
"Iya mi sebentar lagi, Dio masih asyik hingga membuat maminya merebut poncelnya Dio."
"Sayang mami sudah bilang mulai tadi loh, kamu tidak mau dengar mami lagi?"
"sabar mi, tanggung."
"Dio... besok kamu harus sekolah, jadi cepat tidur."
"Baiklah jika Dio tidak mau mendengar mami lagi,tidak masalah, mami tidak akan pernah melarang Dio."
Bertha meninggalkan kamar Dio dia langsung menuju kamar mereka, disana Edo sudah duduk menunggu istrinya.
"Sayang ada apa? kok wajahnya begitu."
"Anak kamu tuh pi, di bilangin melawan melulu."
Edo terkekeh mendengar perkataan istrinya.
"Kok malah ketawa pi?"
"Habis mami lucu deh, karena bandal katanya anak papi, jadi tidak dengan anak mami?"
"Iya anak mami juga, tapi papi saja yang bilangin dia."
"Iya mi besok saja ya, soalnya sudah malam."
"Iya pi."
"Sudah tapi wajah mami masih cemberut tuh."
"Papi... jangan goda mami deh."
"Terus papi harus goda siapa sayang? mami yang istriku."
"Iya juga ya pi, lupa mami."
"Memang bisa begitu ya mi."
"Bisa pi."
"Sayang mau tidur atau mau papi?"
"boleh pi."
"Benaran sayang?"
"Benar dong,memang aku sering bohong ya pi."
"Nggak sayang kamu itu yang terbaik di seluruh dunia."
"Dan papi juga yang terbaik di jagat raya ini."
"Pasti dong sayang."
"Papi keluar deh sombongnya."
Edo puas menggoda istrinya lalu menikmati indahnya cinta dalam hubungan mereka sebagai suami istri.
Bibir tipis Bertha adalah candu bagi Edo, perlahan tangannya mulai bergerilia di sekujur tubuhnya sang istri.
Buah yang selalu melekat pada Bertha akhirnya menjadi santapan bagi Edo.
Dengan mempermainkan ujung pada buah itu, Bertha merasakan nikmat yang tidak ada taranya.
Edo sangat terbuai oleh seluruh yang ada pada istrinya.
Tangan Edo bermain bak penari di milik Bertha yang paling berharga.
Tiada yang dapat menggantikan rasanya, oleh apapun.
Penyatuan terjadi setelah Edo sudah tidak tahan lagi.
"Sayang trimakasih,kamu adalah semangat dalam hidupku, jangan pernah tinggalin aku, walaupun badai menerpa keluarga kita."
Edo mencium kening istrinya, dia minta pada Tuhan agar mereka bisa hidup bersama sampai maut memisahkan.
Edo membawa Bertha dalam pelukannya hingga mereka terlelap.
Pagi hari semua keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama.
Papa Aldo juga ikut sarapan bersama mereka.
"Papa mau lauk yang mana?"Bertha mengambil makanan untuk suaminya serta papanya.
__ADS_1
"Yang ikan saja nak."
Setelah mengambil nasi dan lauknya Bertha meletakkan piring tersebut di depan papanya.
Melihat Bertha tidak berpakaian kerja papa Aldo merasa heran.
"Kamu tidak pergi bekerja nak?"
"nggak pa, aku mau menemani papa hari ini."
"Jika ada pekerjaan, papa tidak apa-apa sendiri nak."
"Tidak apa-apa pa, aku bisa urus semua,agar papa tidak bosan."
"Trimakasih kalau begitu nak."
"Papa mau ke suatu tempat?"
"tidak nak, papa di rumah saja."
Papa Aldo memang akhir-akhir ini sering merasa sendiri, bosan, hanya saja dia juga bingung mau pergi kemana.
"Jika papa mau ke suatu tempat, bilang saja pa, atau papa mau ke tempat papa dan mama?"
"Sejujurnya papa sudah sangat rindu pada mereka,"ucap papa Aldo jujur.
"Apa papa mau di antar kesana? soalnya jika harus kesini susah pa, sudah nunggu waktunya untuk bersalin Cia pa."
"Kalau begitu biar papa yang kesana."
"Baik pa , nanti akan aku urus keberangkatan papa."
Edo sangat bahagia melihat kebahagiaan papa mertuanya, dia yang sudah tahu hubungan mama dan papa serta papa Aldo ikut mendukung jika papa Aldo mengunjungi orang tuanya.
Dia tahu di masa tuanya ini, papa Aldo kesepian, apa lagi Bertha sudah ikut bekerja, jika waktu Bertha belum bekerja, papa Aldo ikut mengurus cucunya.
Setelah selesai sarapan dan semua sudah berangkat, Bertha benar-benar menemani papanya.
"Pa kita ke makam mama mau?"
"Boleh sayang sudah lama kita tidak kesana."
Saat ini mereka sudah berada di mobil, Bertha sebenarnya sedikit heran dengan sikap papanya tapi dia berusaha menepisnya.
Sampai di pemakaman mamanya Bertha semakin di buat heran karena tidak biasanya papanya menangis seperti ini.
Bertha hanya diam dan memperhatikan papanya, hingga akhirnya mereka meninggalkan pemakaman tersebut.
Mereka saat ini sedang berada di warung kopi dekat pemakaman.
Warung kopi yang terbuat ala anak muda, mempunyai kursi di taman, serta tata meja dan kursi yang menarik.
Pohon rindang yang menjadi atapnya hingga saat siang hari sangat enak bersantai di sana.
Setelah mereka duduk Bertha ingin bertanya pada papanya, tapi sedikit merasa tidak enak hati.
Papa Aldo yang melihat Bertha gelisah akhirnya bertanya.
"Ada apa nak?"
"aku tidak apa-apa pa, tapi papa yang ada apa?"
"kok papa sayang?"
"iya papa seperti ada masalah? papa tidak mau cerita sama aku?"
"tidak ada apa-apa sayang, mungkin hanya perasaan kamu saja."
"Iya sudah jika papa tidak anggap aku lagi anak tersayang papa."
"Siapa yang bilang, kamu itu tetap anak tersayang papa sampai kapan pun."
"Lalu kenapa papa tidak mau cerita?"
"Tidak ada apa-apanya sayang, papa hanya merasa bosan."
"Iya sudah pa, tapi jika ada sesuatu papa bisa cerita sama kami, aku tahu pa, kami sudah sangat sibuk dengan pekerjaan sehingga kurang waktu untuk papa."
"Tidak kok sayang, benaran tidak ada apa-apa."
Bertha akhirnya menyerah dengan papanya yang tidak mau cerita, dia sadar bahwa tidak semua bisa papanya bagi cerita dengan dia.
Setelah puas berada di sana, dengan berbagai cerita dan pengalaman yang bisa membuat mereka tertawa bahagia akhirnya mereka pulang ke rumah.
__ADS_1
Papa Aldo sedikit merasa lega, sedikit beban hatinya berkurang.
"Papa istirahat dulu ya, sebentar lagi anak-anak pulang supaya kita makan."
"Iya sayang, papa ke kamar dulu ya."
Setelah papa Aldo masuk ke kamar, Bertha juga masuk ke kamar, dia mengambil poncelnya dan melakukan vc dengan Joni.
"Ada apa kak?aku lagi mau meeting."
"Oh.. gitu ya, nanti saja kalau begitu hubungi kakak."
"Baik kak soalnya semua sudah ada di sini, atau kakak mau ikut gabung? biar aku sambungkan terus."
"Sudah lanjut saja, kakak mau ngobrol saja."
"Iya sudah, aku tutup ya kak."
"Iya sukses ya."
Akhirnya Bertha turun kembali melihat papanya, dan benar saja papa Aldo duduk termenung diruang keluarga.
"Papa ada apa? kok nggak jadi istirahat?"
"papa nggak bisa sayang,"papa Aldo menyuruh Bertha duduk di sampingnya dengan menepuk-nepuk kursi kosong.
"Pa... jujur saja sama aku, papa kenapa?"ujar Bertha setelah duduk di samping papanya.
"Sayang papa tidak mau membuat kamu sedih, karena papa."
"Terus aku harus sedih dengan papa orang lain pa?"
"bukan begitu juga sayang."
"Terus bahaimana pa?"
"Nak... jangan marah sama adik Kamu ya, ini bukan salah dia, ini adalah kesalahan papa."
"Maksudnya apa pa, aku nggak mengerti."
"Kemarin papa dan adik kamu sempat salah faham, dan terjadilah keributan di rumah."
"Memangnya ada apa pa?"
"Papa memberikan es krim pada keponakan kamu, dan ternyata es rasa durian, elerginya kambuh adik iparmu menyalahkan adik kamu, karena itu adik kamu marah sama papa dan membentak papa, hati papa terasa sakit nak."
Pa... Bertha memeluk papanya, sejak kemarin perasaan Bertha sudah tidak enak, tidak pernah dia melihat wajah sedih papanya selain waktu Bertha sakit parah.
"Sabar pa, mungkin mereka lagi kalut, makanya tidak sadar dengan tindakan mereka."
"Iya nak."
"Oya... nak papa mau sekalian bilang, nanti setelah dari tempatnya mertua kamu, papa mau tinggal di rumah papa dulu."
"Kenapa pa, papa bisa tinggal di sini."
"Tidak nak, papa tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, jika papa di sini maka kesalahan itu bisa terulang."
Bertha menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju.
"Jangan hukum diri papa seperti itu, toh dia tidak apa-apa pa."
"Justru itu nak, jika hal itu sampai terjadi maka papa tidak bisa memaafkan diri papa."
"Lagian sejak kapan gadis itu elergi durian pa?"
"beberapa bulan yang lalu mereka pernah berobat karena sakit, tapi papa tidak tahu jika itu karena elergi.'
"Mereka tidak bilang sama papa?"
"jika papa tahu maka papa tidak akan memberikannya nak."
"Berarti ini tidak murni kesalahan papakan?"
"sudahlah sayang, makanya papa bilang jangan marah sama mereka."
"Iya pa, aku tidak akan marah asal papa jangan pergi jauh."
"Tidak bisa nak, papa mau menghabiskan masa tua papa di sana,mama kamu juga menghabiskan waktunya di sana."
"Pa... jangan buat aku merasa bersalah karena tidak bisa merawat papa."
Bersambung
__ADS_1
Hai.... jangan lupa like dong, komentar dan votenya.