
Sudah tiga hari ibu May berada di rumah sakit, keadaannya semakin membaik, dokter masih belum mengizinkan untuk pulang sebab keadaan ibu May masih harus ditangani.
May dan ibunya sudah berulang kali minta pulang, tapi atas saran keluarga Andre maka dokter belum mengizinkan.
May dan ibunya merasa tidak enak hati, mereka tahu biaya di rumah sakit ini cukup mahal.
Siang ini ketiganya datang berkunjung setelah selesai makan siang.
"Bu,bagaimana keadaannya?"
"sudah lebih baik bu kami sudah bisa pulang,"jelas ibu Mey.
"Tidak bisa bu, jika dokter belum kasih izin," jelas mami Andre.
"Tapi bu, kami..."belum lagi selesai ucapan ibu May, mami Andre sudah memotongnya.
"tidak usah di pikirkan soal biaya kami ikhlas menolong ibu, yang penting ibu cepat sembuh karena ibu masih di butuhkan oleh anak ibu."
"Baiklah bu," jawabnya pasrah.
Setelah berbincang-bincang beberapa saat akhirnya keluarga Andre kembali ke kantor.
Hari ini sebenarnya ada pertemuan penting yang akan di hadiri oleh Edo dan Bertha.
Sampai di kantor mereka segera menuju ruangan yang sudah di persiapkan oleh Gilbert.
Pak Wo sudah tidak bekerja lagi tapi anak keduanya yang menggantikan posisinya.
Edo sangat senang karena kinerjanya hampir sama dengan pak Wo.
Satu minggu telah berlalu, ibunya May sudah boleh pulang, dan rencananya Andre akan menjemput mereka setelah pulang kuliah, tapi yang membuat dia bingung entah kenapa Dia merengek untuk di jemput.
"Bang... aku mau di jemput sama abang titik."
"Tapi dek nanti siang abang ada urusan sama Dio saja ya."
"Nggak mau bang, kalau abang tidak mau ya sudah, aku tidak mau sekolah," ujar Dia merajuk.
"Iya sudah bang, biar papi dan mami yang ganti abang, makanya papi bilang jangan terlalu memanjakan adikmu."
Andre akhirnya menyerah pada usul papinya.
Selesai sarapan seperti biasa mereka berangkat menuju sekolah sikembar sedangkan Andre sudah bawa mobil sendiri.
Edo dan istrinya harus mengubah jadwal mereka, rencananya mereka akan mengunjungi perkebunan kelapa sawit mereka beserta pabriknya.
"Berarti kita tidak jadi ke pabrik pi?"tanya Bertha lembut.
"Tidak sayang kasihan si abang bingung karena permintaan adiknya."
"Iya juga sih pi."
"Mi tolong suruh Gilbert menghubungi pihak pabrik, untuk menunda besok saja."
"Baiklah pi."
Sibuk dengan beberapa pertemuan dan pekerjaan lainnya membuat Bertha baru bisa menarik nafas lega setelah semunya selesai.
Jam dua mereka berangkat menuju rumah sakit, karena mereka sudah berjanji akan menjemput May dan ibunya.
Setelah semua diurus oleh Gilbert,akhirnya mereka melaju menuju rumah May.
Rumah itu sangat tergolong kecil, mungkin sebentar hanya sebesar kamar mandi Gilbert.
Ada rasa kasihan pada diri Gilbert, melihat situasi rumah tersebut.
Kasihan sekali mereka ini, tapi syukurlah mereka bertemu dengan keluarga Edo sahabatnya yang dermawan dan baik hati.
Gilbert percaya pasti akan ada perubahan untuk mereka.
Dengan segelas teh hangat menemani mereka duduk beralaskan tikar.
"Trimakasih banyak pak, bu sudah membantu kami," ujar May tulus.
"Sama-sama nak."
"Oya iya apa kamu masih sekolah?"
__ADS_1
"tidak lagi pak, sesudah tamat SMA saya bantu ibu jaga ayah yang sakit, dan kemarin dua bulan bekerja sama rentenir karena tidak bisa bayar bunga uang yang ibu pinjam."
"Iya sudah nanti akan kami urus agar kamu bisa kuliah, kebetulan i ini baru memasuki tahun ajaran baru."
"Beneran pak?"
"iya benaranlah, masa bapak bohong,"ujar Gilbert.
Edo dan Bertha tertawa mendengar perkataan Gilbert, bukan hanya karena kataannya tapi juga cara bicaranya.
"Kamu tidak apa-apakan jika kuliah?" tanya Bertha memastikan.
"Itu impiannya bu, tapi karena keadaan kami jadi tidak bisa terwujud," jelas ibu Mey.
"Baguslah kalau begitu, semua akan kita urus, kamu persiapkan hatimu, ok."
"Trimakasih bu," sekali lagi Mey mengucapkannya dengan sangat tulus.
Mereka akhirnya meninggalkan rumah May.
Sementara itu Andre terlihat hanya diam tanpa ada niat untuk menjawab semua cerita Dia.
Dia yang merasa heran akhirnya bertanya.
"Abang marah sama Dia?"
Andre terkejut mendengar pertanyaan adiknya tapi tetap hanya diam hingga membuat Dia kesal.
Dia memilih untuk diam hingga sampai di rumah, Dia langsung menuju kamar tanpa melihat kiri kanan dan ternyata sudah ada kedua orang tuanya beserta Dio.
"Woi... disini ada orang lewat saja seperti di jalan tol."
Dia tidak peduli dengan ucapan saudara kembarnya, dengan tetap melanjutkan langkahnya.
Dio yang merasa heran dan merasa tidak enak hati langsung menyusulnya.
Andre mengerutkan keningnya merasa bersalah karena sudah membuat adiknya marah.
"Ada apa bang?"tanya maminya karena jujur beliau sangat kwatir sama putrinya.
"Entahlah mi, tadi Dia cerita tapi abang tidak tanggapi makanya marah."
"nggak sih mi, tapi ada kesal memang, saat dia banyak bicara aku rasanya kesal."
"Nak... mami harap jangan terlalu memaksanya menerima keadaan kamu, sebab sudah biasa abang manjakan ,akan merasa aneh baginya."
"Inilah yang papi takutkan selama ini, papi takut adik kamu tidak bisa terima ada wanita lain yang merebut perhatian kamu."
"Papi apaan sih?"ujar Andre malu.
"Papi tahu bahwa kamu tadi ingin sekali menjemput May,makanya kamu kesal pada adikmu," jelas papi Edo.
"Sudah tidak apa-apa nanti mami bantu bicara,tunggu biar mami panggil mereka untuk makan."
Mami Bertha langsung beranjak dari duduknya, saat di depan pintu kamar putrinya dia melihat Dio sedang menghibur.
"Hei kamu kenapa sih? ayo kamu cerita sama aku, tidak enak tahu lihat wajah sedih kamu."
"Tidak ada apa-apa sana abang pergi, aku mau sendiri."
"Aku ini kembaran kamu, jadi apa yang kamu rasakan aku juga merasakannya."
"Tidak ada apa-apa,aku lagi dapat jadi perut aku sakit sana pergi," bentak Dia emosi.
"Iya sudah abang keluar jangan marah, mau aku bawa makanan?"
"tidak usah aku tidak lapar,"jawab Dia sambil mengunci pintu kamarnya.
Dio yang terkejut mendengar suara bantingan pintu kamar kembarnya berbalik kembali, hingga dia dan maminya saling tatap.
Dio merasa sedih melihat adik kembarnya sampai marah seperti itu.
"Sudah kita biarkan adik kamu sendiri dulu,ayo sebaiknya kita makan dulu ya."
Mami dan Dio turun untuk menemui papi dan abangnya, entah kenapa Dio ikut marah pada Andre.
"Ada apa Dio?" tanya papinya merasa heran atas tatapan Dio pada abangnya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa pi," jawab singkat Dio.
Walau sudah mendengar perkataan anaknya Edo masih belum puas, dia merasa ada yang tidak beres.
Mereka makan dengan diam, hanya ada suara sendok,hingga menjadikan suasana sangat hening, keheningan itu membuat mereka makan tanpa menikmati.
Setelah selesai makan Andre langsung masuk ke kamarnya, dia membersihkan diri lalu berusaha memejamkan matanya, tapi tidak bisa sama sekali.
Andre bangkit dari ranjang dan berjalan menuju kamar Dia.
Tok... tok... tok.. Andre mengetuk pintu kamar Dia,tapi tidak ada jawaban.
"Dia.. buka pintunya, abang mau minta maaf."
Tidak ada jawaban dari dalam membuat Andre kembali ke kamarnya.
Sedangkan orang yang ada di kamar juga tidak ada suara karena sudah sangat lelap.
Dio menghampiri abangnya ke kamar, saat Dio masuk Andre sedang termenung.
"Itulah sebabnya bang aku tidak suka jika Dia terlalu di manjakan, sedikit saja abang tidak sesuai keinginannya maka dia akan merasa terasing."
Andre hanya diam setelah bisa menetralkan rasa terkejutnya.
"Maafkan abang Dio, ini memang salah abang, tapi sungguh aku tidak berniat untuk membuat Dia marah."
"Orang bodoh juga tahu itu bang, jika abang sengaja berarti abang sungguh terlalu."
Melihat Dio emosi akhirnya Andre diam, dia tahu mungkin darah Dio yang lebih dekat dengan adik perempuannya sebab mereka hidup bersama di dalam kandungan maminya.
"Maafkan abang Dio, percayalah abang akan segera membereskannya."
Dio tidak menjawab, tapi dia meninggalkan kamar Andre.
Andre semakin merasa bersalah karena sudah membuat kedua adiknya marah.
Andre merasa pusing akhirnya mengambil jaket dan kunci mobilnya, dia menuju cafe milik papinya.
Sekarang Andre yang bertanggung jawab atas cafe tersebut.
Sampai malam Andre tidak pulang kerumah membuat papi dan maminya merasa kwatir.
"Pi bagaimana ini?"
"Sabar mi, mungkin sebentar lagi abang pulang."
Edo menelepon Andre dan tidak butuh waktu lama Andre sudah menerima panggilan itu.
"Iya pi ada apa?"
"kok ada apa sih bang? ini sudah malam loh, abang tidak ada kabar papi dan mami sangat kwatir."
"Maaf pi, aku tidak sadar jika sudah malam,aku ada di cafe pi, iya sudah sebentar lagi abang segera pulang."
"Baiklah papi dan mami tunggu, hati-hati."
Andre segera membereskan mejanya, beberapa laporan keuangan dia bawa pulang, dia tidak mau membuat kedua orang tuanya semakin kwatir.
Sampai di rumah Andre masih di tunggu oleh kedua orang tuanya.
"Mami dan papi belum tidur?"
"mana mungkin mami bisa tidur jika anak mami belum juga pulang."
"Maafkan abang pi, mi,"ujar Andre tulus.
"Iya sudah kamu sudah makan?"
"belum pi," Andre memang belum sempat makan.
"Ayo kamu langsung makan biar naik ke kamar, kami sudah makan tadi."
Andre menikmati makananny sambil ngobrol bersama kedua orang tuanya.
Setelah selesai makan akhirnya mereka menuju kamar masing -masing.
Bersambung
__ADS_1
Like dan komentarnya dong.