,hingga dia duduk di atas kayu tumbang.


Edo yang juga sedang asyik memperhatikan para pekerja tidak melihat bahwa di atas pohon tempat duduknya Bertha ada ranting masak dan Edo hanya nyangkut di salah satu ranting.


Suasana panas sangat menyejukkan hati jika ada angin.


Bertha yang sedang menikmati angin tidak tahu jika ranting jatuh dan mengenai tubuhnya.


Dalam sekejap Bertha menjerit dan terjatuh.


Mendengar suara teriakan Bertha membuat para pekerja langsung melihat arah suara dan termasuk Edo.


Semua berhamburan menuju ke tempat Bertha, segera mereka menjauhkan dahan kayu yang lumayan besar.


Edo memeluk Bertha yang sudah tidak sadarkan diri, pak Wo yang baru sampai untuk menjemput majikannnya itu segera menghubungi dokter.


"Sayang.. bangun,jangan tinggalkan aku."


"Den sebaiknya kita bawa nak Bertha ke dalam villa, sebentar lagi dokter akan datang."


Edo yang sudah gemetaran tidak sanggup lagi untuk menganggkat tubuh Bertha, sehingga pak Wo ikut memboyong tubuh Bertha.


"Nak... bangun.. ucapnya lirih."


Pak Wo tidak tega melihat keadaan Bertha yang berlumuran darah dan tidak sadarkan diri.


Pak Wo iya mengambil alat obat yang adadi sana,dia hendak membersihkan diri Bertha sebelum dokter tiba.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya iya.


__ADS_2