
Hari ini Edo dan Bertha ingin memeriksa kandungan Bertha,karena sesuai Kata dokter seharusnya Kemarin sudah waktunya untuk melahirkan sementara sama sekali tidak ada tanda -tanda.
Saat di perjalanan mobil mereka ada yang menyerempet kiri kanan, Edo yang saat itu menyetir sendiri tanpa pengawasan pengawal Bertha bingung.
Melihat keadaan sekitar,dalam keadaan kalut Bertha menghubungi pak Wo, saat telephone tersambung mobil menabrak pohon dan telepon Bertha terlepas.
Pak Wo langsung mencari pisisi Bertha dan segera menuju lokasi bersama para pengawalnya Bertha,dan anak buah kebanggaannya.
Pak Wo tiba di lokasi yang tidak jauh dari kantor, sangat terkejut melihat mobil yang sudah berasap.
Para anak buahnya cepat mengeluarkan Edo dan Bertha yang masih ada di dalam.
Tempat itu terlihat sepi dan ada beberapa orang yang berusaha mengeluarkan penghuni mobil tersebut.
Melihat semuanya bergerak dan Bertha dan Edo sudah di keluarkan pak Wo melihat di sekitar, secepat kilat ada senyuman di bibirnya dia tahu apa yang harus di lakukan.
Mobil Edo lengkap dengan cctv,maka dengan cepat dia menyambungkan dengan Poncel miliknya agar tahu siapa pelakunya dan apa sesuai dengan apa yang dia pikirkan.
Sementara Bertha dan Edo sudah di larikan kerumah sakit memakai mobil yang biasa di pakai oleh pak Wo.
Di rumah sakit segera mereka di tangani karena di jalan tadi sudah menghubungi dokter keluarga Edo.
Bertha yang sudah tidak sadarkan diri, segera di bawa ke ruang operasi setelah di cek keadaannya, papa Aldo langsung menandatangani berkas yang di perlukan.
Keselamatan putrinya saat ini yang harus di utamakan beserta cucunya.
Dua jam kemudian belum ada kabar dari dokter, sementara Edo sudah mulai sadar, hanya tangannya yang masih belum bisa bergerak.
Tangan kiri Edo patah karena menahan benturan keras ke pintu mobil.
Edo membuka matanya perlahan dan detik kemudian teringat akan istrinya.
"Sayang... sayang.." pangil Edo berusaha bangun tapi semua badannya sangat berat.
Pino yang mendengar panggilannya Edo langsung menghampirinya.
"Kamu sudah bangun dek, saat ini Bertha sedang di ruang operasi
kamu harus tenang karena keadaan kamu juga sangat lemah, tangan kamu yang kiri juga mengalami cedera dan baru selesai operasi."
"Aku mau kesana kak,aku tidak bisa tiduran di sini,"ucap Edo pilu.
Baiklah tunggu sebentar kakak panggil dokter dulu biar kamu di periksa apa bisa di bawa kesana.
Seorang dokter segera memeriksa kondisi Edo, karena keinginan besar Edo akhirnya dokter mengijinkannya dengan pakai kursi roda.
Saat Edo sudah sampai di depan ruang operasi, semua keluarga Bertha sudah ada di sana.
Papa Aldo lansung memeluk Edo dengan erat, tangisnya pun pecah, tidak ada lagi jiwa kepemimpinan di dalam diri mereka yang ada kesedihan yang mendalam.
Dokter keluar dan seorang perawat membawa bayi mungil yang berjenis kelamin laki -laki.
"Selamat untuk bapak, anak bapak berjenis kelamin laki -laki yang sehat."
"Terus istriku di mana dokter?"tanya Edo tidak sabar.
Doktor menatap orang yang ada disana satu persatu, baru ia menjawab panggilan dokter.
"Maafkan kami pak, istri bapak masih dalam kritis, kita berdoa saja semoga ada mujizat dari yang maha kuasa."
Joni dan Rita serta Kinan yang baru datang setelah mendonorkan darah merasa terkejut.
Joni histeris mendengar kakaknya kritis, mendengar teriakan Joni semua mata tertuju kepadanya.
Papa Aldo ssgera menghampiri Joni dan memeluknya.
Kinan dengan masalalu yang kelam dengan Bertha ikut jatuh terperosok kelantai.
Begini rupanya rasanya om Aldo selama ini, rasanya sesak di dadanya.
Maafkan kakak dek, yang sering menyakitimu malah hampir menghilangkan nyawamu.
__ADS_1
Kinan tidak dapat menahan rasa di dalam hatinya akhirnya tidak sadarkan diri.
Semua keluarga tambah panik, dan segera membawa ke ruang IGD untuk di tangani.
Pino duduk lemas, tadi darahnya cukup banyak yang di ambil.
Bertha banyak kehilangan darah, maka mereka harus banyak yang donor, sementara Edo juga harus mendapat tambahan darah, yang kebetulan sama juga dengan Rita.
Saat semua dalam keadaan panik keluarga Edo sampai.
Tambahlah kepiluan di depan ruang operasi itu.
Edo terus meracau, jangan pergi sayang... jangan tinggalkan kami... jangan pergi.. ucapnya yang kemudian tidak sadarkan diri.
Suster yang membawa bayi mereka akhirnya langsung membawa bayi tersebut keruangan khusus yang di jaga ketat.
Satu jam kemudian Edo baru sadar, kembali dia di bawa ke ruang tunggu karena Bertha sudah di pindahkan di ruang ICU.
Para anggota keluarga yang sudah lemas akhirnya harus di rawat, termasuk Kinan dan Joni.
Saat tidak ada suara di antara mereka, dokter datang menemuai keluarga, karena Bertha semakin droop.
Edo minta agar dia bisa berjumpa dengan istrinya.
"Sayang... bangunlah, kamu itu wanita kuat, aku tahu kamu sangat rindu dengan anak kita, dia sudah lahir sayang, dia ganteng tapi maaf dia lahir harus operasi tidak lahir normal seperti keinginan kamu sayang."
"Bangunlah sayang.. "ucapnya pilu setelah di samping Bertha.
Tut...... suara dari monitor terdengar panjang.
Edo menangis histeris," sayang kamu jangan pergi.. "
Perawat membawa Edo keluar agar dokter dapat bekerja maksimal.
Berbagai cara sudah mereka buat, tapi tidak ada menunjukkan tanda bahwa Bertha akan bangun kembali.
Dokter menjumpai anggota keluarga dan minta maaf karena tidak bisa menyelamatkan Bertha.
Tangisan pilu terdengar dari ruangan itu, semua menangis sedih.
Papa Aldo memeluk erat putri tersayangnya, dia tidak ikhlas jika Bertha sudah tidak ada.
"Sayang tega banget ninggalin kami,"ucap Edo lirih.
Saat dokter hendak mencabut alat yang melekat dalam diri Bertha, Edo melarang dan mohon agar di beri waktu untuk beberapa jam.
"Baiklah pak tapi hanya satu jam,"dokter tersebut mengikuti permintaan Edo, karena dia tidak tega melihat keadaan Edo.
Mamanya Edo ikut tidak sadarkan diri melihat menantunya sudah diam kaku.
Setengah jam berlalu tidak ada perubahan apa -apa.
Sementara itu Bertha yang berada di tempat yang sangat cantik dan sejuk, dia bermain bersama dua wanita yang sangat dicintainya.
Mama yang sudah melahirkan dan mama yang merawatnya dengan penuh kasih sayang.
"Ayo kak kita harus pergi, karena anak kita harus pulang, sudah terlalu lama dia meninggalkan cucu kita, kasihan dia menangis karena di tinggalkan oleh mamanya."
"Baiklah ayo."
"Dada sayang, baik -baiklah di sana, jaga cucu dan menantu kami."
Setelah kedua wanita itu pergi Bertha duduk sambil melambaikan tanganya.
Tut... tut... tut... suara dari monitor membuat dokter yang sudah habis akal itu terkejut.
Semua kembali mengambil tugas masing-masing, denyut jantung sudah normal.
Semua bersyukur atas muzijat besar ini.
Dengan senyum mengembang dokter menjumpai keluarga Edo.
__ADS_1
Melihat dokter tersenyum membuat semua orang merasa heran.
"Selamat atas doa semua,Pasien sudah kembali kita tinggal tunggu dia sadar."
"Trimakasih ya Tuhan.. "ucapan syukur terdengar dari bibir orang yang ada disana.
Sementara pak Wo yang sudah sampai sejak tadi, sangat gembira mendengar berita tersebut.
Tersangka sudah berada di tempat yang aman yaitu kantor polisi.
Pak Wo lansung mencari keberadaan pak Andre sebagai dalang dari semua itu, tidak butuh waktu lama ratusan anggota pak Wo langsung berpencar untuk menangkap pak Andre dan antek -anteknya.
Edo tersadar dari keterkejutannya segera meminta Gilbert untuk melihat kondisi Bertha.
Melihat layar monitor yang sudah bernyanyi indah akhirnya Edo tersenyum bahagia, ia mencium kening istrinya penuh cinta.
"Sayang trimakaaih, sudah mau berjuang untuk kami, bangun sayang jangan tidur terus," Edo menangis melihat istrinya diam tanpa ada pergerakan.
Kenapa ya Tuhan, Engkau selalu memberikan cinta yang begitu dasyat sehingga hambamu sering seperti ini, berkali -kali hambamu ini terluka tidak berdaya, berkali-kali pula hatiku sakit melihatnya.
Ya Tuhan, maafkanlah aku yang sudah berkeluh kesah atas apa yang aku dan istriku alami.
Tapi Tuhan aku masih terus bersyukur Engkau telah mengembalikan istriku kembali, bangunkan dia ya Tuhan, kasihan anak kami, dia butuh maminya.
Edo menggenggam tangannya Bertha dengan erat, lelah dengan keluh kesahnya akhirnya dia tertidur pulas.
Ketika dokter masuk, dia begitu terkejut melihat Edo yang tanpa gerak, dengan cepat sang dokter memeriksa kondisi Edo.
"Syukurlah ternyata hanya tidur,"gumam dokter tersebut.
Agar Edo dapat beristirahat dengan baik dokter memanggil perawat agar memindahkan Edo keruang rawatnya.
Kekuarga yang melihat di dorong dengan bad pasien membuat mereka terkejut.
"Suster apa yang terjadi dengan anak saya,"tanya papa Aldo yang pertama melihatnya.
"Tidak apa-apa pak, dia hanya tertidur,mungkin karena lelah makanya dia sampai tidak merasakan apa-apa."
"Terus mau di bawa kemana suster tanya pak Wo yang sudah datang mendekati Edo."
"Kita mau bawa pak Edo ke kamar rawat pak," jelas perawat tersebut.
Saat Edo sudah di bawa kedua orangtua Edo datang mencari Edo, mamanya Edo baru sadar setelah tahu menantunya telah tiada.
"Bagaimana keadaan Edo Al?"tanya wanita yang masih dengan air mata dipipinya itu.
"Dia sudah di bawa ke ruang rawat." Papa Aldo dengan sendu menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Terus Bertha bagaimana? apa alatnya sudah di cabut?"
Aldo tersenyum, melihat wajah sahabatnya itu, yang sekaligus besannya.
"Oya kamu belum tahu ya, menantu kamu itu sudah melewati masa kritisnya, tinggal nunggu dia sadar," jelas papa Aldo.
"Benarkah?" ucap kedua orangtua Edo.
Iya ucap papa Aldo tersenyum.
"Trimakasih ya Tuhan,"ucap mereka sambil bersujud.
Sebaiknya kita sebagian pulang ke biar besok bisa gantian untuk jaga, ucap papa Aldo.
Mereka setuju dengan pendapat papa Aldo.
Sekarang yang tinggal papa Aldo dan Gilbert, karena yang lain masih pada lemas, sedangkan pak Wo harus pulang karena besok harus mengurus kantor.
Saat Edo terbangun dia melihat Gilbert yang tersenyum melihatnya.
"Sudah bangun? makan dulu ya, biar cepat sembuh."
Edo hanya mengangguk pasrah, Gilbert menyuapi Edo dengan sabar hatinya ikut sakit melihat sahabat sekaligus bosnya itu.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya.