APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 75.Menanti


__ADS_3

"Trimaksih sayang" ucap Edo lembut sambil mencium kening istrinya.


"Kita istirahat yo, besok aku harus jaga papa lagi," jelas Edo sambil menarik Bertha dalam pelukannya.


Akhirnya mereka terlelap dalam mimpi,hingga pagi barulah mereka terbangun.


Edo segera membersihkan diri lalu memakai pakiannya.


Bertha juga membersihkan diri setelah memastikan kedua laki-laki yang di cintainya sudah selesai dengan segala keperluannya.


Saat ini mereka sedang sarapan bersama, tidak ada percakapan yang serius, hanya menjawab pertanyaan dari putranya, sekali -kali mereka tertawa.


Setelah selesai sarapan Edo dan Andre permisi kepada Bertha.


"Aku berangkat ya sayang," ucap Edo sambil mencium kening istrinya.


"Mami abang berangkat ya, hati -hati dengan dedek."


"Ok sayang, da.. baik belajar."


Setelah suami dan anaknya berangkat Bertha segera masuk,dia menuju kamar untuk melihat beberapa berkas yang di kirim kakaknya.


Karena merasa lelah akhirnya Bertha membaringkan tubuhnya di ranjang, entah kenapa dia begitu rindu pada keponakannya Andra.


Bertha mengambil poncelnya lalu mengirimkan pesan kepada kakaknya Pino.


Bertha....


"Kak aku kangen Andra bawa sini dong."


Pino yang langsung membaca pesan adiknya kemudian membalasnya.


kak Pino ...


"Nanti malam kakak antar sekalian mau jaga papa kamu."


Bertha..


"Ok bos."


Setelah mendapatkan balasan dari sang kakak, Bertha memejamkan matanya.


Tanpa terasa ternyata Bertha tertidur hingga Andre sudah pulang dari sekolah sejak beberapa jam yang lalu.


Bertha terbangun setelah pintu kamar di gedor oleh Andre.


"Mami bangun ayo makan, sudah sore tapi mami malah tidur terus," ucap Andre dan langsung membuat Bertha duduk seketika.


"Iya...


maafin mami sayang," ucapnya penuh penyesalan.


"Pasti mami kelelahan setelah bekerja kan?" tanya Andre yang melihat kertas berserakan di meja maminya.


"Iya sayang, iya sudah kita makan yo," ajak Bertha sambil berjalan menggandeng tangan putranya.


Ibu dan anak itu akhirnya makan bersama, mereka menikmati makanan mereka dengan nikmat.


Setelah selesai makan mereka duduk di taman belakang rumahnya.


Andre terlihat asyik bermain-main, tetapi tetaplah dalam pengawasan maminya.


Hingga menjelang sore barulah mereka masuk untuk segera membersihkan diri.


Bertha menunggu anaknya selesai mandi, sekarang Andre sudah bisa mandi dan berpakaian sendiri, Bertha hanya perlu menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh anaknya, karena dia tidak mau lemari putranya berantakan.


"Sudah mi.. "


ucap Andre setelah selesai memakai pakiannya.


"Mami mandi dulu ya, nanti kita tunggu Abang Andra datang sama bibi."


"Serius mi?"


"iya sayang paman bilang nanti ngantar mereka sekalian paman mau jaga kakek di rumah sakit."


"Hore... abang senang ada teman main."


"Iya sudah mami tinggal dulu ya."


Bertha meninggalkan kamar putranya lalu segera membersihkan diri.


Setengah jam dia sudah selesai, dia berjalan menuju kamar putranya.


"Sayang... "panggilnya tapi tidak ada sautan dari dalam,dengan perlahan dia membuka knop pintu tetapi kamarnya kosong.


Dengan cepat Bertha turun, masih di lantai atas dekat lif terdengar suara tawa dari anak dan keponakannya.


Bertha sampai di bawah dan benar saja kakak dan keponakannya sudah duduk santai.


"Loh, sudah sampai katanya malam," ucap Bertha sambil duduk di samping kakak iparnya setelah cipika-cipiki.

__ADS_1


"Tahu mau kesini Andra sudah merengek terus, papanya saja tidak sempat untuk mandi," jelas Tia.


"Jelas dong siapa juga yang tidak kangen sama orang cantik iya kan???"


"Iya bi... aku kangen," rengek Andra lalu naik ke pangkuan bertha.


"Sayang jangan kuat nekan perut bibimu kasihan dedeknya," ucap Tia merasa tidak enak hati.


"Iya sudah mama aku juga tidak mau membuat dedek cakit,Andla cayang bibi dan juga dedek."


"Nggak apa-apa kak, santai saja."


Pino yang menuju kamar mandi tadi, sekarang sudah kembali dengan keadaan yang lebih segar.


"Papa berangkat dulu ya, jangan nakal besok papa jemput ok boy."


Setelah pamitan Pino langsung berangkat.


Karena masih ada waktu untuk makan malam, akhirnya mereka menunggu kedua bocah untuk bermain.


Saat mereka masih asyik, Edo sudah sampai tanpa mereka sadari.


"Papi kapan nyampai," tanya Bertha yang merasa tiba -tiba Edo sudah duduk di sampingnya.


"Baru tapi kalian asyik, sampai tidak lihat aku sudah ada di sini."


"Maaf pi," ucap Bertha tulus karena jujur bukannya dia mau tidak peduli pada suaminya hanya karena terlalu asyik bercerita sambil mengawasi anaknya.


"Tidak apa-apa sayang, ya sudah aku mandi dulu ya,lanjut saja ceritanya aku bisa sendiri."


Akhirnya Edo membersihkan diri tanpa bantuan istrinya, dia faham selama ini istrinya tidak punya tempat untuk bercerita.


Lima belas menit kemudian Edo sudah turun dan bergabung dengan mereka.


"Halo ganteng" sapa Edo langsung mendekati Andre dan Andra.


"Om.... kapan datang? sudah halum."


"Baru saja, ini juga baru selesai mandi."


"Harum...


bang bukan halum."


Andre yang merasa sudah besar mencoba memperbaiki ucapan kakak sepupunya.


"Itu maksudku ya," ucap Andra tidak mau kalah.


Perdebatan keduanya membuat orang dewasa yang ada di sana tertawa.


Edo mencoba melerai keduanya.


"Kita makan yo, dedek sudah lapar nic," ucap Bertha memelas agar keduanya langsung mengikutinya.


Dan benar saja, mereka langsung mengukuti langkah Bertha tanpa protes.


Saat ini mereka sudah berada di ruang keluarga setelah selesai makan malam bersama.


Masih asyik bermain, sementara Edo sudah pergi sejak tadi untuk mengerjakan beberapa pekerjaan penting.


Setelah merasa cukup apa lagi besok Andre harus sekolah.


Kita istirahat dulu ya, besok kita main lagi, soalnya Andre harus sekolah,jelas Bertha?"


"Ok, ok mi, ok bi," ucap kedua audara sepupu itu.


Saat ini Andre dan Andra sudah tidur, Bertha kembali ke kamarnya.


Saat Bertha masuk ke dalam kamar, ternyata Edo juga memasuki kamar mereka.


"Anak-anak sudah tidur mi?" tanyanya sambil merebahkan tubuhnya diranjang empuknya sambil memeluk istrinya.


"Sudah dong pi."


"Aku juga sudah ngantuk mi, kita tidur ya."


Pagi hari Pino datang untuk menjemput istri dan anaknya, tapi sebelum pulang mereka sarapan bersama.


Saat sudah selesai makan Pino menghampiri Bertha.


"Dek berkas kemarin sudah kamu periksa?"


"Sudah kak, mau di bawa sekarang, biar aku ambil."


Bertha segera mengambil berkas tersebut dan memberikan pada Pino.


"Kakak pulang dulu ya dek, kamu baik disini, jaga keponakan kakak dengan baik."


"Baik bos, perintah akan segera di laksanakan."


Pino mengacak rambut panjang Bertha sambil tersenyum.

__ADS_1


"Da... bibi, da... om,da...Andle," pamit Andra pada semua.


"Sayang aku berangkat dulu ya, nanti papa aku bawa kesini jadi tolong suruh bibi siapin kamar untuk papa."


"Ok pi, dada sayang mami,"ucap Bertha sambil melambaikan tangan untuk kedua pria yang sangat dicintainya.


Seperti biasa Bertha masuk setelah semua berangkat, tapi sebelum ke kamar dia menyuruh bibi untuk menyiapkan kamar untuk papanya.


Pagi ini Bertha tidak sibuk dengan berkas tapi sibuk dengan pekerjaannya sebuah gambar.


Dia sedang merancang gaun pengantin baru,dua jam akhirnya gambar yang dia inginkan sudah selesai.


Dia tidak mau penantiannya akan kelahiran sang buah hati dengan sia-sia.


Setiap hari dia gunakan dengan baik, tanpa harus kelelahan seperti saran dari dokter.


Tepat pukul sebelas Edo sudah sampai bersama papa Aldo.


Papa...


ucap Bertha sambil memeluk papanya.


"Hei... kenapa menangis papa sudah sehat."


"Iya pa aku senang akhirnya papa sembuh."


Mulai saat itulah papa Aldo tinggal bersama Edo dan Bertha.


Ada perasaan bahagia, jika bersama cucunya bermain.


"Sayang kamu istirahat sana, biar papa yang temanin cucu papa,"ucap papanya yang tidak tega melihat putrinya.


Saat ini Bertha baik tapi karena hamil kembar dan juga sudah memasuki bulan ke sembilan bulan jadi terlihat sangat kesusahan.


Akhirnya Bertha mengikuti perintah papanya.


Sebenarnya dia juga sudah mengantuk, tapi karena Andre tidak mau masuk dan masih mau bermain sepeda.


Setiap pagi Edo menemani Bertha untuk jalan pagi, dia tidak mau membiarkan istrinya untuk berjuang sendiri.


Sudah beberapa hari Edo tidak berangkat ke kantor, dia menemani Bertha menanti kehadiran buah hati mereka.


"Pi, perut aku sudah sakit banget ,"rengek Bertha, entah kenapa dia merasa sakitnya hilang jika dielus oleh suaminya.


"Kita kerumah sakit yo," ucap Edo kemudian.


Bertha mengangguk pasrah karena dia sudah sangat merasa kesakitan.


Edo sudah menyiapkan semua termasuk orang yang akan mengawal mereka hingga sampai di rumah sakit.


Sampai di rumah sakit,segera para medis memeriksa Bertha.


Melihat Bertha sangat kesakitan Edo menyarankan untuk operasi saja karena menurut dokter masih belum ada tanda buka.


Karena Edo sudah memberikan keputusan, Bertha segera di bawa ke ruang operasi.


Beberapa jam kemudian Edo sudah menggendong putra dan putrinya, sementara Bertha juga sudah sadar tinggal nunggu di pindah ke ruang rawat.


Edo bernafas lega setelah beberapa jam yang lalu terlihat sangat kwatir.


Kenangan beberapa tahun yang lalu terlintas kembali di memorinya.


Pino yang juga sudah hadir di sana, berusaha menenangkan adik iparnya.


"Kamu tenang, keadaannya beda, aku yakin mereka pasti selamat."


Itulah salah satu ucapan Pino untuk menenangkan Edo.


Ketika Bertha di pindah ke ruang rawat, kedua orangtua Edo sudah sampai, begitu juga dengan kedua adiknya.


"Sayang.... selamat ya, kalian berjuang untuk kami, mama sayang sama kalian," ucapnya sambil mencium pipi menantunya.


Tidak bisa di pungkiri bahwa mereka juga sangat cemas.


"Trimakasih ma, pa dan juga semuanya sudah datang untuk kami,"ujar Bertha tulus.


Semuanya tersenyum bahagia, karena kehadiran si Kembar.


Beberapa menit kemudian ruangan sudah nampak sepi, tinggal Edo dan istri beserta anaknya.


"Sayang Trimakasih ya," aku tadi hampir gila nunggu kalian ujar Edo sambil memeluk Bertha dari samping.


"Untung tidak sampai gila ya pi,"ucap Bertha sambil tertawa.


Edo menarik hidung Bertha karena gemas dengan ucapannya.


"Sakit pi," ucap Bertha masih dengan tawanya.


"Mi sudah cukup ya, tidak perlu tambah lagi,"ucap Edo tegas.


"Iya pi, aku juga tidak mau sampai suami tampanku seperti orang gila lagi."

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa tingalin like dan komentarnya serta votenya iya.


__ADS_2