
Hati Dia sangat bahagia hari ini, walaupun masih tetap harus di supir tapi Dia sangat bahagia.
Semua temannya bisa bawa mobil dengan menyetir sendiri, selama ini Dia selalu di ejek oleh teman-temannya, katanya sih anak mami, tapi bagi Dia tidak masalah karena ia bisa merasakan kehangatan dari kedua orang tuanya serta abangnya.
Jika saat ini dia dapat fasilitas seperti itu, ia sangat bahagia karena memiliki mobil,walaupun harus di supiri.
Saat ini Dia menikmati naik mobil bersama om Gilbert,sifar humor yang di miliki oleh om Gilbert membuat Dia tertawa bahagia.
"Kamu mau ikut ke kantor nanti pulang sekolah atau mau pulang princes?"
"ikut ke kantor boleh?"
"boleh dong apa yang tidak boleh sama putri secantik kamu."
"Iya sudah om, aku mau kok ke sana."
"Sudah sampai princes silahkan turun."
"Trimakasih banyak om, selamat bekerja."
"Trimakasih sayangku, kamu juga yang baik belajarnya."
"Ok om."
Selepas Dia turun untuk memasuki gerbang sekolah, Gilbert tidak langsung pulang ia akan memastikan apakah Dia sampai di depan sekolah.
Setelah Dia sudah tidak kelihatan lagi, Gilbert baru meninggalkan wilayah sekolah.
Dengan kecepatan sedang akhirnya Gilbert sampai di kantor.
Dia sampai di sekolah langsung menuju kelas.
Tidak perlu waktu lama bel akhirnya berbunyi tanda pelajaran akan segera mulai.
Dio tersenyum bahagia melihat adiknya sudah kembali ceria.
Dia dan Dio mengikuti mata pelajaran pertama dengan sangat serius.
Bel berbunyi tanda waktu jam istirahat baru akan di mulai, para siswa segera mencari kesibukan seperti biasa.
Dia dan kedua temannya mereka menuju kantin sekolah.
Sampai di kantin segera mereka memesan makanan yang mereka sukai.
Dia memesan makanan untuk dia yang yaitu soto.
"Eh Dia tumben papimu boleh kamu tidak bareng saudara kembar kamu?"
"siapa bilang nggak sama? pagi kami bareng papi dan mami, kalau siang baru aku naik mobil sendiri, walau harus di supiri oleh om aku."
"Begitu ya aku pikir kamu itu berangkat dan pulang sendiri -sendiri."
"Nggak tuh, masih bareng papi dan mami aku juga suka kok."
"Aku sih salut melihat keluarga kamu, andai keluarga aku bisa seperti keluarga kamu aku sangat bahagia."
"Sudahlah tidak perlu sedih,suatu saat mereka pasti akan berubah."
"Tapi perasaanku mereka semakin jauh Dia, jangankan makan kadang satu minggu,kami tidak pernah bertemu."
"Sabar Vin,kita berdoa semoga mereka berubah."
"Aku sudah habis kesabaran Dia,aku sudah pasrah dengan semuanya."
"Iya sudah yo kita tidak usah mikirin masalah berat, mending kita cerita lain."
"Iya nih Vin, aku mau makan banyak saja."
"Ha... itu lebih baik, ayo kita lomba siapa yang menang dia bebas traktir dua hari."
"Jadi kamu mau nantang Vin?"
"iya tapi tadi ngajak makan."
"Ok siapa takut."
"Satu... dua... tiga, mulai."
__ADS_1
Ketiga sahabat itu memulai perlombaan makanan mereka, sebenarnya Dia tidak menikmati makannya karena ada rasa kasihan pada temannya itu.
Jika dia kasih sayang kedua orang tuanya penuh, bahkan ia terlalu manja kepada papi dan maminya serta kedua abangnya.
Tapi sahabatnya Vinta saudara tidak punya, Kekuarga juga tidak ada harmonis.
Tidak jauh dari Dia Septi juga merasa sama dia sangat tidak tega melihat Vinta, dia bukan dari keluarga kaya tapi soal keharmonisan jangan di tanya Septi sangat bahagia.
Kedua orang tuanya berprofesi sebagai guru membuat Septi penuh perhatian apalagi dia anak bungsu dari empat bersaudara.
Karena keduanya sibuk dengan pikiranya masing-masing, akhirnya Vinta yang jadi pemenang.
Vinta yang memuaskan kecewanya pada makanannya maka tidak butuh waktu lama dia menghabiskannya.
"Kalian sengaja tidak makan ya?"
Keduanya tersadar setelah mendengar perkataan Vinta.
"Ha... apa?"
"kalian dua kenapa?"
"tidak apa-apa kok Vin."
"Kamu yang menang deh, jadi kami tinggal nunggu traktirannya, ok sayangku."
"Ok siapa takut juga, kalian mau traktir apa?"
"makan di kantin sajalah."
"Baiklah mulai sekarang atau besok nic?"
"sekarang boleh besok juga boleh."
"Iya sudah mulai sekarang saja."
Tawa renyah terdengar dari ketiga gadis itu hingga mengundang perhatian para siswa yang ada di dana.
Bel berbunyi tanda istirahat telah usai, ketiga sahabat itu meninggalkan kantin dan mereka berjalan menuju kelas.
Kembali serius untuk mengikuti mata pelajaran berikutnya, hingga waktu belajar telah selesai.
"Siang om."
"Siang sayang ayo masuk, punggung om sudah pegal nic."
"Sudah lama menunggu om?"
"iya sekitar setengah jam lalu."
"Tadi ada anak cowok yang bermasalah om, jadi kami kena semua deh."
"Namanya satu kelas sayang, salah satu ya salah semua."
"Kamu mau langsung pulang?"
"iya om tugas untuk besok belum siap bukunya tinggal di rumah."
"Iya sudah, om juga masih banyak pekerjaan."
Akhirnya mereka sampai setelah beberapa menit kemudian.
Dia turun sementara Gilbert melanjutkan perjalanan menuju kantornya.
Sampai di rumah Dia mengganti pakaiannya lalu menuju ruang makan untuk makan siang.
Setengah jam kemudian Dia mengerjakan tugasnya untuk esok hari.
Selesai mengerjakan tugas Dia turun dan ternyata Dio baru saja sampai.
"Antar kemana cewekmu kok baru pulang?"
"kerumahnyalah masak ke sekolahan, kan baru pulang sekolah."
"Dasar nyebalin, rese.... "
"Ha.... ha..makanya jadi adik itu jangan rese."
__ADS_1
"Ih....dasar cowok egois."
"Jangan marah terus napa dek."
"Makanya masih sekolah pacaran mulu."
"Loh, aku ikut papi dong."
"Papi tidak seperti kamu jaga cewek jadi-jadian."
"Kok jadian dia itu cewek benaran tahu."
"Kata siapa?aku tahu dia hanya mau uang kamu lihat saja nanti."
"Ah... yang benar nanti karena kamu cemburu tidak dapat perhatian dari abang."
"Siapa bilang aku punya papi dan mami serta om yang sangat menyayangi aku, nanti aku di jemput sama om Pino."
"Oya... abang boleh ikut nggak?"
"nggak, aku mau makan sama om dan tante kok, kamu nggak boleh."
"Ih... kamu kok ngegas banget dek, santai saja loh, toh dia juga om dan tante aku."
"Suka akulah, malas punya abang seperti kalian."
"Ih... kamu dek."
"Kenapa kalian dulu yang ninggalin aku demi cewek kalian yang nggak jelas, jadi iya sudah sekalian saja aku tinggal."
"Jangan dong adikku sayang, mana bisa kamu tergantikan oleh cewek mana pun, kamu itu adik kesayangan kami."
"Ah.... bohong,buktinya kalian lebih mentingin cewek kalian dari pada aku."
"Tidak juga adikku sayang."
"Sudahlah aku mau tidur, biar nanti segar."
Dia segera meninggalkan Dio, sedang Dio dia tersenyum melihatnya.
Dio segera berganti pakaian kemudian baru menuju meja makan.
Saat sedang makan Andre datang menghampiri Dio karena tidak melihat adik bungsunya.
"Dia ikut ke kantor lagi?"
"nggak kok bang dia ada di kamarnya katanya mau tidur."
"Oh.... sudah makan?"
"nggak tahu bang tadi Dia duluan pulang, saat aku tiba katanya mau tidur,abang mau makan?."
"Iya abang sudah lapar."
Keduanya makan dengan nikmat, sesudahnya Andre keluar menuju cafe, tadi rencananya Andre mau mengajak Dia ikut ke cafe.
Sampai di cafe Andre melaksanakan tugasnya untuk mengontrol cafe, apa ada yang harus di renovasi.
Semua sudah selesai di periksa oleh Andre bersama manajer cafe.
"Baik pak, mulai besok sudah bisa digerakkan tukang yang akan merenovasi."
"Iya pak."
Merasa pekerjaannya sudah selesai Andre bersiap untuk pulang.
Beberapa menit kemudian Andre sudah sampai di rumah kedua orang tuanya juga sedang menikmati angin sore di bawah pohon rindang yang ada di taman rumah mereka.
Andre tidak menjumpai kedua orang tuanya tetapi dia membersihkan diri terlebih dahulu.
Setengah jam kemudian Andre sudah berada di antara kedua orang tuanya.
"Papi asyik banget ngobrolnya sampai tidak tahu jika anaknya ada."
"Maaf sayang, ada apa?"
"Tidak apa-apa mi, Dia dan Dio kemana?"
__ADS_1
"Baru pulang katanya tadi habis jalan sama om Pino ya."
Bersambung