
Hari -hari yang dilalui oleh Bertha dan Edo akhirnya memiliki titik terang,setelah mereka makan bakso,mereka kembali mencari tempat untuk duduk santai.
"Gan aku sudah pikirin tentang permintaan kamu kemarin, aku bersedia menikah dengan kamu, tapi kita harus menjumpai kak Pino dan kak Kinan sama-sama."
"Kamu serius sayang?"aku mau, ucap Edo semangat.
"Kapan kita temui mereka?"aku mau sebelum kita bicara pada papa Aldo.
"Baiklah sayang kapan kamu mau, bilang aja aku akan temani ok."
Bertha terkekeh melihat semangat Edo yang menggebu -gebu, membuat dia semakin tidak ragu lagi bersama Edo.
Seharusnya aku memang tidak meragukanmu Edo,kau ada di setiap aku membutuhkan, bahkan terkadang kamu tidak memikirkan dirimu sendiri,gumam Bertha dalam hati.
"Ada apa sayang kok bengong?"apa aku tambah ganteng ya.
"Iya kamu itu tambah ganteng makanya aku semakin mantap mengiyakan permintaanmu."
"Iya aku memang ganteng sejak lahir sayang kamu saja yang tidak bisa melihatnya."
"Hmm... mulai deh, buat besar kepala."
"Jadi kamu pikir aku hanya karena sombong gitu,"Edo yang mendengar perkataan Bertha langsung menggelitikinya,hingga suara tawa Bertha terdengar oleh pengunjug lainnya.
"Ampun..
deh ya kamu itu terlahir tampan sayang.. puas???? ha.... ha... "Bertha masih tertawa karena Edo belum melepaskan kelitikannya.
Melihat Bertha tertawa sambil mengeluarkan air mata Edo menarik tangannya dari Bertha dan langsung duduk.
"Trimakasih atas tawamu, yang lepas, sejak aku mengenal kamu, baru kali ini aku dengar tawamu selepas ini."
"Trimakasih juga karena sudah membuat aku bisa tertawa dengan bebas."
Edo membawa Bertha dalam pelukannya, hingga mereka merasakan kehangatan dari hati masing -masing.
"Kita pulang? atau masih mau aku peluk hemmm?"
"pulang, aku tidak mau terus dalam pelukannya kamu, nanti kebablasan."
"Aku sangat mencintai kamu, jadi aku tidak mau merebutnya, aku mau kamu dengan ikhlas melepaskannya untuk aku."
"Iya aku tau."
"Jika aku mau melakukan hal itu, sudah dari dulu sayang, aku selalu ada kesempatan untuk itu."
"Iya dan sekali lagi aku sangat bersyukur memiliki kekasih yang sangat menyayangi aku."
Cinta memang harus berkorban, cinta tulus juga harus menjaga pasangannya agar tetap utuh.
Jika kita tidak bisa melakukan hal itu, berarti kita tidak sungguh mencintainya.
Mekakukan hubungan sebelum waktunya itu bukanlah cinta, melainkan hasrat yang bertopeng cinta.
Cinta tidak pernah nenuntut balasan.
Tiga hari setelah Bertha memutuskan untuk menerima lamaran Edo, hari ini mereka berjanji makan malam bersama kakaknya.
Disebuah restoran mewah Pino dan Kinan,tampak duduk manis menunggu adiknya datang.
Kinan sekarang benar sudah berubah, dia juga sudah minta maaf pada Bertha, tapi soal pekerjaan Bertha sangat mendengar penjelasan Joni.
Saat mereka masuk restoran senyum mengembang terlihat jelas di wajah keduanya.
"Maaf Kak kami terlambat."
"Tidak apa-apa dek, tenang saja kita bukan klien yang bertemu untuk bisnis jadi tidak usah merasa tidak enak."
"Ayo duduk kakak sudah sangat lapar."
"Makan apa tidak ada apa -apa di meja, kenapa kakak tidak pesan mulai tadi jika sudah lapar."
"Sudah itu dia sudah sampai."
Makanan sudah tertata rapi di meja, "silahkan dinikmati tuan dan nona ucap pramusaji sopan."
Akhirnya mereka menikmati hidangan yang sangat lezat itu.
Setelah selesai makan, Bertha langsung mengutarakan niatnya.
"Maaf kak sebelumnya, aku berencana menikah dengan Edo, makanya aku ajak kakak bertemu, jika kakak tidak keberatan aku mendahului kalian."
"Kalau kakak tidak keberatan sayang malah kakak senang akhirnya kalian memilik hubungan yang kuat."
"Trimakasih kak."
"Edo kamu tahu apa yang Bertha rasakan selama ini, kami tidak dapat membuat dia bahagia, jadi tolong lakukan itu, agar dia bisa merasakan kebahagian dalam keluarga kalian.
__ADS_1
Jangan pernah sakiti dia, bagaimana kamu memperlakukan dia selama ini, aku mohon jangan kurangi kalau bisa malah lebih."
"Iya kak aku berjanji tidak pernah menyakiti hati Bertha."
"Terus bagaimana dengan kamu Kinan?kakak harap jawaban kita sama."
"Iya kak, aku juga tidak apa, semoga kalian bahagia, sekali lagi kakak minta maaf, atas sikap aku selama ini, aku tahu jika perbuatanku tidak bisa di maafkan."
"Aku sudah memafkanmu kak tapi kamu harus berubah menjadi yang lebih baik lagi."
"Iya aku janji."
Semua perbincangan mereka sudah selesai dan sekarang mereka sudah pulang kerumah masing -masing.
Edo langsung mengantarkan Bertha setelah mereka meninggalkan restoran tadi.
Setelah membersihkan diri Bertha membaringkan tubuhnya di ranjang miliknya.
Tuhan kami mohon lancarkanlah segala rencana kami dengan baik.
Trimakasih telah mengirim orang yang baik untukku, orang yang selalu memberikan perhatian dan waktunya untuk aku.
Untuk menyambut hari esok Bertha akhirnya memejamkan matanya, untuk bergabung dengan mimpi indahnya.
Pagi hari Bertha menemui papanya untuk mengutarakan niatnya dan Edo.
"Pa aku ganggu sebentar ya,"ucapnya ketika sudah duduk di samping papanya.
"Ada apa sayang? ada yang penting mau di bicarakan dengan papa?"
"iya pa, begini pa, Edo berniat mau melamar Bertha, apa papa setuju?"
"pastinya sayang, papa merestui hubungan kalian."
"Trimakasih pa, aku sangat menyayangi papa."
"Sama sayang, papa juga sangat menyayangi kamu, hanya kamu putri papa dan kebahagiaanmu adalah kebahagiaan papa juga sayang."
Bertha memeluk papa Aldo dengan erat, seperti tidak ingin rasanya jauh dari papa yang selalu menerimanya dengan penuh kasih sayang sejak dia baru lahir.
"Sudah jangan menangis, kamu tidak akan jauh dari papa,toh kita masih tinggal di kota yang sama."
"Iya pa."
"Sekarang putri papa sudah besar sudah sebaiknya untuk bahagia."
"Ayo makan biar banyak tenaga untuk menjalani hari ini."
Joni yang baru saja tiba di meja makan merasa heran, ia melihat masih ada sisah air mata di pipi Bertha.
"Kakak baru nangis, kenapa?"masih terus memandang wajah kakaknya.
"Tidak apa-apa dek, hanya senang saja."
"Senang kok nangis biasanya orang nangis karena sedih."
"Iya kakakmu mengalami dua -duanya, pertama sedih harus ninggalin kita, kedua karena bahagia sebentar lagi mau nikah."
"Kakak mau menikah? iya aku tidak ada teman dong."
"Loh papa ada disini."
"Iya tapi papa sibuk terus, tapi aku masih bisa datang ketempat kakak?"seperti biasa ya.
"Boleh kok, kamu datang kapan saja orang kakak Edo saja setiap hari kesini, berarti kamu ya bisa dong."
"Iya sudah jangan menangis, ayo kita makan pa."
Mereka segara memulai sarapannya, karena mereka akan mulai tugas baru, walaupun dengan aktivitasnya biasa.
Hari ini Bertha ikut kekantor karena ada rapat penting bersama seluruh karyawan.
"Kamu sudah mempersiapkan diri sayang?"ucap papa Aldo ketika waktu sudah memasuki jam sepuluh kurang lima menit, sementara mereka akan mulai tepat jam sepuluh.
"Sudah pa aku siap."
"Ayo kalau begitu sudah hampir tiba waktunya."
Saat mereka masuk ruang rapat, para karyawan sudah berkumpul, kecuali bagian tertentu yang harus tetap melaksanakan tugas mereka.
"Baiklah kita akan mulai, sebelumnya kita berdoa menurut agama kita masing-masing."
Beberapa menit diberikan waktu untuk berdoa kepada semua yang hadir di situ.
"Berdoa selesai."
Asisten dan sekretarisnya segera memulai bicara tentang hal apa yang akan mereka bahas.
__ADS_1
Inti rapat mereka adalah usaha untuk meningkatkan kualitas perusahaan.
Anggota bebas memberikan komentar atau pendapat,serta cara membuat dan menanganinya.
Satu jam bergulat dengan banyak ide maka papa Aldo dan Bertha akhirnya mengambil keputusan dengan memakai dua,ide tersebut.
Dari ide itu adalah idenya Pino yang cemerlang.
Rapat segera dibubarkan setelah mendapat keputusan, papa Aldo dan Bertha akhirnya keluar dari ruangan itu.
"Kakak tunggu,"panggil Bertha saat Pino hendak bangkit dari duduknya.
Bukan hanya Pino yang menoleh para karyawan lain juga ikut berhenti dan menoleh je arah bertha4.
Mereka tersenyum melihat bos mereka yang bertingkah seperti anak kecil.
"Ih kamu itu dek nggak malu apa diliatin karyawan, ada apa? sampai teriak -teriak."
''Makan siang bareng yo."
"Hanya mau bilang itu saja, iya ampun," ujar Pino sambil memukul kecil jidatnya.
Bertha yang hanya cengengesan, atas perkataan kakaknya.
"Kak Rita ikut kami atau mau dijemput sama kakak Ar."
"Ikut deh, dia lagi ada operasi sekarang."
Akhirnya mereka berempat berangkat bersama menuju restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor.
Disana mereka telah memesan makanan kesukaan mereka masing -masing.
Perbincangan ringan menemani waktu makan mereka,hingga mereka harus kembali ke kantor karena sudah melewati jam makan siang.
Sampai di kantor mereka menuju ruangannya masing -masing.
Bertha langsung masuk ruangannya dan dengan cepat sekretarisnya.
"Selamat siang bu,ini berkas yang harus ibu tanda tangani."
"Iya Trimakasih."
"Saya permisi bu."
"Iya silahkan."
Bertha segera membaca berkas yang diantar oleh sekretarisnya, karena jarang datang ke kantor membuat setiap dia kesana tugasnya menumpuk.
Menjelang sore papa Aldo menghampirinya untuk pulang.
"Apa masih banya nak, sudah sore."
"Sudah kok pa, ini tinggal ngrapiin."
Papa Aldo memang perlahan melepaskan sebagian tugasnya kepada Bertha, apalagi kakak iparnya sudah melepaskan sepenuhnya.
"Ayo pa, sudah selesai, kasihan adek tidak ada teman."
Joni memang selalu datang kekantor ataupun ke butik tapi jika waktu tertentu seperti hari ini, dia memilih berdiam diri di rumah.
Karena dia ikutpun tetap hanya sendiri karena semua pasti akan sibuk.
Sampai di rumah ternyata Joni sudah rapi menunggu papa dan kakaknya.
"Hai adekku yang ganteng, mau kemana nic, sudah rapi, mau kencan ya.... "
"Ih.. kakak, kencan sama siapa, orang aku nunggu kalian kok."
"O... kirain, ada janji."
"Udah ah.. kakak mandi sana aku sudah lapar nunggu kalian tadi siang aku nggak selera makan sendiri."
"Kan ada nenek, ajak nenek dong."
"Nenek lagi dijemput saudaranya, katanya ada yang sakit datang dari kampung."
"Iya sudah deh, kakak masuk dulu ya."
Saat Bertha masuk ke dalam kamar, Edo menghubunginya.
"Halo sayang bagaimana sudah ngomong sama om?"
''sudah dong, tidak ada masalah."
Iya sudah papa dan mama akan mempersiapkan semuanya.
Bersambung
__ADS_1
Trimakasih kepada semua yang mampir di karya ku ini.
Jangan lupa ya dengan like,komentar ,dan votenya.