
Rasa bahagia itu cukup sederhana tapi sangat menyakitkan jika kita tidak dapat melakukan dan bisa menerima rasa itu.
Saat ini Edo benar menepati janjinya untuk menemani putranya berkeliling naik sepeda.
jika biasanya Andre hanya di temani oleh maminya dari jarak jauh tapi kali ini Andre sangat bahagia karena papinya menemaninya sambil ikut naik sepeda.
Ketika tadi Andre minta di temani Edo langsung menghubungi Gilbert agar membelikan sebuah sepeda.
"Wah... papi abang senang ternyata papi ikut naik sepeda juga, aku pikir seperti mami hanya melihat saja."
"Papi... gitu loh," ujar Edo berlagak sombong, yang membuat Andre tertawa.
"Tapi biar begitu pi, mami tetap yang terbaik loh."
"Iya itu jelas dong sayang, mana bisa di ganti oleh siapa pun."
"Ayo pi kita balapan."
"Tidak usah boy, nanti jatuh."
"Iya... papi tidak seru ah."
"Bukannya begitu boy, hanya papi tidak mau nanti kamu terluka."
"Baiklah pi."
Satu jam kemudian mereka menghampiri Bertha yang sedang sibuk dengan si kembar.
"Dedek kembar lagi liatin abang ya?."
"Iya dong, tapi abangnya asyik sendiri dengan papi ya dek, besok kalau Dio besar kita yang naik sepeda."
"Siap bang."
"Boy sudah siap atau masih mau main."
"Sudah deh pi."
"Papi simpan sepedanya iya.. ya."
"Ok deh pi."
Edo segera bergabung dengan istri dan anaknya.
"Aduh sayangnya papi kok cemberut sih?"
Dia yang mendengar,suara papinya segera mengulurkan tangannya.
"Mau papi gendong?"
"tapi papi keringat dek, nanti adek bauan."
"Pa... ta... ta... "celoteh Dia.
"Iya sudah, ayo papi gendong."
"Andre melap keringat papinya."
"Ok sudah bersih pi, jadi dedek Dia,aman dalam gendongan papi."
Papinya Andre membawa Dia,berjalan keliling taman sambil bernyanyi lagu anak-anak.
"Sayang kamu mau bunga? tapi jangan masuk mulut iya."
Edo memetik bunga anggrek lalu memberikan kepada Dia.
"Cantikkan sayang, kalau sudah besar putri papi ini,pasti lebih cantik, tapi tidak boleh sombong ya sayang."
Edo mencium pipi putrinya dengan gemas.
Tawa Dia keluar membuat Andre berlari menuju papinya.
__ADS_1
"Enak banget tawa dedek pi?"
"iya dong dedek siapa dulu, bang Andre."
"Putri papi pastinya."
"Sayang ayo kita masuk, sudah sore kita semua harus mandi."
Akhirnya mereka membersihkan diri, Edo membantu istrinya untuk membersihkan tubuh Dio.
Selesai acara mandi mereka menuju ruang makan,karena waktu makan malam sudah tiba.
Saat mereka makan Gilbert datang membawa berkas, untuk Edo.
"Om Gilbert,ayo makan."
"Iya Trimakasih boy, om langsung deh, kasihan papa dan mama om."
"Hati-hati om, salam untuk kakek dan nenek ya."
"Trimakasih ya boy, banyak makan biar cepat besar."
"Pastinya om."
"Kita kapan melihat nenek pi?"
"Akhir pekan deh, dua hari ke depan papi sibuk banget jadi mungkin tidak sempat."
"Boleh kok pi, tapi mami dan sikembar ikut juga pi?"
"Iya sudah lanjut lagi makannya."
Bertha tersenyum bahagia melihat keakraban mereka, sejak sore hari mereka di liputi rasa bahagia, walau hanya sederhana tapi membuat mereka sangat bersyukur.
Setelah selesai makan mereka bercerita tentang pengalamannya Andre di sekolah,sebagai orang tua Edo dan Bertha hanya sebagai pendengar setia.
Saat sudah waktunya untuk tidur mereka mengajak Andre untuk segera naik menuju kamar.
Selesai menggosok gigi dan ganti pakaian,berdoa,maka Andre akan segera tidur.
Setelah Andre sudah terlelap barulah Edo keluar dari kamar putranya.
Di kamar Bertha masih menyusui sikembar, dia terlihat sangat menikmati perannya sebagai ibu, dengan segala kasih sayangnya dia merawat ketiga anaknya.
Sementara itu ditempat lain dua pasangan sedang mencari jati diri mereka, melalui wanita yang sudah memikat hatinya.
Joni dan Angel sedang makan malam romantis,tampak aura bahagia di wajahnya.
Tempat khusus sudah di sediakan oleh Joni, benar-benar malam ini hanya untuk mereka.
Sehabis makan Joni mengajak Angel duduk di sebuah ayunan yang sudah di hiasi bunga.
Ketika Angel sudah duduk Joni berjongkok dan mengeluarkan cincin untuk melamar gadisnya.
"Maukah kamu menjadi pasangan
hatiku yang yang sepi ini?"
Angel yang juga mencintai pria yang ada di depan matanya segera membalasnya.
"Saya bersedia mengisi hatimu yang sepi agar bisa bersemi dengan segala cintaku,tuntun aku agar bisa sejalan dan seiring bersama."
"Saya juga akan berusaha agar bisa mengisi hati dan hidup kamu yang berkabut menjadai berawan yang sangat cerah."
Joni menyematkan cicin di jari manis Angel demikian juga dengan Angel menyematkan cicin pada jari manis Joni.
Joni memeluknya dengan erat rasa bahagia sungguh dia rasakan saat ini,kekwatirannya selama ini sudah hilang entah kemana yang jelas bunga cinta yang sedang bersemi di dalam hatinya.
Kamu melamar aku untuk kekasihmu atau untuk jadi istri?"Angel yang ingin kepastian segera memperjelas hubungan mereka.
"Jika kamu sudah siap menikah maka aku akan mengurus semuanya."
__ADS_1
"Aku minta waktu beberapa bulan ini ya, biar adik aku selesai kuliah tinggal menunggu untuk persiapan wisuda."
"Aku akan menunggu waktu itu tiba, berarti sekarang kita sebagai tunangan, aku melamar kamu menjadi tunangan saya."
Akhirnya mereka tertawa bersama karena merasa lucu.
"Aku merasa sangat bahagia memiliki kamu," ujar Joni penuh semangat, baru kali ini dia merasakan bagaimana itu cinta.
"Aku juga sangat mencintai kamu, bisa menerima segala kekuranganku."
"Aku juga bukan manusia sempurna sayang jadi aku berharap kita saling melengkapi, ibarat sepatu akan terlihat indah jika keduany di pakai oleh kita."
"Iya.. jika sepatu hanya di pakai hanya satu maka akan terlihat anehkan?"
Joni mengayun Angel dengan sangat hati-hati.
Joni melamar kekasihnya tepat berada di atas ayunan sebagai lambang cinta mereka yang mungkin tidak datar tapi bergelombang dan siring berjalannya waktu masalah akan muncul.
Maka dengan perjalanan hidup ini dia ibaratkan sebagai ayunan,bergelombang tetapi sujuk karena terpaan angin.
Karena sudah malam Joni mengantar Angel pulang.
"Trimaksih sekali lagi atas semuanya,terutama atas cinta tulusmu."
Sebelum turun Angel kembali mengucapkan trimakasih pada pujaan hatinya, dia tahu bahwa tidak semua pria mau menerima wanita seperti dia.
Terbukti selama ini sudah ada beberapa pria datang mendekati dia, tapi rasanya mereka akhirnya menghina profesinya,dengan alasan senang jalan dengannya karena sudah ada yang menjaga.
"Sama-sama sayang."
Angel turun dari mobil yang di susul oleh Joni untuk memastikan bahwa kekasihnya aman sampai di rumah.
Karena Angel sudah masuk barulah Joni meninggalkan rumah kekasihnya.
Sedangkan Gilbert juga baru selesai makan malam bersama Lira dan gadis kecil yang selalu menggemaskan itu.
"Sama-sama sayang, iya... mau tidak kapan-kapan om ajak menjumpai papa, dan mama om?"
"mau dong om, Ria sangat senang bisa punya kakek dan nenek."
"Kamu mau jugakan dek?"
"iya kak aku mau kok, aku juga sangat bersyukur memiliki orang tua."
"Iya sudah sekarang kita pulang ya, sudah malam besok kamu harus kuliahkan?"
Gilbert mengantar kedua wanita yang sudah mulai mengisi hati dan hari-harinya.
Gilbert langsung pulang ketika keduanya sudah masuk ke dalam rumah.
Sampai di rumah kedua orang tuanya masih menunggu dia pulang sambil menonton televisi.
"Pa, ma kok belum tidur?"ujar Gilbert karena melihat kedua orang tuanya masih menonton.
"Menunggu kamu sayang, lagian kami juga belum mengantuk, oya... apa kamu sudah makan?"
"sudah ma, sekarang papa dan mama istirahat ya, aku baik-baik saja."
Ketika kedua orang tuanya masuk ke kamar dia juga segera berlalu menuju kamar karena masih harus membersihkan dirinya.
Sebagai seorang pria yang sudah dewasa, dia merasa bahagia bisa dekat dengan Lira, selama ini dia tidak sempat mencari cinta karena sibuk mengurus kedua orang tuanya yang sering sakit setelah mereka bangkrut.
Segala tenaganya hanya untuk bekerja untuk membalas segala kebaikan Edo.
Mungkin jika Edo tidak membantunya sudah lama kedua orang tuanya meninggal, maka sebagai balasannya dia bekerja dengan baik.
Lagian mencari wanita yang juga mau menerima kenyataan dengan kedua orang tuanya tidaklah mudah, sering kali hanya dia yang di harapkan tidak dengan orang tuanya.
Harapannya hanya Lira gadis tulus yang dia kenal beberapa bulan ini.
Bersambung
__ADS_1
Like.. dong biar tambah semangat nic.