
Lira mengucapkan trimakasih ke pada Gilbert.
"Trimakasih pak," ucapnya tulus.
"Jangan pangil pak dong, memang aku sudah nampak tua ya?"
"tidak sih hanya aku bingung harus panggil apa."
"Panggil mas juga bolehlah atau kakak juga,mana yang aman saja."
"Panggil kakak boleh?"
"bolehlah aku suka."
"Om... trimakasih sudah baik sama kami, aku kira tante sudah mau ninggalin aku karena pingsan tadi pagi."
"Sama-sama sayang, om juga senang bisa jaga Ria."
"Maaf ya om rumah Ria kecil."
"Kenapa emang jika kecil, toh kamu nyamankan tinggal di sini?"
"Iya om, hanya ini yang Ria dan tante punya yang di tinggalkan papa mama Ria."
"Iya sudah im harus balik kerja ya, ini no om jika ada perlu kalian bisa hubungi om."
Gilbert memberi kartu nama pada Ria.
"Lira kakak pulang dulu ya, kamu harus banyak istirahat dan makan biar cepat sembuh, kamu harus kuliahkan?"
"iya kak, terimakasih sekali lagi."
Gilbert kembali ke kantor, tapi ada sedikit rasa yang mengganjal di hatinya, kenapa Edo seolah mendekati Lira.
Gilbert yang sudah biasa menangani masalah pasti merasakan ada sesuatu di balik sikap Edo.
Saat sampai di kantor Gilbert langsung menghampirinya Edo.
"Hei... adakah sesuatu yang ingin anda bicarakan tentang semua ini?"
"tenang, aku tidak mengerti apa maksudnya?"
"oya? memang kamu bos jadi selalu benar."
"Kenapa atas namaku pesanan makanan dan biaya berobat Lira?"
"biar semakin dekat, aku melihat dia gadis baik dan tulus, dan kamu tahu Ria itu bukan keponakan kandungnya tapi dia baik merawatnya sejak kecil."
"Kamu sudah menyelidiki?"
"ha... ha... jelaslah mana mungkin aku mendekatkan kamu dengan orang yang tidak tahu asal usulnya."
Gilbert hanya diam mendengar semua ucapan Edo, dia tidak menyangka jika Edo akan melakukan itu untuknya.
"Dia juga cantik bukan?"
"iya sih itu aku akui,trimakasih ya aku akan berusaha untuk mendapatkan hatinya."
"Baiklah aku akan bantu kamu, mulai minggu depan dia akan bekerja sama kita."
"Tapi dia masih kuliah," jelas Gilbert.
"Sudah nyusun skripsi, jadi dia bisa membagi waktunya."
"Jadi apa?"
"Jadi istri kamu biar jangan panglatu."
Karena merasa kesal Gilbert melempar Edo dengan kertas yang dia pegang.
"Dasar sahabat yang tidak tahu sopan,"ejek Edo yang membuat mereka tertawa.
"Sepertinya di bagian keuangan, pak Wo bilang dia cocok di sana."
"Terserah deh,iya sudah aku masuk ruangan ya."
"Yakin?"
"maksudnya?"
__ADS_1
"bukannya hari ini ibu kamu keluar dari rumah sakit, tidak mau jemput?"
"oya.. aku lupa," ucap Gilbert sambil memukul keningnya.
"Ayo berangkat, pihak rumah sakit sudah menghubungi sejak tadi."
"Kamu ikut?"
"menurut kamu?", mereka juga orang tuaku."
Akhirnya Gilbert tidak mau bertanya lagi hingga kini mereka sudah berada di ruangan mamanya Gilbert.
Mama... ucap Gilbert sambil memeluk wanita yang sangat dicintainya itu masih terlihat pucat, walaupun tidak sepucat beberapa hari yang lalu.
"Selamat tante sudah bisa kembali ke rumah, semangat terus jangan banyak pikiran, tenang saja di sini ada dua jagoan tante yang bisa di andalkan."
"Iya tante percaya sama kedua putra tante, ucap mama Gilbert tersenyum bahagia."
Saat ini mereka sudah berada di mobil menuju Gilbert.
Gilbert sudah bisa membeli rumah yang layak untuk kedua orang tuanya.
Walaupun tidak semewah rumah mereka dulu tetapi sudah termasuk mewah.
"Selamat kembali ke rumah mama, jangan lagi pergi selama ini ya."
"Pasti sayang."
Mama Gilbert berada di rumah sakit selama satu bulan lebih.
Setelah semua beres Gilbert mengantar Edo untuk pulang.
Gilbert langsung pulang setelah mengantar Edo dengan selamat, seperti biasa Gilbert selalu membawa mobil Edo.
Sampai di rumah Gilbert langsung menghampiri kedua orang tuanya, dan ternyata sedang tidur.
Hari ini Gilbert tidak bekerja banyak di kantor dia lebih sibuk dengan kegiatan di luar.
Semua kegiatan yang dia lalui hari ini berputar kembali di pikirannya.
Wajah pucat tapi cantik selalu menemaninya terutama senyuman indah gadis tersebut.
apa sebenarnya yang kamu alami selama ini?" ujar Gilbert yang bicara sendiri.
Setelah beberapa hari berjumpa dengan Lira,entah kenapa dia merasa bahwa gadis itu mengalami banyak beban.
Lelah dengan pemikirannya Gilbert memutuskan untuk segera membersihkan diri.
Setelah beberapa menit dia sudah nampak rapi, dia turun untuk makan malam.
Papa dan mamanya sudah berada di kursi meja makan.
Gilbert yang tidak menyangka jika mamanya ikut bergabung,merasa bahagia.
"Mama sudah kuat makan malam bersama di sini? jika belum sebaiknya di kamar saja ma."
"Mama lebih senang berada di sini sayang, sudah lama kita tidak lagi makan bersama."
"Aku sangat senang ma, aku juga merindukan mama dan papa makan bersama."
"Apa kalian hanya curhat sampai pagi dan tidak jadi makan."
Papa Gilbert yang sudah lapar akhirnya menyelesaikan drama anak dan istrinya.
"Papa cemburu bilang bos,"goda Gilbert sambil merangkul pundak mamanya.
"Bukan cemburu hanya kamu itu sudah tua jadi tidak pantas bermanja-manja sama istriku."
"Istrimu itu mama aku pa, jadi wajar dong jika aku cium dan peluk."
"Iya terserah saja tapi sekarang sebaiknya kita makan papa sudah sangat lapar."
Gilbert anak yang baik dan hangat, sejak tahu papanya bangkrut dia tidak pernah menyalahkan papanya, dengan lapang dada menerima kenyataan itu.
Beda halnya dengan saudara perempuannya, dia sampai saat ini belum bisa menerima semua apa lagi setelah kebangkrutan usaha papanya dia tidak banyak teman.
Dita tidak tahu bagaimana usaha Gilbert bahkan mengorbankan cita-citanya agar Dita bisa lanjut kuliah di luar negeri.
Gilbert yang harus berjuang dengan bekerja dengan Edo, harus hemat selain membayar biaya kuliah dia juga mengirim ke Dita untuk menambah uang papanya.
__ADS_1
Setelah selesai makan Gilbert mengambil obat untuk kedua orang tuanya.
Rasa syukurnya tidak henti dia ucapkan kepada Tuhan, dan terimakasih banyak pada Edo.
Karena Edo kedua orang tuanya bisa berobat dengan baik, tanpa harus pusing cari biaya.
Mungkin jika Edo tidak ikut campur Gilbert harus menjual rumah yang baru berapa tahun dia beli.
"Mama makan obatnya biar cepat sembuh,"ujar Gilbert sambil menyodorkan obatnya.
"Trimakasih sayangku, nak kamu selalu mengutamakan papa dan mama kapan kamu mengutamakan kebahagiaanmu?"
"carilah istri nak."
"Santai ma, semua ada waktunya, sekarang waktunya untuk papa dan mama."
"Iya... nak tapi jika hanya kami yang ada di dalam pikiranmu kapan kamu dapat istri."
"Doakan saja ma, biar dapat yang sayang sama aku dan juga sayang sama mama dan papa."
"Pastinya sayang mama selalu berdoa yang terbaik untuk dirimu."
"Mama masih mau di sini atau mau kekamar?"
"ke kamar saja sayang sepertinya mama sudah lelah."
Gilbert mengantar mamanya ke kamar dan membantu untuk berbaring.
"Selamat istirahat ya ma, aku mau kerja dulu hari ini pekerjaanku masih banyak."
"Tapi tetap jaga kesehatan ya sayang."
"Pasti ma."
Satu minggu setelah itu benar apa kata Edo hari ini Lira sudah bekerja di kantornya.
Lira sering berjumpa dengan Gilbert, karena tugas dia yang ngantar lira dan Ria pada sore hari.
Sore ini Gilbert mengajak Lira dan Ria makan di sebuah restoran siap saji.
Bukan karena pelit tapi Lira yang minta makan di sana.
Banyak hal yang mereka ceritakan hingga Ria sudah tidur pulas di pangkuan Gilbert.
"Jadi kamu bukan tante Ria kandung?"
"iya kak, aku hanya adik angkat mereka."
"Terus orang tua kamu?"
"sudah meninggal kak, sejak aku SD."
"Jadi sejak SD kamu sama mereka?"
"iya kak dan mereka sudah meninggal dua tahun yang lalu."
"Jadi kebutuhan kalian dari mana?"
"Aku bekerja sepulang kuliah kak."
"Tambahnya uang hasil kontraknya kakak mamanya Ria."
"Terus kakak sendiri bagaimana?"
"Kedua orang tua aku masih ada sih, tapi mereka sudah sering sakit bahkan satu bulan lalu mereka harus di rawat, mereka pulang percis di hari kamu keluar dari rumah sakit."
"Oh... gitu kak, sabar ya,"ujar Lira tulus pasti dia tidak tahu mengapa bilang begitu, sedangkan hidupnya juga harus membutuhkan kesabaran.
"Trimakasih."
"Kita pulang? kasihan Ria badannya tidak bebas,"jelas Gilbert.
Gilbert mengantar mereka sampai di rumah mereka dengan selamat.
Bersambung.
Hai...
jangan lupa dukung author dong, like komentar dan votenya.
__ADS_1