APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 122.Penyejuk Hati


__ADS_3

Dio yang mendengar perkataan om Gilbert merasa termotifasi untuk mulai mengikuti sang abang yang belajar sambil bekerja.


Cinta yang selama ini dia kejar ternyata bukan membawanya ke hal positif, melainkan semakin membuat dia terpuruk, apa lagi soal hubungannya dengan saudara kembarnya.


Seperti halnya pada saat ini, dia berada di tempat ini karena untuk menemani hatinya yang terluka oleh pengkhianatan seorang gadis.


"Bagaimana apa masih mau di sini atau kita pulang?"


"kita pulang saja om, sudah sore nanti om di tunggu tante lagi."


"Nggak kok, masalah itu sudah beres."


"Tapi kita pulang saja om."


"Ok kita pulang."


Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang karena hati Dio juga sudah mulai terobati melalui abangnya.


Iya motivasi, itulah yang membuat dia menjadi cepat melupakan masalah hatinya.


Saat mereka sampai di rumah ternyata papinya sudah menunggu kedatangan mereka.


Edo berdiri menghampiri anak dan sahabatnya.


"Ayo masuk sudah malam."


"Baiklah pi."


"Aku langsung balik ya."


"Trimakasih om untuk hari ini sampai jumpa besok."


"Ok princes selamat istirahat."


"Trimaksih sudah menemani anak-anakku bro."


"Sama-sama santai saja asal ada izin semua beres."


Setelah Gilbert pulang Edo langsung masuk menyusul istrinya yang sedang membantu bibi mempersiapkan makan malam.


"Malam mami..." teriak Dia membuat Andre langsung menutup telinganya.


"Kamu belajar jadi tarzan dimana dek?"


"Ih... abang jelek selalu ngejek."


"Memang kamu jelek dek suka menjerit seperti orang hutan, kalau gadis itu harus lembut, lah kamu?"


"biarin saja yang penting aku yang tercantik dari semua wanita di dunia ini, termasuk pacar kalian."


"Oh... kalau itu abang ngalah."


"Jadi ngaku nic, kalau aku itu cantik bukan jelek."


"Iya deh yang paling cantik."


Dio ikut mengganggu adiknya untuk memulai hubungan mereka yang sempat retak.


"Jadi kalian berdua mau nyerang aku?ih cemen ah."


Andre yang geram mendengar perkataan adiknya lansung mengejarnya hanya sayangnya Dia sudah berlari menuju papinya.


"Pi... mereka itu ha..." ujarnya sambil berdiri di belakang papinya untuk membantunya.


Ucapan adiknya membuat Andre semakin ingin mengerjai adiknya.


Andre dapat menangkap adiknya lalu mengelitikkinya hinga suara tawa Dia menggema di dalam ruangan itu.


Om Pino dan semua keluarga yang baru saja tiba sangat bahagia karena memiliki keponakan yang akur.


"Kak ayo masuk."


Bertha langsung menghampiri kakaknya serta keponakannya.


Papa Aldo yang berada di belakang juga merasa bahagia bahwa cucu dari putrinya terlihat sangat bahagia.


"Loh.. papa juga ikut?"


"iya sayang papa itu tadi di jemput sama kakak kamu, iya sudah dengan senang hati papa ikut."


"Kangen papa."


"Kamu sih sudah dua minggu tidak kunjungi papa."

__ADS_1


"Maaf pa, soalnya sibuk."


"Iya papa ngerti,tapi jangan sampai lupa jaga kesehatan kamu."


"Baik papa ku sayang."


Dia dan Andre segera menghampiri kakeknya.


"Kakek..... "teriak Dia sambil merentangkan kedua tangannya.


"Sayangnya kakek sini."


"Kek, mereka itu jahilin aku terus."


"Itu tandanya bahwa kamu itu adik kesayangan mereka sayang."


"Iya sih kek."


"Iya sudah kita duduk dulu yo."


Bertha menarik tangan papanya untuk segera duduk.


Papa Aldo akhirnya duduk karena dia juga sudah merasa lelah, karena di usianya kini.


"Iya.... bisanya ngadu terus."


"Biarin we..... "Dia mengejek abangnya dengan menjulurkan lidahnya.


"Kakak kenapa keluarin lidah sih."


Lola anaknya om Pino mengejek kakak sepupunya.


"Eh.... anak kecil ikutan ngejek kakak nic."


"Habis kakak lucu banget."


Mendengar perkataan Lola membuat semua tertawa terbahak sehingga Dia menjadi semakin cemberut.


Suasana ceria dalam ruangan itu, membuat mereka lupa akan tujuan menemui adiknya.


Setengah jam bercanda akhirnya Bertha mengajak semua untuk makan bersama.


"Kita makan bersama dulu yo, papa ayo," ujarnya sambil menggandeng tangan sang papa.


Setelah selesai makan Pino mengutarakan pendapatnya tentang liburan mereka.


Vila keluarga Edo yang pertama tujuan mereka berlibur akhirnya semua menyetujui hanya waktu yang sedikit berobah.


"Tidak apa-apa kan jika waktunya berubah soalnya ada pertemuan yang tidak bisa di tinggal."


"Tidak apa-apalah kak,jika demi kebaikan bersama."


"Iya sudah itu yang ingin kakak kasih tahu, biar kita sama-sama enak, soalnya kita sudah membuat kesepakatan bersama, tapi kakak harus merubahnya."


Setelah selesai bercerita Pino akhirnya pamit untuk pulang, sedangkan papa Aldo masih harus tinggal karena Bertha tidak mengizinkan langsung pulang.


Pagi hari seperti biasa suasana rumah itu terlihat sangat ramai dengan suara khasnya Dia.


"Kakek... ayo kita sarapan,"teriak Dia yang membuat Andre menutup telinganya.


"Adek jangan teriak terus dong, kamu itu ya saingan tarzan ya?"


"ih abang sirik saja sama suara cantik aku."


"Bukannya sirik dek tapi telinga kita hampir pecah mendengar suara cempreng my itu."


"Iya.... iya... nikmati saja bang Sebelum abang tidak akan pernah mendengar suara cantik adik mu ini."


"Eh...


sembarang kalau ngomong memangnya kamu mau kemana?"


"entah kemana gitu, keluar negeri kek, entah nanti aku ikut suami yang tinggal di luar negeri, aku pastikan abang akan rindu berat."


"Memang boleh? "


"sama siapa tidak boleh?"


"iya sama abanglah."


"Ye...


itu sih karena sirik."

__ADS_1


"Sudah nanti lagi ributnya sekarang kita sarapan bersama."


"Baiklah mamiku sayang, sekarang kita sarapan."


"Kakek jangan langsung pulang ya, tunggu aku pulang sekolah, soalnya aku mau menemani kakek jalan."


"Baiklah sayang, kakek akan tunggu kalian pulang sekolah."


Semua menikmati sarapannya hingga makanan dalam piring sudah habis.


Kakek aku berangkat dulu ya, Dia menyalam kakeknya kemudian menuju mobil.


Hari ini Bertha tidak ikut bekerja, dia menemani papa Aldo.


"Pa... kami berangkat dulu ya,"Edo mendekiti papa mertuanya karena mereka akan segera berangkat.


"Iya hati-hati iya nak semoga sukses untuk hari ini."


Bertha mengajak papanya keliling taman setelah semua sudah berangkat.


"Bagaimana keadaan papa sekarang?"


"sudah lebih baik sayang, kamu juga harus bisa jaga kesehatan."


"Iya pa, aku akan selalu ingat pesan papa."


"Iya... papa tidak mau sampai putri yang Canti ini sampai sakit apa lagi karena hanya karena pekerjaan."


"Iya papaku sayang."


"Pa... kita tinggal di sini saja ya, biar kita bisa bersama terus, sudah cukup pa hidup sendiri, biarkan kami yang merawat papa di usia senja papa."


"Iya pa... bolehlah iya."


"Iya sudah sayang papa setuju."


"Trimakasih banyak pa."


"Sama-sama sayang."


Sepanjang waktu sebelum Dia pulang,papa Aldo dan Bertha asyik cerita hingga tanpa terasa sudah waktu Dia pulang sekolah.


"Mami..kakek..Dia cantik pulang.


..."


Mendengar di panggil Bertha mengajak papa untuk istirahat.


Sampai di dalan rumah benar saja ternyata Dia sudah sampai.


"Kok sudah pulang dek?"


"iya mi ,guru katanya rapat makanya kami cepat pulang.


"Oh.... begitu iya sudah sana ganti pakaian kamu."


"Ok mami."


Dia segera berlari menuju kamarnya untuk segera berganti pakaian.


Beberapa menit kemudian Dia turun sudah dengan pakaian santainya.


"Kek kita jalan ke taman yo."


"Iya, tapi kita tunggu abang kembarmu iya."


Dio turun barulah mereka menuju taman dekat rumah mereka.


"Kakek kita berangkat berjalan kaki?"


"iya dong dekat kok."


Taman yang mereka datangi bisa menyejukkan hati yang sedang terluka.


"Kek... rasanya Dia tidak ingin jauh dari kakek."


"Makanya kakek ada di sini sayang."


"Iya... tapi bukan hanya untuk hari ini kek."


"Baiklah cucu kakek tersayang."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2