
"Abang sudah lama tidak jalan sama om Pino, kangen aku mi."
"Kamu tinggal temui om kamu sayang, kok susah."
"Itulah mi kadang karena sibuk jadi lupa."
"Kamu itu bang seperti presiden sibuknya sampai pertemuan keluarga sudah berapa kali tidak ikut."
"Oh... iya kita kumpul keluarga besar kapan mi, ternyata sudah lama aku tidak pernah ikutan."
"Minggu depan bang, usahakanlah waktunya, soalnya kita berencana untuk kumpul di vila."
"Iya deh mi, abang usahakan."
"Harus sayang soalnya kamu yang akan mengatur adik kamu jadi berusaha mulai sekarang."
Beberapa menit kemudian kedua adik kembarnya turun dengan canda seperti biasa.
"Wah ceria bangat, tadi makan apa sama om?"
"Nggak makan yang aneh kok bang, ini ceria bukan karena makanan tapi karena bahagia banget."
"Oh...abang senang dengarnya."
"Iya harus bang, tapi sayangnya abang tadi tidak ikut seru tahu."
"Iya sudah yo kita makan."
Semua beralih menuju meja makan, dengan suasana yang penuh cinta mereka menikmati makanan yang sudah di sediakan oleh asisten rumah tangga mereka.
Bertha tidak pernah di ijinkan oleh Edo untuk memasak, bagi Edo istri bukan untuk tinggal di dapur.
Istri harus merawat suami dan anak tapi tidak juga harus tinggal diam di rumah.
Bagi Edo dengan membawa istrinya ikut serta dalam pekerjaan sudah sangat menolong karena dia akan memiliki semangat penuh.
Pekerjaan rumah tangga juga sudah ada yang mengerjakannya.
"Bang... aku mau itu,"ujar Dia membuat Andre tersenyum bahagia, soalnya sudah beberapa hari terakhir ini, hubungan mereka semakin jauh.
Segera Andre mengambil dan meletakkan di piring Dia.
"Trimakasih abangku sayang,"ujar Dia tulus.
"Sama-sama dek, sudah makan banyak biar tambah kuat."
"Dia itu kuat ya, buktinya Dia tidak mau nangis."
"Iya abang percaya, tapi satu hal yang tidak kamu kuat."
"Apa?"
"Marahan sama abang."
"Sama juga tuh, abang juga tidak bisa marahan sama aku iya kan?"
"iya dong kamu itu adek kesayangan abang."
"Sudah habisin dulu makanannya, nanti keburu dingin."
''Baiklah mamiku sayang."
Akhirnya mereka makan dengan nikmat hingga makanan dalam piring masing-masing sudah kandis.
Mereka segara pindah tempat menuju ruang keluarga untuk bersantai di depan televisi.
Bercanda ria bersama membuat hati mereka terasa bahagia hingga tanpa mereka sadar ternyata sudah larut malam.
"Uya.... sudah jam sepuluh saja,"ujar Dia ketika papinya menyuruh untuk tidur.
"Ayo tidur, ajak Andre sambil menarik tangan adiknya.
"Selamat tidur adikku sayang, mimpi indah ya."
"Selamat tidur juga abangku sayang,mimpi ibdah."
__ADS_1
Semua kembali ke alam mimpi hingga dunia seolah tidak pernah ada beban, damai dan aman bersama dinginnya malam membawa segala beban hidup.
Pagi hari semua berjalan seperti biasa,sarapan bersama, berangkat bersama.
Kegiatan yang sama tapi tetap membawa makna dalam.
Pagi ini setelah turun dari mobil Dio dan Dia menuju kelas mereka.
Dalam perjalanan menuju kelas, tanpa sengaja Dio melihat gadis yang dia cintai sedang ciuman dengan kakak kelas mereka.
Dia juga melihat aemua, sebenarnya Dia sudah tahu tentang cewek yang di pacari saudara kembarnya, tapi karena cinta Dio seolah tidak mendengar perkataan adiknya.
"Itu gadis baik yang abang bilang? tidak nyagka ternyata dia begitu rendah."
"Sudah yo kita masuk."
Sepanjang pelajaran berlangsung karena Dio tidak bisa konsentrasi sama sekali.
Hatinya masih sakit atas perlakuan gadis yang dia bela hingga hubungan dia bersama adiknya renggang.
Istirahat pertama Dio tidak keluar dari kelas, hatinya belum bisa menerima pengkhianatan wanitanya.
Melihat saudara kembarnya tidak beranjak dari duduknya Dia membawa makanan dan minuman untuk Dio.
"Ini minum melamun melulu, masalah tidak selesai hanya berdiam diri tahu."
Walaupun merasa malu pada adik kembarnya, Dio akhirnya menerima minuman yang ada di tangannya Dia.
"Makasih... "ujar singkat Dio.
Walaupun ada rasa kecewa dalam hati Dia,tapi dia tidak tega juga membiarkan saudaranya kelaparan.
"Ini juga harus di makan,"ucap Dia sambil memberikan kotak nasi goreng yang dia makan.
"Iya dek, memang kamu pikir aku selemah itu apa."
Dio menghabiskannya makanannnya dan sementara itu Dia tersenyum melihat abangnya sudah menyadari kesalahannya selama ini.
Saat bel masuk berbunyi Dio sudah menghabiskan makanannya.
Pelajaranpun sudah mulai ,Dio berusaha untuk duduk dan memperhatikan pelajaran dengan baik.
Saat semua pelajaran sudah selesai Dio berniat pulang dengan adik kembarnya, tapi cewek yang sudah berhasil membuat dia jatuh cinta dan sekaligus menyakitkan hatinya.
"Kamu kenapa menghindari aku mulai tadi? "
"Tidak apa-apa hanya saja aku? mau putus dengan kamu."
"Kamu apa-apaan sih? tidak ada hujan tiba -tiba minta putus."
"Aku tidak suka cewek yang suka mempermainkan banyak pria, banhkan memberikan tubuhnya di sentuh sana sini."
"Maksudnya apa? "
"pikir saja sendiri, apa yang kamu lakukan tadi pagi di lorong sekolah percis di balik gudang."
"Ak... aku itu... "gagap itulah yang terjadi karena sudah terperangkap.
"Tidak perlu kamu jelaskan, aku hanya mengingatkan supaya kamu tidak merasa suci saja."
Setelah mengatakan itu Dio berlalu menuju mobil karena Dia sudah menunggunya.
Sampai di mobil Dio melihat adiknya sudah duduk manis menunggu kedatangannya dengan eskrim di tangan.
"Ini buat abang satu."
Dio menerima pemberian adiknya dengan senyuman terpaksa membuat om Gilbert tertawa.
"Ha.... ha... wajah kamu sangat jelek anak muda."
Dio hanya diam karena memang itulah kenyataannya.
"Kamu sedang patah hati karena cinta?"
"ah om jangan ngejek dong."
__ADS_1
"Om tidak mengejek tapi melihat wajah jelek mu itu om sudah tahu."
"Itulah cinta anak muda, maka jangan ketika kamu jatuh cinta kamu lupa akan semuanya."
"Iya om."
"Apalagi menyakiti orang yang ada di sekitar kamu hanya demi seorang wanita, itu jangan terulang kembali, soalnya mereka yang akan selalu ada di samping kamu."
"Iya om, aku janji."
"Iya sudah sekarang kamu mau kemana? om dan princesnya om akan menemani kamu."
"Pulang saja om."
"Yakin kamu?"
"Om bisa kok menemani jika kamu mau."
"Kita makan di cafe yang kemarin om, sepertinya asyik itu, usul Dia karena Dio hanya diam."
"Kamu suka di sana princes?"
"suka om, suasana alamnya sejuk."
"Iya sudah kita ke sana untuk menemani pria galau ini."
Gilbert membawa kedua anak bosnya sekaligus anak sahabatnya yang selalu ada di setiap kesulitannya ketika kedua orang tuanya masih ada hingga sampai sekarang.
Beberapa jam kemudian mereka sudah sampai di sebuah cafe di dekat pesawahan dengan suasana alam yang sungguh indah.
Sambil menikmati secangkir kopi untuk menunggu pesanan mereka datang.
Dio yang baru pertama datang juga nampak menyukai tempatnya.
"Tempatnya bagus banget ya om."
"Pasti dong mana mungkin om kasih kamu tempat yang jelek."
"Tempatnya bagus tapi yang pastinya kamu lebih suka lagi dengan menunya."
"Iya pasti bang panggang ikannya sangat enak, di sajikan ketika masih baru matang."
Dia berjalan menuju balkon cafe, ia ingin melihat hamparan pesawahan yang luas secara dekat.
Pemandangan yang selalu ia rindukan karena selama ini tidak pernah melihat yang alami jika berada di kota.
Melihat pelayan membawa pesanan mereka ke tempat om dan abangnya Dia akhirnya menghampiri mereka.
"Wah.... ikan kesukaan ku."
Saat mereka sedang menikmati makanannya Andre memasuki cafe bersama seorang pria yang lebih tua dari dia.
"Om itu si abang ngapain?"
"Kerja sayang."
"Kok kerja di sini?"
"iya karena cafe ini milik Andre."
"Masa sih om."
"Iya masa om bohong sih."
Sedang Andre setelah selesai berbicara dengan manajer cafe ia pulang, walaupun dia tahu om dan kedua adiknya berada di sana dia tidak menghampirinya karena iapun ingin memberikan waktu.
Makanya kamu itu tidak boleh seperti selama ini, lihat abang kamu bisa mengikuti jejak papi kamu.
Dia hanya diam sambil menikmati makannya.
Sebenarnya ia juga salut dengan abangnya yang mengikuti jejak sang papi.
Bersambung.
Jangan lupa like.... like.... like dong.
__ADS_1