
Setelah Pino dengar keadaan Bertha ,Pino langsung pulang untuk menjumpai adiknya.
Rita adik Pino yang juga kuliah diluar negeri akhirnya ikut pulang karena mereka sangat kecewa atas perlakuan mamanya.
Walaupun selama ini Rita tidak menunjukkan bahwa dia dekat dan menyanyangi Bertha tapi dia tidak pernah menyakiti Bertha.
Setelah sampai di bandara mereka tidak langsung pulang kerumah melainkan kerumah sakit untuk melihat Bertha.
Pino tidak tahan melihat
keadaan Bertha,ketika dia panggil dan tidak ada respon,dia meneteskan air matanya.
"Ia mendekati adiknya itu dan memeluknya,"aku tidak menyangka sampai setega ini mama melakukan itu padamu dek.
"Kakak salah memilih tidak pulang hingga tidak dapat menjagamu dengan baik."
"Sekarang katakan apa yang bisa kakak lakukan untuk membantumu?"
Rita yang melihat betapa terlukanya hati kakaknya melihat adiknya itu juga ikut terisak.
Pino tidak berencana pulang kerumah orangtuanya akhirnya memilih membeli sebuah rumah sederhana dengan gajinya sewaktu bekerja diluar negeri.
Rita memilih ikut bersama kakak lelakinya dan berencana mencari kerja karena dia sudah selesai kuliah.
Seminggu mereka telah tinggal dirumah yang jauh dari kata mewah,seminggu itu pula mereka selalu mengunjungi Bertha.
Saat dirumah sakit Aldo mendekati kedua keponakannya.
"Bagaimana apa kalian sudah mendapat kerja?"
"Belum om jawab mereka bersama."
"Apa kalian mau bekerja membantu Bertha di perusahaan kakeknya?"
"Tidak usah om,"tolak mereka sopan.
"Kenapa?"dengan kalian bekerja disana dan dekat dengan Bertha mungkin mempercepat kesembuhannya.
"Ujar omnya itu."
"Atau kalian tega melihat dia seperti itu?"
"Tidak om,"kita juga tidak tega melihat dia.
"Oya om bagaimana jika kita bawa Bertha berobat keluar negeri om,mungkin lebih cepat Proses penyembuhannya."
"Lihat perkembangannya saja jika sudah ada kemajuannya tidak usah disini saja."
"Terserah om saja,"mana yang lebih baik.
"Iya nak,"ucap pak Aldo.
Setelah lama berbicara akhirnya Pino menerima pekerjaan dari omnya.
"Baiklah mulai besok kalian langsung datang saja kekantor."
Seusai berbicara kepada kedua keponakannya,Aldo menghampiri Bertha yang sudah bangun.
"Kamu sudah bangun sayang,"ucapnya sambil membelai rambut Bertha dengan sayang.
Bertha tersenyum membalas ucapan papanya.
"Sayang kamu lihat siapa yang datang?"ucap Aldo pada Bertha yang memang belum pernah melihat kakaknya Pino.
Pino mendekati Bertha dan langsung memeluk tubuh Bertha yang nampak kurus itu.
"Kakak rindu kamu dek ucap Pino sambil melepaskan pelukannya."
Bertha memeluk kakaknya kembali seolah tidak ingin melepaskan kakaknya.
"Kakak sayang kamu dek ucap Pino dengan menatap sendu wajah adiknya itu."
Rita datang mendekati mereka,melihat Rita Bertha tersenyum dan melepaskan pelukannya dengan kakak lelakinya.
Pino yang tahu Rita mendekat perlahan menggeser tubuhnya memberi ruang untuk kedua adiknya itu.
Pino tahu kedua adiknya tidak terlalu dekat tetapi tidak juga pernah saling menyakiti.
Rita langsung memeluk tubuh adiknya yang penuh luka bati itu.
"Kamu cepat sembuh dek supaya Kita pergi jalan bersama kak pino."
"Iya kak,"ucap Bertha dengan suara lemas.
Perkembangan Bertha memang terlihat cepat,karena belum tergolong ke depresi parah.
Dia sudah dapat berinteraksi dengan orang yang dekat dengannya.
Saat itu Edo datang setelah pulang kuliah ia begitu bahagia melihat Bertha yang sudah mau berbicara kepada kedua kakaknya.
__ADS_1
Edo datang menghampiri mereka serta memberi salam.
"Nak papa kekantor dulu ya,"sayang nanti papa datang lagi ucapnya sambil mencium kening putrinya.
"Apa kalian mau ikut kesana?"tanya Aldo.
Aldo sebenarnya ingin memberikan waktu pada Edo dan putrinya itu.
Sudah lebih seminggu mereka belum ada percakapan diantara mereka,karena hari ini baru Bertha bisa berinteraksi degan baik.
Pino memilih ikut bersama dengan omnya dan segera berdiri yang disusul oleh Rita.
Saat ini tinggal mereka berdua,Edo duduk di samping Bertha.
Bertha menyandarkan kepalanya di bahu Edo.
Melihat tingkah Bertha ia memeluk tubuh Bertha dari samping.
"Aku sangat senang sayang melihat kamu sudah baikan."
"Iya banyak salam dari calon mertua kamu,"nanti mereka kesini lagi setelah urusan mereka selesai.
"Papa dan mama datang?"
"Iya sayang dua hari yang lalu,"tapi kamu belum bisa melihat mereka,karena kamu belum pulih.
"Mereka pasti sangat senang melihat menantunya sudah baikan goda Edo."
Bertha memukul lengan Edo karena kesal dengan ucapannya.
"Kamu lapar sayang?"tanya Edo lembut.
Bertha hanya mengeleng,dan tetap dalam posisi tadi.
"Cepat sembuh ya,"bisik Edo ditelinga Bertha,aku kesepian tidak ada kamu.
"Tha kemarin om dan tante kamu kirim salam,mereka kesini setiap hari jenguk kamu."
"Tapi mulai hari ini sepertinya tidak bisa karena kamu sudah punya saingan."
"Maksudnya?"tanya Bertha bingung.
Adek kamu sudah lahir,makanya cepat sembuh supaya kamu bisa gendong dedek babynya.
"Aku senang dengarnya,kapan aku bisa melihatnya?"
"Jika kamu sudah sembuh ya."
Dan benar saja mendengar bahwa anak omnya sudah lahir membuat Bertha nampak ceria.
Jika kamu sembuh pasti tante akan lebih senang.
Edo tidak mau menceritakan keadaan anak omnya yang lahir prematur.
Melihat keadaan Bertha membuat tantenya shok yang berakibat pada kandungannya itu.
Walaupun saat ini keadaan bayi itu sudah membaik.
"Akhirnya aku punya adek perempuan,"ucap Bertha bangga.
"Iya sayang,sekarang kamu istirahat ya,"bujuk Edo.
"Kamu harus banyak istirahat supaya lebih kuat dan bisa gendong dedek."
Edo membantu Bertha untuk berbaring dan segera menyelimutinya.
"Jangan tinggalkan aku,aku takut ucap Bertha lirih."
"Tidak sayang aku disini akan menjagamu,"aku tidak Akan pernah meninggalkanmu apa pun yang terjadi.
"Aku sangat mencintai mu Tha."
Bertha menggenggam tangan Edo seperti seorang anak kecil yang takut di tinggal oleh ibunya.
Edo yang tahu bahwa Bertha sangat ketakutan iapun membelai rambut Bertha agar segera tidur.
Perlahan mata Bertha terpejam dan genggaman tangannya terlepas pertanda bahwa dia sudah tidur dengan nyenyak.
Edo tetap duduk disamping Bertha jika dia bangun tidak akan ketakutan.
Saat Bertha tidur dokter datang untuk memeriksa keadaan Bertha.
Dokter tampak tersenyum bahagia setelah memeriksakan Bertha.
Cukup baik perkembangannya besok sudah boleh pulang.
Edo menceritakan sebenarannya keadaan Bertha saat dia mau tidur tadi.
"Itu tidak apa -apa anak muda,"karena tidak mungkin bisa sembuh dalam waktu yang singkat dan sembuh semua.
__ADS_1
Perlahan trauma itu akan hilang asal jangan terlalu dipaksa.
Terus saja awasi dia dan untuk beberapa waktu ini jangan biarkan dia mengalami pengalaman yang sama dan berat.
"Jika hal itu terjadi akan lebih sulit untuk mengobati, jadi tolong bantu dia dengan baik."
"Jika perlu buat dia delalu aman dan bahagia."
"Baik dokter ucap Edo,"sambil mengangguk tanda ia mengerti ucapan dari dokter.
Setelah menjelaskan panjang lebar tentang keadaan Bertha, dokter itu pun meninggalkan ruangan Bertha.
Satu jam kemudian Bertha sudah bangun ia tersenyum karena Edo masih ada di sampingnya.
"Aku haus ucapnya kemudian."
Edo segera mengambil air minum dan memberikan kepada gadis pujaannya itu.
"Kamu mau makan?"tanya Edo dengan lembut, dia tidak ingin orang yang sangat berharga dalam hidupnya kekurangan sedikit pun.
ketika mereka sedang bicara pintu kemuliaan ada yang mengetuk dan tampak senyuman dari kedua orangtua Edo.
Ya yang datang adalah kedua orangtua Edo.
Saat Edo memberitahukan bahwa Bertha sudah lebih baik mereka segera membatalkan urusannya dan langsung menuju ke rumah sakit.
"Hai sayang ucap wanita itu dengan ramah,iapun menghampiri dan memeluknya dengan sangat erat."
"Mama sangat senang sayang melihat Kamu sudah lebih baik."
"Mama sangat sedih melihat anak mama tidak bisa tersenyum.
Jangan sedih lagi ya sayang, jika ada orang yang tidak menyukai mu jangan pernah menanggapi iya ,ingat saja masih banyak orang yang masih menyanyangi mu dengan tulus."
"Baik ma,"aku tidak akan mengecewakan mama dan semua yang mencintai Bertha.
"Itu baru anak mama, ok."
"Tadi Mama dengar kamu mau makan,"ini ada mama bawa dan masih hangat ucapnya sambil mengeluarkan isi tas yang berisi makanan itu.
Dengan sabar wanita itu menyuapi calon menantu yang sudah dianggap anak sendiri.
"Kalau kamu banyak makan,maka kesehatan kamu akan cepat sembuh."
"Nanti kita bisa lomba lari,"ucapnya sambil terkekeh.
"Memang mama masih kuat,"goda papanya Edo.
"Masih dong, mau coba?"besok ya jika anak mama ini sudah sehat.
"Papa pasti yang akan kalah iyakan sayang,"ucapnya pada Bertha.
Selesai makan mereka bercerita tentang yang lucu -lucu apa lagi tentang masa lalu mereka ketika sekolah.
Bertha nampaknya sangat bahagia sambil tertawa bersama keluarga dan sangat menyenangkan.
Lelah dengan tertawa bersama kemudian hening kedua orangtua itu permisi pulang untuk mandi karena hari sudah sore.
"Kami pulang dulu ya sayang,"biar kami mandi dulu, besok kami kesini lagi.
"Tapi kata dokter besok sudah bisa pulang ma,"kata Edo yang kemudian.
"Ya sudah besok kami kesini sambil jemput ya."
"Baiklah ma ucap Bertha senang."
"Ia sangat senang karena keduanya sangat menyayangi Bertha seperti anak sendiri."
Kedua orangtua mereka akhirnya benar -benar pulang dan sekarang tinggal mereka berdua kembali.
"Sayang besok kita liburan yo sesudah kamu sembuh."
"Kemana?"
kemana kamu suka sayang kita bisa cuti kuliah yang paling penting Kamu sembuh ya.
"Di daerah pegunungan daerah xx ada rumah singgah kakek, dulu waktu kecil kami sering kesana,pemandangannya sangat bagus."
"Kita bisa ajak kedua kakak dan Joni atau papa juga bila ada waktu."
"Boleh ucap Bertha,"nanti kita bicarakan dengan om ya ucap Edo sambil mengelus pucuk hidung Bertha.
"Sakit tahu grutu bertha pura -pura kesakitan."
"Sakit ya sini aku obati ucap Edo sambil menarik hidung Bertha lebih kuat."
Mereka berdua kemudian tertawa bersama.
Edo memandang wajah Bertha dengan senyum merekah.
__ADS_1
Setelah kemarin jiwanya hilang separuh melihat wanita yang dia jaga sekian lama, lemah tidak berdaya akibat orang yang paling dekat dengan dia yang berstatus ibu kandungnya.
Bersambung