APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 34.Jangan Menangis


__ADS_3

"Kamu tulis apa sayang?"rupanya Bertha hanya melukiskan isi hatinya pada coretan yang akan dia tempel, sedikit tersenyum tapi air matanya mengalir membasahi pipinya itu.


Edo yang melihat Bertha menangis, terdiam sejenak dan membiarkan Bertha melupakan isi hatinya dengan menangis.


Lelah melihat Bertha menangis Edo membawa Bertha ke dalam pelukannya.


"Cukup sayang, tidak perlu kamu selalu mengeluarkan air mata untuk orang yang tidak pernah mencintaimu."


Ingatlah bahwa masih banyak orang yang sedang tulus mencintaimu.


Edo menghapus air mata Bertha lembut.


"Sudahlah sekarang mari kita nikmati keindahan alam semesta ini,yang telah diberikan oleh Tuhan dengan percuma."


Edo menatap gadisnya dengan penuh cinta, rasanya hati Edo ikut menangis melihat kesedihan di mata gadisnya.


Tapi jika Edo ikut melakukan itu, siapa yang akan menguatkan gadis cantik yang ada dihadapannya.


"Jalan kesana yo ajak Edo menunjuk sebuah pohon rindang."


Sampai di bawah pohon, Edo mengajak Bertha melepaskan segala sesak di dadanya dengan mengajak Bertha berteriak.


"Sayang masih ingat nggak sewaktu dokter kasih terapi beberapa bulan yang lalu? kita praktekkan yo."


"Yang mana, soalnya terapinya banyak sekali,"jadi sebutkan dong rengek Bertha manja.


"Kita bersorak bersama siapa yang lebih kencang dan lama itu pemenangnya."


"Boleh, siapa takut."


Satu.. dua.


tiga..


Wa. ..


.........


.......aw


Secara bersama kedua insan itu berhenti tanpa ada yang mengkomando.


Sambil menatap akhirnya mereka tertawa bersama.


"Mau sekali lagi?"tawar Edo yang dibalas gelengan oleh Bertha.


"Kita kesana," tunjuk Bertha pada sebuah pohon besar, dengan ranting besar pula tetapi hanya berjarak satu meter dari tanah.


Bertha melompat dan duduk di ranting pohon besar itu, Edo melihat Bertha sudah duduk santai lalu mengikutinya.


"Rupanya kamu bisa juga seperti monyet," ejek Edo sambil terkekeh.


"Kalau aku monyet lalu apa bedanya dengan kamu," ejek Bertha balik.


Edo tambah tertawa sampai menunjukkan gigi putihnya sehingga menambah ketampanannya.


Bertha ikut tertawa, saking senangnya melihat Edo bisa tertawa bebas.


"Sayang aku senang bisa menemanimu, sehingga tertawa bebas bersama ku."


"Trimakasih sudah selalu berusaha buat aku tertawa."


Edo tidak menjawab ucapnya Bertha, malah menarik Bertha dalam pelukannya.


Sampai beberapa waktu mereka bertahan dalam keadaan saling memeluk.


Bertha yang merasa nyaman bisa bersama orang yang sangat dia cintai, membuat Edo semakin merapatkan pelukannya.


"Aku tidak bisa bernafas tahu,"gerutu Bertha barulah Edo melonggarkan pelukannya.


"Maaf sayang, karena pelukannku sehingga kamu sulit bernafas,"ucap Edo sambil mengelus rambut panjang Bertha dengan lembut.

__ADS_1


Sudah sore kita turun yo, nanti keburu dingin untuk pulang, jelas Edo.


Akhirnya turun dari pohon itu menuju pondok untuk mengambil barang bekas makan mereka tadi.


"Ayo ajak Edo," sambil mengulurkan tangannya kepada Bertha, dan bertha menyambut tangan itu dengan senyum merekah.


Mereka menapaki anak bukit satu persatu hingga akhirnya mereka sampai di halaman rumah singgah dengan sedikit nafas memburu.


"Kamu lelah sayang?" sini ucap Edo sambil menarik Bertha duduk di pangkuannya.


"Aku berat Edo," seru Bertha merasa bersalah, karena dia tahu Edo juga sangat lelah menuruni anak bukit, bahkan kadang menggendong tubuh Bertha.


"Iya tapi aku senang sayang,"bisa dekat seperti ini, ucap Edo sambil mengeratkan lingkaran tanganya pada pinggang Bertha.


Edo mendaratkan ciuman pada gadis yang sangat dia cintai.


Perlahan Edo mengesap lembut benda kenyal milik kekasihnya.


Terkadang menggigit kecil agar gadis itu membalas ciuman hangat menjadi ciuman panas itu.


Edo melepaskan pangutannya karena tidak ingin membuat gadisnya mati karena kehabisan nafas.


"Sayang mandi yo," sudah sore besok pagi kita pulang, jadi malam ini kamu harus banyak istirahat agar besok tidak kelelahan.


Bertha mengangguk dan kemudian turun dari pangkuan Edo.


Memasuki rumah untuk nenuju kamar masing -masing.


Sesampai di kamar, Bertha langsung membersihkan diri lalu membaringkan tubuhnya di ranjang.


Lelah sepanjang hari ini, Bertha berusaha langsung memejamkan matanya.


Edo yang sudah selesai mandi datang menghampiri Bertha yang hampir pulas.


"Sayang, jangan tidur dulu," kita makan malam dulu ayo, ajak Edo sambil menarik tangan Bertha lembut.


"Aku ngantuk yang,sudah malas untuk jalan ucapnya manja."


"Ya sudah aku ambilkan dulu,"tapi kamu tidak boleh langsung tidur, ucap Edo sebelum berlalu menuju ke dapur.


Bertha mengambil alih sendok setelah dia merasa kenyang,lalu menyuapi Edo.


Setelah nasi dalam piring habis, mereka menghabiskan teh yang di bawa oleh Edo.


Beberapa menit mereka duduk untuk menungggu makanan mereka turun ke dalam perut dengan sempurna.


"Sayang tidurlah jika sudah mengantuk ucap Edo," yang ingin mengantar piring bekas makan mereka.


Tapi aku sudah tidak nggak ngantuk lagi, aku mau disini sama aja kamu.


"Iya sudah aku temani deh,"tapi aku siapkan ini dulu,tutur Edo sambil menyelesaikan pekerjaannya.


Beberapa menit kemudian,Edo menghampiri Bertha setelah selesai mencuci piring mereka.


Edo duduk disamping Bertha, sambil menononton video dari ponsel android Edo.


Belum selesai vidio yang mereka tonton,Bertha sudah tertidur, Edo yang tidak tega melihat Bertha akhirnya membaringkannya dengan berbantalkan pahanya.


Edo mengangkat tubuh Bertha ke kamar, dan membaringkan tubuh Bertha di ranjang.


"Selamat tidur sayang semoga mimpi indah," ucap Edo setelah mencium kening Bertha.


Setelah menarik selimut Bertha hingga menutupi tubuh Bertha hingga sebatas leher,Edo meninggalkan kamar Bertha.


Edo kembali ke kamar miliknya, Edo perlahan membuka leptopnya dan memulai pekerjaannya.


Satu jam lamanya Edo berkutak dengan leptopnya, ia berhenti setelah merasa mengantuk.


Edo merebahkan tubuhnya diranjang empuknya untuk menghilangkan rasa lelah dan ngantuknya.


Pagi hari mereka bangun untuk bersiap untuk pulang setelah dirinya sudah selesai, Edo menjumpai Bertha.

__ADS_1


Bertha yang baru selesai mandi, nampak terlihat segar, membuat Edo terpesona.


"Sayang cepat ganti baju,"sebelum aku tidak bisa menahan diri nic goda Edo yang membuat Bertha langsung berlari ke kamar mandi untuk berpakaian.


Selesai berpakaian Bertha menuju meja rias,untuk menyisir rambutnya.


Perlahan Edo mendekati Bertha dan mengambil alih untuk menyisir rambut Bertha.


"Aku bisa sendiri yang," ucap Bertha sambil berusaha mengambil sisir dari tangan Edo.


"Aku tahu sayang, tapi aku mau menyisirnya jangan ribut deh."


Selesai menyisir rambut panjangnya Bertha, Edo mengikatnya setelah dikepang.


"Sudah selesai ayo," ajak Edo sambil memberikan sisir pada Bertha.


Edo membawa barang milik dirinya dan milik Bertha.


Sampai di mobil Edo memasukkan semua barang mereka, dan membuka pintu mobilnya dan duduk di bangku kemudi.


"Kamu yakin bawa sendiri?"aku Bertha yang tidak pernah melihat Edo menyetir sendiri jarak jauh membuat Bertha ingin bertanya.


"Iya yakinlah, nanti kalau aku lelah kita bisa istirahat dulu."


"Atau kamu tidak yakin sama aku?" tenang aja aku juga tidak mau membuat kamu terluka sayang.


"Bukannya begitu sayang," aku kwatir saja, soalnya tidak pernah lihat kamu nyetir dengan jarak jauh.


"O... begitu,"Trimakasih ya sudah menghuwatirkan aku.


"Iya jelas dong," masa aku tidak risau sama orang yang selalu ada untuk aku.


"Oya besok kita jadi berangkat ke tempat papakan?".


"Jadilah aku tidak keberatan, lagian kita tidak ada kegiatan juga, tapi sudah bilang sama papa belum."


"Kemarin sudah sih,"tapi tidak apa nanti aku permisi lagi.


Banyak hal yang mereka ceritakan hingga mereka berhenti di sebuah rumah makan siap saji.


"Ayo kita isi perut,"aku sudah sangat lapar jelas Edo yang melihat Bertha bingung.


"Memang sekarang kita sudah sampai di mana?"Bertha yang asyik dengan pemikirannya sendiri tidak menyadari bahwa mereka sudah sampai di rumah makan.


Bertha mengikuti Edo dari belakang, hingga mereka sampai di meja kosong.


Edo menarik kursi untuk Bertha, baru untuk dirinya sendiri.


"Mau lauk apa yang?"tanya Edo yang sudah siap untuk memesan makanan dan minuman untuk mereka.


"Ikan panggang saja yang,"sepertinya aku pengen, jelas Bertha.


Edo segera memesan untuk makan mereka,kemudian duduk kembali menghampiri Bertha.


Makanan yang mereka pesan telah sampai, segera mereka menyantapnya.


Setengah jam kemudian, mereka telah selesai makan, segera mereka berjalan menuju mobil milik Edo untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Sesudah kenyang jadi ngantukdeh,ucap Bertha sambil mengelus perut ratanya.


"Kamu tuh iya," sama seperti apa tahu.


"Apa...!"teriak Bertha pada Edo.


He... kekeh Edo, untuk menanggapi ucapan Bertha.


"Jangan emosi sayang," aku hanya bercanda cantik kamu serius banget.


Bertha cemberut atas ucapan Edo,yang membuat Edo semakin gemas melihatnya.


Aku sangat menyayangi sayang, aku hanya bercanda, jangan marah dong.

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa ya untuk dukung melalui vote dan like.


__ADS_2