
Pagi hari Edo yang terbangun saat mendengarkan Bertha sedang muntah di kamar mandi ,dia langsung berlari menghampiri Bertha dengan memijit tengkuk Bertha.
"Sayang kamu muntah lagi? tapi bukannya kak Dian kasih obat agar kamu tidak muntah, tapi kok masih muntah ya."
Sementara Bertha yang masih perutnya seperti diaduk,hanya diam, sehingga Edo merasa bahwa Bertha masih marah.
"Sayang maaf."
"Untuk?"Bertha yang bingung kenapa Edo tiba-tiba minta maaf sama hanya mengkerutkan alisnya.
Soal semalam,tapi kamu jangan marah lagi dong aku hanya bercanda sayang,jangan marah lagi.
"Sudah, aku sudah melupakan itu aku minta air minum rasanya pahit sekali mulut aku."
Edo langsung mengambil air putih yang ada di kamar dan langsung memberikan kepada Bertha.
"Sayang... ayo aku bantu,"Edo langsung sigap memapah Bertha menuju tempat tidur.
Bertha rebahan kembali karena sudah sangat lemas.
"Sayang.. aku bawa sarapan kesini ya?"biar kamu tidak muntah terus dan lemas seperti ini.
"Nanti aja sayang aku masih mau rebahan saja."
Edo mengalah dan membiarkan Bertha hanya rebahan, dia takut untuk memaksakan, dia juga tidak tega melihat keadaan Bertha.
Edo akhirnya memutuskan untuk membersihkan diri, selesai dengan urusan sendiri Edo ikut tertidur di samping Bertha.
Bertha yang sudah merasa lebih baik, akhirnya membuka matanya perlahan.
"Kita sarapan yo, kok malah ikut tiduran, ini sudah lewat waktu sarapa."
"Mana aku tega sayang, aku makan sementara istri aku tidak bisa makan sama sekali."
"Iya sudah yo,"dia segera berdiri agar Edo langsung menyusulnya.
Sampai di lantai bawah, bibi pengasuh Edo langsung menghampirinya.
"Den.. mau sarapan sekarang? kok baru sarapan to den,sudah siang."
tidak apa-apa bu, lagian tadi istriku muntah -muntah terus jadi belum selera untuk sarapan.Edo menjelaskan keadaan Bertha sebenarnya agar tidak cemas.
Edo tahu bahwa wanita paruh baya itu terlalu peduli akan dia, sehingga tidak heran jika terlambat sarapan dan juga Edo semalam sibuk cari kunci cadangan membuat wanita itu bertanya -tanya dengan apa yang terjadi.
"Ibu tidak usah kwatir, Bertha sedang hamil muda, jadi dia muntah-muntah."
"Syukurlah nak, ibu pikir kenapa."
Setelah sarapan Edo membawa Bertha kembali ke kamar.
"Jika kamu mau pergi kerja, tidak apa-apa sayang aku tinggal, kasihan kalau kerajaanmu nanti numpuk."
"Aku tidak akan kemana-mana sayang, sampai kamu merasa lebih baik."
"Tapi aku sudah tidak apa-apa kok."
"Jangan bandal sayang, aku tidak akan kemana-mana, sudah."
"Terserah kamu aja deh."
Edo perlahan menghampiri Bertha,dia memeluk tubuh Bertha.
"Sayang aku akan menemani kamu, karena anak yang kamu kandung itu adalah anakku juga, jadi aku harus ikut menemanimu saat kamu sulit."
Sementara dengan pekerjaan masih ada pak Wo dan Gilbert yang menangani.
Selama ini mereka juga yang melakukan semua, tapi baik-baik saja,sedangkan kamu disini sendiri.
Jadi tolong jangan bahas dan paksa aku untuk kerja.
"Iya... aku janji, tapi aku mau ketemu sama Joni, boleh ya."
"Boleh kok, aku akan antar lagian kita belum ada lihat keadaan dia sejak dua hari yang lalu."
Edo langsung menganti pakaiannya, dia tersenyum bahagia melihat Bertha sudah lebih baik dari yang tadi.
Bertha juga sudah terlihat rapi, dia mengajak Edo segera berangkat.
__ADS_1
Di mobil meraka hanya bercerita ringan saja, sesekali Bertha melihat jualan dipinggir jalan, dan meminta Edo untuk membelinya.
"Stop itu ada jualan manisan aku mau,"ucap Bertha untuk kesekian kalinya.
Saat sampai di rumah papa Aldo, Joni heran dengan makanan yang tidak biasa Bertha makan, tapi berjejer rapi di meja makan.
"Kakak mau jualan?"tanya Joni dengan polosnya.
"Nggak ah.. memang kenapa kamu tanya seperti itu."
"Terus untuk apa makanan sebanyak ini."
"Iya untuk di makanlah aneh deh."
Joni yang masih bingung memilih untuk nyengir, karena jika bertanya lagi takut kakaknya tersinggung, belum lagi kedipan mata Edo yang membuat dia tambah bingung.
"Kamu sudah baikan dek?" maaf kakak tidak bisa jenguk kamu,ucap Bertha menyesal.
"Sudah tidak apa-apa kak, aku senang kakak baik-baik saja."
"Oya.. papa mana?"
"iya biasalah kak, seperti tidak tahu papa saja."
Joni akhirnya menikmati makanan yang di bawa oleh Edo dan Bertha.
Tapi sudah banyak yang mereka makan, tapi masih sisa banyak juga, asisten rumah tangga dan satpam juga sudah di bagi, tapi masih ada beberapa piring lagi.
Saat Bertha je dalam kamar mandi Edo menjelaskan mengapa banyak makanan yang mereka bawa, agar Joni tidak mengeluh lagi soal makanan itu.
"O... jadi gitu kak syukur deh sebentar lagi aku sudah jadi paman."
Mereka sedang tertawa ketika Bertha menghampiri mereka.
"Kalian ngetawain aku ya?"ucap Bertha sambil menatap kedua pria yang ada di hadapannya.
"Ih... kakak jadi orang jangan buruk sangka dulu orang kami cerita tentang pria."
"Masa sih, kok aku nggak percaya dengan ucapan kamu dek."
"Iya itu sih terserah kakak saja,aku tidak bisa paksakan."
Saat Bertha menyudahi perdebatannya dengan Joni, tapi malah dengan Edo. Papa Aldo sudah sampai di rumah, hari ini mereka berencana menginjungi Bertha, jagi dia hanya melakukan sesuatu yang sangat penting di kantor.
Sampai di ruang keluarga dia mendengar suara brisik, yaitu suara Bertha yang berdebat dengan Edo.
"Ada apa nak?"tanya papa Aldo bingung.
"Nggak apa-apa pa,"ucap Edo untuk menutupi perdebatan mereka, dia malu jika samapi mertuanya tahu tentang perdebatan yang tidak penting itu.
"Enak aja bilang nggak apa-apa, tadi aku suruh dia makan ini semua pa, tapi dia nolak malah nyalahin aku yang beli tidak dimakan."
Papa Aldo melihat beberapa piring makanan di meja, seketika papa Aldo menelan selivanya.
Iya siapa juga bisa menghabiskan makanan sebanyak itu, gumam papa Aldo dalam hati.
Papa Aldo berjalan menghampiri Bertha dan membelai pucuk rambutnya.
"Sayang... makanan itu cukup banyak, mana mungkin nak Edo bisa menghabiskannya, kami bantu makan ya? bujuk papa Aldo."
Joni yang akhirnya mekayangkan protes.
"Pa.. kami sudah makan tiga piring pa, sumpah aku tidak sanggup lagi."
Melihat reaksi Edo dan Joni sebenarnya papa Aldo ingin tertawa, tapi tidak mungkin, karena bisa menambah suasana semakin parah.
Papa Aldo mengangguk kearah kedua laki -laki yang ada di hadapannya.
Edo dan Joni mau tidak mau, akhirnya mengikuti saran dari papa Aldo.
Ketiga pria beda generasi itu berusaha untuk menghabiskan semua makanan yang ada di hadapannya.
Sementara Bertha jadi penonton setia dia tersenyum bahagia melihat usaha pria yang di sayanginya itu.
Saat suapan terakhir Secara bersamaan Joni dan Edo memuntahkan seluruh yang dia makan.
Melihat kedua pria itu tersiksa dia malah tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
Papa Aldo tidak mengeluarkan suaranya takut Bertha tersinggung, dia hanya menghampiri anak dan menantunya.
Sesudah selesai mengeluarkan isi perut, papa Aldo memberikan mereka air hangat.
"Sayang... kamu istirahat dulu sana, papa ganti pakaian dulu."
"Ok pa,"jawab Bertha yang kemudian Bertha berlalu dari hadapan papa Aldo dengan langkah bahagia.
Papa Aldo menggelengkan kepalanya karena tingkah Bertha.
"Bagaimana sudah lebih baik?"tanya papa Aldo kepada anak dan menantunya itu.
"Sudah pa, tapi sumpah perut aku jadi tidak enak gitu."
Papa Aldo terkekeh mendengar keluhan mereka.
"Iya sudah kalian istirahat saja dulu, biar perutnya terasa enakan."
Edo menyusul Bertha ke kamar, saat di kamar Bertha langsung menyambut Edo dengan senyum manisnya seolah-olah tidak terjadi sesuatu.
Melihat senyuman itu, membuat Edo merasa bahagia rasa jengkel yang tadi sudah hilang entah kemana.
Edo langsung berbaring di samping Bertha sambil memeluknya erat.
Tanpa bicara, hanya kehangatan pelukan yang mereka rasakan, yang akhirnya membawa mereka terbang ke alam mimpi indah.
Makan siang sudah terlewati dua jam yang lalu, papa Aldo hanya makan siang sendiri karena anak -anaknya tidak ada yang turun untuk makan.
Papa Aldo sengaja tidak memanggil mereka,karena kejadian tadi masih melekat dalam ingatannya.
Setelah makan siang tanpa anak -anaknya papa Aldo kembali keruang kerjanya untuk menuntaskan pekerjaannya.
Sementara Bertha dan Edo masih bergulat dengan mimpi indahnya mereka.
Sore hari barulah Bertha membuka matanya perlahan, lalu bangkit menuju kamar mandi untuk menyegarkan pikiran, hati dan badannya.
Sepuluh menit kemudian Bertha sudah terlihat cantik, Edo yang baru bangun menghampiri Bertha yang sedang menyisir rambutnya.
"Sayang... kamu wangi banget sih, mau kemana?"
"tidak kemana-mana, biar segar saja, sudah sana pergi mandi aku sudah lapar, kamu malah hanya nemani aku tidur, bukannya kasih makan."
"Maaf sayang aku juga ketiduran, tunggu lima menit aku sudah siap."
Setelah mencium pipi Bertha Edo langsung berlari menuju kamar mandi.
Edo mandi seperti burung yang hanya celup lalu terbang lagi.
Sepuluh menit Edo sudah rapi dengan pakain santai yang tersimpan di lemari pakain Bertha.
Mereka memang sengaja meninggalkan beberapa pakaian santai atau kerja, siapa tahu mereka menginap mendadak.
Seperti saat ini mereka tidak berencana harus mandi di rumah papa Aldo.
Setelah selesai mereka sudah turun, Bertha melihat sudah ada beberapa jenis makanan.
Tadi sebelum mandi sudah telepon asisten rumah tangga papa Aldo untuk menyiapkan makanan yang di sukai oleh Bertha.
Saat mereka hendak makan Joni keluar dari kamar seperti menahan rasa kesalnya.
"Ayo makan dek," ajak Edo dengan perasaan tidak enak.
"Iya kak aku juga sangat lapar."
Akhirnya mereka segara makan walaupun sekarang tidak tahu itu untuk makan apa.
"Selemah itu kah kalian sebagai pria?"cibir Bertha kepada dua pria di harapannya.
Kedua pria itu tidak ada yang berniat untuk menjawab perkataan Bertha.
Karena tidak mendapat tanggapan akhirnya Bertha hanya menikmati makanannya.
Papa Aldo keluar dari ruang kerjanya lalu duduk di samping Bertha.
Bersambung
Jangan lupa like, komentar dan votenya.
__ADS_1
Trimaksih