
Setelah sampai di rumah Edo dan Bertha langsung membersihkan diri, lalu duduk bersantai sebelum menunggu waktu makan malam.
Cinta memang selalu membuat orang bahagia, seperti halnya dengan pasangan muda yang sedang merasakan kehangatan cinta.
Saat ini Bertha yang sedang bermanja-manja dengan suaminya seolah tidak mau terlepaskan.
"Aku kok merasa akhir-akhir ini tidak mau lepas dari kamu ya? rasanya aman sekali berada di peluk kamu."
"Aku bahagia sayang jika kamu sangat tergantung sama aku berarti kamu dan anak kita sangat menyayangi dan mencintai aku."
"Iya memang kami sangat menyayangi kamu sayang,bagaimana tidak kamu satu-satunya orang yang selalu ada untuk kami."
"Trimakasih sayangku, aku bahagia jika kamu bahagia bersamaku."
Edo yang selalu ingin melindungi Bertha,tidak pernah terlintas untuk membuat Bertha terluka.
Edo sangat bahagia melihat kebahagiaan Bertha,karena kebahagian Bertha adalah salah satu keinginan sejak dia mengenal Bertha.
Setelah beberapa waktu lamanya,Edo yang sudah pegal kakinya mengajak Bertha untuk segera makan.
"Sayang ayo makan,nanti dedek bayi kita kelaparan, lagian kamu juga nanti kelaparan."
"Ayo.. aku juga sudah lapar, tenaga kepiting tadi sudah habis."
Mereka akhirnya turun untuk makan malam.Selama mereka makan tidak henti -hentinya Edo memberikan perhatian untuk sang istri.
"Sayang mulai dari tadi kamu hanya kasih aku ini dan itu, kamu juga harus makan dong, karena kamu juga harus kuat."
"Tenang saja jangan kwatir sayang, tapi kalian dulu yang kenyang, baru aku."
Saat ini mereka sudah selesai makan malam berdua,masakan istri dari pak Wo memang sangat lezat, sejak dulu pekerjaannya hanya untuk memasak.
Terkadang dia ingin membantu temannya tapi Edo selalu melarang.
Jika tidak ada yang mau di masak, lebih baik istirahat dulu.
Selesai makan Edo menuju ruang kerjanya ada beberapa pekerjaan yang harus di bereskan.
Bertha juga mengikuti Edo, karena dia juga harus memeriksa laporan dari butik dan kantor.
Edo sengaja menyelesaikan pekerjaannya agar bisa membantu Bertha.
"Sayang mana lagi yang harus di kerjakan biar aku bantu."
"Memang kerjamu sudah siap?"
"sudah dong suami siapa dulu he... he."
Bertha hanya nyengir melihat tingkah suaminya yang sedang menyombongkan diri itu.
Bertha menyodorkan beberapa berkas yang belum dia buka sama sekali.
"Sayang kok kamu yang periksa ini semua biasanya papa bukan?"
"iya aku yang minta soalnya papa lagi kurang enak badan kemarin itu saja demam."
"Kok nggak ngomong sayang, kita bisa jenguk papa tadi."
"Lupa."
Edo hanya geleng kepala, aneh tapi nyata sih, masa lupa sama papa sendiri.
"Besok ya kita kesana."
"Iya sekarang sudah malam juga jadi mana mungkin lagi, apa lagi ini kertasmu masih banyak."
Edo segera melanjutkan pekerjaannya agar bisa cepat tidur, jika tidak pasti besok istrinya tidak bisa bangun pagi.
"Sayang kenapa nggak kak Pino saja yang menggantikan papa sih?"
"kak Pino lagi di luar kota gantiin papa untuk mengurus proyek yang baru di bangun."
"Apa perlu aku bantu?"
"perlulah, itu baru ide bagus."
"Soalnya besok kata papa ada rapat penting diluar lagi."
"Iya sudah besok kita bicarakan dengan papa apa saja yang perlu di bahas, biar kita enak lanjutkan."
__ADS_1
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Ada pak Wo dan Gilbert yang bisa menangani."
Satu jam berkutak dengan kertas akhirnya mereka bisa menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah siap ayo tidur, biar besok bisa bangun pagi."
"Ngejek ni, mentang-mentang akhir-akhir ini aku susah banget bangun pagi."
"Bukannya begitu sayang, aku tidak mau sampai melihat belekmu saat rapat sedang berlangsung karena kamu ketiduran."
"Sama saja ya," Bertha manyung atas ucapan Edo.
Edo langsung menangkap bibir Bertha yang maju tiga inci itu.
Perlahan Edo semakin memperdalam ciumannya, sehingga membuat Bertha sulit untuk bernafas.
Edo melepaskan ciumannya sambil terkekeh,"makanya bibir itu jangan dibuat seperti itu."
"Ayo.. lama,"ucap Edo sambil mengangkat tubuh Bertha.
Keduanya sudah berbaring di ranjang sambil berpelukan.
Edo menahan sesuatu yang ada dalam dirinya,yang sudah bangun sejak tadi ketika dia mencium istrinya.
Tidak mungkin dia membuatnya kelelahan apa lagi tadi sudah melakukannya.
Tidak butuh waktu yang lama akhirnya mereka terlelap.
Pagi hari mereka sudah terlihat rapi, dengan bergegas menuju ruang makan untuk segera sarapan.
Selesai dengan sarapan, mereka berangkat menuju rumah papa Aldo.
Beberapa menit kemudian mereka sudah sampai di rumah papa Aldo.
Setelah memarkirkan mobilnya Edo langsung menyusul istrinya yang sudah terlebih dahulu masuk.
Papa Aldo masih berbaring sambil di suapin oleh Joni.
Papa panggil Bertha langsung memeluk papanya.
"Kok papa bisa tumbang, pasti papa telat makan ya."
"Pa.. sudah lumayan," ucap Edo sambil duduk di sisi ranjang.
"Sudah nak."
"Kok papa tidak kasih tahu kita bahwa papa sakit,"tanya Bertha kemudian.
"Papa tidak mau buat kalian cemas, apa lagi kamu masih belum pulih betul."
"Tapikan papa tidak adil namanya masa jika aku sakit harus kasih tahu papa, masa kalau papa sakit kami tidak boleh tahu, terlalu tahu pa."
"Iya sudah maafin papa, lain kali papa akan kasih tahu ok."
Oya papa katanya ada rapat penting yang harus di hadiri dari kita bertiga.
"Iya sayang, apa kamu bisa?"
"Bisa pa, tapi kami berangkat ke berdua aja."
"Bagus kalau begitu, papa lega dengarnya."
Dengan perusahaan Sutra Mandiri nak, mereka mau bekerja sama dengan perusahaan kita,tapi papa belum memberikan kepastian pada mereka.
"Terus apa yang harus kami lakukan pa?"
papa sudah baca proposal mereka, nampaknya tidak merugikan kita, tapi kalian pelajari lebih lanjut, karena papa belum mencari tahu sepenuhnya dengan perusahaan itu.
"Berkasnya ada di tas kerja papa, tolong ambilkan nak."
Saat mendengar penjelasan papa Aldo, dia menyuruh pak Wo untuk mencari tahu tentang perusahaan Sutra Mandiri.
Tidak butuh lama pak Wo mengirim status dari perusahaan tersebut.
Perusahaan sudah cukup besar hanya sering melakukan kecurangan.
Edo memberitahu apa yang dia dapat dari pak Wo tadi.
__ADS_1
"Terus bagaimana pa?"
jika memang cara bekerja mereka seperti itu, batalkan saja, papa tidak mau ambil risiko sebesar itu.
"Aku juga sependapat dengan papa."
"Lagian buat apa tambah orang jika hanya untuk menghancurkan kita,"ujar papa Aldo tegas.
"Papa serahkan kepada kalian nak, hati-hati biasanya orang seperti itu, tidak menerima kekalahan dengan mudah, pasti mencari cela."
"Aku paham pa, jika aku membawa pak Wo apa papa keberatan?"
"tidak nak, demi kebaikan kalian."
"Baik pa."
"Jangan lupa bawa beberapa pengawal, untuk jaga-jaga."
"Kami berangkat dulu pa."
Suami istri itu segera menyalam punggung tangan papa Aldo.
Setelah keduanya, papa Aldo merasa cemas, setelah mengetahui orang yang ingin bekerja sama dengan mereka.
Tapi apa yang harus di buat, Bertha memang harus belajar untuk nenangani hal tersulit.
Untuk saat ini papa Aldo dan kakak Pino masih bisa membantu, tapi jika mereka tidak bisa lagi berada di sisi Bertha lagi.
Maka jauh sebelum terjadi Bertha harus belajar, dan juga tidak ada lagi yang di andalkan.
Saat Bertha dan Edo sampai di tempat yang sudah di pesan oleh pihak Sutra Mandiri.Mereka mengedarkan pandangan untuk mencari orang tersebut.
Irfan pemilik perusahaan tersenyum bahagia ketika ia melihat Bertha yang datang.
"Selamat pagi pak Irfan," sapa Bertha dengan aura kepemimpinan.
''Selamat pagi bu Bertha," silahkan duduk.
Bertha duduk, tanpa rasa gentar karena orang mereka ada di sekitarnya.
Langsung ke inti persoalannya saja pak Irfan, "begini saya sudah membaca proposal yang bapak bicarakan dengan papa saya."
"Trimakasih bu Bertha."
"Tapi mohon maaf,"untuk kali ini kami belum bisa menerima perusahaan bapak.
"Tapi kenapa? bukannya dari awal papa anda sudah setuju, dan saat ini anda tinggal tanda tangan."
"Maaf pak, tapi papa saya tidak ada pesan seperti itu maaf, mungkin lain kali kita bisa kerja sama."
"Jagan anda terlalu sombong ibu Bertha, anda hanya wanita ingusan yang belum tahu tentang perusahaan."
"Maaf saya permisi dulu pak."
Saat Bertha hendak berjalan, Irfan sengaja mengulurkan kakinya agar Bertha terjatuh.
Saat Bertha hendak terjatuh Edo yang berada di belakang Irfan langsung menangkap Bertha.
"Sayang kamu tidak apa-apa?"
"aku tidak apa-apa jika kaki orang ini tidak menghalangi jalanku sayang."
Sementara pak Wo sudah merekam semua perbuatan Irfan, termasuk ketika dia memasukkan sesuatu kedalam minuman Bertha.
"Apa yang anda lakukan dengan istri saya, bukannya dia sudah menolak kerja sama dengan anda?"
Pak Wo tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil minuman yang seharusnya untuk Bertha.
"Jika anda hanya bisa menggunakan hal yang kotor, sebaiknya anda mundur, dan satu lagi anda tidak berhak menghina istri saya."
"Kamu siapa, kalian sama saja hanya bocah ingusan, tidak berhak berbicara seperti itu."
"Saya suami yang barusan anda hina."
Irfan yang tidak pernah melihat Edo tampil sebagai pemilik perusahaan yang cukup besar, memandang rendah.
Tiba-tiba ada berapa orang datang dan langsung menangkap Bertha.
"Jika kamu tidak menanda tangani kerja sama ini, jangan harap anda bisa lepas dari saya."
__ADS_1
Sementara itu beberapa orang anggota pak Wo dan kepolisian sudah bersiap untuk menangkap mereka.
Bersambung