
Joni masih setia dengan janjinya jika dia sudah besar akan menjaga Bertha dari orang jahat.
"Kakak percaya dengan adik kakak yang paling ganteng ini,"ucap Bertha sambil memeluk adik yang paling dia sayang.
saat mereka sedang bercanda,papa Aldo datang menghampiri mereka hatinya terasa damai melihat kedua kesayangannya.
Rasa lelah tadi yang tadinya dia rasakan kini hilang entah kemana.
"Aduh kesayangan papa lagi pada ngapain,"ucapnya sambil duduk di sofa dekat kedua anaknya yang sedang duduk.
"Kita lagi cerita seru ni pa,"ucap Joni dengan semangat.
"O...begitu,ceritain dong sama papa,biar papa ikut tertawa."
"Ha.....si papa mau tahu urusan anak muda saja ujar Joni."
"Iya dong,papa kepo ni."
"Tapi sepertinya papa harus mandi deh soalnya bau asem gitu."
"Wah kamu tidak seru deh,"masa papa dibilang bau asam.
"Ya dikit pa banyaknya boong."
"Pa tadi itu Adek janji sama kakak,"kalau adek sudah besar mau jaga kakak dari orang jahat,yang sering buat kakak nangis.
"Memangnya kakak sering nangis?"
tadi pagi kakak nangis kata kakak karena orang jahat sama kakak.
Aldo menatap putrinya untuk memastikan ucapan putranya.
Aldo menatap lekat putranya itu "benar jagoan papa,kita laki-laki harus melindungi saudara kita perempuan."
"Jangan sampai dia kena sakiti oleh orang jahat."
"Cukup papa yang selama ini tidak bisa jaga kakakmu dari orang jahat itu nak."
Aldo mengungkapkan isi hatinya karena tidak bisa menjaga putri kesayangannya yang hampir dilecehkan itu.
"Ia menangis tanpa tahu sama siapa dia bicara."
Joni yang melihat papanya sampai menangis juga bingung tapi karena Kecerdasannya Joni jadi bisa mengerti bahwa kakaknya benar-benar disakiti.
"Papa jangan menangis,"itukan karena papa sakit jadi bukan salah papa ucapnya kemudian.
"Iya nak tapi tetap saja papa merasa tidak bisa menjaga kakakmu."
"Semoga kalian saling menyayangi dan saling menjaga sampai kalian tua."
"Iya pa Joni janji,ucapnya dengan penuh keyakinan."
"Iya sudah papa mandi dulu ya biar kita makan,"ujar papanya yang kemudian bangkit dari duduknya.
Didalam kamar Aldo menyadari betapa bodohnya dia menyerahkan Bertha pada orang-orang yang tidak punya hati.
"Maafkan papa sayang yang tidak bisa menjaga putri kita dengan baik,sampai dia mengalami luka batin seberat itu."
Aldo minta maaf pada almarhum istrinya yang tidak bisa menjaga putri yang sangat berharga bagi istrinya.
Kembali terngiang di pikirannya saat istrinya akan menghembuskan nafas terakhirnya meminta agar selalu menjaga Bertha demi dia.
Aldo berjanji tapi dengan bodohnya karena wanita ular itu tidak menginginkan Bertha makanya dia memberikan kepada kakaknya ketika mereka meminta kembali Bertha.
"Aku tidak akan pernah membiarkan putriku kalian sakiti lagi."
kemudian ia berjalan menuju kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya agar cepat turun untuk makan malam bersama kedua anaknya.
Selesai dengan ritual mandinya iapun langsung turun menuju meja makan dan ternyata keduanya sudah menunggunya.
"Maaf menunggu papa agak lama ya ujarnya sambil duduk di kursi meja makan."
"Tidak apa-apa pa,"ujar metereka serempak.
Selesai makan Bertha langsung permisi karena ada tugas kuliah yang belum dikerjakannya sebab tadi dia dan Edo pergi jalan.
Papanya mengangguk tanda setuju.
Bertha berjalan menuju kamarnya dan segera mengerjakan makalah yang akan dikumpulkan besok pagi.
Tepat pukul sepuluh Bertha sudah selesai mengerjakan makalahnya diapun bersiap untuk tidur.
__ADS_1
Tidak perlu menunggu lama agar matanya terpejam dan menuju alam mimpi yang akan membawa dia lupa akan masalahnya.
Keesokan harinya Bertha bagun dengan semangat untuk menyongsong hari yang indah.
Selesai mempersiapkan segala keperluan kuliahnya Bertha langsung turun dan menuju meja makan.
Saat dia sudah sampai di meja makan ternyata Joni juga sudah datang dan siap dengan seragamnya.
Mereka segera memulai sarapan agar cepat berangkat.
Joni berangkat bersama papanya sedangkan Bertha sudah ditunggu oleh Edo.
Hidup akan lebih berarti jika kita mengartikan hidup dengan benar.
Edo yang melihat Bertha dengan wajah semangat ikut merasakan kebahagian.
"Dah siap?"kita berangkat yo.
"Sudah dong,"ayo nanti kita terlambat malu.
"Tahu juga malu rupanya,"ucap Edo usil.
"Terus kamu pikir aku mati rasa??"tanya Bertha dengan suara yang mulai meninggi.
"Jangan marah dong bercanda sayang sensi amat."
"Habis kamu jahat sih."
Edo terkekeh mendengar ucapan Bertha.
"Napa?"
"lagi pms ya?"
"Tahu ah malas tahu."
Edo menepikan mobilnya dan mengambil tangan Bertha yang sudah ngambek itu.
"Sayang jangan marah dong,"ntar kucium loh ujar Edo yang mendapat hadiah plototan dari Bertha.
"Jelek tahu kalau wajah kamu seperti ini.
Bertha masih diam tidak bergerak membuat Edo benar-benar mencium Bertha.
"Biarin aja habis bibir kamu menggemaskan tahu,atau kamu masih mau?"
"Ayo jalan ucap Bertha sambil tersenyum,"ia memilih mengalah dari pada harus terlambat.
"Ha...gitu dong kalau kamu senyum kan enak lihatnya.Aku juga semangat lihatnya sayang."
"Itukan kamu yang buat aku cemberut,sudah ah malas bahasnya."
Edo mengambil tangan tangan Bertha dan menciumnya.
"Maaf sayang aku hanya bercanda,"aku tidak pernah berniat buat kamu marah.
Bertha memutar tubuhnya yang tadinya menyamping sekarang menghadap Edo.
"Aku tahu,"ucap Bertha tersenyum.
Perdebatan kecil yang diawali keusilan Edo berakhir ketika mereka telah sampai di kampus.
"Ayo turun sayang,"lihat bukumu nanti tinggal seperti kemarin.
"Sip bos,"jawab Bertha sambil turun.
Mereka berjalan bersama menuju kelas mereka.
Semenjak kejadian beberapa bulan kemarin bersama kinan Edo tidak pernah lagi membiarkan Bertha berjalan sendiri.
Hanya jalan dari mobilpun tidak diijinkan oleh Edo.
Sampai di halaman kampus Edo mengajak Bertha duduk sejenak di kursi yang ada ditaman karena masih ada waktu limah belas menit lagi.
"Tugas kamu dah siap?"tanya Edo.
"Sudah dong masak orang pintar tugasnya tidak siap."
Edo yang mendengar ucapan Bertha hanya tersenyum bahagia.
"Sayang nanti kita lihat gedung untuk butiknya kamu ya,"sepertinya hampir selesai.
__ADS_1
"Benarkah?"
Edo hanya mengagguk debagai jawaban atas pertanyaan Bertha.
"Ayo masuk nanti kita karatan disini,"ucap Bertha.
Akhirnya mereka melangkah menuju kelas mereka dengan duduk tenang karena doden mereka akan segera datang.
Dosen yang masuk pagi ini termasuk dosen yang kejam dan pelit akan nilai.
Sehingga selama masa jam kuliahnya berlangsung tidak ada yang berani untuk macam-macam.
Dua jampun telah berlalu para mahasiswa/i sudah berhamburan ke kantin untuk
mengisi energi mereka yang terkuras.
Tidak terkecuali dengan Pasangan super lengket yang satu ini mereka juga sama seperti teman -teman mereka yang lain.
Di kantin mereka duduk dekat Ita,Roy dan Peni teman mereka di kampus.
"kalian dua lengket seperti perangko terus tidak bosan apa?"
"Tidak dong,"malah pengen lebih lengket terus usil Edo.
Roy yang mendengar jawaban Edo spontan melempar kacang yang ada ditangannya.
"Jijik aku ucapnya dengan ketus."
"Alah bilang jijik,"coba kalau ada cewek yang mau jadi pacarmu paling lebih parah dari kami,ucap Edo.
"Hanya karena kamu bernasib malang dan tidak ada yang mau sama komodo seperti kamu makanya ngomong gitu."
"Ais parah loh bilang gue komodo,entar tak laporin ke nyokap biar ditabok loh."
"Ganteng begini dibilang komodo sungut Roy."
Spontan mereka tertawa terbahak-bahak hingga pandangan yang ada dikantin tertuju jepada mereka.
Ada perasaan iri dari orang-orang yang melih keaakrapan mereka.
Jika sekarang mereka hanya berlima itu karena satu anggota mereka tidak masuk biasanya Toto selalu ikut nempel berama mereka.
"Toto bertelur lagi?"tanya Edo .
"Iya tuh anak,"heran deh sama dosen galak berani bolos ujar Peni yang tidak tahu Toto ada urusan apa.
"O....apa tadi Toto bilang ibunya masuk rumah sakit aja Ita."
"kapan tanya Bertha penasaran."
"kemarin sore Tha."
"Ya sudah nanti habis dari sini kita jenguk ibunya,"usul Edo.
"Toto adalah seorang anak ibu yang kehidupan mereka sangat sederhana."
Mereka hanya hidup berdua,Edo dapat kuliah bersama mereka karena mendapat beasiswa.
Orangnya tulus dan tidak neko-neko nembuat mereka saking melengkapi.
Toto bekerja di cafe Edo setelah pulang kuliah.
Ita juga sama nasibnya seperti Toto dia kuliah karena beasiswa,dia sudah anak yatim puitu.
Dia sama bekerja di cafe Edo.
Walaupun mereka bukan termasuk orang berada tetapi keempat teman mereka selalu terbuka untuk menerima bahkan membantu soal materi jika mereka membutuhkan.
Sehingga banyak para mahasiswi yang iri dengan Edo yang bergaul bukan hanya dengan orang tajir saja.
Ingin rasanya mereka masuk dengan kelompok mereka agar selalu dekat Edo.
Tetapi mustahil bagi mereka karena Edo telah menutup lowongan untuk persahabatan apa lagi bagi mereka yang hanya mencari muka dan ingin menghancurkan hubungan mereka.
Selesai nengikuti jam kuliah kedua mereka berangkat kerumah sakit.
Saat mereka sampai tanpa Toto sadari mereka mendengar percakapan Toto dengan petugas rumah sakit yang meminta biaya sebelum mengadakan operasi.
Setelah Toto pergi Edo menyuruh teman mereka duluan masuk keruang rawat ibunya Toto,sedangkan Edo dan Bertha menuju ruang administrasi untuk melunasi biaya ibunya Toto.
Bersambung
__ADS_1
Dukung terus dengan vote dan like.