APA SALAHKU MAMA

APA SALAHKU MAMA
Episode 56.Ngidam


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu sayang?" papa Aldo mengelus rambut panjang Bertha, sambil terkekeh sabar sayang jangan emosi kasihan cucu papa.


"Iya pa."


"Oya papa besok ada kerja di luar kota, papa titip adikmu iya, dan ingat jaga kesehatan."


"Berapa hari pa?"


"paling tiga hari nak, dan pagi sudah berangkat."


"Sama siapa pa?"


"kak Pino nak, ada masalah di kantor cabang, makanya papa dan kak Pino harus kesana, tapi ingat jika ada sesuatu kamu harus hubungan papa."


"Beres pa,jangan kwatir aku baik -baik saja, lagian sudah ada yang jaga aku."


"Iya sayang papa percaya."


Papa Aldo kemudian menatap Edo, titip anak papa ya nak Edo, dan sabar memang wanita hamil itu banyak maunya jadi sabar ya.


"Ih... papa jangan ngatain kakak dong, masa orangnya ada di sini di omongin."


"Bukannya ngatain kamu sayang, tapi itu nyatanyakan? buktinya tadi pagi, mereka sampai muntah loh sayang,apa pernah sebelumnya kamu seperti itu, tidakkan?"


Bertha hanya diam tanpa berusaha mengomentari perkataan papanya.


?Iya sudah kamu sekarang mau ngapain?" papa masih ada kerjaan, papa tinggal dulu ya.


"Ok pa,"aku tidak mau kemana-mana kok hanya mau ketaman belakang saja.


Saat Bertha beranjak menuju taman iapun ikut mengekor istrinya.


"Sayang kamu kenapa jalan terus?"duduklah aku capek lihatnya ucap Edo yang memang sejak sampai di taman Bertha bukannya duduk malah mondar-mandir lebih dari setrika.


"Iya sudah kamu ganti aku mondar-mandir."


"Ha...?"kaget Edo, yang tidak menyangka istrinya akan bicara seperti itu.


"Kenapa nggak mau? iya sudah tidak usah komentar."


"Bukannya begitu sayang iya sudah biar aku yang gantian, sekarang kamu duduk ya," bujuk Edo.


"Aduh... dasar wanita hamil," ada -ada saja, permintaan macam apa ini? Edo sepanjang mondar-mandir bergumam sendiri dalam hati.


Sementara itu papa Aldo dan Joni yang menyaksikan anak dan menantunya sejak tadi hanya terkekeh.


"Pa, kakak aneh ya, masak ada seperti itu."


Papa Aldo tidak menanggapi perkataannya Joni malah mengajaknya untuk segera masuk.


"Ayo kita cepatan masuk nanti kakak mu tahu, kita akan seperti kak Edo."


Akhirnya mereka segara berlalu dari tempat persembunyian, agar Bertha tidak melihat mereka.


Edo masih terus berjalan-mondar mandir di depan Bertha, dia tidak berani untuk mohon agar Bertha mengijinkannya untuk duduk.


"Sayang sini duduk, ngapain sih jalan terus nggak capek apa,"omel Bertha tanpa merasa bersalah.


Edo menatap istrinya tidak percaya, dengan apa yang Bertha katakan barusan.


Tapi karena mendapatkan udara segar tanpa menunggu lama Edo langsung duduk dan memeluk erat Bertha.


"Sayang masuk yo,sudah sore, tidak baik orang hamil di luar sore hari."


Sebenarnya Edo hanya tidak mau jika Bertha menyuruh yang aneh lagi.


Bertha langsung mengangguk lalu bangkit dari duduknya.


Saat ini mereka sudah berada di kamar Bertha, Bertha duduk di sofa sambil minum air mineral yang baru di ambil dari kulkas.


Edo ikut duduk di samping Bertha, lalu merangkul pundak Bertha dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya mengelus rambut panjang Bertha.


"Sayang maaf ya, jika anak kita membuatmu susah banget."

__ADS_1


"Nggak kok, aku tidak susah aku senang bisa merasakan bagaimana mengandung seorang anak itu."


"Hei... jagoan papa, jangan bandel iya, kasihan mama tahu sayang."


"Memang kamu sudah tahu bahwa dia jagoan?"


"aku yakin dia seperti papanya."


Aku yakin karena dia masih belum lahir tapi sudah berani mengerjai papanya sayang.Edo bergumam sendiri dalam hati.


Bertha membaringkan tubuhnya disofa berbantalkan pahanya Edo, seperti biasanya dia lakukan.


Edo dengan lembut membelai wajah istrinya.


"Sayang... kamu mau anak kita cowok apa cewek?"tanya Bertha akhirnya pada Edo.


"Iya yang mana yang di kasih Tuhan sayang, aku tidak masalah."


"Tapi tadi kata kamu dia jagoan, berarti kamu berharap laki -laki dong."


"Aku spontan sayang,"asal kamu dan anak kita baik-baik saja itu sudah lebih dari cukup sayang.


"Kamu lagi bohong sama aku kan?"


"tidak dong, kapan aku bohong sama kamu."


"Aku takut kamu kecewa jika tidak sesuai yang kamu harapkan."


"Harapanku kamu sehat dan anak kita sehat."


"Trimakasih."


"Untuk?"


"semuanya, kamu menerima aku apa adanya."


"Aku mencintaimu jadi aku juga harus mencintai apa yang ada di dalam diri kamu, apa lagi soal anak, kita tidak bisa memaksakan diri atas kehendak Tuhan."


Bertha menenggelamkan wajahnya di perut rata Edo.


Saat menjelang makan malam, Edo baru membangunkan Bertha.


"Sayang ayo kita makan papa sudah menunggu kita."


"Jam berapa sekarang?"


"Jam tujuh sayang."


Bertha duduk sambil menguap.


"Sudah sana cuci muka."


"Baik bos."


Saat ini mereka sudah berada di meja makan, papa Aldo dan Joni sudah menunggu mereka sejak tadi.


Bertha mengambil nasi untuk papa Aldo seperti biasa dia lakukan baru mengambil makanan untuk suaminya.


Sesudah mengambi untuk ketiga pria yang sangat dicintainya barulah dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.


Setelah berdoa mereka segara meniknati makanan mereka dengan nikmat.


Setelah selesai makan mereka segera duduk di ruang keluarga untuk bersantai sejenak untuk


Papa Aldo melarang Bertha untuk membersihkan bekas makan mereka.


Jika dulu papa Aldo tidak pernah melarang tapi sekarang dia tidak mau anaknya melakukan hal yang membuat dia lelah.


"Ih... papa kok gitu sih, aku tidak apa-apa pa, protes Bertha."


"Tidak ada bantahan sayang,"nanti jika keadaan kamu lebih baik baru kamu bisa melakukan hal itu.


Bertha mengerucutkan bibirnya kerena kesal dengan sikap papanya yang sudah sama seperti Edo.

__ADS_1


Papa Aldo terkekeh sambil mencubit hidung Bertha lembut.


"Iya sudah,wanita hamil itu tidak boleh melawan sayang nanti anaknya ngikutin loh."


"Ih... papa kok gitu sih ngomobgnya,cucu papa loh anak Bertha."


"Justru itu sayang, papa tidak mau cucu papa seperti itu, makanya papa bilangin."


Memang ada ya mitos seperti itu, papa Aldo ada-ada saja deh.


Satu jam mereka berada di ruang keluarga dan akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing.


"Sayang aku kerja sebentar ya, soalnya ada yang harus aku selesaikan malam ini."


"Iya tidak apa-apa kok, aku temani di sini ya."


"Boleh jika kamu belum ngantuk, tapi kalau sudah mengantuk kamu tidur duluan saja."


Bertha hanya membuka poncelnya untuk melihat kondisi butiknya.


Bertha akhirnya bisa tersenyum atas kerja keras kakaknya Kinan,iya tadi baru saja Kinan baru kirim pembukuan.


Edo yang melihat Bertha tersenyum, penasaran dengan apa yang membuat istrinya bisa tersenyum dengan melihat poncelnya.


Bertha memang tidak suka bermain ponsel apa lagi yang namanya facebook.


"Apa yang membuat kamu tersenyum bahagia dengan melihat poncelmu sayang."


"Aku bangga deh akhirnya kak Kinan bisa membuat pembukuan dan mengurus butik,"jelas Bertha dengan mata berbinar.


"Iya itu semua berkat kamu sayang, kamu menerima dia dengan segala luka yang dia torehkan selama ini, kamu mengajari dia dengan sabar, jadi yang harus di bangggakan adalah kamu sayang."


Tidak bisa dipungkiri bahwa karena kerendahan hati Berthalah yang membuat kinan bisa berubah.


Papa kandungnya juga sangat bersyukur memiliki putri yang sangat baik hati.


Penyesalan memang selalu datang terlambat, dan menyalahkan orang lain atas apa yang kita alami adalah tidak bisa menyelesaikan masalah.


Bertha anak kecil yang tidak berdosa harus mengalami ketidak adilan,berbagai penderitaan panjang dia alami, kebodohan mama kandungnya yang menganggap bahwa Bertha adalah sumber masalah bagi keluarga mereka.


Bertha ada di saat yang tidak tepat, dan dialah sumber kehancuran keluarganya.


Padahal jika di pikir, apa iya itu kesalahan Bertha, apa dia yang minta untuk di lahirkan? apa dia yang minta keluarganya bangkrut? apa dia yang minta selingkuhan mamnya pergi karena mamanya sedang mengandung dia?


tidak? itu semua bukan Bertha mau, tapi dia dapat memaafkan adalah semua orang yang menyakiti hatinya.


Heran memang terbuat dari apa ya hari Bertha? tapi itulah karunia yang di berikan oleh Tuhan kepadanya.


Di balik penolakan yang dia terima, dia mendapat kekuatan dan keikhlasan hati.


Tuhan mengirimkan papa Aldo yang baik hati yang rela menukar harta demi kebahagian Bertha.


Tuhan mengirimkan Edo yang sabar dan penuh cinta.


Kakak yang lemah dan tidak dapat berbuat lebih, tapi masih bisa menyayangi dia.


Mamanya memberikan kesalahannya kepada Bertha, hingga suara hatinya menjadi tumpul.


Aow... sedangakn papanya yang sudah kecewa dengan sikap istrinya malah tidak bisa menempatkan diri sebagai papa bagi Bertha.


Sibuk dengan pekerjaannya dan juga rasa sakit hati pada istrinya yang masih berhubungan dengan mantan pacarnya.


Keluarga mereka hancur berantakan, juga perusahaan yang di bangun dengan keegoisan.


Bertha hadir sebagai obat bagi mereka dengan segala luka yang masih berbunga indah.


Saat ini mereka baru bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga.


Walaupun mamanya sudah tidak ada, tapi baru sekarang mereka merasakan arti sebuah keluarga.


Jika dulu harta membuat mereka takut melakukan sesuatu yang benar,bahkan tidak tahu bagaimana rasanya memiliki sebuah keluarga, tapi saat ini dengan kehidupan pas-pasan mereka merasa bahagia.


Tuhan memang maha adil Dia,yang berkuasa membolak -balikkan kehidupan manusia.

__ADS_1


Bersambung


Trimakasih ya untuk semua yang mendukung karya ku ini.


__ADS_2