
Setelah mereka istirahat, akhirnya mereka menuju rumah sakit untuk mengunjungi bibi Cia dan dedek bayi.
Sampai di rumah sakit terjadilah kehebohan oleh Dia.
"Akhirnya aku punya dedek bayi,jadi punya saingan deh."
Dia sangat bahagia karena memiliki adik perempuan lagi, Veri yang sudah mulai besar sudah tidak mau di ajak main olehnya.
Sedangkan anak bibi Rita sudah sangat sibuk dengan kegiatan sekolahnya, hanya pertemuan dua kali sebulan yang masih ikut.
"Kamu mau saingan sama baby?heran deh,"ejek Dio,membuat keduanya kembali ribut.
"Iya suka aku dong kok kak Dio yang ribut, bibi sama om saja tidak apa-apa."
"Sudah tidak apa-apa kak, yang penting kakak Dia senang."
Dia menegahi keponakannya, dia ingat ketika dia seumuran keponakannya selalu ribut dengan kakaknya.
Edo berbisik ke telinga adiknya, "mirip dengan kalian berdua yang selalu ribut."
Cia terkekeh mendengar perkataan kakaknya yang memang benar adanya.
"Ada rahasia ya pi kok bisik-bisik,"Andre sengaja menggoda papinya yang membuat bibi Cia terkekeh.
"Sudah ah bang bibi jadi malu, papi kamu tuh sengaja mengejek bibi."
"Kamu bilang sendiri ya dek, kakak hanya bisik sama kamu tadi."
"Iya.. ya aku keceplosan tadi."
Ketiga orang tua yang berada di sana tertawa menyaksikan drama anak mereka.
Beberapa menit kemudian mereka sudah pamit untuk pulang karena sudah habis jam besuknya.
Sampai di rumah mereka segera membersihkan diri lalu berkumpul untuk makan malam bersama.
Papa dan mama Edo sangat bahagia melihat cucunya bersama mereka.
Selama ini jarang sekali memiliki waktu untuk bersama, terkadang bertemu jika ada kepentingan.
Saat ini mereka sudah berada di meja makan, dengan menikmati hidangan dengan nikmat di temani obrolan ringan.
"Om mana nek?" tanya Dio yang mulai tadi tidak melihat Bertha keberadaan omnya.
"Ada di rumahnya sayang,om lagi menjaga tante yang lagi kurang enak badan."
"Emang tante sakit apa nek?"tanya Dia penasaran.
"Bukan sakit sih hanya tantenya lagi ngidam anak kedua mereka."
"Oh... begitu nek, kapan kita kesana? besok sudah pulang."
"Sebelum pulang sayang," jawab Edo agar anaknya tidak bertanya terus.
Malam sudah tiba anak manusia harus merebahkan tubuhnya agar dapat merasakan bagaimana indahnya berbalut di peraduan.
Semua anggota keluarga sudah masuk ke dalam kamar masing -masing.
Edo masih menunggu istrinya, seperti biasa sang istri harus memeriksa ketiga putranya.
Setelah ketiganya sudah terlelap Bertha kembali ke kamar mereka.
Sampai di sana Edo tersenyum bahagia melihat istrinya sudah tiba di kamarnya.
"Sayang sini,"ajak Edo agar Bertha duduk di sampingnya.
"Ada pi?"
"ada cinta sayang."
"Apaan sih pi?"
"iya sayang ada cinta, dan aku kangen."
"Hem... kalau saja ada maunya gombal."
"Mau sama istri sendiri tidak ada salahnya sayang, malah dalah jika maunya dengan istri orang lain."
"Iya juga sih, aku lupa pi."
"Jadi ceritanya mau tidak nic?"
__ADS_1
"Apa yang tidak untuk kamu papi sayang."
Edo langsung menyerang b*b*r seksi milik istrinya,dan bukan hanya tinggal di sini saja,
Dengan bermain di gundukan alami itu,Edo memberikan kenikmatan bagi sang pujaan hati.
Setelah selesai memberi ke hangatan,Edo memulai menyatukan miliknya.
Ah... ucapnya setelah mencapai kenikmatan yang tidak bisa di lukiskan.
"Sayang terimakasih ya,"ucap Edo sambil mencium kening istrinya.
"Sayang kamu langsung mau tidur? bersihkan diri dulu sana."
"Ngantuk pi, biar papi saja yang bersihkan."
"Iya sudah sayang kamu tidur duluan, aku yang akan membersihkan."
Sudah kebiasaan Bertha setiap kali selesai olah raga ranjang selalu membersihkan diri, katanya sih geli.
Edo mengambil tisu basah lalu membersihkan daerah miliknya,dan yang selalu memberikan kehangatan.
Setelah selesai dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos istrinya.
Edo ikut bergabung dengan istrinya setelah mematikan lampu.
Rasa bahagianya semakin sempurna ketika memeluk tubuh polos istrinya.
Pagi hari sinar matahari sudah memancarkan sinar hangatnya, anak manusia memulai harinya dengan berbagai macam kegiatan, tidak seperti pasangan yang satu ini mereka masih bergulung pada selimut tebal mereka.
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan, tapi seolah memberi ruang hingga tidak ada yang mau membangunkannya.
Setelah selesai sarapan mereka langsung menuju rumah om Evan di temani oleh kakek dan neneknya.
Disana mereka disambut hangat oleh Evan.
"Aduh keponakan om pada ke sini semua?"
"iya om, bagaimana keadaan tante?"
"sudah lumayan, sebentar lagi juga datang, tadi lagi membersihkan diri dulu."
"masih tidur om."
"Apa? mereka sakit?"
"tidak tahu om, soalnya kami tadi pergi tanpa lihat papi dan mami,selesai sarapan kami langsung ke sini."
"Loh kenapa? sudah kangen om ya? tapi bagaimana jika mereka itu pergi ayo... "
Evan sengaja mengoda keponakannya itu, dan memang berhasil membuat Dia menjadi gelisah.
"Apa iya om?"
"iya om nggak tahu."
Mama Edo yang baru datang dari toilet langsung memukul lengan Evan.
"Hei kamu itu, malah membuat mereka gelisah, dasar om yang tidak berguna."
"Ih... ma,"sadis banget ngomongin anaknya sendiri seperti itu.
"Makanya jadi om itu harus berguna, mereka tidak ada apa-apa,tidak usah dengar om mu."
"Ih....om jahat tahu,"Dia langsung menyerang omnya dengan pukulan di dada evanr.
Evan hanya terkekeh sambil menangkap kedua tangannya Dia, lalu memeluknya.
"Maafkan om, hanya bercanda sayang, kamu serius banget."
"Makanya om, awas ya nanti aku bilangin papi."
"Mana om takut,papi kamu itu sudah tua, sedangkan om, lihat masih kuat."
Saat mereka masih asyik berdebat anak kecil datang sambil menangis.
"Papa... tenapa kakak putul papa atu."
"Karena papa dedek itu jahat, makanya kakak pukul."
"Papa atu itu tidak jahat, angan putul papa, awas kakak nda boleh duduk di detat papa."
__ADS_1
Andre menggendong dedek Erlan yang masih menangis.
"Hai jagoan itu tidak boleh cengeng, kakak Dia tidak mukul papa Erlan,mereka hanya bercanda."
"Apa iya kak?"
"iya, makanya jangan menangis lagi ok, bagaimana jika kita bermain kuda-kudaan?"
"boleh kak, Ellan mau."
Akhirnya Andre bermain kuda -kudaan bersama Erlan.
"Sayang sudah ya, kasihan kakak Andre capek," ucap Lisa mamanya Erlan yang baru bergabung.
"Belum mama, kak Andle macih kuat kok."
"Iya tante tidak apa-apa, kami masih mau bermain."
Sementara itu Edo dan Bertha yang baru bangun terkejut melihat jam yang sudah tengah sepuluh.
"Sayang sudah jam setengah sepuluh loh, terus bagaimana ini?"
"iya mau bagaimana lagi, ayo cepat membersihkan diri, anak -anak pasti sudah menunggu."
Edo segera mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah selesai mandi, dan langsung berpakaian.
Mereka turun, tapi rumah sudah tampak sepi.
Asisten rumah tangga mereka langsung menghampiri anak dari majikannya.
"Ada yang mau di bantu den?"
"kita mau sarapan bi, oya yang lain pada kemana?"
"sudah berangkat ke rumah den Evan den."
"Iya sudah bi, tolong buatin kami sarapan."
Edo duduk disamping Bertha dan langsung berbaring berbantalkan pahanya Bertha.
"Kok tidur lagi pi?"
"lama tidur, jadi badan terasa lemas sayang."
"Terus bagaimana pi? kita nyusul kesana?"
"iya sayang tapi setelah selesai sarapan, aku sudah lapar."
Setelah makanan tersaji Edo dan Bertha langsung duduk di kursi meja makan.
"Kita kok bisa kesiangan begini pi."
"Itu karena kekuatan cinta sayang."
"Papi sih, mainnya nggak cukup dua kali, sudah pagi masih gempur."
"Habis tubuh kamu nikmat sayang buat aku ketagihan terus."
"Ih....... dasar papi mesum, lihat akibatnya kita jadi malu sama papa dan mama serta anak-anakku pi."
"Ngapain malu sayang, kita sah tidak mencuri."
"Ih... dasar papi yang cepat makannya pi, nanti keburu mereka pulang."
Setelah selesai makan akhirnya mereka langsung menuju rumah Evan.
Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Evan.
Setelah memarkirkan mobilnya Edo langsung masuk yang di susul oleh Bertha.
"Ini dia sumber masalahnya, ujar Evan ketika melihat kakaknya masuk."
"Bukannya menyambut malah ngatain lagi, untung adek kalau tidak sudah aku tendang kamu."
"Malah marah lagi."
Bersambung.
Like dong biar kita tambah semangat.
__ADS_1